Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 6-Menyatu (Bonus)


__ADS_3

“Jangan takut, ini bukan dosa, Sayang, justru pahala.”


Episode 6-Menyatu (Bonus)


Kabar pernikahan Jelita sampai ke publik, dengan kata lain masyarakat luas yang mengenal gadget. Sebab, dengan statusnya sebagai selebgram, meski sekarang tidak terlalu aktif di media sosial, Jelita masih memiliki banyak penggemar. Barisan para laki-laki malang yang kehilangan idolanya, sekaligus penggemar wanita yang justru turut bahagia.


Respon publik yang begitu antusias, tentu saja membuat Reza sedikit kesal. Pasalnya, beberapa pria yang merupakan penggemar Jelita lantas geram padanya. Beruntung, kondisi fisik Reza sudah lebih baik ketimbang satu tahun yang lalu, sehingga hujatan itu tidak terlalu parah untuk ia baca. Di sisi lain, netizen wanita justru mengagumi paras tampannya. Mereka turut senang dan memberikan selamat padanya dan Jelita, tetapi juga tidak sedikit yang merasa iri.


Malam kedua pernikahan Jelita dan Reza justru dihiasi atmosfer kelabu berisi cemburu. Sepasang pengantin baru itu saling melempar mata, setelah sebelumnya sama-sama sibuk membaca komentar di sosial media. Desisan dari bibir Reza dan Jelita kompak keluar, menandakan rasa kesal. Pasalnya, masing-masing di antara mereka kini memiliki penggemar.


“Apa?” tanya Reza sembari menaikkan satu alisnya.


“Nggak apa-apa!” tandas Jelita sinis.


“Banyak yang patah hati, tuh!”


“Banyak juga yang iri sama aku, tuh! Aiss! Makanya aku nggak suka cowok ganteng ya begini ....”


“Haish! Berarti kamu nggak suka sama suami sendiri?”


Jelita langsung menatap. “Emang Kakak ganteng?”


“Maybe, kan kamu bilang kayak gitu pas ada aku dan komentar mereka.”


“Jangan GR! Kakak nggak terlalu ganteng tuh!”


“Oh yaaa?”


Reza bergerak. Yang tadinya duduk agak jauh dari istrinya, kini justru mendekat. Ia menyodorkan wajah dengan mata terbuka lebar. Jelita menelan saliva, pasalnya wajah Reza terlalu dekat. Tanpa ia sadari, tubuhnya pun berangsur mundur.


Malam pertamanya memang belum terlaksana, sebab kemarin terlalu sibuk dan lelah. Tak ada yang terjadi, bahkan Reza justru sibuk bergadang dengan para rekan seprofesi. Pria itu kembali ke kamar ketika jam tiga malam, dan tentu saja Jelita sudah tertidur lelap.


Kini, menyadari apa yang tertunda di malam kemarin, bulu kuduk Jelita mendadak berdiri. Ia menegang sebab kegelisahan yang membuncah di dada. Jelita tidak pernah berada di dalam kamar, selain bersama Reza yang kini telah berubah rupa.


“Kenapa mundur-mundur? Nanti kamu jatuh, lho,” ucap Reza sembari menarik pinggang Jelita karena posisi tubuh istrinya itu sudah hampir ke tepi ranjang.


“Ja-jangan sekarang, Kak,” jawab Jelita sarat akan permintaan.


“Apanya yang jangan sekarang?” Meskipun sok tidak tahu, mata Reza justru berangsur sayu. “Hmm?”


“A-anu, i-itu ....” Tubuh Jelita kaku. Ia tidak bisa melanjutkan perkataan karena terlalu tegang.

__ADS_1


“Apanya, Sayang?”


Jelita membisu, tetapi matanya membesar menatap wajah suaminya yang semakin mendekat. Hasrat lelakinya mendadak keluar, meski sebelumnya Reza merasakan bingung hendak berbuat apa. Namun tetap saja, kucing tidak akan tahan jika dihadapkan dengan makanan lezat, apalagi yang menjadi kesukaan.


“Kamu belum pernah?” bisik Reza mendekati telinga kanan Jelita.


Jelita menelan saliva. “En-enggaklah!” tandasnya.


“Ayo kita coba.”


“Ta-tapi, ta-takut. Be-belum siap, Jeli malu, Kak.”


“Kenapa? Toh, aku suami kamu bukan pacar lagi.”


“I-itu, a-anu ... bi-bisa besok aja nggak?”


“Nggak!” tegas Reza, kemudian mulai bertindak dengan tangannya. “Kemarin udah tertunda, Sayang, kita coba dulu pelan-pelan.”


“Ta-tapi ....”


“Jangan takut, ini bukan dosa, Sayang, justru pahala.”


