
“Jangan ngedorong aku buat sesuatu yang nggak aku suka. Kalian tuh nggak tahu gimana cintanya aku sama Reza!”
Episode 80-Enggan Melupakan
“Kita ... akhiri aja hubungan ini, Jel. Aku ... enggak cukup baik untukmu. Aku seorang pengacara bukan pengusaha. Aku enggak bisa membuktikan bahwa aku bisa melindungimu. Aku ... juga masih kecewa padamu.”
“Tapi, Kak! Jeli eng—”
“Aku tahu, tapi kita cukup di sini saja. Maafin aku, Jel. Aku ... enggak bisa.”
Tepat dua hari setelah pernikahan Risa dan suaminya digelar, Reza mengatakan kalimat menyedihkan itu pada Jelita. Dan sang nona muda yang sekaligus perancang busana tidak bisa berkutik. Ia mati kutu, apalagi ketika mengingat yang ia lakukan terhadap Reza. Saat-saat di mana ia lebih mengandalkan pria lain ketimbang pacar sendiri. Ia sadar betul bahwasanya sikapnya sangat keterlaluan untuk alasan apa pun. Hal itu pula yang membuat Jelita tidak bisa menahan kepergian Reza dari hidupnya.
“Udah sepuluh bulan, ah, bentar lagi setahun aku putus sama Kak Reza. Tapi, ... aku masih menunggunya kembali,” gumam Jelita sembari bersedih hati.
Selama sepuluh bulan itupun, ia tidak pernah bertemu Reza lagi. Sepertinya Reyna juga sudah tidak enak hati, sebab mundur sebagai pelanggan butiknya. Jelita hampir putus asa perihal hubungan. Ia terlalu takut menjalin kembali dengan pria lain. Sebab, selain takut ditinggalkan, Jelita juga tidak mau mengecewakan. Terlebih ketika hatinya masih terpaut pada mantan kekasihnya.
Sisi positifnya, karir Jelita meningkat. Tiga bulan yang lalu ia bisa menggelar fashion show seperti yang direncanakan. Begitu pun pada Jane yang sukses akan konsernya, kendati sempat ingin bunuh diri karena terlalu frustasi. Namun, pada saat itu William datang melempar pil obat tidur.
Ya, kala itu Jane mengurung diri selama dua bulan di dalam kamar karena terlalu malu. Jelita dan Nur Imran terpaksa meminta bantuan William yang sejatinya disukai gadis itu. Dan ketika berhasil mendobrak pintu kamar, William mendapati Jane dengan beberapa butir pil tidur.
“Jangan bodoh, Jane! Kami susah payah menyelamatkanmu!” tegas William pada saat itu sembari melempar botol pil dengan sangat keras.
Tentu saja, Jane tersentak. “Aku malu, aku terlalu malu!” tandasnya.
Sementara Nur Imran dan Jelita terenyuh di luar pintu kamar itu.
“Kenapa harus malu! Kami semua menyayangimu, Jane! Dan aku ... aku ingin bersamamu.” Saat itu William segera meluruhkan emosinya. Kemudian, ia berangsur duduk di hadapan gadis itu. “Maafin aku karna terlambat atas perasaanmu. Tapi, aku udah bertekad merajut hari indah bersama setelah insiden itu. Maka, hiduplah. Temani aku, Jane. Aku sungguh-sungguh, bukan karna Jeli atau ayahmu. Bukan karena emosi sesaat pula, aku serius!”
__ADS_1
Setelah hari itu, Jane dan William mulai merajut cinta. Jelita dan Nur Imran pun turut bahagia. Atas keyakinan baru yang Jane dapat, gadis itu mulai tergerak untuk menjadi lebih baik. Sementara, sang ibu dikembalikan ke dalam rumah sakit jiwa atas pembelaan dari Reza Amdan. Yang mana pengacara itu, memenangkan proses persidangan. Dengan riwayat dan memang belum dinyatakan sembuh, Riris terbebas dari hukuman, meski kembali dirawat.
Namun kembali pada topik awal, di mana Jelita justru tidak terlalu bahagia. Melupakan Reza bukan perkara mudah menjadi kenyataan saat ini. Rindu yang menyiksa hanya ia tuangkan melalui tangisan setiap malam. Ingin bertemu, sudah pasti ia tahan sebab tidak berhak atas itu. Lagipula, ia terlalu malu.
“Kak! Mau Jane kenalin cowok?” tanya Jane yang tiba-tiba nyelonong memasuki ruang kerja pribadi milik Jelita di butik tersebut.
