
“Syarat kamu cuma aku hadir di pertemuan ini. Aku hadir, 'kan? Dan enggak ada syarat lain, jadi sah-sah aja dong kalau aku bawa pacar!”
Episode 48-Tak Terduga
Semenjak dikirimi paket misterius berisi ayam mati, pikiran Jelita masih saja terganggu. Sepanjang aktivitas untuk bersiap-siap menghadiri janji malam ini, tetap saja ia tidak tenang. Benaknya masih dihias seramnya jasad ayam yang masih utuh dan berbulu hitam, di mana cairan merah segar masih basah—membasahi bulu-bulu itu, terbungkus di dalam plastik bening. Mengingatnya saja, membuat gadis itu merasa mual.
Bagaimana bisa seorang Jelita yang selama ini menghindari pertemanan khusus mendapatkan teror? Selama ini ia bersikap seramah mungkin pada setiap orang meski tak ada yang benar-benar ia jadikan teman dekat. Sebab, ia takut jika pengalaman bullying kembali menimpanya. Ia terlalu takut bersama dengan orang-orang berkasta tinggi selayaknya dirinya, berfisik sempurna layaknya William atau secantik Raisa.
“Kalau aku enggak punya teman, otomatis enggak punya musuh. Tapi, siapa yang berbuat hal jorok itu? Pesaing butikku? Pesaing perusahaan Papa, tapi kenapa harus aku? Apa Jane juga dapat? Kalau Jane enggak dapat, berarti benar-benar ...?” Jelita lantas menelan saliva.
Gadis perancang itu kembali membayangkan wajah Riris—mantan ibu tirinya sekaligus ibu kandung dari adiknya. Namun, bisakah seseorang yang tak sehat mental mengemas paket serapih itu? Dan bagaimana cara mengantarkan ke jasa kurir? Sekalipun Riris telah kabur, bukankah wanita itu tak memiliki tempat tujuan, baju yang rapi setidaknya uang recehan?
Tunggu! Uang? Kedua mata Jelita membelalak seketika, seiring ingatannya yang mengarah pada rumor baru-baru ini. Orang gila yang menyerang sekaligus merampas uang-uang para korban. Jangan-jangan memang Riris pelakunya, tetapi ...?
Mata Jelita mengedarkan pandang menjelajahi setiap sudut ruang ganti yang ada di dalam butik besarnya itu. Kini, ketidakmungkinan perihal Riris justru menjadi dugaan paling kuat. Hanya wanita paruh baya pengidap gangguan kejiwaan itu yang memiliki dendam besar padanya.
Sudah pasti, Riris kabur untuk balas dendam sesuai dugaan yang Jelita pikirkan sejak awal. Sebab, jika dari pesaing ayahandanya, mengapa tidak sejak dulu? Atau beberapa hal lain yang saat ini tidak cukup kuat untuk dipakai sebagai praduga. Hanya saja, gadis perancang itu belum bisa menebak cara kerja Riris berikutnya.
“Kenapa? Setelah sekian lama, orang itu kembali muncul? Apa benar ingin menghancurkan hidupku lagi? Aku kenapa sih?” Jelita menekan dadanya yang mendadak sesak. “Apa benar kata Jane, aku lebih senang kalau orang itu menghilang? Karena dengan begitu hidupku akan baik-baik aja. Tapi, gimana dengan Jane? Dia pasti sedih dan terluka, apalagi jika tahu perihal teror barusan? Astaga, apa yang harus aku lakukan? Aku enggak bisa sembarangan bercerita, sebab menyangkut diri dan hati adikku.”
Jelita mendongakkan kepala, berusaha menepis air matanya yang hendak keluar. Sebab, ia harus tampak baik-baik saja di hadapan Reza termasuk orang lain. Ia tidak mau luka, ketakutan sekaligus soal teror diketahui oleh siapapun.
Selain demi melindungi Jane, Jelita juga tidak mau siapapun terlibat atas dendam Riris padanya, karena mereka bisa terluka. Dan, kembali lagi pada dugaan, hal itu belum tentu benar dengan kata lain Riris belum tentu pelaku di balik teror paket misterius tersebut.
Dering ponsel yang tiba-tiba terdengar memaksa Jelita untuk segera menghalau pergi kegamangannya. Ia meraih ponsel itu dari tas jinjing yang ia gantung pada gantungan baju.
