Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 54-Pertemuan


__ADS_3

“Tidak apa-apa, Pak, saya sudah mengenal Saudara Reza dengan sangat baik. Kami berteman sekaligus bersaing.”


Episode 54-Pertemuan


Karena luka di lengannya yang masih terasa sakit, pada akhirnya William membatalkan janji temu di sore hari bersama Jane. Ia tidak tahu pasti apakah gadis itu kecewa, atau bahkan marah, kondisinya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Dan tiga hari berselang setelah insiden penembakan itu, sepengetahuan William kondisi Jelita masih dalam keadaan baik-baik saja. Namun dari segi fisik, bukan mental yang sekiranya masih menanggung sejumlah ketakutan.


Sementara Reza yang masih berjibaku dengan dua kasus besar belakangan ini, membuat William tidak bisa berbicara dengan pria itu lebih lama. Padahal, ia susah payah meminta nomor Reza dari Nisa—pengacara kakak sepupunya. Sebenarnya, ada beberapa hal yang perlu William sampaikan. Bukan perihal masalah Jelita, tetapi sebuah pertarungan. Sesuatu yang ia rencanakan dan akan memberikan manfaat banyak, ketimbang diam saja tanpa tahu kebenarannya bagi Reza.


Suara dehaman Riska terdengar, hal itu membuat William membuyarkan lamunan. Dirinya yang saat ini masih menjabat sebagai asisten pribadi Riska, mencoba fokus pada pekerjaan.


“Kamu ada masalah, Willi?” tanya Riska. Tentu ia tahu jika sepupunya itu sedang memikirkan sesuatu di luar pekerjaan. “Ada apa? Bilang sama Kakak.”


William menghentikan jari jemarinya yang beradu di keyboard komputer. Ia mengulas senyum manis sembari menatap manik mata CEO cantik tersebut. “Enggak apa-apa, Kak. Hanya jenuh, ngantuk,” jawabnya lugu.


“Hmm ... satu jam lagi pulang, Will. Tapi lenganmu udah sembuh?”


William melirik lengannya yang belum lama ini diketahui tengah terluka oleh Riska. “Udah, Kak. Kemarin masih agak perih, tapi sekarang udah berangsur membaik.”


“Kenapa sih, enggak mau ke dokter aja. Terus mana ada kepleset nyampe blazer robek sekaligus kulitmu.”


“Ada, Kak.”


“Cuma kamu! Itupun kalau enggak bohong!”


“Hahaha, mana ada aku bohong, Kak. Kalau Kak Celvin bisa jadi.”


“Jangan bawa-bawa nama suami aku!”


Pintu terbuka secara tiba-tiba. Sang tamu bahkan tidak mengetuk terlebih dahulu. Dua saudara sepupu itu kompak menatap sang pelaku. Sosok tampan terlihat di ambang pintu itu, kemudian mengayun kaki memasuki ruangan CEO di mana William juga bekerja di sana.


“Celvin?” Riska menurunkan badannya dari meja kerja William. Ia lantas menghampiri sang suami yang baru datang. “Kenapa dateng, nggak kabar-kabar?”


“Maaf, Sayang, tadi sekalian mampir. Ada meeting di kafe terdekat.” Disambutnya tangan Riska yang sudah siap memberikan salam layaknya seorang istri kebanyakan, oleh pria itu.


“Anak-anak?”


“Maaf.” Pria bernama Celvin tersebut menyentil hidung Riska. “Belum sempat tengok anak.”


“Hmm ... ya udah, aku yang minta maaf belum bisa jagain anak. Tuh ....” CEO cantik itu menunjuk William dengan sedikit cibiran. “Calon penerus belum siap dari kemarin-kemarin.”


“Lah gue lagi,” gumam William lirih. Ia mengalihkan pandang. Namun detik berikutnya, ia justru memiliki ide brilian. Diambilnya blazer serta ponsel dan dompet, kemudian ia bergegas. “Abang sepupu ipar, mohon bantuannya, aku ada urusan.”


“Willi! Mau ke mana kamu?! Masih lama pulangnya!”


