Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 77-Tertangkap?


__ADS_3

“Membunuh hanya membawa kita ke penjara. Bukankah lebih baik kita jarah saja hartanya, dan membuat mereka hidup dalam kemiskinan?”


Episode 77-Tertangkap?


Di bagian dapur Dery tengah menembak bagian atas rumah Nur Imran. Pelayan-pelayan pun telah ditawan karena ancaman senjata api juga tajam. Tampak pria itu telah membeli pistol secara ilegal dari mafia gelap.


Jelita sekaligus Jane menggeragap. Jelita lantas memeluk Jane dengan erat.


“Kak, hubungi Papa jangan pulang dulu. Jane bakal ngalihin fokua Dery,” ucap Jane.


“Nggak! Nggak boleh!” tukas Jelita sembari mengeratkan pelukannya. “Ki-kita berdua harus aman, Jane!”


“Kakak tenang aja, Jane bakal aman kok. Mama enggak mungkin nyakiti aku, Kak. Tolong, Kak, cara ini adalah cara Jane membuang rasa bersalah.”


“Ja-jangan, Jane!”


Jelita berteriak histeris sembari mengejar Jane yang telah melepaskan diri. Ia terkunci di dalam kamar itu sebab Jane telah mengunci dari luar setelah berhasil lolos.


Suasana sore itu kian mencekam saja. Saking megahnya istana Nur Imran, pihak luar sampai tidak ada yang mendengar. Apalagi kawasan elit kerap kali sepi, karena pekarangan setiap rumah mewah pun luas. Belum lagi terbatas lapangan golf yang saat ini sedang ditutup.


****


Mungkin Tuhan pun sudah jera melihat pertandingan itu, atau tak seperti yang Dia kira. Ah, tetapi bukankah Tuhan adalah pengatur semua kehidupan? Yang mana Dia tahu akan hal yang terjadi di masa depan. Selain itu, Tuhan merupakan maha pengasih dan penyanyang. Seperti layaknya sekarang, Tuhan sedang memberikan bantuan besar. Yang mana Anhar mendapatkan titil terang setelah dua jam berkeliling setiap pemukiman.


Anhar memang tidak menemukan tempat persembunyian itu, tetapi ia justru dipertemukan dengan Riris. Wanita itu tengah berlari tanpa alas kaki di malam yang sepi. Tak peduli guyuran hujan menerjang bumi, sepertinya ia tengah diberi firasat buruk pada Sang Kuasa.


Sesaat setelah mendapatkan Riris, Anhar menghubungi semua rekannya sejak setengah jam yang lalu. Dan kini mereka semua telah datang mengelilingi Riris bak prajurit majapahit yang menghadang satu penjahat.


“Pergi kalian semuaaaa!” teriak Riris meminta dengan suara serak beserta derai air mata.


“Nyonya, ... tenang dulu,” ucap Anhar.


Namun, Riris seperti tidak mendengar. “Pergi! Jane bisa mati, anakku bisa mati! Jangan halangi aku!”


Oleh kalimat itu, Reza menyadari sesuatu. “Jane bisa mati? Apa maksud Nyonya?”

__ADS_1


“Pergi, pergi, pergi!” Riris tetap meronta-ronta seiring gerak tangan yang ia kibaskan pada mereka.


“Jane bisa mati kalau Anda tidak mau bicara, Nyonya! Kami lebih bisa melindunginya ketimbang Nyonya!” tegas Arlan sudah tidak sabar.


“Bohong!”


Reza pun ikut menegang. Ia maju satu langkah. Kemudian, di tariknya kerah baju Riris. “Kenapa Jane bisa bahaya! Katakan!”


“Za, tenang!” William tidak tinggal diam.


Riris melotot menatap Reza penuh kebencian. “Asal kalian tahu, Dery ada di rumah itu. Jika Jelita mati, anakku juga akan mati! Aku susah payah melepaskan diri dari kerangkeng besi demi anakku! Pergiii!”


Semua pria itu tertegun, oh tidak, lebih tepatnya tercengang. Dua jam mereka mencari tempat persembunyian Dery, ternyata pria itu sudah ada di dalam kediaman Nur Imran.


Keadaan semakin kacau saja, entah di tempat kumuh itu atau di istana Nur Imran. Tangan Reza mendadak gemetar, selagi benaknya membayangkan keamanan Jelita saat ini. Kemudian, Anhar hendak menghubungi seseorang. Namun, Arlan justru menahan tangan Anhar.


“Jangan dulu, jika Pak Nur pulang, Pak Nur juga bisa terbunuh oleh pria itu,” ucap Arlan.


Arlan bimbang. “Ta-tapi, kedua putrinya?”


