Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 61-Hentikan, Ma!


__ADS_3

“Aku akan membunuhmu ....”


Episode 61-Hentikan, Ma!


Jelita masih terdiam ketika ia sudah sampai di butiknya. Kedua tangannya begitu kompak mencengkeram setir. Tentu hatinya dilanda gelisah yang berkolaborasi dengan rasa takut. Bahkan untuk menatap pintu butiknya tersebut, ia tidak mampu. Jika benar si pelaku akan membakar gedung itu sudah pasti ia harus berusaha menghentikannya. Namun ketika ia datang hanya seorang diri, semua tidak semulus rencana dalam benak.


Mau bagaimanapun Jelita masih seorang gadis, yang mana tidak akan mampu menghadapi pelaku kejahatan. Terlebih, ketika ia tidak memiliki satu pun ilmu bela diri. Mungkin kedatangannya saat ini terbilang nekat, tetapi jika bukan dirinya sendiri butiknya akan hancur sebelum karirnya menanjak.


Kata orang nyawa lebih penting ketimbang harta sekaligus uang. Namun tidak bagi Jelita, meski sebenarnya ia tidak memikirkan semua itu. Ia hanya malu, sekaligus tidak ingin membuat keributan bagi dirinya bahkan ayahandanya. Jelita benar-benar bertekad melawan sang pelaku, apa pun yang terjadi!


Jelita menghela napas beberapa kali, sembari mengeram menguatkan diri. “Ayo, Jeli, beranikan diri. Dia hanya orang iseng!” gumamnya pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, gadis itu mulai menuruni mobilnya. Ia berdiri tegak dalam beberapa detik. Lalu, sembari melangkahkan kaki menyusuri kegelapan malam, matanya menyelidik sekitar butiknya. Tak ada apa pun di sana, semua terlihat normal.


“Aku berharap, emang orang iseng aja,” ucap lirih seorang Jelita.


Langkah demi langkah di ambil oleh sepasang kaki indahnya secara bergantian. Jantungnya berdegup sangat kencang, juga kebiasaan gemetar ketika tengah ketakutan. Namun Jelita tetap berusaha tidak gentar. Jika pelaku itu memang ada di dalam butiknya, ia harus melawan dan menyudahi permainan mengerikan itu.


Apa pun yang terjadi Jelita harus menang! Setelah itu hatinya akan kembali damai, tak perlu lagi berperang dengan aturan ketat Nur Imran. Tidak perlu lagi menghadapi kesalahpahaman dengan Reza. Juga, tak perlu lagi menanggung hutang budi pada William.


Sesampainya di teras butik, mata Jelita mendapati suatu pecahan. Ia menelan saliva dengan getir. Sementara suasana malam yang mencekam itu semakin tegang, tengkuknya kaku sekaligus memanas. Sekujur wajah Jelita yang ayu merah paham. Ia terisak dalam hati, tanpa bisa melangkahkan kaki.


“Enggak, a-aku enggak boleh takut.” Jelita terus berusaha menguatkan diri dan melawan rasa ngeri berikut ketakutan yang bersarang pada dirinya. Dalam kepanikan yang bisu itu, Jelita mencoba mendongakkan kepala.


Dugaannya benar! Pecahan yang Jelita temukan merupakan CCTV yang dihancurkan. Napas gadis itu seketika memburu, ia memandang sekeliling butik itu dan ... empat CCTV hancur! Membuktikan bahwa sang pelaku benar benar mengunjungi butiknya. Entah sekarang atau beberapa saat yang lalu.


“Enggak! Butikku enggak boleh hancur!” Jelita lantas bergerak cepat setelah melawan ketegangan yang menerpanya. Ia berlari menuju pintu utama, kemudian bergegas membukanya.


Di dalam butik begitu gelap semakin menambah nikmatnya malam yang mencekam. Kedua mata Jelita terus mengedarkan pandang ke setiap sudut ruangan. Semua tampak normal, beberapa maneken dan gaun masih ada di tempatnya.


