
“Dulu ketika kamu memilih buat cemas sendiri, alhasil Reza menjadi salah paham, 'kan? Kamu mencemaskan keamanan dia, padahal tanpa kamu tahu bahwa dia jauh lebih bisa diandalkan.”
Episode 3-Bimbang (Bonus)
Tak lepas mata Jelita dalam menatap gaun-gaun cantik hasil rancangannya sendiri. Dan ia tidak menyangka jika dalam waktu dekat salah satu dari gaun itu akan menjadi pakaian pernikahannya. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebab ia berpikir jika akan menikah di atas umur dua puluh lima tahun.
Takut dan khawatir tentu saja ada di dalam hati Jelita. Pasalnya, menikah muda kerap kali tertimpa masalah dan bersumber pada ketidakstabilan emosi. Beberapa pasangan muda pernah mengalami hal itu dan sampai akhirnya bercerai.
Jelita menghela napas membayangkan kemungkinan paling buruk. Bukan tak senang karena mau menikah, tetapi hanya was-was saja. Apalagi ia pernah melukai Reza dan berujung ditinggalkan. Lantas, jika hal itu terulang apakah Reza juga akan kembali menghilang?
“Duh ....” Jelita berangsur meletakkan kepala di atas meja kerja. Matanya terpejam dengan jantung yang berdebar. ”Gimana ini?” lanjutnya cemas.
Tangan Jelita merasakan sentuhan seseorang. Sontak saja, ia membuka mata serta membangunkan diri. Ditatapnya dengan heran sosok wanita di hadapannya. Wanita berparas Belanda dengan senyum sarat akan ketulusan.
“Tante Fanni? Sejak kapan?” tanya Jelita sementara berdiri dari duduknya.
“Barusan, Dek,” jawab wanita bernama Fanni yang tak lain istri dari Arlan Mahendra Suharsono.
Jelita bergerak cepat. Ia lantas meraih tangan Fanni dan membawa wanita dewasa itu untuk duduk di sebuah sofa. Tak hanya itu, Jelita bergerak cepat untuk menghidangkan sesuatu setidaknya air minum bagi sang tamu.
“Sombong kamu, Jeli,” celetuk Fanni tiba-tiba.
Jelita menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil air di dalam lemari pendingin. Ia menoleh ke arah Fanni dengan kerutan yang kini ada di dahinya. “Jeli?” tanyanya heran.
Fanni tersenyum lagi. “Kayaknya kamu lebih suka dipanggil pakai nama itu, bahkan brand kamu udah pakai nama itu. Ada baiknya Tante juga ikut-ikutan.”
“Hmm ... boleh, Tante! Eh, mau kopi?”
“Enggak, Dek, air mineral aja.”
Sembari membawa hidangan berupa air mineral dan sepiring cake, Jelita kembali menghampiri Fanni. “Aksa nggak diajak, Tante?” Ia mendudukkan diri di samping wanita dewasa itu.
__ADS_1
“Ada Mbak Yuni, Jel. Ini mau ke salon, sekalian mampir dulu.”
“Hmm ... kangen sama mereka bertiga.” Wajah ayu sang designer itu lantas beraut manja.
“Alah! Sok kangen, main juga udah jarang.”
Mendengar jawaba Fanni, Jelita lantas menggaruk kepala dan tertawa canggung. “Jeli udah jadi orang sibuk, Tan, hahaha.”
“Hmm ... kamu udah baik-baik aja?”
Pertanyaan Fanni sukses membuat Jelita terdiam. Parasnya yang sempat girang menjadi sendu. Baik-baik saja bagaimana setelah teror mengerikan itu? Namun, Jelita tak bisa mengatakan yang sebenarnya.
Trauma memang masih ada, meski pola makan sudah seperti orang biasa. Namun bayangan Dery yang mati di depan matanya, menjadi sebuah ketakutan tersendiri. Pun pada mantan ibu tirinya kalau kembali melarikan diri dari rumah sakit jiwa.
Fanni menghela napas. Meski tidak diberikan jawaban secara pasti, setidaknya ia tahu bagaimana perasaan Jelita lewat ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah. Dengan sentuhan penuh keibuan, Fanni menggenggam telapak tangan gadis di hadapannya itu.
“Kamu harus bahagia, Jeli, jangan terkekang masa lalu,” ucap Fanni.
Jelita berangsur menatap manik biru milik wanita dewasa itu. “Jeli bahagia kok, Tan! Serius! Lagian bentar lagi Jeli mau nikah,” jawabnya berkilah.
