Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 63-Yang Sebenarnya


__ADS_3

“Jeli, aku enggak sesempurna dia untuk bisa membuat kamu takjub. Tapi, demi Tuhan! Aku juga bisa melindungi kamu.”


Episode 63-Yang Sebenarnya


Jane terpaksa membawa William keluar dari butik itu demi memberikan waktu untuk Jelita dan Reza. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya ia benar-benar merasa malu. Harga dirinya hancur atas ketidaksopannya tersebut. Namun kondisi saat ini membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Juga, perihal Jelita yang masih tetap mengunci mulut terhadap Reza.


Kemudian, tepat di area parkir butik itu, Jane menghentikan langkah. Ia melepaskan tangan William dengan segera. Kecanggungan pun menerpa hati kedua insan tersebut. Jane yang memilih menunduk, lalu William sibuk mengusap tengkuk.


“Jane?”


“Kak?”


Dalam waktu yang bersamaan mereka saling memanggil satu sama lain, hal itu tentu menambah nikmatnya salah tingkah. William seketika kehilangan nyali, tak berdaya dengan suasana saat ini. Pun Jane yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Hembusan napas keduanya bercampur dengan udara yang mengambang bebas. Deru-deru kendaraan begitu bising terdengar di telinga mereka, nyatanya hal itu tidak mampu meluruhkan rasa malu-malu.


Namun, William tidak ingin terlalu lama terjebak dalam kecanggungan. Ia memberanikan diri menatap wajah Jane yang tak terlihat lantaran masih menunduk. Sesaat setelah menghela napas panjang, William mendekati gadis itu.


William berdeham, kemudian bertanya, “Kamu, ... enggak bawa mobil, Jane?” tanyanya.


Jane berangsur mengangkat kepalanya. Meski tidak sanggup menatap mata William, ia tetap menjawab, “Mm ... aku naik taksi, Kak, tadi.”


“Ermm! Mau kuantar?”


“Jane lagi nggak kerja, Kak.”


“Ke rumah?”


“Enggak bisa, mm ... bu-buat menebus rasa bersalah sekaligus terima kasih, aku traktir Kak Willi aja, ya?”


“Rasa bersalah?”


“A-anu, soal barusan a-aku minta maaf, Kak.”


“Kenapa minta maaf?”


“Ma-maaf, soalnya aku nggak sopan dan mengaku-aku.”


“Hmm ....”


“Maaf, Kak, maaf banget.”


“Maaf lagi? Kenapa adik kakak, hobi minta maaf sih?”


“Ya, mungkin kami sama-sama salah.”


“Santai aja, aku enggak keberatan, Jane. Hayu, naik, katanya mau traktir?”


“I-iya.”


Jane segera melaju kakinya lebih cepat, mengikuti William yang menghampiri kendaraan pribadinya. Kemudian, mereka sama-sama memasuki kabin mobil tersebut. Tanpa berpikir panjang, sang pemilik segera melaju kendaraan itu. Mereka membaur dengan kendaraan lain yang berlalu-lalang di jalan raya.


Keheningan kembali melanda di antara keduanya. Terlebih ketika pihak pria teringat akan kondisi badannya. Ia belum mandi! Lantas, apakah ada aroma tidak sedap? Mengingat itu, William menelan saliva. Ia bergegas menekan ketiaknya dengan lengan, lantaran khawatir jika Jane merasa tidak nyaman.


Sementara itu, mata Jane justru tertuju pada bekas luka di sudut bibir William. Ia menduga rasa sakit luar biasa ada pada luka tersebut. Sepertinya perkelahian terjadi dini hari tadi, dan teror tersebut bukan masalah sepele lagi.


“Ke-kenapa sih, Jane?” tanya William tanpa menatap gadis tersebut. Namun ekor matanya masih mampu mendapati jika saat ini Jane tengah menatapnya dengan serius. Tentu ia merasa risih dalam keadaan belum mandi seperti detik itu. “A-ada apa? Bau jigong, ya?”


Jane tersentak. “Jigong? Pft ....” Tawanya keluar seketika. “Iya, ya, Kak Willi belum mandi. Pantes!”


“Pa-pantes apa?” William mengusap-usap wajahnya, takut jika benar-benar ada bekas ludah di sana.


“Nggak.”


“Serius?!”


“Mm ... bukan jigong kok. Tapi, bekas luka itu. Pasti sakit banget, ya? Maaf, Kak, aku malah buat Kak Willi dalam bahaya.”


