
“Papa bukan pengemis yang harus memanfaatkan anak demi bisnis. Papa hanya mau kamu tahu, dan setidaknya berusaha untuk mempertahankan hubunganmu.”
Episode 69-Kayu Yang Termakan Api
Reza bergeming sembari memangku dagu. Latar keberadaannya saat ini adalah kamarnya sendiri, juga pada tempat kerja pribadinya. Tak banyak informasi yang ia dapatkan setelah menyambangi rumah Arlan. Hanya sebuah kabar mengenai Nur Imran—ayah dari kekasihnya sendiri.
Satu fakta itu ia campur dengan fakta aneh belakangan ini. Analisa kembali ia susun di dalam otaknya. Fans, haters, atau pesaing bisnis butik tentu bukan motif yang tepat di balik teror itu. Reza menduga jika kasus Nur Imran dan Jelita saling berkaitan satu sama lain. Hutang yang besar, balas dendam, masalah pribadi menjadi beberapa alasan logis atas ulah pelaku itu sendiri.
“Gue harus cari tahu soal ini. Tapi, tanpa izin gue bakal susah masuk ke perusahaan itu. Gue juga bukan pengacara resmi Jelita, apa gue harus pakai jasa Lesy buat nyadap informasi?” ucap Reza sembari berpikir keras.
Beberapa detik kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enggak, enggak, itu ilegal. Kalau ketahuan beli data ilegal, karir gue hancur,” sanggahnya atas pemikirannya sendiri.
“Cuma mulai dari mana? Sementara yang tahu mengenai kasus ini hanya Jeli, Jane dan si cowok rese' itu. Mereka tetap akan bungkam, dan kalau gue ketahuan telah mengetahui segalanya, si Jeli bakal lebih resah lagi. Gue juga bukan detektif kepolisian yang bisa dapet surat perintah.” Reza terus saja berceloteh.
“Tunggu!” Pria bertubuh tambun itu lantas berdiri. “Papa! Papa 'kan rekan bisnis Pak Nur. Paling nggak, Papa tahu sedikit mengenai kondisi beliau.”
Rencana itu tidak hanya di lidah saja. Ketika teringat jika ayahnya memiliki hubungan bisnis dengan Nur Imran, Reza segera melaju kaki. Perihal bagaimana hubungan bisnis itu terjadi sudah pasti Jelita yang mengakali. Tepatnya, saat nona muda itu sedang membeli diri sang pengacara.
Reza tersenyum terpikirkan saat Jelita mendesaknya menjadi pria bagi gadis itu. Kini, bayarannya sangat berguna.
“Reza?” Reyna yang baru saja muncul dari kamar kini tengah heran akan keberadaan sang putra di depan pintu kamar itu. “Mau apa?”
“Papa ada, Ma?” balas Reza.
Dahi Reyna berkerut, merasa heran karena tidak biasanya Reza mencari Nugraha—suaminya sekaligus ayah dari Reza.
“Tumben cari Papa?”
“Ada urusan.”
Jiwa kepo mendadak bergolak di dalam diri Reyna. Wanita paruh baya itu lantas mendekati Reza. Dengan gaya emak-emak penggosip pada umumnya, Reyna bertanya, “Kenapa, kenapa? Ada apa, Sayang? Ada masalah?”
Reza bergeming.
“Hmm ... main rahasia gitu sama Mama, ya.” Reyna melipat kedua tangan ke depan sembari mengerucutkan bibir.
“Ayolah, Ma, Papa ada?”
“Ada apa dulu?!”
Reza mendengkus kesal atas penyakit penasaran yang kerap kali menyerang ibundanya itu. Selain mengganggu, juga menghabiskan waktu. Namun untuk mengatakan hal yang sebenarnya, tentu saja bukan pilihan tepat. Sudah pasti Reyna akan melibatkan diri jika mengetahui.
Kemudian, tanpa rasa sopan sekalipun, Reza pergi begitu saja. Ia pikir ayahandanya ada di ruang kerja, karena tidak mungkin tetap bergeming di dalam kamar jika mendengar perdebatannya bersama Reyna. Sepeninggalan sang putra, Reyna semakin kesal. Ia mendengkus diam-diam, layaknya anak remaja.
__ADS_1
Tak memikirkan apa yang terjadi pada ibundanya, Reza tetap melangkahkan kaki dengan mantap. Ia menaiki anak tangga satu persatu. Setelah sampai di atas, Reza menghela napas. Detik berikutnya, ia menerapkan apa yang telah direncanakan.
