
“Jeli enggak pernah malu punya Kakak! Dan benar, William enggak pernah kasih syarat selain harus datang seperti kata Kakak. Jeli mau hadapi cowok itu sama Kakak!”
Episode 47-Rencana
“Itu Mas! Buat Fashion show, biar aman harus hati-hati!” ucap Iin dengan tegas. Alasan yang ia pakai pun cukup masuk akal, sehingga ia berharap banyak agar Reza mempercayai dirinya.
Kendati, Reza masih meragukan hal itu. Apalagi ditambah sikap Jelita yang seolah menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, pada akhirnya ia memilih percaya. Sejauh ini pun, Jelita memang tidak pernah berbohong. Tak ada gunanya Reza menyelidik lebih jauh, jika sang pemilik keanehan itu tidak mengizinkannya untuk mengetahui.
Kemudian, Reza mengulas senyuman. Sesaat setelah mengucapkan terima kasih pada Iin, ia lantas menatap Jelita.
“Ayo, Sayang,” ucap pria itu.
“K-ke mana?” balas Jelita dengan heran. Sementara, kekalutannya terus ia tekan agar tidak nampak lagi di wajahnya sekaligus gerak-geriknya. “Kakak tahu 'kan malam ini Jeli ada janji?”
Reza mengangguk. “Mm, Kakak tahu.”
“Terus? Dan Jeli udah bilang 'kan, Jeli harus hadir.”
Reza menghela napas dengan berat. Sikapnya itu membuat Jelita tidak enak hati. Sementara Iin memilih berlalu, sebab Reza sudah tak lagi bertanya perihal perbincangannya dengan Jelita beberapa menit yang lalu.
Kini, di dalam butik itu hanya mereka berdua saja. Waktu masih menunjukkan jam setengah lima. Sisa waktu sebelum acara nanti malam seharusnya sudah dipakai untuk bersiap-siap oleh Jelita. Namun, gadis itu justru masih tertahan oleh kehadiran kekasihnya. Kendati sangat enggan untuk menghampiri kencan bersama William, tetap saja ia bukanlah tipikal seseorang yang gemar terlambat.
“Mau Kakak antar pulang, Dek?” tanya Reza memecah keheningan di antara.
Jelita menggeleng. “Enggak, Kak, Jeli mau siap-siap di sini. Juga, enggak mau kalau ditanya-tanya sama Papa,” jawabnya.
“Kakak keluar kalau kamu mau siap-siap.”
“Kak ...?”
“Mm?”
“Maafin Jeli, ya? Mau enggak mau, Jeli harus berangkat.”
Reza yang hendak keluar dari ruangan itu pun kini kembali mendekati kekasihnya. Ditatapnya wajah Jelita dengan seksama. Tampaknya, gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Ada raut kecemasan yang terselip di antara keceriaan. Namun kendati menangkap kekhawatiran dari wajah imut itu, Reza tetap pada prinsip awal. Ia tidak mau mengorek masalah Jelita jika sang empu tidak berkenan mengatakan.
Satu kecupan, Reza daratkan di bibir manis milik Jelita. Sekilas saja tanpa tambahan durasi yang akan menghangatkan tengkuk mereka. Sikap manis yang tiba-tiba didapatkan, membuat Jelita reflek melebarkan mata. Reza semakin berani saja, pikirnya detik itu juga.
“Emang Jeli kasih izin, gitu?”
Reza tersenyum seiring gelengan kepala yang ia lakukan. “Enggak, Kakak 'kan udah bilang—”
“Enggak bakal nahan diri lagi.”
__ADS_1
“Hihi ... ya betul. Mandi gih, terus siap-siap.”
“Mm ... Kakak enggak pulang?”
“Kamu ngusir Kakak?”
“Bu-bukan begitu!”
Reza mendekatkan wajahnya lagi pada gadis itu. “Kakak mau ikut kencan itu.”
“Hah?!” Saking terkesiapnya, rahang Jelita jatuh menganga. Tentu, dengan kedua matanya yang kembali membelakak. Ikut? Untuk apa? Pertanyaan itu yang melintas tiba-tiba di benaknya.