“Dia lagi mainin aku ....”


Kepanikan begitu kurang ajar menyerang hati bahkan seluruh diri Jelita. Ia terus memastikan setiap ruangan butiknya. Sementara wanita paruh baya bertudung jubah hitam berikut topeng gelap, tengah asyik mengawasi gerak-gerik Jelita. Ia bersembunyi di balik pintu dalam dapur yang berdekatan dengan pintu samping di mana rekannya berada.


“Hihi ... akhirnya aku bertemu anak pertamaku,” gumam Riris sembari menyeringai. Di balik topeng yang ia kenakan itu, wajahnya berekspresi seram dengan mata tajam, seolah siap menerkam sang mangsa. Dan karena tidak mau menunggu lama, Riris segera keluar dari persembunyian.


Jelita masih berada di ruang loker, membuka satu persatu bilik loker itu. Semua aman dan normal. Dari ruang utama, ruang jahit, ruang loker dan kantor pribadinya tampak baik-baik saja. Namun gadis itu merasa ada sesuatu yang janggal. Sebab temaram lampu bohlam di area samping menyorot bagian dapur.


“Gimana bisa? Apa ada yang buka pintu samping?” ucap Jelita bertanya-tanya. Dari matanya yang mendapati sorot lampu itu, ketegangan kian meruncingkan diri.


Seketika, Jelita menduga jika sang pelaku memasuki area fasilitas dapur di butiknya. Hal itu menyebabkan gemetar tubuhnya semakin menghebat. Pun, buliran air mata membasahi kedua pipinya. Tak bisa ditampik bahwa ia memang benar-benar takut. Dan akhirnya ia menangis sesenggukan.


Ingin sekali Jelita menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Lebih tepatnya, tak bisa melibatkan siapapun dari mereka. Entah itu Nur Imran, Jane, Reza, Arlan, Fanni, atau Mita. Kini justru sosok William yang ada di benaknya, sebab hanya pria itu yang mengetahui masalah teror tersebut.


“Willi, tolong aku, hiks ... hiks ... tolong aku,” ceracau Jelita di sela isak tangisnya. “Kak Reza, hu ... hu ... hu ... Kak Reza. Tolong Jeli.”


Suara benda berat terjatuh tiba-tiba terdengar. Seketika tangis Jelita terhenti, ia mematung dalam ketegangannya.


“Siapa? Siapa kamu?!” ucap gadis itu tanpa bergerak sedikit pun.


“Hihi ....” Suara tawa Riris menyahut tanpa sosok dirinya dari arah dapur.

__ADS_1


“Siapa?! Kenapa kamu kayak gini sama aku?!”


“Hihi ....” Suara tawa kedua, dibarengi dengan langkah maju Riris hingga ia menampakkan diri dalam wujud gelap tersorot lampu bohlam dari pekarangan samping.


Mata Jelita reflek membelalak. Semua yang sudah ia alami, mulai dari degupan, deru napas, gemetar terus saja menjadi-jadi. Lampu yang tidak sempat ia nyalakan di bagian ruang loker itu semakin menambah nikmatnya kengerian. Jelita terpaku dalam keadaan tak berdaya.


“Aku akan membunuhmu ....” Riris mengancam dengan suara serak, tetapi cukup pelan.


Mendengar itu, Jelita mundur satu langkah dengan susah payah. Sementara wanita paruh baya tersebut memajukan langkah, tangan kanannya menggenggam sebuah pisau yang tajam.


Jelita berusaha berpikir keras untuk kabur, atau setidaknya menyerang terlebih dahulu. Namun tiba-tiba saja Riris menyabetkan tangan berpegang pisau itu nyaris mengenai wajah Jelita. Tentu, Jelita sangat terkejut dan tubuhnya terhuyung ke belakang, ia jatuh terduduk. Rasa sakit yang menerpa tubuhnya akibat terhentak ke lantai seolah dikalahkan oleh rasa takut.