Jelita bergerak malas. “Enggak mau!” tandasnya.
“Terus Kak Jeli mau begini sampai kapan coba? Bukan hal aneh kok kalau putus cinta. Apalagi cinta pertama emang susah dilupain. Coba deh, ikuti saran aku.”
“Iya, Jel, jangan menyiksa hatimu sendiri,” sahut William yang mengikuti langkah kekasihnya.
Jelita mendengkus kesal. “Jangan ngedorong aku buat sesuatu yang nggak aku suka. Kalian tuh nggak tahu gimana cintanya aku sama Reza!”
Jane dan William saling berpandangan. Hati mereka turut terenyuh. Sebalnya, Jelita terlalu keras kepala. Gadis perancang itu enggan membuka hati pada yang lain. Sebenarnya, William pernah mendatangi Reza, tetapi sanggahan Reza saat itu membuatnya mati kutu. Ia sendiri merasa bersalah atas apa yang terjadi. Dan Reza berhak untuk membuat keputusan berikut menyudahi hubungan singkat tersebut.
“Kenapa Kakak enggak bergerak kayak dulu aja sih?” celetuk Jane tiba-tiba.
William juga Jelita mengernyitkan dahi heran.
“Apa maksud kamu, Beb?” tanya William.
Jane menghela napas, kemudian berkedip ragu. Namun ia sendiri tidak ingin Jelita terpuruk seperti itu. “Ma-maksud aku, kenapa Kak Jeli enggak pakai cara pas lagi demen-demennya sama Kak Reza?”
“Ngaco kamu, Jane! Mana bisa? Aku terlalu malu,” tandas Jelita.
“Hmm ... emang saat itu Kak Jeli juga malu? Enggak, 'kan? Pas menangani kasus itu, aku menangkap sesuatu dari Kak Reza. Bahwasanya, ia bukan tipikal cowok yang selugu kelihatannya. Dia cuek, bahkan dingin ketika sedang bekerja. Dengan dua sifat itu, rasanya Kak Reza enggak bakal lupain Kak Jeli gitu aja.”
__ADS_1
“Aku berharap begitu, Jane, tapi Kak Reza pernah pacaran. Bukan hal asing bagi dia perihal putus dengan pacar, 'kan?”
Mereka terdiam. Ah, sulit jika tidak bisa melupa. Padahal, pria yang masih diharapkan entah bagaimana kabarnya. Reza pun juga tidak pernah menghubungi Jelita sekalipun setelah keputusan berpisah itu. Bahkan, membalas pesan-pesan rindu saja tidak pernah. Lantas, sebenarnya bagaimana kabar pria itu? Se-begitutegakah ia pada Jelita?
Terlepas dari hilangnya Reza dari mereka, dari saran Jane, Jelita mulai terpengaruh. Benar juga, dulu ia tidak pernah mementingkan rasa malu yang penting mendapatkan hati pria gembul itu. Selama Reza tidak memiliki kekasih baru, bukankah masih dapat diperjuangkan lagi?
Jelita tersenyum. “Baiklah! Aku bakal beli dia lagi! Lagian, aku masih punya koneksi buat masuk hatinya lagi,” ucapnya berapi-api.
Sementara, Jane dan William kembali berpandangan sembari bergeleng pelan. Namun, jika jalan itu yang terbaik, mereka akan mendukung. Asal masih bisa bertindak sewajarnya saja.
“Kak Willi, Jane mau balik latihan,” ucap Jane ketika menyadari jam makan siang hampir habis.
“Ayolah, aku juga ada meeting hari ini, Beb,” jawab William.
Jelita mendesis. “Cie CEO baru! Tapi, belum traktir kakak iparnya sendiri. Baguuus!”
“Hmm ... nanti kalau berhasil dapetin Reza lagi, traktiran datang banyak! Yang penting hati-hati nanti gendut lagi hahaha,” seronoh William.
“Good luck, Kak Jel!” Jane tersenyum lebar.
Detik berikutnya, sepasang kekasih dari kalangan pemusik dan seorang CEO itu berlalu pergi. Selepas itu, Jelita kembali murung. Rasa sepi kembali bergelayut manja. Mungkin akan indah jika bersama Reza. Namun, ... bagaimana jika rencananya gagal?
“Kak Reza, Jeli kangen lhoooo! Ah! Rasanya kayak deja vu! Jahat banget sih ....”
****
Hayu jangan lupa jempolnya. Tinggal satu bab lagi, nanti sore langsung diluncurkan kok!
__ADS_1