Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 78-Pengorbanan


__ADS_3

“Nggak apa-apa, satu nyawa hilang demi keamanan semuanya.”


Episode 78-Pengorbanan


Betapa tercengangnya William ketika Jane tertawa kencang bersama Dery. Belum lagi ketika gadis itu bergelendotan manja pada sang pelaku dengan menawan para pelayan. Jane yang seharusnya ia kencani setelah masalah ini tuntas, justru membuka kedok baru bahkan berbau lebih busuk dari jasad ayam.


“Jane ...?”


Kendati lirih, suara William seorang didengar oleh Jane. Gadis itu menghentikan tawanya dan menatap William dengan segera. Mata Jane berkedip ragu. Namun ia tidak bisa mengubah ekspresi bahagianya menjadi sendu. Kini, pria yang ia sukai telah mengetahui keburukannya, sudah pasti William akan muak padanya.


Sementara Dery menyeringai ketika mendapati kedua pemuda datang ke rumah itu. Tampaknya mereka berdua telah membobol pintu gerbang yang telah kunci. Sebab entah Reza atau William, sama-sama bercucuran keringat. Napas mereka pun terengah-engah.


“Wah! Ada tamu, ya. Selamat datang para, Tuan Muda!” ucap Dery penuh kemenangan. Kemudian, ia menatap Jane. “Kamu nggak menyapa mereka, Sayang?”


Hati Jane lantas terenyak sakit. Namun dengan sekuat tenaga ia menahan luka itu. Detik berikutnya, Jane menyeringai sembari melipat kedua tangan ke depan. “Selamat datang, Tuan Willi dan Pak Reza,” sapanya.


William menggertakkan gigi. Kedua matanya berkedip-kedip menahan segala gejolak dalam dadanya. Ingin sekali ia berlari menghampiri Jane dan menyadarkan gadis itu, tetapi pasti akan sulit untuk terjadi.


Sementara Reza tetap menjaga fokusnya. Kendati rasa khawatir sudah bergelayut manja di hatinya, sebab Jelita tidak nampak di antara mereka. Apakah Jelita sudah dihajar oleh Dery? Ah, tidak, itu sungguh mengerikan!


Tatapan mata Jane yang enggan berpindah dari Reza memberikan suatu isyarat tersendiri bagi pria itu. Bagi Jane sendiri, sebagai seorang pengacara yang sudah banyak menangani kasus hukum—Reza lebih bisa paham ketimbang William. Oleh sebab itu, Jane berusaha memberikan kode akan keberadaan kakaknya itu.


Mata Reza memicing tajam menatap mata bulat milik Jane. Karena posisi Dery berada agak belakang dari Jane, tentu memberikan sedikit celah bagi gadis itu. Kemudian, ia menatap ke lantai atas berharap Reza bisa mengerti. Hal itu dilakukan oleh Jane sampai tiga kali.


Aku paham, Jane. Reza mengedipkan matanya sekali agar Jane mengerti jika ia sudah memecahkan kode gerak mata gadis itu.


“Aku nggak nyangka kamu seperti ini, Jane!” ucap Reza tegas dalam kepura-puraan untuk membantu rencana adik dari Jelita tersebut.


Jane tersenyum. “Aku enggak butuh prasangkamu, Reza!” tandasnya.


William semakin dibuat geram saja. Hatinya bak dicabik sebuah parang yang tajam. Tadinya ia pikir Jane lebih baik ketimbang Jelita, kini semua prasangkanya hancur begitu saja. Ya, itu cukup dimengerti bagi pria yang bahkan tidak andal dalam hal analisa. Bahkan, ketika hatinya sedang diselimuti kecemasan dan shock. William kurang bisa berpikir jernih.


Berbeda dengan Reza yang saat ini terus berusaha tenang demi keamanan keluarga Nur Imran. Ia yang sudah berpengalaman dalam kasus-kasus kriminal para kliennya memberikan dukungan penuh untuk situasi sekarang. Ya, Reza bukanlah pengacara yang duduk santai sembari menunggu bukti dibawakan, tetapi ia lebih senang mendatangi TKP-nya sendiri. Ia akan mencari bukti kuat untuk memenangkan kasus yang ditangani.


“Jane!”


Tiba-tiba suara Jelita terdengar dari lantai ketiga. Semua orang lantas terkejut. Terlebih ketika tangan kanan Jelita tampak berlumur darah, sampai cairan kental berwarna merah itu menetes ke lantai bawah. Detik berikutnya, ia berlari menyusuri tangga rumahnya.


“Willi, tolong jaga dia. Halangi dia turun!” titah Reza panik.