“Kamu harus mati, Nak!” ancam Riris. Kali ini tak pelan lagi, melainkan lantang. “Hiiiiaaaaaaaa!” Ia berusaha menyabetkan pisaunya lagi dengan target lengan kanan Jelita.


Beruntung Jelita dalam kondisi sadar, dan segera bergeser ke samping. Namun hal itu tidak membuat Riris menyerah, ia terus mengacungkan pisau.


Duag! Jelita mendapatkan titik kelemahan di kaki Riris, dan segera menendangnya. Alhasil, Riris terjatuh dengan keras. Dalam kesempatan itu, Jelita segera berdiri. Namun ketika ia hendak lari, kakinya segera diraih oleh Riris. Jelita berpegang pada meja, agar tidak kembali jatuh.


“Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini?! Lepasin aku!” tegas Jelita sembari menendang-nendangkan kakinya.


“Mati! Kamu harus mati!” balas Riris.


Bug! Jelita kembali terjatuh. Di kesempatan itu, Riris bangkit. Ia tertawa cekikikan. Oleh suara tawanya, suasana semakin mencekam. Wanita paruh baya itu bagai seorang psikopat yang haus akan daging manusia! Seolah Jelita bagai hewan korban yang ia buru untuk dicincang setiap jengkal anggota tubuhnya.


Sementara Jelita yang menyeret tubuhnya, Riris terus memajukan langkah. Namun tidak seperti tadi yang langsung menyerang Jelita, kini ia justru menikmati setiap ketakutan di wajah mantan anak tirinya itu.


“Mama ... kenapa Mama berbuat seperti ini?” tanya Jelita sesuai dugaannya selama ini.


“Mama ... Jane kangen sama Mama, Mama seharusnya mengunjungi kami dalam keadaan sehat.” Jelita terus mencoba mengalihkan fokus Riris.


Riris masih membisu. Sementara Dery yang sudah mengawasi dari dapur sibuk mengumpat.


“Jangan terpengaruh, Nyonya ...!” geram Dery.


Namun Jelita tahu jika Riris masih memiliki kemungkinan untuk dipengaruhi. “Ma ... ayo kita pulang, Jane menunggu.”


“Aku ... bukan mamamu lagi. Aku harus membunuhmu,” jawab Riris.


“Enggak, Ma, sampai kapan pun Mama tetap mamaku sekaligus Jane. Ma, ini enggak bagus, Ma, gimana kalau Jane dan Papa kecewa?”


“Papamu sudah membuangku ... dia pun harus mati!”


Dery menyeringai dari tempatnya. “Bagus, Nyonya, teruslah begitu.”


Jelita tidak menyerah. “Papa ... masih sering merindukan Mama. Papa masih sering mengunjungi rumah sakit Mama, meski enggak menemui Mama. Kita semua masih sayang sama Mama, Ma ... setidaknya jangan buat Jane kecewa. Please ....”


“Papamu masih merindukan aku? Apa dia masih mencintaiku.


Jelita terdiam. Namun ia segera memberikan anggukan mantap. “Kalau Papa udah enggak sayang sama Mama, enggak mungkin Papa jenguk Mama secara diam-diam, ‘kan? Kami semua sayang sama Mama.”


“Benarkah?”

__ADS_1


“Iya, Ma! Hentikan semua ini, Pa-papa, Jelita, Jane sa-sayang—“


Dery naik pitam karena Riris mulai terpengaruh ucapan Jelita. Ia bergerak cepat dengan melemparkan sebuah maneken setengah badan. “Diam!” tegasnya lantang memekikkan telinga.


Riris dan Jelita kompak terkejut. Mereka berdua sama-sama membelalakkan mata.


“Jangan terpengaruh, Nyonya! Dia berbohong untuk mencari celahmu! Bunuh dia, tak perlu disiksa hidup-hidup lagi!”


Oleh karena ucapan Dery, Riris kembali sadar. Ia sadar pada tujuan awal, yaitu membunuh Jelita. Ia menyeringai lagi dari balik topengnya. Tangannya yang sempat melemah, kini diangkat lagi sembari mengacungkan pisau tersebut.