Sementara Reza, pria itu kini berbalik badan. Tubuhnya yang besar dan tinggi tampak dari belakang, tetapi sangat gagah bagi mata Jelita. Terlepas dari rasa penasaran sekaligus heran, gadis itu diam-diam menerawang bentuk tubuh Reza yang ditempeli lemak-lemak menggemaskan.
Namun setengah menit kemudian, ia segera menyadarkan dirinya agar tak lagi berpikir liar. Terlebih, ketika berada di butik hanya berdua saja. Jelita harus selalu ingat bahwa Reza tetap pria normal, yang mana ada suatu gejolak jika ia memberikan goda. Apalagi belakangan ini, kekasih gembulnya itu lebih agresif ketimbang awal-awal ia kencani.
“Kata kamu enggak ada syarat lain, kecuali kamu harus hadir,” celetuk Reza. Detik berikutnya, ia kembali berbalik. Langkah pun ia ambil perlahan untuk menghampiri keberadaan gadis perancang tersebut. “Kalau pacar ikut, berarti enggak apa-apa dong?”
Jelita masih bergeming. Ia berusaha mencerna perkataan Reza barusan. Jadi, Reza akan mengikuti dirinya? Namun, jika William marah dan tetap mendatangi ayahandanya, bagaimana? Dua pertanyaan sarat akan kebimbangan itu muncul di benaknya.
“Kenapa? Kamu malu kalau Kakak ikut?” tanya Reza memastikan sebab Jelita tak kunjung memberikan jawaban.
Jelita mengusap tengkuknya. “Ke-kenapa Jeli harus malu?” balasnya penuh ragu.
“Ih, enggak gitu, Kak!”
“Terus? Apa yang kamu pikirkan? Ragu?”
Jelita terdiam.
Reza menghela napas dalam Kedua telapak tangannya, ia sisipkan ke dalam kantong celana. Memang benar, keputusan yang ia ambil merupakan keputusan sepihak yang mana Jelita tidak ikut andil di dalamnya. Namun jika ia tidak melakukan hal yang sudah ia putuskan itu, tentu William akan semakin gencar mendekati Jelita. Reza rela menahan rasa malu sepanjang waktu kencan berjalan, asal pria yang ia ketahui sebagai CEO baru itu tidak lagi mengganggu gadis kesayangannya.
Setelah berpikir sejenak, Reza kembali mengeluarkan kedua telapak tangannya dari saku tersebut. Ia menatap Jelita penuh makna. Pria itu berusaha mencari alasan di balik sikap ragu Jelita, khawatir jika hati Jelita sudah dibuat berdesir oleh William. Hanya saja, ia tidak bisa memberikan dugaan. Sebab bagi Reza, Jelita merupakan seseorang yang tidak mudah jatuh cinta. Kendati ia tahu jika kekasihnya itu sempat mengejarnya, tetapi dengan ingatan itu ia semakin yakin jika Jelita tak mungkin memilih hengkang dari hatinya hanya karena kehadiran seorang pria tampan.
“Baik!” Reza mencengkeram kedua pundak Jelita. Sesaat ia terdiam, sembari menatap dalam-dalam manik mata Jelita. “Mau ragu atau enggak ragu, Kakak akan tetap ikut sebagai mm ... setidaknya teman atau pengacara kamu.”
“Enggak!” sangkal Jelita.
Satu alis Reza terangkat. “Enggak?”
“Kakak harus ikut dan hadir sebagai pacar Jeli.”
“Mm ... kamu yakin? Enggak malu?”
__ADS_1
“Jeli enggak pernah malu punya Kakak! Dan benar, William enggak pernah kasih syarat selain harus datang seperti kata Kakak. Jeli mau hadapi cowok itu sama Kakak!”
Reza mengulas senyuman. Ia bisa bernapas lega setelah mendengar pengakuan dari Jelita. Terlepas dari rasa minder yang sejak tadi ia tekan, kini ia justru bahagia sebab Jelita memang mencintainya. Ketimbang menghadapi William sendiri, gadis itu memutuskan untuk bersamanya. Dengan kata lain mengandalkan dirinya.