Romantisme terjadi setelah satu malam tertunda. Kini keduanya menyatukan raga dalam waktu yang tidak bisa dikira, bisa saja sampai menghabiskan waktu satu jam atau lebih dari dua jam. Desiran terasa, hanya mereka yang merasa. Rasa cinta bercampur rindu, kini sudah terbayar dengan sebuah hasrat tak berdosa.


Pendar rembulan turut menghiasi, menerobos masuk jendela kaca berhordeng sutera. Menemani sepasang pengantin menapaki surga dunia, merasakan nikmat yang tiada terkira. Benih akan tertanam, dan semoga tumbuh sebagai putra utama penuh binar cahaya.


Detik-detik berlalu, bersisa rasa dahaga setelah romantisme itu. Napas mereka memburu, berbaur menjadi satu, mencipta nada desis merdu memenuhi segala penjuru.


“Terima kasih, Istriku,” ucap sang pria melainkan Reza Amdan Nurgraha sembari menatap Jelita—sang istri tercinta.


“Haus,” balas Jelita tak bisa menahan keringnya kerongkongan. “Ambilin, Kak, ada lemari pendingin kecil di balik nakas.”


“Aku tahu.” Setelah itu, Reza beranjak turun. Ia memakai baju tidur bergaya jubah. Detik berikutnya, ia menuruti permintaan Jelita.


Sementara itu, Jelita masih terpejam. Sesekali mengigit bibir menahan rasa perih untuk pertama kalinya ia alami. Reza tersenyum setelah mengambil sebotol air mineral. Dengan lembut, ia kembali naik ke atas ranjang. Kemudian, dibantunya sang istri untuk bangkit dari rebahan.


“Sakit?” tanya Reza.


“Iya, pasti kotor deh tempat tidurnya,” jawab Jelita.


“Besok dicuci.”

__ADS_1


“Tapi, aku malu, Kak!”


Dahi Reza mengernyit. “Malu? Malu kenapa, Jeli?”


Jelita mengerjabkan matanya. “Malu sama pelayan kalau menduga kita habis ngapain dan tentu tahu apa bekas noda itu.”


“Kenapa harus malu? Kita 'kan udah menikah.”


“Ya, malu pokoknya!”


“Hmm ... minun dulu, katanya haus.”


Jelita langsung menyambar botol mineral dari tangan Reza. Kemudian, ia meneguk isinya dengan cepat. Lega. Setidaknya untuk rasa haus yang sempat mendera. Sementara rasa malu, sepertinya harus ditangani dengan beberapa rencana. Lantas, apa?


Mencuci bedcover setebal dan selebar itu, Jelita tidak bisa, meski memakai mesin cuci sekalipun. Tidak terbiasa lebih tepatnya. Para pelayan pasti tetap akan merasa aneh jika Jelita sampai melakukan hal itu.


“Duuuh gimana nih, Kak?” tanya Jelita cemas.


Reza tersenyum. “Kakak yang cuci,” jawabnya.


“Jangan! Nggak boleh, jorok! Kakak cowok!”


“Kan yang bikin noda tetep aku, Jel! Hmm ....”


“Tetep aja nggak boleh! Cowok nggak boleh nyuci!”


“Jel, suamimu 'kan bukan tuan muda yang selevel kamu. Suamimu hanya pengacara biasa, masalah cuci mencuci itu udah biasa. Pernah jadi anak kost juga!”


“Jangan! Pokoknya jangan! Jorok!”


“Terus yang barusan kita lakuin juga jorok?”


Jelita terdiam. Wajahnya mendadak berma. Ia malu membayangkan insiden panas yang Reza lakukan padanya. Dari ujung kepala bahkan sampai kaki. Tak sejengkal pun Reza lewatkan kala itu.


“Aaaaaa!” Jelita terpekik, tidak kuasa menahan tekanan dari ingatan barusan. Ia benar-benar malu. Apalagi jika melirik dirinya sendiri yang hanya terbalut selimut tebal. Reza bisa saja menyerangnya untuk kesekian kali.


Namun beruntung, untuk malam ini, Reza masih bisa memberikan kesempatam pada istrinya. Terlalu memaksa, Reza khawatir jika Jelita justru ketakutan. Apalagi istrinya itu merupakan orang yang mudah trauma. Sehingga, pada akhirnya Reza hanya membimbing lembut.


Di saat yang bersamaan Reza mengajak Jelita untuk berbincang seputar kehidupan masa depan, sekaligus rencana pindah rumah, sebab tidak mungkin bagi Reza untuk menumpang di rumah Nur Imran dalam waktu yang lama. Bahkan, jika bukan Jelita yang merengek, Reza tidak mau menginap untuk dua malam ini.


****

__ADS_1


__ADS_2