
“Kakak ngapain lagi? Udah cukup beli pakai bisnis, ’kan? Jangan terlalu bucin-lah sama dia!”
Episode 29-Manisnya
Mungkin rasa kasmaran mampu mendorong semangat seseorang menjadi besar. Tentu dengan bukti pada gadis perancang itu saat ini. Ya, wajah Jelita tengah berseri-seri. Senyum pun seolah enggan berangsur luntur. Bahkan, penampilannya terlihat jauh lebih segar daripada sebelumnya. Ia benar-benar berada dalam balutan kebahagian, membuat kesan bunga mawar mengelilingi dirinya.
Para pelayan pun saling berbisik satu sama lain. Mereka menanyakan perihal sikap sang nona muda yang seolah dikelilingi bunga-bunga. Bahkan, senandung merdu didendangkan oleh putri dari majikan mereka itu. Juga, tangga dari lantai ketiga menjadi pilihan bagi Jelita untuk sampai di lantai dasar.
“Kakak!” seru Jane dari lantai atas.
Jelita sontak menyudahi senandungnya sekaligus menghentikan langkahnya. Perlahan ia berputar badan dan mendongak—menatap Jane. “Kenapa?” tanyanya kemudian.
“Tumbenan turun pakai tangga? Mau bakar lemak?”
“Mm ... lagi pengen nyanyi-nyanyi sambil jalan-jalan, Jane. Sini gabung?”
“Kenapa sih? Aneh banget, habis dapet rezeki apa? Mm ... enggak! Mimpi apa?” Jane melontarkan pertanyaan sembari menapaki anak tangga di lantai tiga untuk ke lantai dua. Mau tak mau ia menuruti keinginan kakaknya itu.
Layaknya sebelumnya, Jane lantas merengkuh lengan Jelita. Kemudian, keduanya kompak melangkah menuruni tangga menuju lantai satu. Suara senandung kembali Jelita dendangkan, membuat Jane semakin dirundung rasa heran. Apa yang membuat kakaknya itu begitu senang? Bahkan, sudah siap sepagi ini. Biasanya, ketika ia hendak berangkat, Jelita sama sekali belum bersiap diri.
“Kakak kenapa sih? Cerita dong sama aku!” ucap Jane sembari memberikan cubitan tipis di lengan kakaknya itu.
Tentu, Jelita mendengkus sekaligus kesakitan. Meski terbilang pelan, cukup membuat kulitnya terasa perih. “Kamu kepo banget sih, Dek?!” tegasnya kemudian.
“Hmm ....” Jane menarik tangannya, lalu melipatnya ke depan sembari mendahului langkah Jelita dengan kecewa.
“Jane!”
Meski mendengar seruan itu, Jane tetap tidak peduli. Ya, gadis itu tengah menarik ulur hati sang kakak agar bersedia bercerita layaknya biasanya.
“Aku udah jadian sama Kak Reza!” seru Jelita lagi, tanpa basa-basi.
“Hah!” Langkah Jane mendadak berhenti. Bukan hanya terkesiap, melainkan tidak habis pikir. Cara apa lagi yang ditempuh kakaknya itu demi seorang Reza?
Tanpa rasa bersalah atau ragu sedikit pun, Jelita melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Kali ini, ia yang memutuskan untuk merengkuh lengan Jane dan memintanya berjalan menuju area parkir mobil dari rumah itu.
__ADS_1
Rasa penasaran yang tersemat di hati Jane masih mengambang tanpa jawaban. Hal itu dikarenakan Jelita memilih untuk menyapa para pelayannya ketimbang memberikan penjelasan lanjutan.
Hingga sampailah mereka berdua di tempat tujuan. Secara reflek, Jane menutup pintu mobil milik Jelita yang tengah kakaknya itu buka. Tatapan sepasang kakak dan adik itu saling bertaut satu sama lain. Sungguh! Kali ini tatapan Jane justru lebih menakutkan, seolah tengah menyelidiki sesuatu dari wajah Jelita.
Sesaat setelah menelan saliva, Jelita berangsur menunduk demi menepis kedua bola mata jernih milik adiknya.
“Kak?!” Jane mencengkeram kedua lengan sang kakak. “Kakak ngapain lagi? Udah cukup beli pakai bisnis, ’kan? Jangan terlalu bucin-lah sama dia!” tegasnya memberikan peringatan.
Jelita masih bergeming. Namun, dua detik berikutnya ia justru tertawa. Sikapnya sukses membuat Jane semakin bertanya-tanya, bahkan menimbulan kerut samar di dahi adiknya itu.
“Kak, aku serius! Kok malah ketawa sih?” Kekesalan kini membuncah di hati Jane, sebab Jelita urung menurunkan ambisi demi mendapatkan Reza. Hal itu dinilai sudah melampaui batas kebucinan bagi Jane.
Tak lama kemudian, Jelita menyudahi tawanya. Ia menghela napas dalam dan kembali mengembuskannya. Ditatapnya kedua manik mata milik Jane, kemudian ia berkata, “Kak Reza yang bilang cinta sama Kakak, Jane! Kemarin pagi kami bener-bener jadian. Enggak ada kesepakatan lagi!”
Cengkeraman tangan Jane di lengan Jelita berangsur mengendur, kemudian benar-benar terlepas. “Mm ... serius, Kak?” tanyanya.