Jelita menghela napas dalam sesaat setelah memastikan siapa yang tengah menghubunginya. Bukan Reza, tetapi William. Pria yang sukses membuatnya berkeluh kesah selama ini.
“Halo!” sapa Jelita dengan nada tegas, seakan kejengkelan di hatinya begitu besar.
“Hai, Jel. Udah siap belum?” balas Willi dari kejauhan sana. Tak seperti Jelita yang tegas, pria itu justru bersuara lembut.
“Dah!”
“Jutek banget.”
“Bye!”
Tanpa pikir panjang sekaligus tak mau bercengkerama lebih banyak, Jelita lantas menutup panggilan. Ia memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tas jinjingnya. Sesaat setelah menata hati dan perasaannya, ia bergegas keluar. Tak lupa membawa tasnya dan berjalan menuju keberadaan Reza.
Sesampainya di ruang pelayanan, yang mana banyak gaun-gaun cantik terpasang bak menghiasi ruangan, Jelita menangkap keberadaan Reza yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Pria bertubuh tambun itu masih belum menyadari kedatangan sang kekasih. Lantas, membuat Jelita mendesis, sementara kedua matanya menyelidik.
“Sibuk banget, chatingan bareng siapa sih?” tanya Jelita penuh curiga.
Kehadiran Jelita yang tiba-tiba sukses membuat pengacara itu terkejut, sampai kedua bahunya terangkat.
__ADS_1
“Kaget aku, Dek!” keluh Reza sembari menekan dadanya.
“Lagian, sibuk banget.”
“Emang salah kalau Kakak sibuk?”
“Ya enggak sih, cuma sampai enggak sadar aku udah di sini. Pasti chattingan sama cewek, 'kan?”
“Iya.”
“Iya?!”
“He'em, kenapa? Cemburu?”
Jelita mendengkus sebab pengakuan tak terduga itu. Bagaimana bisa Reza bersikap demikian? Untuk membalasnya sebab menerima ajakan William, kah? Hingga lima detik kemudian, Jelita memilih memalingkan wajah. Tak sudi ia berhadapan dengan manik mata Reza yang memberikan goda.
“Kamu cantik banget, Jeli!” celetuk Reza.
“Emang! Tapi enggak usah rayu-rayu, enggak bakal mempan!” balas Jelita tegas.
“Ya udah, Kakak tarik.”
Gadis itu kembali berbalik. Matanya menatap Reza dengan penuh amarah. “Kok ditarik?”
“Soalnya kamu benar, tadi Kakak lagi merayu.”
Tawa Reza pecah. Candanya mampu membuat kekasihnya itu kesal sekaligus cemburu. Kendati benar, ia baru saja saling berkirim pesan dengan seorang wanita. Namun, wanita itu merupakan rekan kerjanya yaitu Nisa. Tak mungkin Reza berbuat macam-macam dengan wanita lain yang bahkan sudah berkeluarga. Hanya seputar pekerjaan saja, pesan ia kirimkan.
Lalu, karena sudah hampir sampai di waktu janji temu, Reza segera menarik tangan Jelita. Dengan terkejut dan tak diberi kesempatan menepis, gadis itu mengikuti langkah Reza.
“Kak, lepasin! Sakit!” keluh Jelita.
“Sakit toh? Maaf.” Reza berangsur melepaskan tangan Jelita, tepat ketika mereka sampai di hadapan pintu geser butik tersebut.
Dengan gerak malu-malu, Jelita bertanya, “Ta-tadi siapa, Kak?”
“Apanya yang siapa, Dek Jel?”
“Yang chattingan sama Kakak, beneran cewek lain?”
Reza mengangguk pelan. “Iya, cewek lain.”
“Siapa?!” Dengan nada yang kembali meninggi, Jelita terus mendesak Reza mengatakan yang sebenarnya.
“Mbak Nisa, rekan kerja Kakak, Sayang.”
__ADS_1
Gadis itu berangsur lega. Lalu, dengan menunduk, ia masih bertanya, “Beneran, Mbak Nisa yang itu?”
“Iya, Sayang. Enggak percaya?”