Pintu ruang kerja pribadi Nugraha tampak terbuka. Pria paruh baya itu tampak serius menatap layar laptop di hadapannya. Setidaknya untuk saat ini Reza merasa lega karena mendapati ayahnya di sana. Karena tidak ingin membuang waktu terlalu lama, Reza melebarkan pintu kemudian masuk dengan sapa siang atas nama kesopanan.
“Reza?” Sama halnya seperti sang istri, dahi Nugraha lantas berkerut mendapati putra pertamanya tiba-tiba datang. “Ada apa? Duduk sana.”
Reza mengangguk pelan. “Iya, Pa,” jawabnya. Kemudian, segera ia ambil sikap duduk di kursi yang berseberangan dengan posisi Nugraha.
“Ada apa? Tumben jenguk Papa?”
Tanpa basa-basi, Reza menjawab, “Mau tanya sesuatu tentang Pak Nur Imran, Pa.”
“Hmm ... pengacara emang begitu, ya. Nggak ada basa-basi langsung ke inti.”
Reza bergeming, memilih tak menimpali ucapan sang ayah. Sebab, selain tidak terlalu dekat, ia ingin cepat-cepat mendapat informasi.
Perihal Nur Imran justru membuat Nugraha semakin heran. Bukan dirinya yang seorang ayah, melainkan pengusaha besar itu yang dicari anaknya. Miris memang, tetapi mau bagaimana lagi, hubungannya dengan Reza memang renggang setelah adanya adu mulut seputar perbedaan pendapat mata kuliah.
“Pak Nur kenapa emangnya? Kenapa kamu justru tanya sama Papa?” tanya Nugraha.
“Mungkin enggak sopan, tapi Reza membutuhkan sedikit info seputar beliau, Pa,” jawab Reza.
Nugraha menghela napas. “Beliau baik-baik aja, masih menjadi pengusaha besar nomor dua. Penjualan produk sepertinya naik pesat. Dalam produk cokelat yang kami kembangkan juga menorehkan angka tinggi. Lantas, info apa yang kamu maksud itu?”
“Pribadi, apa yang terjadi ah ... sesuatu yang mungkin aneh dari beliau.”
Mata Reza berbinar seketika. “Ada?”
“Ya, akhir-akhir ini Pak Nur dikawal enam orang bodyguard. Sepertinya memang ada masalah keamanan, tapi Papa nggak tahu lebih dari itu. Jadi jangan tanya lagi.”
Enam orang bodyguard? Memang wajar untuk sekelas pengusaha besar. Namun bagi Reza akan aneh jika hal itu bukan menjadi kebiasaan. Seperti kata ayahnya, Nur Imran mengalami masalah di keamanan diri sendiri. Dengan begitu informasi dari Arlan cocok dengan informasi barusan. Kemungkinan besar lagi, masih berkaitan dengan Jelita.
Hanya saja, ... Reza masih buntu untuk menentukan perihal siapa pelaku itu. Ia yang tidak leluasa layaknya detektif kepolisian, tidak dapat menanyakan informasi lebih mudah melalui perusahaan Nur Imran. Biasanya, ia mencari petunjuk hanya untuk memperkuat pembelaannya atas klien yang ia tangani, bukan untuk mencari penjahat seperti polisi.
“Sekarang, boleh Papa tanya balik sama kamu?” tanya Nugraha sehingga Reza membuyarkan lamunan.
Pria tambun itu lantas mengangguk. “Silakan, Pa,” jawabnya.
“Kamu serius dengan nona muda itu, Reza?”
“Eh?”
“Jawab saja, Papa tahu karena dia Nur Imran bersedia merajut kerja sama dengan perusahaan Papa yang nggak seberapa.”
__ADS_1
“Ya, untuk saat ini kami memang merajut hubungan.”
“Untuk saat ini?”
Reza bergeming.
“Baiklah, kamu sepertinya enggan membahas hubungan kalian terlalu dalam. Tapi, apa yang Papa katakan selanjutnya akan berkaitan dengan kalian. Sebelum itu, kapan kamu menyudahi karir hukummu dan belajar bisnis meneruskan perusahaan Papa?”
“Papa masih berharap Reza bersedia? Satu bulan lagi bukankah Risa menikah? Dengan begitu, suami Risa bisa Papa harapkan?”
“Kamu pikir Papa akan menyerahkan perusahaan pada orang itu? Menyetujui hubungan mereka saja sangat terpaksa. Dia pengangguran, memperalat Risa untuk mencari uang.”
