Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 9-Baby (Bonus)


__ADS_3

“Punya anak enggak bakal ganggu karir kamu kok.”


Episode 9-Baby (Bonus)


Pagi ini tak begitu cerah, bisa dikatakan mendung kelabu. Dua insan manusia masih tertidur di atas ranjang, menikmati momen masa libur, setelah jam empat terbangun. Mereka berdua memutuskan untuk bersama tak mau diganggu, bahkan oleh seekor semut saja. Tidak ke mana-mana, lantaran di dalam apartemen barunya lebih nyaman kata sang wanita. Pun pada suasana redup itu yang tentu bukan waktu tepat untuk bertamasya.


Setelah sebelumnya terganggu oleh identitas William yang sebenarnya, Reza pun memutuskan untuk abai di hari ini. Juga, pada Jelita yang enggan memikirkan masalah rancangan sekaligus butik. Begitulah sekiranya rencana yang mereka pikirkan, meski tidak dikatakan oleh satu sama lain.


Hingga sekian detik berikutnya, alarm yang terpasang di ponsel berbunyi, menunjukkan jika sudah pukul tujuh pagi. Jelita mengerjabkan matanya agar pandangannya lantas jelas setelah tiga jam setengah terlelap. Kemudian, ia meraih ponsel itu dari nakas.


“Udah jam tujuh aja,” gumam Jelita sembari mematikan suara alarm. Detik berikutnya ia menatap wajah sang suami yang semakin lama sulit untuk dibangunkan.


Jelita tersenyum, ia menyentuh wajah Reza yang halus bak kulit bayi. “Sayang, bangun gih. Udah jam tujuh,” katanya.


Reza tak menjawab, melainkan bergeliat. Kemudian, ia menggenggam jemari Jelita tanpa mau membuka mata.


“Kakak?”


“Mm ....”


“Ayo bangun, mandi, terus sarapan.”


“Entar sih, masih ngantuk.”


“Hmm ....” Jelita menghela napas. “Ya udah, Jeli mau masak.”


Jelita tak menggubris lagi, lebih tepatnya menyerah. Mengingat masih berada di momen libur, ia memberikan waktu luang untuk Reza agar tidur lebih lama.


Namun, ketika Jelita hendak turun dari ranjang beraksen keemasan itu, Reza justru merengkuh pinggang kecilnya. Awalnya, Jelita tersentak, tetapi ia lantas tersenyum. Detik berikutnya, ia menoleh pada suaminya itu. Reza sudah mulai membuka mata, meski masih menyipit dan sembam.


“Jangan pergi.” Reza bergumam manja, kemudian ia menarik tubuh istrinya lagi.


Jelita membuka mata lebih lebar. “Ini udah siang, Sayang,” jawabnya hendak menolak, tetapi tubuhnya justru menuruti keinginan suaminya.

__ADS_1


“Biarin, libur ini.”


“Kamu enggak makan emangnya?”


“Nanti deliv aja, Sayang.”


“Kok gitu?”


“Jangan banyak tanya.”


“Boros, Kak, belum tentu ena—”


“Harus nurut kata suami, Jeli sayang.”


“Hmm ... seenggaknya mandi dulu.”


“Nanti kalau mau, dan harus sama kamu.”


“Dih!”


Dan pada akhirnya rencana memasak menjadi musnah detik itu juga. Reza tidak memberikan celah bagi istrinya untuk meninggalkan ranjang itu sekaligus tentu dirinya. Mereka merebah lagi, saling menatap, atau terkadang mengecup pipi satu sama lain. Pemandangan indah bagi pengantin baru yang tentunya juga masih muda. Saat-saat di mana keromantisan masih mendominasi rumah tangga mereka.


“Kak,” ucap Jelita sembari mengubah posisinya ke arah langit-langit kamar. “Kenapa Kak Reza tanya-tanya soal Willi? Ada masalah?” tanyanya penasaran.


Reza terdiam sejenak. Benaknya kembali menerawang pada hari di mana ia bertemu CEO baru itu. Banyak rumor buruk, juga pembenci akan keberadaan William di perusahaan tersebut.


“Ada yang salah," ungkap Reza hendak memulai ceritanya. “Banyak yang enggak suka sama dia, Dek. Bahkan, karyawan yang tergolong biasa tanpa jabatan berani mengatai dia. Kakak 'kan udah jadi pengacaranya, rasanya Kakak emang harus cari tahu di balik itu semua. Ancaman perihal bisnis yang berkenaan dengan jabatan itu bukan main-main.”