“Iya, Tante. Mm ....”
“Kenapa?”
“Jeli takut.”
“Takut?”
Jelita menganggukkan kepala. “Iya, takut kalau suatu saat pasca pernikahan Jeli bikin salah dan Kak Reza ninggalin Jeli lagi. Soalnya waktu insiden itu terjadi, Jeli terkesan mengandalkan ponakan Tante ketimbang Kak Reza.”
Fanni tersenyum. Mata birunya lantas menurunkan pandang. Ketakutan Jelita memang sangat wajar. Sebab, jika sudah pernah ditinggalkan, hal itu bisa jadi akan terulang. Itulah mengapa beberapa orang menolak jika berbalikan dengan mantan kekasih mereka, layaknya membaca buku yang sama, isi dan ending pun tetap akan sama.
__ADS_1
Namun, sebagian dari mereka pun memilik tak apa-apa jika harus kembali. Layaknya sebuah rumah, meski sama pasti bisa dibangun menjadi lebih bagus lagi. Tinggal bagaimana setiap orang berkomitmen dan menyikapi.
“Adekku, Jelita,” ucap Fanni. Sementara, ia mendekatkan diri pada gadis muda di hadapannya. “Hatimu sedang diombang-ambing sekarang,” lanjutnya berupaya membuat Jelita merasa tenang.
“Maksud, Tante?” tanya Jelita heran bersama kerut sama di dahinya. “Jeli nggak ngerti."
“Kamu tipikal orang yang mudah trauma, itu poin pertama. Kedua, kamu mudah cemas sendiri.”
“Mm ... i-iya sih.”
“Dulu ketika kamu memilih buat cemas sendiri, alhasil Reza menjadi salah paham, 'kan? Kamu mencemaskan keamanan dia, padahal tanpa kamu tahu bahwa dia jauh lebih bisa diandalkan.”
Jelita menelan saliva membayangkan peristiwa di sebelas bulan yang lalu. “Be-benar, Tante.”
“Coba belajar dari masa lalu, bukan ketakutan sama masa lalu. Hati kamu sedang diombang-ambing sebagai ujian pernikahan, kamu harus hati-hati dalam bersikap. Jika sekiranya kamu emang takut, coba dirundingin sama Reza. Bikin komitmen berdua, misalnya dalam keadaan apa pun kalian nggak akan saling meninggalkan lagi. Semua urusan bakal lebih baik kalau diomongin, Jeli.”
“....”
“Kalau kamu cemas sendiri dan tiba-tiba sikapmu jadi aneh, Reza bakal bertanya-tanya. Salah paham pasti datang lagi, keadaan kalian bakal lebih runyam sebelum pernikahan digelar.”
“Iya, Tante, Jeli coba bilang nanti.”
“Mm ... makanya, prinsip Tante selama ini jangan lupakan masa lalu, karena seburuk apa pun masa lalu ada pelajaran di sana. Asal jangan mengekang diri terlalu lama dalam trauma. Tanta tahu, Tante bukan orang yang tepat bilang kayak gini, karna Tante sendiri pernah terjebak sama trauma.”
Setidaknya ada rasa lega pasca mendapat solusi atas kebimbangannya. Jelita sangat bersyukur Fanni datang di waktu yang tepat. Perihal wanita blasteran itu datang sebenarnya hendak berkunjung saja, yang mana Jelita sudah lama tidak mampir ke salon miliknya dan Mita. Dan kini, Fanni hanya berharap yang terbaik untuk Jelita, juga semua wejangan yang ia berikan merupakan nasehat baik.
Sekian detik bergeming, akhirnya Jelita merengkuh tubuh gempal milik Fanni. Hangat dan nyaman. Selain karena tumpukan lemak, Fanni memiliki hati yang penuh kasih sayang. Layaknya seorang ibu, Fanni membelai halus rambut Jelita. Ia seperti mendapat satu anak lagi dengan rentang usia lebih tua ketimbang ketiga anaknya.
“Makasih, Tante,” ucap Jelita.
“Sama-sama, Sayang,” jawab Fanni.
__ADS_1
Setelah itu, Jelita lantas melepaskan pelukannya. Ia kembali membuka perbincangan apa pun yang pantas dibicarakan. Tak lepas juga mengenai membahas perihal make up pengantin. Jelita ingin memakai jasa salon Fa&Mi, nama salon milik Fanni dan sahabatnya bernama Mita.
****