Teriakan Riska tidak digubris oleh William yang memilih melesatkan kaki dengan cepat. Sepupunya itu bahkan tidak peduli jika jam kerja masih berjalan.


Melihat sang istri yang kesal sendiri, membuat Celvin tersenyum geli. Baginya, Riska tidak pernah berubah, mudah marah seperti saat mereka masih berpacaran. Ada kalanya ia pun turut kesal, tetapi tidak bisa kehilangan. Masa lalunya hanya seorang Riska, dan hanya wanita itu yang bisa menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


Terlepas memang tampan, Celvin memiliki masa lalu kelam yang bahkan tidak semua orang bersedia bersamanya, ada kemungkinan mereka justru ketakutan. Namun dengan sabar, meski sempat terkendala restu orang tua, Riska rela bertahan hingga akhirnya naik ke pelaminan bersama pria itu dan dikaruniai seorang anak laki-laki.


“Udah, Riska. Aku gantiin Willi hari ini,” ucap Celvin menasehati.


Riska berangsur luluh, kendati rasa tidak enak hati mulai muncul. “Lalu, kantor kamu?” balasnya.


“Suamimu ini CEO, berkuasa atas segalanya.”


“Ck, CEO bukan dewa, jangan sombong kamu. Lagipula, aku juga CEO, yang pasti lebih berkuasa daripada kamu tanpa peduli pihak kamu lebih kaya.”


“Iya, iya, percaya. CEO rumah tangga, kalau udah bawel susah dikalahinnya.”


Kedua insan yang sudah terikat janji suci itu saling melemparkan tawa goda. Dan tanpa menunggu lama, keduanya merampungkan pekerjaan di kantor itu. Kini, sudah tak ada lagi curiga, tak seperti dulu yang justru saling bersaing satu sama lain. Tentu saja antara Sanjaya Group dan Harsun Group. Lagipula, suami-istri itu sering bertukar pendapat ketika di rumah, kendati perusahaan yang dipimpin dari pihak yang berbeda.


****


Setelah melesat mobilnya dengan cepat, akhirnya William sampai di gedung firma hukum Alif Berry Nugraha(ABN). Di mana Reza Amdan bekerja sebagai pengacara atas naungan pamannya sendiri. Sesaat setelah memarkir mobilnya, William turun. Ia berhenti sejenak memandangi ukiran nama dari kantor firma tersebut. Kemudian, ia memantapkan langkah untuk melanjutkan rencana.


Tidak ada yang tidak mengenal William, kendati pria itu masih belum menjadi penerus Harsun Group. Selain karena merupakan sepupu dari Riska, ketampanannya sungguh menjadi tranding topic tersendiri bagi karyawati sekaligus pengacara-pengacara wanita berusia muda. Oleh karenanya, William begitu mudah memasuki ruang para pengacara andal, termasuk ruangan Nisa. Namun, tujuannya kali ini bukan Nisa, melainkan Reza.


Alif—CEO dari firma hukum itu—lantas menyambut dengan baik kedatangan William.


“Hohoho, Tuan Willi mampir. Kenapa, kenapa? Ada yang bisa kami bantu? Mari, mari duduk,” ucap Alif begitu antusias.


William berlaku begitu sopan dan penuh hormat, kendati sosoknya begitu disegani. Ia merundukkan kepala sekaligus menjabat tangan Alif. Setelah itu, ia berkata, “Maaf, Pak. Agaknya saya mengganggu.”


“Mm ... kedatangan saya bukan mencari Ibu Nisa, Pak.”


Dahi Alif berkerut samar. “Lantas?”


“Reza Amdan. Ah ... saya ingin bertemu Pak Reza.”


Mendengar nama Reza yang disebut oleh William, di saat ia belum pernah mempertemukan keduanya, tentu membuat Alif bertanya-tanya. Ada apa? Dan dari siapa William tahu perihal Reza? Namun, pertanyaan kedua justru dijawab oleh otaknya sendiri. Sebab, sosok Reza memang kerap kali muncul di televisi dengan catatan keberhasilan menangani setiap kasus besar.


