Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 72-Titik Terang!


__ADS_3

“Jane? Kenapa hanya Jane yang aman? Orang itu, pelaku itu, dua orang? Bukan motif pesaing, fans, ataupun haters. Balas dendam?”


Episode 72-Titik Terang!


“Gue ... ya, sangat dekat dengan Jelita.”


Ucapan Reza semakin membuat Lesy jatuh penasaran. “Sahabat?”


Reza tak menyahut.


“Hmm ... pacar.”


“....”


Lesy berdecak sembari melipat kedua tangannya ke depan. Ia menatap Reza, sesekali bergeleng-geleng kepala.


“Loe mau ketawa? Gue nggak peduli, Les, silakan! Asal loe mau tepati janji bantuin gue, buat dia.”


“Ngapain gue harus ketawa? Toh, nggak lucu. Ya, cuma penasaran doang. Lagian gue hapal banget siapa Jeli. Cewek baik hati yang lembek sekali. Bahkan, seekor kucing pun dia kasih makanan ketimbang dia makan sendiri.”


”Ya, dia emang begitu.”


“Tenang aja, zaman sekarang bukan hal aneh cewek cakep pacaran sama cowok kayak bola, bulet macem loe, Za!” Lesy menarik tubuhnya dari sandaran. “Okelah! Ceritain detailnya dulu, kasus ini sebenarnya buat siapa? Jeli apa bokapnya?”


****


Saat itu, Reza lantas menceritakan segalanya mengenai kasus itu pada Lesy. Namun, ia tetap menjaga privasi hubungannya. Kendati tipikal wanita berandal, Lesy justru mampu menjadi pendengar yang baik. Kala itu, ia tidak memikirkan uang, melainkan membayar hutang atas perilaku buruknya terhadap Jelita di masa SMA. Selain karena hal itu, Lesy merasa kasus kali ini cukup seru untuk diatasi.


Kini, tibalah hari bagi Lesy untuk mencari informasi. Cukup mudah baginya untuk bergerak. Dengan menggunakan topi bulat warna hitam dan kacamata tebal, ia mengamati para karyawan diam-diam, termasuk beberapa CCTV yang terpasang di perusahaan Nur Imran.


“Cha!” ucap Lesy sembari membidikkan jari pada seorang karyawati berseragam office girl. “Gas!”


Kemudian, wanita cantik itu memulai aksinya. Ia melepas topinya dan mengibaskan rambut panjang yang berwarna kecokelatan. Ketika sudah dekat dengan salah seorang office girl itu, Lesy menabraknya.


“Aduh, maaf, Mbak,” ujar Lesy memasang tampang merasa bersalah. Dan secara diam-diam, ia menyambar tali id-card dari tas yang terbuka lebar.


Karyawati kebersihan tersebut tidak menyahut, ia hanya menatap sekilas kemudian memilih berlalu—melanjutkan langkahnya. Tentu saja hal itu membuat Lesy gembira, pergerakannya sudah seperti pencopet andal di kereta. Dengan begitu, cukup mudah baginya untuk masuk ke dalam perusahaan Nur Imran.


Di bagian lain Kota Jakarta, tepatnya kantor firma hukum milik Alif, Reza termenung di dalam ruangannya sendiri. Ia masih berusaha membuat analisa sesuai informasi yang ia dapat dari penyadapannya ataupun seorang Lesy. Teringat pula di dalam benaknya perihal trauma yang menimpa Jelita. Yang mana mantan ibu tiri gadis itu menjadi dalang atas penderitaan yang berkelanjutan.


Dari nama yang baru Reza dengar dari Lesy, melainkan Dery memang masih sangat asing. Namun jika pria itu merupakan kekasih gelap Riris tentu saja akan ada kaitannya dengan kasus teror itu sendiri.


“Gue harus cari tahu di mana Dery berada. Dia pasti tahu sesuatu, atau setidaknya masa lalu lain antara Jelita dan nyonya itu,” gumam Reza.


Rencana itu yang Reza buat tanpa mengutamakan kejengkelan hatinya terhadap sikap Jelita. Setidaknya, ia bisa membuktikan bahwa dirinya masih bisa diandalkan.