Napas Jelita semakin memburu, jantungnya pun berdegup kencang lagi. Ia menyeret tubuhnya dalam keadaan tidak berdiri. Suasana yang sempat redup, kini kembali menegang sekaligus kian mengkhawatirkan. Dery masih di belakang Riris menyaksikan prosesi percobaan pembunuhan itu. Ia tertawa puas, karena sebentar lagi satu nyawa dari keluarga Nur Imran akan hilang.


“Serang, Nyonya!” seru Dery diiringi tawanya yang menggelegar.


“Mati kamu!” Satu serangan Riris dilakukan, tetapi Jelita masih bisa terhindar.


“Huuuuaaaa ... toloooong! Kak Reza, Papa, huaaaaaaaa! Williiiiiiii ... tolong aku.”


“Mati kamu!”


Duag! Tubuh Riris terlempar satu meter ketika ia hendak melakukan penyerangan kedua. Ia terjatuh tepat di hadapan Dery, pisaunya terlempar jauh. Wanita itu mengeluh kesakitan.


“Si-siapa? Berani-beraninya?!” Riris dan Dery kompak berucap dengan raut marah. Kemudian, mata mereka mendapati sosok pria rupawan dengan kaos klub sepak bola berpadu celana olahraga yang panjang.


“William ...?” ucap Jelita.


William—pria tersebut—melirik Jelita sekilas. Detik berikutnya ia bergerak cepat menerjang Dery. Perkelahian terjadi, keduanya beradu ilmu bela diri. Suasana sudah tidak terkendali. Namun karena masih terlalu gelap, tidak ada yang mengetahui. Petugas keamanan yang bertugas di pos depan pun sudah dilumpuhkan oleh Dery dengan dua gelas kopi tercampur obat tidur. Ia berlagak akrab dengan mereka sebelum melakukan aksi.


Maneken-maneken tanpa busana terlempar ke sana ke mari. Dalam suasana gaduh itu, penyakit Riris kambuh. Ia menjerit-jerit tidak keruan dan lantas berlari keluar karena bisikan-bisikan di telinganya kembali menakutinya.


Jelita terkejut karena mantan ibu tirinya itu kabur. “Ma-mama!” serunya. Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya terlalu lemas dan akhirnya kembali tidak berdaya.


“Loe yang mati, sialaaan!” William memberikan penegasan diiringi beberapa umpatan, sekaligus tendangan taekwondo yang begitu keras.


“Aaaa!” Tubuh Dery terpental ke belakang. Topengnya terlepas. Ia segera membuang wajah agar William tidak mengetahui identitasnya.


William menyeka cairan merah di sudut bibirnya sembari menghela napas. Sementara kakinya berjalan mendekati Dery. Namun ketika pria tampan itu hendak membuka jubah Dery, tubuhnya ditendang begitu saja. Alhasil, William terhuyung dan akhirnya jatuh ke belakang.


Dery tidak tinggal diam. Namun daripada menyerang, ia berdiri cepat dan kabur dari tempat itu.


William mengumpat, kemudian berkata, “Ck, kabur? Nggak punya nyali!” Ia segera beralih pada Jelita yang masih tak berdaya. Kemudian, ia berdiri dan mendekati gadis itu.


“Kamu enggak apa-apa, Jeli?” tanya William.


Jelita tidak menjawab, ia menahan keinginan untuk menangis.


“Nangis aja, jangan ditahan.” William hendak memberikan bahunya, dengan kata lain memeluk gadis itu, tetapi tidak begitu berani. Ia menarik tangannya lagi ke belakang. Detik berikutnya William membelakangi Jelita. “Dah, nangis aja aku nggak lihat, Jeli. Punggungku masih kuat untuk kamu sandari.”


Jelita tertegun sebentar. Hingga akhirnya, ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis begitu keras sembari, karena tidak kuasa ia menyandarkan dahinya pada punggung William.


****

__ADS_1


Mohon reviewnya untuk episode ini, yaaaa


__ADS_2