Tepat di lampu merah yang menyala, mobil William terhenti. Dalam kesempatan itu, ia menatap Jane dengan serius. Mata indah milik gadis itu tengah menatap ke bawah, membuat lentik bulu matanya terlihat lebih jelas. Hidung mancung, kulit putih bersih, juga bibir sensual menjadi daya tarik tersendiri. Meski tidak setipe dengan wajah Jelita yang lebih oriental, Jane tetap tidak kalah cantik.


“Berhenti minta maaf, aku tahu kenapa kamu manggil aku. Kata Jeli, kamu enggak bisa bantah ucapan kakakmu itu, 'kan?” Sembari melaju kembali mobilnya sebab lampu sudah berganti hijau, William berucap sekaligus bertanya.


Jane menatap pria itu sekilas. “Iya, Kak,” jawabnya.


“Kenapa? Karena kamu masih harus tahu diri?”


“Iya, aku harus menghormati semua keputusan Kak Jeli. Mm ... ngomong-ngomong pelakunya?”


“Aku enggak tahu, Jane, Jeli mengaku enggak tahu juga. Tapi, ... mereka terdiri dari dua orang. Salah satunya seorang wanita paruh baya.”


Mata Jane yang sudah bulat kini semakin membulat. “Wa-wanita paruh baya?”

__ADS_1


William mengangguk. “Iya, dari suaranya dan telapak tangan yang mulai keriput, aku bisa simpulkan kalau wanita itu berusia 50 tahun atau lebih.”


Kedua telapak Jane mendadak bergetar. Dalam kegemingan, ia tidak bisa bernapas dengan lega. Dadanya merasa sesak, juga debaran jantungnya begitu cepat. Dari penuturan William, Jane merasa takut. Ia takut jika pelakunya adalah ibundanya sendiri. Terlebih, ketika teror terjadi bersamaan dengan hilangnya Riris dari rumah sakit jiwa.


Enggak mungkin Mama, 'kan? Jane menelan saliva dengan susah payah. Dunianya seketika berputar detik itu juga. Kekhawatirannya mencuat dari dalam hati. Jane tidak tahu harus berbicara bahkan bersikap apalagi. Sebab, jika Riris adalah dalang di balik insiden semalam, sungguh! Ia tidak pantas untuk berada di rumah Nur Imran.


“Jane, jadinya mau sarapan di mana?”


Pertanyaan William dibiarkan mengambang, sebab telinganya Jane seolah menjadi tuli. Hal itu membuat William merasa heran. Terlebih, ketika ia mendapati mimik wajah Jane yang memancarkan kegelisahan. Juga, kedua tangan gadis itu justru gemetaran.


Kemudian, William memutuskan untuk menepikan mobilnya. Detik berikutnya, ia menatap Jane dengan senyum manis.


“Hei!” seru William.


Seketika, Jane tersentak. “I-iya, Kak? Ma-maaf,” jawabnya.


“Hmm ... maaf lagi?”


“Ma ... ah, a-anu ....”


“Jangan mikir yang macem-macem, kakakmu pasti aman kok. Aku bakal bantu cari pelakunya, beberapa petunjuk udah aku dapat.”


Hati Jane terenyak sakit. Bagaimana jika William justru menangkap ibundanya sendiri? Betapa malunya dirinya nanti.


“Se-semoga berhasil, Kak.”


“Kamu baik-baik aja?”


“Iya, aku baik-baik aja kok.”


William tidak lantas percaya. “Mm ... apa kamu kepikiran ibu kamu?”


“Ke-kenapa Kak Willi tiba-tiba bahas ibuku?”


“Karena, aku juga bakal bantu cari beliau.”


“Ja-jangan!”


“Kenapa?”


“Jangan ikut campur masalahku, Kak!”


Sesaat setelah menghela napas, William lantas melanjutkan laju mobilnya. Benaknya dialihkan pada hal lain agar tidak ada pembahasan lagi perihal dua masalah kakak-adik tersebut. Namun, kenangan pengakuan Jane beberapa saat yang lalu justru kembali muncul. Tentu, wajah pria itu mendadak merah padam.


Sementara rencana untuk makan justru terlupakan, mobil William terus dilaju saja tanpa memikirkan tujuan.


“Mm ... Ja-jane, boleh aku tanya sesuatu?” tanya William memberanikan diri.


“Boleh, asal bukan soal ibuku lagi,” jawab Jane sedikit ketus.


“Mengenai tadi, soal pengakuanmu.”


Jane menelan saliva. “A-aku 'kan udah minta maaf, Kak.”


