Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 76-Penyelidikan


__ADS_3

“Kak ... maafin aku, tapi Jane janji setelah ini semua akan berakhir.”


Episode 76-Penyelidikan


Mereka semua berkumpul. Dari Anhar yang tidak sengaja melihat mobil milik Arlan dan kemudian menghampirinya. Ia mengetuk jendela mobil demi memastikan bahwa dugaannya benar—Arlan atau justru bukan. Lalu, Reza yang sejatinya telah dihubungi oleh William beberapa saat yang lalu. Ditambah dua laki-laki sangar yang merupakan pengawal untuk membantu Anhar.


Loe di mana? Gue harap loe dateng ke sini, bantuin kita semua. Gue tahu loe pun udah nyelidikan. Kita harus kerja sama dulu, kita semua butuh loe yang mahir dalam masalah hukum. Gue janji bakal jelasin semuanya, tolong, Za! Kesampingkan kekecewaan loe dulu. Gue ada di samping pasar besar. Gue harap loe ke sini. Gue kirim alamatnya.


Beberapa saat yang lalu, William mengatakan kalimat panjang itu melalui saluran telepon pada Reza. Beruntung, Reza mampu bersikap dewasa—dengan mengesampingkan egonya sendiri. Alih-alih menghujat William, ia justru menerima tawaran kerja sama itu. Dan benar saja, hal yang disampaikan oleh William sangat berkaitan dengan kasus teror.


Ya, pada akhirnya semua berkumpul di suatu tempat yang ramai.


“Punya gambaran?” tanya Anhar pada Reza yang sibuk memicingkan mata dan menatap ke arah bawah.


“Mm ...,” jawab Reza singkat. Detik berikutnya ia memasang telinga dengan seksama. Matanya yang sempat menatap bawah, kini mengedar ke segala arah.


Arlan pun melakukan hal sama, kendati untuk kasus seperti ini bukanlah bidangnya. Namun ia tetap berusaha pintar demi keamanan keluarga sahabatnya.


“Aduuuh!” pekik Arlan geram. “Berisik banget, keretanya!”


“Sabar, Om, namanya di pasar gede yang deket stasiun juga,” sahut William membalas omelan Arlan yang sempat ia terima.


Anhar terdiam. Namun Reza justru terganggu oleh ucapan Arlan itu.


“Berisik? Kereta?” Reza tampak berpikir keras.


“Ya, kenapa emang?” tanya Arlan.


Reza lantas menatap ayah dari tiga orang anak itu.

__ADS_1


“Ah!” pekik William. “Gue tahu maksud loe, Za!”


“Loe tahu?” tanya Reza.


“Ya, gue paham yang loe sadari dari kata itu.”


Reza tersenyum. Setidaknya ada satu orang yang memahaminya tanpa penjelasan panjang lebar. Namun tidak dengan Arlan dan Anhar yang justru keheranan sekaligus bingung. Kedua pria paruh baya itu tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kedua anak muda tersebut. Demi menjaga fokus mereka, Arlan meminta Anhar untuk tidak mengganggu dengan pertanyaan.


Satu kode telah Reza dan William pecahkan. Perihal tempat bising dan berada di bawah permukaan, dengan kata lain tempat itu tidak lebih tinggi dari tanah. Kereta merupakan sumber kebisingan seperti yang dikatakan oleh Asih. Jadi, ... bisa dikatakan jika markas Dery berada di bawah laju kereta api. Kini tinggal menyusuri tempat yang berserak, temaram, serta untuk orang tiada.


“Berserak udah pasti berantakan, kumuh bahkan hancur.” Reza memangku dagu sembari berjalan ke sana ke mari.


Kemudian William mengikuti. “Tempat orang tiada, kuburankah? Pemakaman?” ucapnya


“Mm ... sepertinya begitu. Tempat kumuh yang dekat dengan pemakaman, kemudian terdengar bising oleh laku kereta. Tempat itu pun berada lebih rendah dari keberadaan rel kereta. Dengan kata lain, kita harus menyusuri sepanjang jalur kereta api yang paling dekat di pasar ini kemudian Manggarai ke Tangerang, Bekasi, Bogor dan mungkin beberapa daerah lain. Tapi, untuk kali ini fokus kita pada arah tiga kota tersebut.”