“Iya! Kakak pikir juga mimpi, tapi ini beneran, Jane. Setelah seribu purnama, Kak Reza dan kakakmu ini terbalut asmara penuh romantica yang indah. Uh! Jeli bahagia banget!”
Jane mendadak ingin muntah melihat siap berlebihan dari kakaknya itu. Ia bergidik kemudian memilih pergi. Sesekali ia masih menoleh ke arah Jelita, untuk memastikan sang kakak baik-baik saja. Hingga akhirnya, ia benar-benar masuk ke dalam mobil pribadinya. Perlahan, ia mulai menyalakan mesin dan melajunya setelah dirasa siap.
“Ck, dia kok malah kayak jijik sih? Dasar bocah! Eh, aku juga masih bocah kata si Om hmm ...,” gumam Jelita. Kemudian, ia memutuskan untuk melanjutkan rencananya untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Jel!” Seruan seseorang tiba-tiba terdengar, membuat gerakan Jelita kembali tertunda.
Gadis itu membuka mata lebar-lebar, sembari menyunggingkan senyuman. Bagaimana tidak, jika seruan itu merupakan suara milik pria kesayangan alias Reza Amdan. Lantas, Jelita berbalik badan. Ditatapnya Reza dari arah pintu ruang parkir yang kini berjalan menghampirinya.
“Pagi, Pacar!” sapa Jelita dengan tingkah polah centil, tetapi menggemaskan. Tubuhnya berangsur ke depan, hampir menempel tubuh Reza yang sudah sampai di hadapannya.
Reza reflek memberikan dorongan pelan, karena merasa terkejut. “Udah Kakak bilang jangan nakal lagi!” omelnya.
“Ish! Orang cuma nyapa doang kok! Pelit banget sih, Sayang ...,” goda Jelita dengan alis dinaikturunkan, parasnya pun dibuat seimut mungkin.
Reza hanya bergeleng, bahkan bergidik menghadapi gadisnya itu. “Kamu ada-ada aja, Dek,” ucapnya kembali menghela napas dalam.
Namun, Jelita tidak menghentikan sikap manisnya. Gadis itu kembali memajukan langkah. Tentu saja, Reza mundur sembari berdecak keheranan.
__ADS_1
“Mau apa kamu?” tanya Reza dengan mata terbuka lebar.
Jelita memajukan wajahnya tepat di dada Reza, lantaran tingginya hanya sebatas itu di tubuh kekasih gembulnya itu. “Jeli mau kecupan manis kayak pasangan di drakor, Kak!”
Reza mengulur tangan, kemudian memberikan jitakan di kening kekasih centilnya itu. “Enggak ada, Sayang!” ucapnya tegas sebagai penolakan.
Jelita mendesis. “Kakak! Jeli ‘kan udah jadi pacar Kakak! Kenapa sih? Di pipi aja, ah enggak, kening deh kening. Malah dijitak!”
Kini giliran Reza yang tiba-tiba memajukan wajahnya ke hadapan sang kekasih. Alhasil, Jelita tersentak dan reflek mundur.
“Tuh, ‘kan! Kamunya aja belum siap, sok-sokan!” Reza menarik dirinya kembali, sembari tertawa kecil. Nyatanya, kekasihnya itu hanya gede bicara, tetapi tidak siap jika tiba-tiba dituruti.
Gadis itu sibuk mengusap tengkuk lantaran menahan malu. “Y-ya, ja-jangan tiba-tiba begitu dong! Ma-mana mau lagi?” pintanya, meski sejatinya ia sama sekali belum siap. Sikap centilnya hanya untuk menggoda pria gembulnya itu saja. Tak disangka justru ia sendiri yang dipermalukan.
“Enggak, Jeli Sayang. Sekalinya dikasih memberi, pasti bakal minta lagi dan lagi. Kamu belum siap! Enggak boleh! Kakak mau jaga kamu.”
“Hmm ... emangnya Kakak sendiri udah siap?”
“Seenggaknya Kakak ini pernah pacaran.”
“A-apa?”
“Ya, jaman SMA, pas masih langsing.”
“Jadi, Kakak udah enggak suci dong?”
“Menurut kamu?”
Jelita terdiam. Hatinya diliputi kegusaran. Jika Reza pernah menjalin hubungan sebelum bersamanya, lantas apa saja yang sudah dilakukan pria gembulnya itu selama fase pacaran? Membayangkan beberapa kemungkinan, Jelita hanya bisa menelan saliva. Bahkan, jika benar pada saat itu Reza masih bertubuh kurus, sudah pasti kekasihnya itu berpacaran lebih dari satu kali.
Reza hanya tertawa kecil mendapati wajah Jelita yang diselimuti kekhawatiran. Membalas dendam dengan cara mengakui hal itu, cukup membuat gadisnya penasaran. Sekalipun benar ia pernah menjalin hubungan dengan gadis lain, tak pernah Reza menjamah mereka. Paling parah mungkin hanya kecup pipi dan kening saja. Dan itu terjadi ketika masih SMA, di mana tubuhnya masih tegap tanpa balutan lemak tebal.
Kemudian, Reza membawa Jelita menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah Nur Imran. Tanpa ia pedulikan lagi, kegusaran Jelita saat ini. Gadisnya yang naif memang sangat menggemaskan, ia akan membiarkan Jelita dengan raut demikian dalam waktu cukup lama.
****
__ADS_1
Hai semua ,maaf baru up. Badannya baru agak mendingan. Jangan lupa jempolnya ya.