“Aku enggak butuh minta maafmu, Jane.”


“La-lalu?”


Sekali lagi, William menepikan kendaraannya. Kemudian, ia memasang wajah serius dan menatap Jane. “Pengakuanmu, apa kamu benar-benar menyukaiku?”


Jane melebarkan pasang matanya. “I-itu ....” Jawabannya mengambang, tanpa kepastian.


“Jujur aja. Jangan bohong, aku akan lebih menghargai perkataan jujur.”


Jane menghela napas. Detik berikutnya ia menunduk dengan gelisah. Jawaban apa yang perlu ia katakan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diputuskan. Ia hanya tidak menyangka jika William merupakan tipikal orang to the point. Pria itu akan terus bertanya jika merasa penasaran, ya, masih dengan sedikit basa-basi.


Kegemingan Jane masih membuat William bersabar dalam menunggu. Namun ia tidak memberikan kesempatan berkilah bagi gadis itu. Ia butuh jawaban segera, tanpa perlu membuang waktu lebih lama dengan kepalsuan.


“Kalau ... aku menyukai Kak Willi, emangnya kenapa? Toh, Kak Willi menyukai Kak Jeli. Perihal tadi, aku emang enggak sopan, bukan karena egois atas perasaanku sendiri, tapi aku harus melindungi hubungan Kak Jeli dan pacarnya,” jawab Jane beberapa detik kemudian.


William memilih diam sampai jawaban itu dituntaskan.


“Aku tahu sikapku justru menghalangi Kak Willi buat dapetin kakakku. Aku tahu aku kurang ajar. Tapi, mau gimanapun aku enggak setuju kalau Kak Willi merusak hubungan orang. Kak Willi orang baik, jangan menodai diri sendiri hanya karena cinta.”


“Kenapa?”


“Untuk sekarang posisi Kak Willi di mata Papa lebih tinggi ketimbang Kak Reza. Jadi, biar mereka urus hubungan mereka sendiri. Di saat Kak Jeli kalah dengan argumen Papa, udah pasti mereka bakal pisah sendiri. Dari situ, kamuuu ... bisa ambil kakakku.”


William menghela napas, sembari mengalihkan pandang ke depan. Sesungguhnya, ia merasa takjub dengan pemikiran Jane. Namun, ia merasa sedikit kecewa sebab Jane menduga jika dirinya akan merusak hubungan orang. Bahkan, tidak ada sama sekali di pikiran William untuk itu. Ia tidak berencana membuat Jelita putus dengan Reza, meski meminta sebuah kesempatan.


“Tadi, aku tanya sama Jeli, apa aku punya kesempatan. Kata dia enggak ada sama sekali, juga kisah dia dengan Reza membuatku makin takjub karena Jeli yang melangkah lebih dulu. Sekalipun, Jeli ngasih aku kesempatan, mungkin posisi Reza bakal lebih tinggi di hatinya. Bagiku, jika kesempatan itu ada kemungkinan besar hanya sebuah balas budi, Jane,” ungkap William.

__ADS_1


Jane terdiam.


“Kamu jangan salah sangka, aku enggak bakal membuat diriku kayak ibu tiriku. Ibuku sendiri terbuang cuma gara-gara orang ketiga, Jane, aku enggak bakal membuat orang lain kayak gitu.”


“Tapi, kenapa Kak Willi menantang Kak Reza?”


“Nantang? Oh, ucapanku tadi ya. Itu, karena aku mau bikin Reza lebih peka dan kuat. Untuk sekarang, aku bisa jagain Jeli, tapi pasti aku bakal tahu diri dan pergi, 'kan? Dan di saat itu, aku berharap Reza bisa jagain kakakmu dan merebut hati papa kalian.”


“Kenapa Kak Willi sebaik itu? Kenapa enggak manfaatin posisi dengan baik demi kakakku?”


“Aku emang menyukai kakakmu, tapi aku nggak berharap bisa bersama kakakmu itu, Jane. Karena sekalipun putus dengan Reza, aku tetep bukan cowok idaman Jelita.”


Jane memilih diam. Tidak ingin ia lanjutkan perbincangan itu. Ia khawatir jika William justru merasa semakin sakit karena perasaan bertepuk sebelah tangan. Kendati, sudah menampik beberapa hal, kenyataannya pria itu tampak begitu menyukai Jelita. Di sisi lain, Jane bersyukur sebab William tidak seburuk yang ia pikirkan.


“Tunggu aja, Jane, ada saatnya aku bisa fokus sama kamu.”