Arlan yang sejak tadi diam kini menghampiri kedua anak muda itu. “Kalau kode yang kalian pecahkan memang benar, enggak ada cara lain kita harus bagi tim.”


“Maksud Om?” tanya Reza dan William secara bersamaan.


Kini giliran Anhar yang menyahut, “Kita bagi empat tim untuk naik kereta dengan jurusan berbeda. Dengan begitu, kita bisa memastikan tempat itu.”


Reza manggut-manggut. “Mm ... ya saya paham, tapi waktu kita hanya sebentar sampai matahari terbenam. Kita akan kesulitan jika penerangan sangat minim.”


“Dua pengawal saya akan lewat jalur depan, menyusuri tempat-tempat sekitar jalur kereta api.”


“Ide bagus! Tapi akan lebih bagus jika Pak Anhar lewat jalur depan, sementara salah satu pengawal Anda mengikuti kami.”


“Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi maghrib, jangan sia-siakan waktu. Apalagi di jam-jam sekarang kemungkinan besar akan padat penumpang.”

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan terakhir yang Anhar katakan, mereka semua bergegas dengan membawa mobil ke parkir khusus di sekitar stasiun terdekat. Namun Anhar ke arah lain yang mana ia akan mendatangi kampung-kampung di bawah jalur kereta.


Reza dan salah satu pengawal Anhar menaiki kereta dengan cara mendesak-desak beberapa calon penumpang. Tentu setelah mereka mendapatkan tiket yang telah dibeli. Kemudian, Arlan dan William melakukan hal serupa. Paman dan keponakan itu menaiki jurusan sama untuk sementara. Mereka akan berpisah di stasiun khusus transit.


Sementara di istana Nur Imran, Jelita sudah terkunci di dalam kamar bersama Jane. Pengetuk pintu tiba-tiba pergi ketika Jane datang menghampiri. Jane pikir hanya seorang pelayan baru yang tentunya tidak memahami aturan rumah itu. Namun Jelita justru memberikan fakta mengejutkan.


Aku harus bertindak, sebelum Mama dan Dery semakin berbahaya. Tapi, gimana? Batin Jane berkecamuk, sedangkan matanya menatap sang kakak penuh penyesalan. Ia ingin menyudahi aksi dua orang yang masih berkaitan dengannya itu, tetapi bukan perkara mudah. Bahkan, ketika ia mendatangi rumah Dery, Asih sekaligus Jenny tidak memberikan penjelasan apa pun.


“Kak ... maafin aku, tapi Jane janji setelah ini semua akan berakhir,” ucap Jane pada akhirnya.


Jelita menatap Jane dengan bingung. “Apa maksud kamu? Kamu tahu?” tanyanya.


Jane mengangguk pelan. “Aku tahu, sebab yang berkaitan dan paling dekat dengan mamaku hanya Dery. Jika dugaanku benar, pelayan bertopi hitam adalah dia.”


“De-dery?”


“Ya, mantan asisten mamaku sekaligus kekasih gelapnya.” Jane melepaskan tangan Jelita dari tubuhnya. Kemudian, ia berdiri. Ditatapnya sekali lagi paras Jelita yang masih menyimpan kebingungan sekaligus ketakutan itu. “Kakak di sini aja, Jane bakal atasi semuanya.”


Ketika Jane hendak berbalik, Jelita menarik jemari gadis itu. Sembari berdiri, ia berkata, “Jangan bodoh kamu, Jane! Tunggu di sini sama aku sampai semua orang tahu! Mereka akan menyelamatkan kita, Jane!”


“Nggak, ini salah Jane, Kak. Mama dan Dery hanya menginginkan Jane aja. Kalau Jane sampai di tangan mereka, Kakak dan Papa akan selamat.”


“Tap—”


Tiba-tiba suara tembakan terdengar keras sampai terdengar ke kamar Jane—di mana ia berada dengan Jelita. Dinding tebal kamar pun seolah tidak bisa mengatasi suara mengerikan itu. Tampaknya Dery telah menggelar genderang peperangan. Tidak, lebih tepatnya hendak menjadi penyerang.


Lantas, apa yang terjadi setelah insiden itu? Rasanya sulit untuk menyelamatkan mereka semua.


****

__ADS_1


__ADS_2