Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 39-Kematian?


__ADS_3

“Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang hanya Tuhan yang tahu. Asal kita selalu berusaha menjadi seseorang yang baik sekaligus menjaga kesehatan, semua akan baik-baik aja, Mas.”


Episode 39-Kematian?


Malam hari yang sudah gelap, mobil Jane justru berhenti di sebuah rumah berlantai dua. Ada alasan mengapa ia hendak menyambangi rumah itu. Kendati ia sangat paham jika tidak terlalu akrab dengan penghuni rumah tersebut. Hanya saja, tidak ada tujuan lain selain memutuskan sikap yang saat ini ia ambil.


Pandangan mata Jane mengedar sesaat setelah turun dari mobilnya. Ia masih terdiam di depan gerbang, sebab masih merasa agak sungkan. Kemudian, ia menilik waktu pada jam tangan yang ia kenakan. Masih pukul setengah tujuh. Mungkin saat ini ayahandanya serta kakak tirinya tengah menunggu dirinya di ruang makan.


Jane menghela napas dalam. Mengingat kedua keluarga tirinya itu, ia bergegas mengambil ponsel di dalam tas jinjing yang ia bawa. Dua pesan bertuliskan 'Jane sedang ada acara, mungkin akan pulang terlambat' ia kirimkan pada kontak bernama 'Papa' dan 'Kak Jeli'.


Gadis itu termenung kembali. Ia menduga jika penghuni rumah tersebut masih dalam suasana makan malam. Dugaan itu membuatnya mengurungkan niat terlebih dahulu. Lebih tepatnya menunda waktu hingga perkiraannya tepat ketika makan malam telah usai.


****


Sementara keluarga kecil dengan tiga orang anak itu kini tengah meramaikan suasana ruang makan. Pertengkaran kecil sering terjadi di antaran dua anak perempuan dari sang pemilik rumah tersebut. Selli dan Sella selalu saja berdebat layaknya kakak dan adik. Namun kendati begitu, Selli sebagai seorang kakak selalu mendapatkan jatah mengalah.


Arlan tersenyum sembari menatap wajah anak-anaknya satu persatu. Terutama pada Aksa yang kian lincah dalam berjalan maupun berucap. Kedamaian hati seorang ayah adalah melihat putra dan putrinya tertawa bahagia. Meski pasti ada perselisihan kecil yang menghiasi kebahagiaan itu. Bagi Arlan, perselisihan itu memberikan warna tersendiri.


“Hmm ....” Sembari menyantap makanannya, pria hampir paruh baya itu berdeham.


Sikap Arlan membuat sang istri heran, sampai ada kerut samar di dahi wanita blasteran Belanda tersebut.


“Kenapa, Mas?” tanya Fanni.


Arlan berangsur menatap netra biru milik sang istri. Kemudian, ia menggeleng pelan sembari menjawab, “Enggak apa-apa, Dek.”


“Beneran?”


“Mm ... sebenarnya ada sedikit hal menganggu, Dek.”


“Soal pekerjaan, kah?”


Arlan menggeleng. “Soal hidup.”


Dahi Fanni kembali berkerut. “Soap hidup? Maksud Mas gimana?”


Arlan tidak langsung menyahut pertanyaan istrinya itu. Memang, ada beberapa hal yang belakangan ini mengusik hatinya. Terlebih, ketika ia menatap anak-anaknya yang masih kecil. Ada penyesalan pula yang tersemat di dalam perasaan tidak nyaman itu. Mengingat itu, ia menghentikan aktivitas bersantapnya.


Fanni yang sudah dibuat keheranan, kini merasa khawatir. Entah apa yang dimaksud oleh suaminya tersebut, hanya saja seperti sebuah hal aneh. Namun, Fanni tidak bisa menduganya sampai Arlan bersedia menjelaskan padanya.

__ADS_1


Lalu, dengan perlahan Fanni meraih telapak tangan Arlan. Sikapnya membuat Arlan berangsur memberikan tatapan. Fanni tersenyum manis. Ia paham betul jika dalam kondisi tidak baik-baik saja, Arlan membutuhkan banyak waktu untuk berpikir.


“Makan dulu, Mas. Nanti dibicarain, janga—” Fanni tidak berhasil melanjutkan ucapannya sampai tuntas.


Arlan memotong ucapan istrinya itu dengan berkata, “Kalau tiba-tiba Mas menjadi seseorang yang lemah gimana, Dek?”


“Hah?”


Arlan mendesis. Sesaat setelah menghela napas dalam, ia menghadap istrinya secara sempurna. “Umur Mas rasanya makin tipis, Dek. Hampir 50 tahun, semakin tua pasti akan semakin berkurang bukan bertambah. Mas ....”


“Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang hanya Tuhan yang tahu. Asal kita selalu berusaha menjadi seseorang yang baik sekaligus menjaga kesehatan, semua akan baik-baik aja, Mas.”


Arlan membenarkan ucapan Fanni. Hanya saja rasa takutnya tidak berhasil diusir pergi. Terlebih, ketika ia mengingat tentang usianya sendiri. Menikahi seorang wanita yang terpaut usia belasan tahun, kini membuatnya merasa khawatir. Apalagi ia diberikan anak-anak mungil di saat usia hampir memasuki setengah abad.


Siapa yang tidak takut mati? Semua orang tentu merasakannya. Apalagi ketika mengingat setiap perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Namun, bagi Arlan yang membuatnya lebih takut adalah ketika ia harus meninggalkan anak-anaknya sebelum mereka tumbuh dewasa. Pasti di saat Tuhan menjemput dirinya, istrinya pun akan merasa kesulitan. Hal itu yang saat ini ia pikirkan.