Karena insiden mengejutkan itu, William kalang kabut. Ia memang mengikuti perintah Reza, tetapi matanya tak lepas dari wajah Jane—bersorot kebencian—dalam beberapa saat. Sementara Dery tertawa terbahak-bahak.


Para pelayan menjadi cemas, seolah satu jam lagi mereka akan meregang nyawa. Bayangan keluarga pun muncul di benak masing-masing pelayan itu, beberapa telah menangis ketakutan. Ada pula yang sampai pingsan—terkulai lemas karena tidak kuat dengan rasa gentar.


Kenapa Kakak justru turun? Pikir Jane sembari menelan saliva. Beberapa detik kemudian, Dery mengalungkan tangan di leher Jane dengan mesra.


“Kita akan menang hari ini, Sayang. Aku tahu kamu memang luar biasa, darah ibumu kental ada padamu. Kalian licik!” bisik Dery diiringi sentuhan halus di leher Jane dengan bibirnya.


Risih sudah pasti, tetapi untuk saat ini Jane tidak punya banyak pilihan. Ia berusaha tersenyum sesaat setelah menghela napas. “Tentu, Om, maafin Jane saat itu ya, Om?”


“Jangan khawatir, Sayang. Kalau kamu mau ikut aku dan menjadi wanitaku, apa pun kesalahanmu sudah aku ampuni.”


“Terima kasih, Om, bahkan aku pun sudah muak berada di sini.”

__ADS_1


“Kamu memang luar biasa, Jane. Sekarang aku justru berterima kasih padamu, karena kamu aku nggak lagi jadi budak nafsu ibumu. Aku mendapatmu dan harta ayah tirimu hahaha.”


Memuakkan!


Terlepas dari akting Jane di hadapan Dery, Jelita terdengar meronta-ronta. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari William yang memaksanya masuk ke dalam kamar. Dengan terpaksa, William menggendong Jelita dan membawanya ke atas.


“Lepasin aku, Willi!” seru Jelita geram di sela tangisan histerisnya.


William turut menitikkan air mata. “Jane bukan lagi adikmu, Jel!” balasnya


“Dia adikku!”


“Asal kamu tahu Jane bekerja sama dengan pelaku itu! Buka matamu Jeli! Jane telah membohongi keluargamu!”


Tepat ketika kedua insan itu sampai di depan kamar Jelita, Jelita berhasil melepaskan diri. Ia berdiri di depan William dengan gejolak nestapa di hati. Di tatapnya pria itu dengan sengit penuh ketidakpercayaan. Detik berikutnya, Jelita menampar William dengan sangat keras menggunakan tangannya yang berlumur darah.


“Tutup mulutmu, Willi! Jane sedang berjuang demi aku!” tegas Jelita.


William menekan pipinya yang berbekas cairan merah itu. “A-apa?” tanyanya bingung.


Jelita kembali menangis. Ia lantas mencengkeram kemeja William. “Dia sedang melindungiku, Willi. Jane enggak begitu. Jane, a-aku enggak bisa biarin dia dalam bahaya.”


“Apa maksud kamu, Jel?” tanya William sembari menggoncang tubuh Jelita.


“Gimana kalau Dery tahu Jane cuma pura-pura? Nyawa, nyawa Jane dalam bahaya, Willi! Aku ... aku harus menukarnya denganku.”


William berangsur melemahkan cengkeraman tangannya di pundak Jelita. Dalam ketegangan itu, muncul suatu penyesalan. Bagaimana bisa ia menilai Jane hanya karena curiga? Bukankah ia justru memupuk rasa sakit yang ada pada hati Jane?


Tiba-tiba ....


Muncul bunyi 'Duagh!' di kepala Dery karena dipukul sebuah guci oleh kepala pelayan. Tentu saja Dery terkejut sekaligus kesakitan, sampai melepaskan pelukannya dari tubuh Jane. Sementara gadis itu membelalakkan mata, kedua tangannya gemetar luar biasa. Jane panik!


“Berani-beraninyaaa!” geram Dery sembari bangkit. Ia menatap kepala pelayan tersebut dengan mata yang telah terbalut cairan merah.


Kepala pelayan itu jatuh terduduk ketika Dery mengarahkan pistol padanya. Lemas tentu saja.


“Om!” seru Jane masih panik.


“Tak usah ikut campur kamu!” balas Dery sengit.


“Ja-jane bilang ja-jangan membunuh. Ki-kita bisa masuk penja-jara, Om!”


Dery tersenyum, kemudian tertawa keras. “Hahaha ... kamu gemetar? Panik? Atau ... khawatir?” tanyanya bertubi-tubi sembari menghampiri Jane.