Salah satu pengawal Anhar menimpali, “Mereka sudah pergi sejak mendengar keberadaan si pelaku, Tuan.”


Arlan menghela napas. Rasa khawatir pun mencuat. Bagaimana jika semuanya akan masuk dalam bahaya? Juga, pada William yang mesti ia lindungi sebagai keluarga.


“Sudahlah, kita susun strategi dalam perjalanan. Hubungi polisi, dan salah satu bawa Nyonya ini. Salah satu ke kantor, halangi Tuan Besar di sana,” titah Anhar.


Kedua pengawal itu mengangguk. Detik berikutnya, Anhar dan Arlan berlari cepat menuju mobil masing-masing. Mereka berdua hendak menyusul Reza dan William yang saat ini tengah bersama di mobil yang sama.


Satu jam semenjak penawanan itupun, Jane telah mengalihkan fokus Dery.


“Aku yang kamu mau, aku yang membuatmu masuk ke dalam penjara. Maka bawa aku saja,” ucap Jane.


Dery menyeringai. “Wah! Berani sekali, Nona muda si anak tiri. Yah, kamu semakin cantik saja,” balasnya.


“Bawa aku aja, Om!”

__ADS_1


“Aaah ... inginku begitu, tapi ibumu telah membuat kesepakatan denganku. Aku nggak bisa membunuhmu, Cantik. Tapi, aku harus memusnahkan ayah dan kakakmu. Itu kesepakatan kami.”


Jane tetap berusaha tenang, meski sebenarnya gentar. “Mereka bisa ditukar denganku.”


Dery datang mendekat. Seringainya pun masih melekat. Jane takut! Sayangnya, ia terlalu pintar dalam hal berakting.


Kemudian, Deri menyentuh dagu Jane dengan lembut. Meski tatapannya sangat mengerikan.


“Kamu jauh lebih cantik dari ibumu, Jane, kamu sangat cantik! Berani pula, sungguh tipikal wanita idamanku. Mm ... bagaimana kalau kamu menjadi istriku saja?”


Jane menelan saliva dengan getir. “Tentu, asal kamu melepaskan mereka.”


“Haruskah? Aku sudah berjalan sejauh ini, Sayang. Bukankah lebih baik kita bekerja sama menumpas mereka, dengan namamu kamu bisa mengambil harta ayah tirimu. Dan kita bisa hidup bahagia. Aku sudah bosan hidup miskin di rumah kosong yang kumuh, berisik suara kereta setiap detik. Belum lagi lolongan anjing di samping pemakaman Memuakkan!”


“Hmm ... penawaran bagus, Om Dery! Hal itu sangat mudah aku lakukan. Om mau dengar kisah nggak? Pengusaha besar itu nggak punya pewaris, Jelita menolak. Dan namaku tentu menjadi pewaris tunggal. Tapi, ... Jane enggak percaya begitu saja. Menyingkirkan mereka adalah cara terbaik. Tapi, bukan dibunuh!”


Dery mulai terpengaruh oleh ucapan Jane. Yang mana ia pikir gadis itu juga memiliki dendam kesumat pada Nur Imran. Tampilan wajah tegas milik Jane yang sama sekali tidak menunjukkan kepura-puraan membuat Dery berangsur percaya.


“Kenapa tidak dibunuh saja, Sayang?” tanya Dery.


Jane menyeringai. “Membunuh hanya membawa kita ke penjara. Bukankah lebih baik kita jarah saja hartanya, dan membuat mereka hidup dalam kemiskinan?”


Dery dan semua pelayan lantas tercengang. Mereka tidak menyangka Jane memiliki pemikiran demikian. Sungguh! Bagi para pelayan, sangatlah disayangkan. Namun bagi Dery adalah suatu kebanggaan.


Tanpa keraguan pun, Jane melangkah maju. Ia menyodorkan wajahnya pada pria kejam itu. Di depan banyak pelayan, ia mengecup bibir Dery. Tentu saja keterkejutan para pelayan semakin bertambah besar. Ada yang berbisik jika Jane layaknya ular berbisa. Ada pula yang berkata jika Jane sama halnya dengan ibunya.


“Gimana bisa Nona Jane bersikap seburuk itu?” tanya kepala pelayan sembari berdiri.


Dery dan Jane lantas menatap pria paruh baya itu.


“Nona, apa jangan-jangan ...?”


Jane mengangguk. “Ya, aku nggak sebaik yang kalian kira. Aku ....” Ia menelan saliva. “Aku bekerja sama dengan Om Dery.”


”Wuaaah!” ucap Dery.

__ADS_1


Hening ...


__ADS_2