Belakangan ini Reza sengaja tidak menerima tawaran kasus apa pun. Ia meminta izin untuk tidak menangani kasus agar bisa fokus memecahkan situasi mencekam bagi kekasihnya itu. Tadinya, Alif marah besar dan tidak setuju. Hal itu pula yang membuat Reza terpaksa jujur. Reza beralasan jika dirinya bisa membantu pihak Nur Imran, sudah pasti firma hukum itu mendapat nilai positif tersendiri. Oleh sebab itu, akhirnya Alif luluh dan justru memberikan dukungan.

__ADS_1


Kegemingan Reza terganggu oleh suara ponselnya yang berdering kencang. Karena ia pikir adalah Lesy, tentu saja ia lantas meraih tanpa pikir panjang.


Benar saja! Belum lama bergerak, Lesy sudah menghubungi.


“Za! Gue ada kabar yang mungkin berkaitan sama cewek loe,” ucap Lesy dari kejauhan sana tanpa basa-basi.


“Apa kita bisa ketemu sekarang, Les?” tanya Reza.


“Nggak! Gue lagi di kantor Nur Imran, pura-pura jadi office girl. Butuh waktu lama buat kabur, dan info ini gue rasa belum terlalu cukup.”


“Ada info apa? Bisa bilang sekarang?”


“Dengerin gue baik-baik, karna nggak bakal gue ulang lagi. Dery, dia pernah nyerang adiknya Jeli sampai jadi buronan. Orang itu masuk penjara sekian tahun, dan gue rasa dia bisa masuk list tersangka. Karna saat inipun, Nur Imran lagi curiga sama dia. Terlebih, si nyonya menghilang dari rumah sakit jiwa. Loe tahu, 'kan, loe harus apa sekarang?”


“Benar—”


Sebelum Reza menyelesaikan ucapannya, Lesy menutup panggilan itu begitu saja. Wajar, lantaran keberadaan Lesy sama sekali tidak mendukung untuk berbincang lebih lama.


Sementara Reza kembali termenung sesaat setelah menghela napas. Ada kalanya pria itu memejamkan mata sembari berpikir keras. Satu informasi saja sudah membantu daya analisanya. Semua disusun satu persatu mulai dari ponsel yang terjatuh ke dalam kolam, hingga keberadaan pria bernama Dery itu.


“Nyerang Jane? Masuk penjara? Si nyonya gila, penyusup, pria bertopi hitam berkedok pembeli kios? Selingkuhan? Nur Imran dan Jeli diincar? Tapi, Jane ...?” Setelah asyik berceracau, mata Reza melebar ketika mengucapkan nama dari adik Jelita.


“Jane? Kenapa hanya Jane yang aman? Orang itu, pelaku itu, dua orang? Bukan motif pesaing, fans, ataupun haters. Balas dendam?” Reza semakin tercengang. Ia berdiri tiba-tiba dari duduknya. “Nyonya sama Dery memiliki alasan terbesar untuk melakukan teror itu! Mereka saling terlibat dan kemungkinan besar telah membuat kesepakatan, yang mana keamanan Jane harus diutamakan.”


Reza memicingkan mata. “Jane anak kandung nyonya itu meski korban serangan Dery, tapi Nur Imran yang menjebloskan si Dery ke penjara. Gue yakin, pelakunya si nyonya dan Dery! Sekarang tinggal cari bukti akurat dan keberadaan mereka.”


Ketika melihat pintu yang di baliknya merupakan tangga darurat, Lesy lantas bergerak cepat. Seragam yang ia ambil diam-diam dari loker khusus office girl kini masih melekat di tubuhnya.


“Lho?” Seorang office boy tiba-tiba memergoki wanita itu setibanya di tangga lantai dua. “Kamu karyawati baru, ya? Baru lihat saya ada office girl rambutnya dicat.”


Lesy tercekat. Namun ia masih berusaha menutupi wajahnya. Ketika pria itu mendekatinya, ia mundur segera.


“Hei? Kok nggak jawab?”


“Maaf, saya masih baru. Jadi, nggak enak,” jawab Lesy.


“Hmm ....” Pria itu manggut-manggut. “Hei, nggak apa-apa. Begini, karena kamu masih baru. Saya ajarin, mau?”


Cowok ganjen, siiaal!


“Hei, nama kamu siapa? Angkat dong mukanya. Mau bantuin saya nggak?”


Lesy sudah tidak tahan. Ia mengangkat wajahnya sembari menyibak rambut yang beruraian.


