
“Mm ... Jeli enggak bisa sembarangan bawa masuk cowok, sekalipun itu Kakak!”
Episode 27-Malu
Jelita masih mendesis beberapa kali, sebab masih tidak habis pikir dengan ulahnya sendiri. Gadis perancang itu, masih menggelepar terbalut selimut tebal di atas ranjang tidur. Ia enggan terbangun, karena ingin bersembunyi dari siapa pun, terutama Reza Amdan. Malu, ya, ia merasa sangat malu sekaligus tidak punya daya untuk bertemu dengan pria itu.
“Siapa sih yang ngajarin gue kayak begitu? Apa sering lihat kemesraan Om Arlan sama Tante Fanni, ya? Jadinya, jadi liar begini! Aaarrgh!” Jelita terpekik gemas, sembari menggerak-gerakkan kakinya secara cepat. Ia menyadari jika sudah keterlaluan dalam bersikap. Mengecup bibir Reza, meskipun hanya sekilas, tetap saja menjatuhkan nilai dirinya.
Dering ponsel di atas nakas yang mengapit ranjang Jelita dengan yang lainnya, tiba-tiba terdengar. Membuat gadis itu reflek menelan saliva sekaligus merasa gusar. Bagaimana jika Reza yang menghubunginya? Apa yang akan ia katakan? Dan, ia sama sekali belum melakukan persiapan diri. Bahkan, mandi saja belum.
Namun, pada akhirnya, Jelita memutuskan untuk membangunkan dirinya. Ditatapnya ponsel tersebut dengan gelisah. Ia menggigit bibir bawahnya yang kini tak suci lagi, sebab ulah nakalnya yang diberikan pada Reza. Yang mana menjadi first kiss bagi dirinya sekaligus pria itu.
Dengan ragu, Jelita meraih ponsel itu. Panggilan pertama yang berakhir, berganti panggilan kedua. Dan itu dari Reza. Hati Jelita semakin dirundung gelisah. Namun, ia tidak mungkin membiarkan Reza begitu saja, khawatir jika pria itu sudah menunggu dirinya.
“Ha-halo, Kak,” sapa Jelita terbata.
“Jel, kamu di mana? Aku udah di bawah. Mm ... selamat pagi,” jawab Reza begitu ringan, seolah tidak terjadi sesuatu tadi malam.
Jelita menjadi gusar, seiring denyut jantung yang semakin tidak keruan. Rasa malu membuncah, membuatnya menarik selimut untuk bersembunyi.
“Jel ...?” ucap Reza lagi, dari posisinya yang kini tengah menunggu Jelita di ruangan terjadinya insiden semalam. Pria itu gelisah lantaran waktu semakin cepat menuju jam kerja di kantornya.
“Anu, ... Kakak duluan aja. Jeli kesiangan dan nanti mau ke kantor Papa.”
“Kesiangan? Enggak biasanya? Kamu sakit?”
“En-enggak kok, Kak. Jeli baik-baik aja.”
“Serius? Enggak biasanya lho. Kamu pasti enggak makan lagi, ‘kan? Tadi malam, kita enggak jadi jalan, udah pasti kamu enggak makan!” omel Reza sarat akan kekhawatiran. “Kakak naik sekarang!” Saking paniknya, ia tidak peduli perihal persetujuan dari gadis itu.
Sementara Jelita menjadi terkesiap. Matanya membelalak, seiring kepanikan yang menyerang secara tiba-tiba.
“Kak?”
Ucapan Jelita tak disahuti lagi oleh Reza. Membuat gadis itu mendengkus kesal sekaligus berdecak heran. Bagaimana bisa Reza tidak menangkap perasaannya saat ini? Pria itu justru melupakan hal memalukan yang tengah ia khawatirkan! Sejatinya, ia hanya ingin menghindar. Setidaknya, sampai rasa malunya berangsur menepi. Namun, Reza sama sekali tidak menyadari tentang itu.
__ADS_1
Mau tidak mau, Jelita bangkit dari posisinya saat ini. Ia berangsur turun dari ranjang. Langkahnya diambil cepat menuju kamar mandi pribadi. Tidak ingin ia terlihat kusam sekaligus bau di hadapan Reza. Meskipun tidak mandi, yang penting sikat gigi, pikirnya detik itu.
Tak berselang lama, pintu kamar Jelita pun terdengar tengah diketuk oleh seseorang. Hal itu membuat sang pemilik terpaku dalam kaku. Lidahnya terasa kelu, langkahnya menjadi terhenti tepat di ambang pintu kamar mandi. Mata Jelita menatap nanar ke arah pintu utama kamarnya. Sudah pasti, Reza ada di baliknya.
“Uh!” pekik Jelita. Ia menghela napas panjang demi menenangkan hatinya. Sulit, baru kali ini ia menghadapi betapa sulitnya untuk bertemu Reza. Ada rindu, tetapi rasa malu justru lebih mendominasi hatinya.
“Gue harus gimana?” gumam Jelita, bimbang. Sementara, suara ketukan dari luar semakin kencang. Ya, Reza sudah dalam balutan kekhawatiran. Trauma yang dialami Jelita muncul di benaknya, menjadi satu-satu alasan mengapa ia begitu berani naik ke kamar gadis itu.