Tak disahuti lagi perkataan Nugraha oleh Reza. Ia memang tidak paham perihal perasaan orang tua, tetapi sepertinya hal itu lumrah terjadi jika calon menantu tidak memiliki pekerjaan tetap. Kendati memaklumi sikap ayahnya itu, bukan berarti Reza akan menurut. Melangkah sampai sejauh ini—menjadi pengacara ternama—saja begitu sulit, tidak mungkin ia menyudahi karir itu begitu saja.
Tadinya, Nugraha akan menyerahkan perusahaan pada Risa. Kenyataannya, putrinya itu justru ingin menikah sebelum pendidikan tuntas. Tentu saja ia enggan mempercayai calon menantu yang tidak pasti itu.
“Hmm ....” Nugraha menghela napas. Sedetik kemudian, ia berkata, “Papa akui sebelumnya Papa egois karena memaksamu mengikuti jejak Papa. Tapi, ... saat ini situasi berbeda dan berkaitan dengan hubunganmu dengan nona itu.”
Reza menatap mata sang ayah seketika. “Hubungan kami? Kok bisa?” tanyanya.
“Sepertinya gadis itu nggak bicara padamu, ya. Kabar yang Papa dengar, Nur Imran hendak menjodohkan putri pertamanya dengan penerus keempat Harsun Group. Kalau Papa nggak salah namanya William Anderson.”
Reza tertegun. Terkejut, tentu saja! Siapa yang mengira. Ia pikir William hanya sekedar menyukai Jelita, tetapi justru sudah menggenggam status calon suami dari gadis kesayangannya itu.
“Pa-papa jangan mengada-ada,” tepis Reza dengan harapan terakhir.
Nugraha menggeleng lemah. “Untuk apa Papa-mu mengada-ada? Apa gunanya, toh, mau kalian menikah atau enggak, Papa sudah merajut hubungan kerja sama. Papa bukan pengemis yang harus memanfaatkan anak demi bisnis. Papa hanya mau kamu tahu, dan setidaknya berusaha untuk mempertahankan hubunganmu.”
“Nggak mungkin ....”
“Nur Imran memiliki hubungan dekat dengan salah satu kerabat William Anderson, mungkin sahabat. Papa tahu karena setiap kali kami bertemu, beliau menceritakan akan siapa sosok itu. Papa sudah melamarkan kamu untuk putrinya, sayangnya Nur Imran merasa berat dengan pekerjaanmu saat ini.”
“Berat? Tapi, kenapa? Reza bukan pengangguran, Pa!”
“Sama seperti bapakmu ini yang kelimpungan mencari penerus, Reza! Nur Imran juga ingin mendapat menantu setidaknya paham tentang bisnis! Ketika putrinya menikah dengan anak pengusaha, tentu saja dia beruntung. William Anderson bisa mengurus dua perusahaan sekaligus! Dan kamu ...? Masih bersikeras jadi pengacara, kamu tahu Reza, pengacara akan habis masa berlakunya.”
Reza mendadak kalut. Hancur sudah hatinya. Dalam kenestapaan itu, ia tidak bisa menangis. Terlalu malu ketika berhadapan dengan ayahnya. Yang ada di pikirannya saat ini, mengapa Jelita begitu tega? Gadis itu justru tidak terbuka, mengandalkan William yang ternyata merupakan calon suami. Lantas, apa arti dari hubungan itu? Sudahkah rusak cinta itu? Dalam waktu yang bahkan baru berjalan beberapa bulan.
Se-begituhinakah sosok Reza? Pria gendut yang tidak memiliki guna sedikit pun. Seandainya memang tidak cinta, menyudahi segalanya bukankah jalan terbaik? Namun Jelita justru membungkam mulut dan berpura-pura semua baik-baik saja.
Dengan membawa luka itu, Reza melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya. Dadanya yang sesak ia hujani pukulan berkali-kali. Bahkan, untuk bernapas pun rasanya sulit sekali. Tubuhnya yang besar sulit untuk dibaqa berjalan. Sedih, sakit, terluka, terkejut sekaligus tidak menyangka berbaur menjadi satu. Nestapa tercipta mengisi relung jiwanya.
Reza tidak bisa bertahan. Perasaanya begitu memilukan. Air mata yang tidak pernah keluar selama bertahun-tahun, akhirnya meluruh, membuktikan jika keadaannya benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Jelita ... baginya gadis itu merupakan malaikat. Parasnya ayu menyelamatkannya dari kesepian hati. Namun kini, anggapan itu bak kayu yang sudah termakan api. Hancur! Menjadi abu, tak mungkin untuk diharapkan lagi.
__ADS_1
****
Kenapa likenya makin dikit, 🙄 padahal jumlah pembaca sama kayak kemarin2 🌚