Jeli menurunkan pandangan yang sejak tadi menatap langit-langit ruangan. “Jeli tahu, hal kayak gitu bukan sesuatu yang aneh bagi pimpinan perusahaan, Kak. Papa sering dapat ancaman agar lengser dari jabatan tertinggi, ada pula yang mencoba menjebak Papa.”


“Ya, dan kalau ada sedikit aja skandal yang bisa mempengaruhi investor dan partner bisnis, William bisa kelar.” Reza mendesis. “Aiis! Jangan bahas soal pekerjaan, Jeli sayang!”


“Mm ... Jeli cuma penasaran doang, kok!” Jelita mengubah posisi lagi untuk menatap wajah suaminya. Kemudian, ia menangkup wajah imut itu. “Ya udah, bangun yuk. Kita mandi.”

__ADS_1


“Buat anak?”


“Eh!”


“Kenapa?”


Jelita terdiam. Parasnya yang sempat ceria mendadak muram. Anak? Itu yang ia pikirkan. Sejujurnya, ia ingin menunda terlebih dahulu. Ia ingin berfokus pada pekerjaan agar bisa menembus skala dunia.


Jelita ingin rancangan-rancangannya dibeli oleh orang luar negeri, bahkan artis hollywood. Kalau bisa harus sekelas brand papan atas. Namun ... apakah Reza akan setuju jika ia menunda memiliki momongan terlebih dahulu?


Tak lama berselang setelah terdiam, Jelita berdeham. “Kak Reza udah pengen punya baby?” tanyanya penuh hati-hati.


“Ya dong!” sahut Reza cepat. “Kita menikah selain untuk bersatu, tentu punya baby, 'kan? Rumah bakal hampa tanpa seorang anak, Dek.”


“O-oh gi-gitu ....”


Kali ini mata Reza memicing. Jawaban terbata-bata dari istrinya memicu rasa curiga. Ada yang aneh, pikirnya. Pun pada paras Jelita yang mendadak sendu, seolah habis melakukan kesalahan.


Hingga sekian detik hanya meniliti, Reza melebarkan mata. Ia menemukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan sebagai motif dari sikap istrinya itu. Ia menelan saliva dengan kemungkinan kebenaran atas prasangkanya. Jelita ... belum ingin memiliki anak?


“Jeli,” ucap Reza sembari menangkup dagu istrinya. “Punya anak enggak bakal ganggu karir kamu kok.”


Jelita terkesiap, bahkan sampai menggeragap. Ia tidak menyangka jika suaminya mengetahui apa yang ia pikirkan saat ini. Namun ketika Jelita menyadari akan siapa Reza, ia menjadi paham.


“Bu-bukan itu kok, Kak.” Kendati Reza tidak salah sangka, Jelita tetap berkilah. Ia hanya takut—khawatir jika Reza kembali kecewa. “Bukan itu, Kak!”


“Yah, oke. Kakak enggak mau bahas hal ini dulu karena masih momen libur.”


Reza menanggapi, tidak, lebih tepatnya mengalah. Baginya, Jelita hanya butuh waktu berpikir lebih lama. Ketika ia pinang saja, Jelita masih terkesan ragu lantaran usianya masih terlalu muda. Mungkin, istrinya itu juga masih bimbang lantaran karirnya sedang naik, kemudian kebimbangan lain perihal usia juga turut menjadi faktor utama.


Sepertinya Reza memang harus bersabar dan memahami istrinya untuk saat-saat seperti ini. Terlebih, saat psikologis Jelita perihal masa lalu masih sedikit terganggu. Kendati keinginannya untuk memiliki putra sekaligus memberikan cucu pada kedua orang tuanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Namun apa boleh buat memaksakan kehendak bukanlah sesuatu yang tepat.


Sementara diamnya Reza dalam sekejap membuat Jelita lantas merasa bersalah. Meskipun Reza mengatakan tidak akan membahas hal itu, ada gurat sedih di wajah suaminya itu. Lantas, Jelita harus memilih jalan yang mana? Memiliki anak di usia muda juga turut memberikan kecemasan tersendiri baginya.

__ADS_1


***


Mampir yah Ke Amanat Istri Pertama


__ADS_2