Kemudian, kedua sejoli itu saling memeluk satu sama lain. Bunga-bunga mawar seolah bermekaran mengelilingi kebersamaan manis itu. Sepasang kekasih yang sangat menggemaskan. Di mana seorang nona muda yang cantik layaknya namanya menjadi budak cinta pria gembul yang merupakan seorang pengacara andal.
****
William menatap dirinya pada pantulan cermin yang tertempel di sebuah almari. Kesan yang ia berikan pada dirinya sendiri adalah kesempurnaan fisik. Ketampanan, kewibawaan, tinggi badan yang ideal ia miliki. Tak jarang para wanita menunjukkan kekaguman setelah melihat visual dirinya. Namun, tidak dengan William yang justru merasa berat. Apa gunanya tampilan sempurna, jika jiwanya seperti kosong? Kesepian, ketidakberdayaan sekaligus tidak berguna! Bagi siapa? Ayahandanya!
“Setelah gue berhasil menjabat menjadi CEO, apa yang harus gue lakuin? Balas dendam?” gumam William. Sementara benaknya justru bernostalgia mengenai masa lalu. Di mana saat itu Dian—ayah kandungnya—sama sekali enggan untuk mengakui dirinya.
Selain hal itu, Dian melakukan korupsi untuk memberikan nafkah dirinya dan ibundanya. Ibunda William yang merupakan wanita pertama tetapi istri kedua bagi ayahnya itu. Rasa sakit seolah merobek-robek hatinya jika mengingat hal tersebut. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam dan justru berada di genggaman keluarga besar ayahandanya, Harsono.
“Kenapa mereka mempercayai gue? Apa gue terlihat lemah?”
Dua setik setelah ia kembali bergumam, tiba-tiba pintu kamarnya terdengar diketuk oleh seseorang. William mengulas senyum sinis. Kemudian, ia beranjak menghampiri keberadaan pintu tersebut.
“Ajeng? Selamat sore, Adik,” sapa William dengan raut wajah yang datar.
Selayaknya William, Ajeng beraut sama seperti kakak tirinya itu. “Papa pulang,” jawabnya.
“Maaf, tapi Kakakmu ini ada acara. Enggak bisa bertemu papamu.”
“Oh ya? Bagus kalau begitu.”
William kembali tersenyum. Tidak sinis tetapi terkesan meremehkan.“Baik-baik sama papamu, Adik manis.”
“Tentu, karena beliau papaku.”
Setelah itu, Ajeng berlalu. Ada kebencian di hatinya yang masih pekat ditujukan pada William. Sampai saat ini ia tidak bisa menerima kehadiran William, berbeda dengan saudara kembarnya—Diandra. Mengingat William harus menjadi kakaknya, tetapi lahir dari rahim istri kedua ayahandanya. Tentu hal itu semakin menambah nikmatnya rasa muak. Ajeng menyimpulkan, tidak, kebenaran memang mengatakan jika sebelum menikahi ibundanya—Dian sudah berzinah dengan Leny—ibunda William.
Lain halnya dengan Ajeng yang penuh benci, sebenarnya William sangat mengasihinya. Namun ia tidak bisa memperjelas perasaan itu, ia justru menutupinya dengan senyum sinis setiap kali bertemu adik tirinya itu. Bahkan, pria itu sering mengirimkan cokelat di tempat Ajeng dan Diandra bekerja—butik.
“Jane, harusnya kamu bersyukur. Sebab, kamu bisa disayangi oleh saudara tiri kamu. Tapi, entah kenapa setiap kali melihatmu, aku justru seperti menghadapi diriku sendiri. Semoga ibu kamu cepat ketemu dan berita itu bukan beliau, Jane,” gumam William sembari meluruhkan tubuhnya di balik pintu kamar.
Namun, ketika ia teringat perihal kencan, tanpa pikir panjang lagi ia segera bangkit. William menyambar handuk yang tergantung di sebuah gantungan baju. Kemudian ia bergegas untuk bebersih diri. Benaknya yang melukiskan wajah imut sekaligus Jelita, mampu menepis semua nestapa yang membelenggu perasaannya.
“Jeli-ta, malam ini aku bersamamu!”
****
...Jangan lupa Like, komen...
__ADS_1