Jane mundur perlahan. “En-enggak!”


“Siial! Gadis kurang ajar! Jadi sejak tadi kamu menipuku, hah?! Kurang ajar!”


Reza berlari. Kemudian, ia menahan tangan Dery yang hendak menampar Jane. Pistol pun terlempar di antara pelayan. Salah satu dari mereka membuang benda itu sejauh mungkin. Sebagai orang awam mereka takut akan senjata api itu. Bahkan, ada pula yang berpikiran bisa saja meledak seketika.


“Aaaaaaarg!”


Pukulan keras diberikan Reza pada wajah Dery yang masih menganga mulutnya sehabis terpekik tadi. Detik berikutnya mereka terlibat perkelahian sengit. Beruntung Dery tidak mendapat celah untuk mengambil belati dari kantong celananya karena pukulan Reza yang begitu cepat.

__ADS_1


Sementara Jane terduduk lemas. Di atas Jelita masih bertengkar dengan William yang kembali menjerat tubuhnya.


“Berhenti sekarang juga! Kami polisi! Angkat tangan!”


Beberapa polisi akhirnya datang. Di belakang mereka ada Arlan dan Anhar. Karena kedatangan mereka pun Reza dan Dery menghentikan perkelahian. Namun ... otak licik penjahat itu muncul kembali. Ia menendang tubuh Reza sampai terjatuh ke belakang. Detik berikutnya, Dery menawan Jane dengan belati tajam yang diarahkan pada gadis itu. Para pelayan semakin dibuat histeris!


“Siapa pun yang berani mendekatiku, gadis ini akan mati!” ucap Dery.


Jane panik! Mulutnya saja dibungkam, tampaknya Dery tahu jika Jane bisa saja memberikan gigitan.


Sementara semua orang seolah mati kutu. Entah polisi, Arlan, Anhar, Reza bahkan pelayan-pelayan itu tidak bisa berbuat apa-apa.


“Minggir!” titah Dery meminta jalan.


Mereka semua menyingkir memberikan jalan lengang karena takut Jane dalam bahaya. Memang sudah, tetapi belum disakiti lebih dari itu.


“Mohon tenang, Pak, kami akan melepaskan Anda selagi Anda melepaskan Nona itu,” ucap David sebagai ketua dari divisi kriminal itu.


“Ck, melepaskan? Loe pikir gue bocah, hah?! Minggir!” tandas Dery masih menyeret Jane menghampiri pintu keluar untuk meloloskan diri. Sesungguhnya gadis itu yang menjadi sumber utama keinginan balas dendam bagi Dery. “Diam, Pembohong!” tegasnya pada Jane yang meronta.


Situasi semakin menegang saja. Demi keselamatan tawanan itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


“Tembak saja, Pak!” seru Jane terdengar pilu pada David.


Semua orang tercengang.


“Jane?!” ucap Arlan dan Reza.


“Nona muda?!” ucap Anhar dan kepala pelayan.


Jelita melemas seketika ketika matanya menatap Jane yang telah berada di genggaman Dery.


“Janeeee!” seru Jelita tanpa bisa bangkit.


William menganga. Bulir air matanya membasahi pipi. Sungguh gadis yang malang, pikirnya detik itu. Sama halnya dengan Jelita, William terkulai lemas di lantai tiga yang mampu membidik pandang pada TKP itu.


Jane tersenyum sembari menatap semua orang. “Nggak apa-apa, satu nyawa hilang demi keamanan semuanya.” Ia menatap David yang penuh kebingungan. “Pak, tolong keluarga saya. Bidik pelaku ini.”


“Tapi, Anda bisa dalam bahaya, Nona!” tandas David.


“Omong kosong apa kamu, Jane!” seru Dery geram sembari mengeratkan tangannya di leher gadis itu.


Jane tercekik. Wajahnya memerah menahan rasa sakit itu. “Pa ... k ... Pol ... lisi ... tem-bak sa ... ja,” ucapnya dengan suara tersendat.


Dery mulai panik. David tidak punya pilihan lain. Semua orang menegang. Otak mereka seolah dibuat buntu oleh kepanikan. Bahkan, seorang Reza saja mati kutu!


“Ayo, Reza, pikir, Reza, pikiiir!” gumam Reza sembari mengacak rambutnya dengan sebal.


Tiba-tiba ... doooor! Terdengar suara itu ....


****


Huuuaaaaaa aku nulisnya tegang. Nggak nyangka ide yang muncul dalam otakku semenegangkan itu. Lantas, bagaimana nasib Jane nanti, ya? Jangan lupa like, komennya yah karna tinggal 4-5 bab lagi sudah end kok.

__ADS_1


__ADS_2