“Jeli!” seru Reza dari luar. Sayangnya, suaranya tidak sampai di telinga sang pemilik kamar lantaran fasilitas kedap suara terpasang di kamar tersebut. “Hmm ... kadang, punya rumah terlalu mewah juga merugikan. Sampai mati pun, dia enggak bakal denger suara gue!”
“Mohon maaf, Tuan.” Salah satu pelayan rumah itu menghampiri Reza. Kemudian, ia menunjuk sebuah benda di samping pintu kamar Jelita. “Kalau Nona Muda enggak dengar, biasanya kami menekan tombol ini,” lanjutnya memberitahu.
Reza menelan saliva. Takjub juga heran. Kamar Jelita ibarat sebuah apartemen di dalam istana. Benar-benar gila! Dan ia mendapatkan cinta dari nona kaya itu? Berkah atau musibah? Sepertinya memang berkah bagi Reza. Diri dan hatinya saja bisa dibeli oleh gadis itu.
Tak berselang lama, pintu kamar dibuka oleh sang pemilik kamar. Dengan keadaan tertutup selimut seluruh badan, menyisakan mata, Jelita muncul di balik pintu kamar itu. Reza menjadi tertegun. Sepertinya Jelita benar-benar sakit, pikirnya detik itu.
“Jel? Kamu enggak apa-apa?” tanya Reza kemudian.
Jelita berangsur menggeleng. “Jeli baik, Kak. Mm ... Ka-kakak enggak telat?” balas gadis itu, malu-malu.
Kecanggungan kembali menyisip tidak sopan di antara mereka berdua. Jelita yang masih menahan malu dan bersembunyi di dalam selimut itu, sementara Reza menjadi gelisah karena ucapannya. Sungguh, sepasang insan yang menggemaskan! Membuat para pelayan yang lewat mengulas senyum diam-diam. Di antara mereka rela bersembunyi sembari mengintip. Rasa gemas meliputi perasaan mereka sebab menjadi saksi atas asmara Jelita dan Reza.
“Mm ... Jeli enggak bisa sembarangan bawa masuk cowok, sekalipun itu Kakak!” ucap Jelita tiba-tiba. Meski sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan demi membersihkan nama baiknya perihal tadi malam. Sejujurnya, ia sangat ingin menarik lengan Reza detik itu juga. Sudah lama menjadi bayangannya, bersama pria itu di dalam ruang yang hanya ada dirinya dan sang pria.
Para pelayan yang mengintip pun menjadi kecewa, seolah keberanian untuk mengintip menjadi sia-sia. Ya, mungkin beberapa orang bisa menjadi gila atas keuwuan antara sang nona dan sang pengacara.
“Udah ah, yuk lanjut kerja daripada ketahuan.”
“Iya, hayuk. Penonton kecewa deh!”
Samar-samar, Reza mendengar. Ia semakin gusar. “Mm ... maaf, Kakak terlalu antusias sepertinya. Sangat enggak sopan, padahal kamu punya banyak pelayan.” Ia berucap sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Jadi?” balas Jelita, mencoba memastikan rencana Reza setelah ia memberikan penolakan.
“Mm ... kayaknya, Kakak batalin izin aja deh. Yang penting kamu istirahat. Misal enggak kuat, enggak usah berangkat ke butik.”
__ADS_1
“Jangan!”
“Hmm?”
Jelita tersipu. Namun, ia berangsur membuka tudung selimutnya dan memperlihatkan paras cantiknya pada Reza. “Jeli mau dirawat Kakak, jadi jangan dibatalin.”
“Tapi?”
“Enggak apa-apa. Ada ruangan lain, di ruang musik juga bagus kok. Mm ... pokoknya tunggu, Jeli mandi dulu!”
Reza reflek menarik lengan Jelita. “Enggak usah mandi, kalau sakit.”
“Enggak! Jeli enggak mau jelek di depan Kakak!”
“Kakak pun selalu jelek di depan kamu, biasa aja.”
“Kakak enggak jelek, Kakak imut!”
“Kamu jauh lebih imut! Oke? Jangan dipaksain mandi. Nanti Kakak malah pulang.”
“Kak ...?”
“Badan kamu anget.”
Jelita mendengkus pelan. Seandainya Reza tahu, hangat suhu tubuhnya disebabkan kegugupan serta rasa malu yang ia tahan mati-matian. Ia tidak merasakan sakit apa pun. Namun untuk jujur, tentu saja gadis itu enggan. Respon Reza seperti saat ini terbilang langka, ia tidak mau melewatkannya.
Jelita mengalah pada akhirnya. “Oke kalau gitu. Tapi, izinin Jeli ganti baju dan pakai parfum, ya?”
Reza mengulas senyum. “Kendali di tangan Anda, Nona,” sindirnya.
Jelita hanya tersenyum tipis. Detik berikutnya, ia menutup kembali pintu kamar sekaligus membiarkan Reza menunggu di luar. Ia mengembuskan napas secara kasar, setelah itu menepuk keningnya sembari terpejam. Otak ingin Reza segera pergi, sayangnya mulut dan hati meminta pria itu untuk tetap menjaga dirinya. Gadis yang labil itu tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Kemudian, Jelita segera bergegas berganti pakaian karena tidak ingin Reza menunggu lama. Mungkin, ia akan menahan rasa malu sepanjang bersama pria itu sekaligus berdecak bahagia dalam rasa itu.
****
__ADS_1
Mau up lagi? Jempolnya dulu