“Kecup dulu, baru percaya.” Jelita memainkan matanya dengan genit. Kedua telunjuknya pun saling diadu sehingga menunjukkan sikap manja.
Sayangnya, Reza justru menggelengkan kepala sebagai tanda tidak habis pikir. Ia mendesis pelan, kemudian menggeleng lebih tegas sebagai tanda penolakan. Tentu, penolakan dari pria itu membuat Jelita mendengkus kesal, bahkan detik berikutnya ia menggerutu sebal.
Dengan malas, Jelita segera keluar mengikuti langkah Reza. Sebelum itu, ia telah mematikan lampu ruangan. Pintu pun dikunci dengan rapat agar tak ada seorang pun yang mampu memasuki butiknya. Kemudian, mereka bergegas menuju mobil Reza.
****
William menghela napas beberapa kali. Ia tampak begitu cemas, sebab sang gadis yang akan ia temui sudah terlambat lima belas menit dari jam janji temu. Tipikal Jelita yang tidak pernah telat, membuatnya sangat khawatir. Tentu, ia takut jika terjadi hal-hal aneh pada gadis itu di sepanjang perjalanan.
Hingga beberapa saat kemudian, William melihat Jelita berjalan memasuki restoran mewah yang menjadi tempat pertemuan. Senyumnya pun terulas manis, mampu membuat candu para kaum hawa. Namun ... detik berikutnya senyum itu justru memudar terganti rasa heran. William melihat pria bertubuh tambun mengikuti Jelita yang kini menghampiri dirinya.
Ketika gadis itu sampai di hadapannya, William lantas berdiri.
“Hai, Jel. Mm ... kok sama pengacara kamu?” tanya William memastikan.
Jelita memasang ekspresi heran. “Pengacara? Yang mana?” balasnya.
Sembari menunjuk keberadaan pria yang ia ingat sebagai pengacara Jelita itu, William berkata, “Mas ini, pengacara kamu, 'kan?” Ia tertawa kecil. “Emangnya aku mau nuntut kamu, sampai bawa-bawa pengacara? Yang bener aja, Jel!”
Kedua tangan Reza kompak mengepal menahan rasa geram sekaligus jengkel. “Saya in—” Belum sempat ia membalas ucapan William, Jelita menghentikannya secara merengkuh lengan kanannya.
“Mas ini pacarku, cowokku, kekasihku, calon suamiku, Willi!”
“Hah?!”
William tak percaya. Ia mengamati Reza lebih dalam lagi. Pengacara itu membalasnya dengan tatapan tajam seolah ingin menusuk mata William, kendati sebenarnya ia menahan segala gejolak perasaan di antaranya; marah, cemburu, kesal dan minder. Namun dari semua perasaan itu, Reza tak ingin kalah, apalagi jika mempertaruhkan diri kekasihnya.
Alis William terangkat satu. Ia mengusap-usah dagunya sembari memicingkan mata. Benar, ketika ia mendatangi kantor firma hukum Jelita tengah membawa bekal makanan di hadapan pria bertubuh tambun itu. Namun, ia tidak menyangka jika sang pengacara justru kekasih dari Jelita.
“Tapi, Jeli—” Ucapan William terpotong begitu saja.
Sebab, Jelita berkata, “Syarat kamu cuma aku hadir di pertemuan ini. Aku hadir, 'kan? Dan enggak ada syarat lain, jadi sah-sah aja dong kalau aku bawa pacar!” Kemudian, ia beralih menatap Reza dengan gelayut manja. “Ayo, Kakak sayang. Kita duduk, kita makan bareng sama Tuan calon CEO.”
Reza mencibir William dengan lidahnya, sampai membuat William reflek menganga. Kemudian, pria pengacara itu segera duduk tepat di samping Jelita.
Sementara William mengembuskan napasnya dengan kasar, tak menyangka ia diperlakukan sedemikian rupa. Namun daripada dendam, ia justru merasa semakin tertarik dengan kecerdasan sekaligus keberanian Jelita.
Baiklah, gue ikuti permainan kalian. Dan Jeli, sebelum janur kuning melengkung, aku masih memiliki kesempatan besar merebut dirimu!
Lantas, bagaimana kencan satu bunga dua kumbang itu akan berjalan?
__ADS_1
****
Hai, guys. Masih ada yg nunggu enggak nih?