“Eh?!”


William hanya tersenyum.


Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Secara kebetulan ada sebuah restoran di sisi pemberhentian itu. Keduanya lantas masuk untuk melanjutkan rencana awal.


****


“Jeli enggak ada apa-apa sama Willi, Kak, sumpah!” ucap Jelita dengan tegas.


“Terus kenapa pagi-pagi udah berduaan?” balas Reza.


Jelita membisu, sebab sejauh apa penjelasannya Reza tetap tidak percaya. Pria itu masih terus mendesak jawaban yang sebenar-benarnya. Namun Jelita bersikeras menampik semua dugaan, sekaligus menghindari pertanyaan berikut kebersamannya dengan William.


Reza semakin bersungut. Ia lantas bergerak maju. Posisi Jelita yang membelakanginya, membuatnya tak kesulitan dalam merengkuh tubuh gadis itu. Tentu saja Jelita terkejut dengan ulah Reza yang tiba-tiba.


“Apaan sih?! Lepas!” ronta Jelita sembari berusaha melepas cengkeraman tangan Reza di pinggangnya.


“Nggak mau, jujur dulu. Tadi kamu ngapain sama cowok itu, dan ada masalah apa nyampe muka dia bonyok begitu?” tukas Reza.


Jelita mengeram. Ia menggigit lengan Reza, dan lantas membuat pria itu terlonjak kesakitan. Reza mendengkus sebal, tidak menyangka jika kekasihnya begitu garang.


Sementara itu, Jelita memilih menghindar. Ia bergegas masuk ke dalam ruang loker tanpa menggubris Reza sama sekali. Tak tinggal diam, Reza berlari menyusul kekasihnya, sehingga terjadi insiden kejar-kejaran.


Ketika Jelita hendak menutup pintu ruang loker, tangan Reza mendorong dengan kuat. Mereka saling bertarung atas nama daun pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Tentu, kekuatan seorang pria jauh lebih besar, Jelita kalah telak!


“Kok ngindar sih?!” tanya Reza dengan tegas.


Jelita memicingkan mata. “Nggak mau lihat muka orang yang nggak percaya sama calon istrinya sendiri!” balasnya sengit.


“Hah? Ca-calon istri?”


Jelita tak menyahut. Ia melipat kedua tangannya dan berbalik badan.


“A-aku juga nggak mau kalau bohong sama ca-calon ... su-suami!” Reza gugup dalam membalas ucapan.


Langkah Jelita terhenti. Ia berbalik lagi dan semakin menajamkan matanya. “Bohong dari mana?!”


“Dari kemarin kamu bohong, Jel!”


“Enggak!”


“Masih ngotot sih!”


“Loe yang masih ngotot, Reza!”


“Loe?!” Suara Reza semakin meninggi.


Sesaat setelah merasa ucapan Jelita semakin tidak sopan, Reza melangkah cepat. Melihat kekasihnya yang bagai banteng bersungut, Jelita terbelalak. Lantas, ia mencari celah untuk melarikan diri. Sialnya, ruangan terbatas susunan loker yang berjejer. Belum lagi, dinding di belakangnya tak memberikan ruang kabur dari pria itu.


Jelita tersudut, sedang Reza semakin dekat. Hal itu membuat Jelita merasa deja vu. Tentu, karena William juga pernah mendesak dirinya pada sebuah dinding pembatas. Kejadian itu terulang kembali, tetapi dengan pria yang berbeda.


Tak mau kehilangan kesempatan, Reza menyergap tubuh Jelita. Ia memeluk gadis itu dengan erat. Jelita terkesiap, ia pikir Reza akan menampar wajahnya. Kenyataannya justru berbeda. Pelukanlah yang sebetulnya Reza inginkan.


“Kakak cemburu ...,” bisik Reza.


Jelita menelan saliva. Rasa bersalahnya muncul seketika. “Maaf, Kak, maafin Jeli,” jawabnya.


“Jeli, aku enggak sesempurna dia untuk bisa membuat kamu takjub. Tapi, demi Tuhan! Aku juga bisa melindungi kamu.”


“Mm ... Jeli tahu kok. Kita akan sama-sama melindungi.”


Tak lama kemudian, Reza melepaskan pelukannya. Ia mengangkat wajah Jelita. Tatapan sayu ia tunjukkan pada gadis itu. Pertahanannya pun berangsur hancur. Reza tidak bisa menahan diri dan lantas mengecup liar bibir mungil kekasihnya.


****

__ADS_1


__ADS_2