“Mas takut, Dek. Ada saat-saat seperti ini, tapi baru kali ini Mas bener-bener kepikiran. Ada sesal pula, kenapa Mas harus menikah di usia tua bersama Nia. Lalu, bertemu kamu di saat benar-benar tua,” lanjut Arlan.


Fanni menelan saliva. Sedetik kemudian, ia bertanya, “Jadi kamu juga menyesal menikahi aku, Mas?”


Arlan menggeleng, kemudian tersenyum. “Tentu enggak, Sayang. Mas selalu bersyukur bertemu kamu dan bisa mendapatkan anak-anak lucu sekaligus memberikan teman bagi Selli. Bagi Mas kamu sempurna menjadi seorang istri. Cuma ... Mas merasa kita terlambat dalam bertemu.”


“Makasih, Dek. Tapi, kalau tiba-tiba Mas sakit ah ... atau justru enggak ada gimana? Menikahi duda usia tua, pasti ada resiko seperti ini, Sayang. Mas takut jika itu terjadi dan membuat kamu, anak-anak, merasa terbebani.”


Fanni tersenyum kecut. “Udah aku bilang, Mas, jangan mengkhawatirkan yang cuma Allah yang tahu. Lagian, orang senarsis kamu enggak mudah diserang sakit. Ck, udah deh, berusaha aja biar selalu sehat dan ... selalu rajin berbuat baik!”


Sudah tidak bisa lagi pria itu menyangkal ucapan istrinya. Soal usia memang ada di tangan Tuhan, sejatinya manusia hanya perlu menunggu. Dalam artian menunggu dengan melaksanakan kewajiban baik sebagai seorang manusia. Hidup hanyalah mampir minum ketika mengingat akan kematian. Semua hal di dunia akan kembali pada-Nya. Terkadang takut dan khawatir memang perlu, karena di saat itu manusia akan selalu berhati-hati dalam melangkah.


Setidaknya, untuk saat ini ucapan Fanni benar. Terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak manusia ketahui hanyalah membuat hati tertekan. Arlan tahu betul tentang itu. Selama sisa hidup yang entah sampai di mana batasannya, ia harus terus berusaha berbuat sesuatu yang positif.


“Mas, Mbak.” Tiba-tiba Onah—wanita paruh baya asisten rumah tangga mereka—muncul.


Arlan dan Fanni langsung menoleh ke arah wanita tersebut. “Kenapa, Bi?” tanya keduanya kompak.


“Ada tamu, Mas, Mbak.”


“Siapa?” tanya Arlan dan Fanni masih dalam kekompakan.


Onah tersenyum-senyum, sedikit menggoda. Sementara Fanni mendengkus pada suaminya.

__ADS_1


“Non Jane, Mas, Mbak,” jawab Onah detik berikutnya.


Arlan dan Fanni saling menatap heran. Gadis yang merupakan adik dari Jelita itu terbilang jarang mampir. Lalu, sepasang suami dan istri itu segera menyelesaikan aktivitas bersantapnya.


Selli sebagai kakak tertua diberi tugas untuk menjaga adik-adiknya di dalam kamarnya. Tentu, keputusan itu diambil Arlan sesaat setelah menyelesaikan acara makan malam. Lalu, dengan sejumlah pertanyaan, ia mengajak Fanni menuju lantai bawah.


Di ruang tamu, Jane sudah terduduk. Ia menghela napas beberapa kali untuk membuang rasa gusar. Mengenai hal yang ingin ia utarakan pada Arlan maupun Fanni sebenarnya sedikit memalukan. Hanya saja, ia perlu bantuan mereka untuk rencananya itu.


“Jane?” Arlan yang baru saja tiba di ruang tamu, segera memanggil nama gadis itu.


Jane reflek mendongak. Ia menatap Arlan dan Fanni, sebelum akhirnya sepasang suami-istri itu duduk di kursi lain.


“Ada apa, Jane? Ah ... gimana kabar kamu?” tanya Arlan.


Jane menelan saliva. Ia kembali duduk dengan gerakan sungkan. “Ba-baik, Om,” jawabnya.


“Papa kamu?”


“... Papa baru pulang dari Luar Negeri, Om, pagi tadi.”


Arlan manggut-manggut. Kendati sudah penasaran maksud dari kedatangan Jane, ia tetap menahan diri untuk tidak terburu-buru menanyakannya.


“Minumlah dulu, Jane,” pinta Fanni pada gadis itu.


Jane tersenyum. “I-iya, Tante. Terima kasih.”


“Jangan terlalu sungkan, Dek. Kayak sama siapa aja.” Fanni berusaha mencairkan ketegangan yang didera oleh gadis itu.


Jane mengangguk sungkan. Kemudian, demi menghargai tuan rumah, ia lantas menyesap teh hangat yang telah Onah hidangkan.


Arlan masih mengamati setiap pergerakan Jane. Ia menduga ada sesuatu yang penting dari kedatangan gadis itu. Namun, ia tidak bisa menduga tentang apa hal itu.


Sesaat setelah merasa cukup dalam memberikan waktu, Arlan mulai berkata, “Ngomong aja, Jane. Om bisa bantu selagi mampu.”


Jane berangsur menurunkan pandangannya. Ia menelan saliva dengan lidah kelu. Sedetik kemudian ia menjawab, “Ini soal ....”


Sayangnya jawaban Jane menggantung begitu saja. Tentu, hal itu semakin membuat Arlan sekaligus Fanni merasa penasaran.


****

__ADS_1


Koreksi kalau ada salah kata yah. Jangan lupa jempolnya.


__ADS_2