“Mm ... bisa sih. Hanya saja, anaknya sedikit dingin kalau bukan sama klien, Tuan Willi. Malahan awal bertemu, dia bakal acuh tak acuh. Mm ... memangnya ada masalah yang memerlukan bantuan Reza? Ya benar, Reza memang peringkat satu di firma hukum ini,” ucap Alif.


William sedikit tercengang mendengar penjelasan seputar Reza. Yang mana kekasih dari Jelita itu memiliki predikat yang cukup baik. Padahal, ketika bersama Jelita, Reza terkesan konyol dan tak bisa bersikap layaknya seorang pria gagah. Terlepas dari tubuhnya yang tambun, wajah pria itu terbilang imut atau bagi William cukup menyedihkan!


“Tidak apa-apa, Pak, saya sudah mengenal Saudara Reza dengan sangat baik. Kami berteman sekaligus bersaing,” jawab William sembari tersenyum sarkatik.


Alif tidak banyak bicara lagi. Ia membawa William menuju ruang kerja Reza. Pintu diketuk beberapa kali. Hingga terdengar suara sahutan dan mereka masuk ke dalam.


Di dalam, Reza sama sekali tak menggubris. Ia justru masih sibuk dengan materi-materi kasus. Bahkan, ia tidak menyadari keberadaan William.


“Mohon buat janji dulu sebelum datang,” ucap Reza acuh tak acuh.


“Za!” tukas Alif merasa malu.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi William justru tersenyum. “Mohon maaf Pengacara Reza,” sahutnya ramah.


Suara yang tidak asing itu sukses membuat Reza mengerutkan dahinya. Ingatannya yang cukup bagus mengarah pada sosok William yang belum lama ini ia temui bersama Jelita. Meninggalkan materi-materi itu terlebih dahuli, Reza menatap sang paman juga tamunya.


“Kamu?” Pengacara itu lantas berdiri dari duduknya. Dipandanginya William dengan tidak suka, tetapi bukan berarti ia tidak penasaran dengan kedatangan pria itu. “Ada apa?”


Melihat sang keponakan yang tidak asing dan terlihat mengenal William, Alif berangsur pergi. Tidak lupa ia berpamitan pada William.


Reza menghela napas dalam. Malas bertemu pria itu ketika pekerjaan sedang bertumpuk, tetapi melihat sang paman yang begitu antusias, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Silakan duduk,” titah Reza. Baru setelah itu, ia menghampiri keberadaan William di ruang tamu kantor pribadinya tersebut.


Sembari mengambil posisi duduk, William berkata, “Hmm ... kantormu bagus juga.”


“Tentu. Mau ngopi?”


“Enggak. Aku mampir sebentar.”


“Sejak kapan berbicara kasual?”


“Sejak saat ini.”


Reza mendesis. Kendati perasaan kesal mulai bermunculan, tetapi ia tahan kuat-kuat. Sebab tidak ada alasan di balik kekesalan itu kecuali masalah pribadi. Sebagai seorang pengacara yang sering berjibaku dengan hukum, tentu membuatnya tetap mengingat tata krama dan menjaga kedamaian meski memang tidak suka.


“Ada apa, Tuan Willi?” tanya Reza sesaat setelah mendudukkan tubuh tambunnya di atas sofa yang berseberangan dengan sang tamu.


Kalimat tanya Reza yang dikatakan sebanyak dua kali membuat William berangsur memasang ekspresi serius. “Ada sesuatu yang harus aku katakan,” jawabnya.


“To the point saja. Tidak perlu berbelit-belit.”


“Ais! Kenapa masih bersikap formal? Aku lebih muda.”


“Kita bukan teman. Dan Anda termasuk klien kami.”


“Ck, membosankan.”


“Ada apa? Sudah saya bilang jangan berbelit.”


“Oke, oke. Kedatangan saya kemari ingin mengajak Anda bertarung secara adil.”


“Apa? Maksud Anda apa? Bertarung untuk apa?”


“Untuk Jeli.”


“....”


****

__ADS_1


...Jangan lupa jempolnya...


__ADS_2