“Abang bisa ambilin lap dulu, nggak?”


Wah! Mayan juga nih cewek, kalau cantik mah pakai kacamata juga cakep aja dah. Deketin ah!

__ADS_1


“Saya enggak tahu di mana gudangnya, Bang.”


“Oke, oke, gantiin saya nyapu dulu ya, Neng. Sekalian catat nomor WA-nya.”


“Mm ....”


Lesy menghela napas lega ketika pria itu menuruti kemauannya. Baginya, kecantikan memang memiliki fungsi tersendiri. Dan kini, ia tidak membuang kesempatan lagi. Ya, Lesy melemparkan sapu begitu saja dan melanjutkan langkah untuk kabur dari tempat itu.


Tentu saja si Kancil berhasil! Tepat ketika berada di tangga darurat lantai satu, Lesy melepas seragam yang ia kenakan dan dilempar begitu saja. Diambilnya topi dari kantong celana dan lantas memakainya. Jam operasional yang sudah dimulai membuatnya tidak kewalahan lagi mencari celah. Namun bukan berarti, ia tidak berhati-hati. Lesy tetap mengendap-endap agar sampai di ruang tunggu tamu.


Barulah setelah itu, Lesy melakukan penyamaran kedua yakni menjadi tamu untuk seseorang. Wanita itu lantas menghampiri seorang recepsionist.


“Mbak,” ucap Lesy.


“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya recepsionist tersebut dengan ramah.


Lesy menyodorkan id-card yang telah ia curi sebelumnya. “Saya menemukan ini. Kata security depan katanya disuruh memberikan sama Mbak.”


Resepsionist itu mengernyitkan dahi. Ia merasa heran sebab biasanya proses menerima tamu dari luar harus melalui pos security terlebih dahulu, dengan kata lain ia akan dihubungi sebelum tamu diizinkan masuk. Karena merasa aneh, akhirnya matanya diarahkan ke depan yang mana pos keamanan itu terlihat di sana.


Jangan-jangan yang jaga satpam baru. Hmm ... main masukin orang luar aja! Wanita penerima tamu itu lantas mendengkus kesal.


“Terima kasih, Kakak, nanti saya sampaikan pada pemiliknya.”


Lesy tidak menyahut. Sembari tersenyum, ia berbalik badan. Kemudian, ia benar-benar akan pergi dari tempat itu.


“Good job, Lesy!” lirihnya tetapi bernada mantap sembari mengangkat tangannya yang telah dikepal.


****


Setelah beberapa hari dibuat buntu, akhirnya Dery mendapat pencerahan. Ia kembali merencanakan suatu kejahatan dengan menggunakan siapa Riris di masa lalu. Tampaknya hal itu akan menjadi keputusan yang tepat. Supaya Dery bisa membunuh salah satu anggota keluarga Nur Imran. Yang pasti ia akan terus menyerang sampai ada nyawa yang meregang, agar mereka tahu apa artinya penderitaan—kehilangan serta hidup dalam balutan kemiskinan.


Sembari menyunggingkan senyum mengerikan itu, Dery berjalan menghampiri Riris yang menyukai sudut ruangan. Ya, lagi-lagi wanita itu meringkuk tak berdaya. Sementara otaknya justru sudah dipenuhi beberapa rencana untuk menyingkirkan rekannya itu.


“Nyonya yang turut merancang bangunan rumah itu, 'kan? Harusnya Nyonya masih ingat, apakah ada pintu rahasia agar aku bisa menyusup ke sana,” ucap Dery.


Riris tidak menjawab, melainkan mengangguk pelan.


Melihat respon itu tentu saja Dery merasa bungah. “Jelasin sama aku, Nyonya, aku akan melakukan penyamaran sebagai salah satu pelayan pria di rumah itu.”


“Kapan?” tanya Riris dengan suaranya yang serak menakutkan.


“Secepatnya.”


Riris mendongakkan kepala. Ia menatap Dery dengan nanar. Secepatnya? Ia tidak bisa membiarkan Dery mengganggu putrinya. Bahkan sebelum penyusupan itu terjadi, Riris akan menyingkirkan Dery. Setelah itu, ia akan memakai cara sendiri untuk membunuh Jelita sekaligus Nur Imran.


****

__ADS_1


__ADS_2