
“Kamu serius mau, 'kan, nikah sama aku?”
Episode 2-Kejutan (Bonus)
Napas Reza begitu terengah-engah, ketika baru saja keluar dari rumah mewah bak istana itu. Bagaimana tidak, meski terbilang berani sejatinya ia sangat takut. Ia tahu jika akan mendapat respon yang sedemikian tak mengenakkan dari Nur Imran. Namun ketika sudah maju tentu saja mundur pun akan menjadi kesalahan.
Bersama Jelita, Reza masuk ke dalam mobilnya di area parkir rumah itu. Sementara Nur Imran hanya berdecak dari balkon lantai kedua. Ia pikir Reza memang begitu berani, tetapi yang ia lihat saat ini justru berbanding terbalik daripada sebelumnya. Setelah puas menatap ke bawah sepasang kekasih itu, Nur Imran kembali masuk ke dalam. Setidaknya, kini ada rasa lega sebab Jelita sudah tersenyum bungah.
“Minum dulu, Kakak,” ucap Jelita sembari memberikan sebotol air mineral yang sengaja ia bawa pada sang kekasih tercinta.
“Mm ... makasih, Jel,” jawab Reza. Sembari meraih botol itu, ia justru mengecup pipi Jelita.
“Eh?”
Reza tersenyum. “Kenapa?”
“Modus!”
“Nggak apa-apa, kan?”
“Kalau ketahuan Papa jadi gagal nikah kita.”
“Oke, aku bawa kamu kabur dulu.”
“Eh? Ke mana?”
Reza tak menggubris ucapan Jelita. Sesaat setelah meletakkan botol di tengah-tengah, ia lantas menyalakan mesin mobil. Detik berikutnya, Reza melaju kendaraannya itu.
Meski masih bertanya-tanya perihal akan dibawa ke mana, nyatanya Jelita justru bahagia. Tidak peduli, yang penting bersama Reza! Setelah sepuluh bulan putus, kerinduan sudah pasti membuncah. Seminggu berbalikan pun tidak banyak waktu luang untuk bertemu.
“Hmm ... kenapa lihatin Kakak terus, Jeli?” celetuk Reza menyadari sikap Jelita dalam memandang dirinya. “Ganteng?”
“Iya. Kayak bukan Kak Reza,” jawab Jelita.
“Terus kayak siapa, aa?”
“Nggak tahu. Tapi, ... aku suka.”
“Masa'? Kan katanya kayak bukan Reza pastinya kayak kenal orang baru dong!”
“Karna sekarang sifat-sifat Kak Reza pun masih sama aja kok, mungkin rasa mindernya yang berangsur hilang.”
“Belum, Sayang, masih ada. Kakak masih berusaha.”
“Jeli juga!”
Jelita meletakkan kepalanya pada pundak Reza. Kemudian, salah satu tangannya merengkuh lengan pria itu. Nyaman, tenang, tentu senang. Tak ingin hari ini hilang. Jangan sampai kisah silam terulang, oh, kecuali kasih sayang. Sekalipun ada masalah, Jelita berharap ia bisa menyelesaikan dengan sebaik mungkin bersama pria itu.
Pun Reza yang kini seolah kembali menemukan bahagia. Hatinya tak lagi hampa, semua nestapa hilang seketika. Ia bersama Jelita, merajut kembali kisah lama. Tidak berharap lagi ada pisah yang membuat luka. Reza tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Sekian menit berlalu, kini mobil itu berbelok pada sebuah gedung apartemen megah. Jelita terpana. Ia memajukan tubuhnya dan lebih seksama dalam menatap bangunan tinggi itu.
__ADS_1
“Apartemen?” Jelita menoleh ke arah Reza. “Mau ngapain?”
“Mau melahap kamu, Dek!” jawab Reza.
Jelita terkejut. Detik berikutnya ia mencubit lengan Reza, sampai membuat pria itu kesakitan. “Kok masih nakal sih omongannya?”
“Kakak serius!"
“Ih, kok serem?”
Hanya senyum yang Reza berikan, tak lebih dari itu. Mobilnya dihentikan tepat pada area yang telah ditentukan. Pria itu segera turun dan meminta Jelita tetap diam di dalam.
Setelah memutar langkah, Reza lantas membukakan pintu bagi sang nona muda. Sikap manis Reza sukses membuat Jelita kelimpungan atas rasa malu. Ia salah tingkah parah, bahkan parasnya sampai memerah. Gadis itu seolah sedang mengalami cinta yang baru.
“Ayo!” ajak Reza sembari meminta telapak tangan Jelita.
Tentu saja Jelita menyambut dengan suka cita. Setelah bergandengan tangan, keduanya lantas berjalan. Memasuki gedung itu menjadi tujuan. Entah apa yang ada di dalam dan rencana apa yang saat ini tengah dirancang oleh sang pengacara. Jelita hanya percaya, Reza tidak akan berbuat macam-macam.
Reza menekan angka dua puluh yang merupakan lantai di mana ia akan menuju. Berdua saja di dalam elevator itu, membuat Reza berdecak senang. Dan secara tiba-tiba, ia merengkuh pinggang Jelita, mendekatkan tubuh gadis itu padanya.
“Kakak! Ada CCTV! Jangan macam-macam!” omel Jelita sembari melepaskan diri perlahan-lahan.
Namun Reza justru menguatkan rengkuhannya. “Kakak terlalu bahagia. Sebentar aja, Jeli.”
“Kok bahagia sebentar sih?!”
“Maksudnya peluk kamunya, Sayang.”
“Ya, karena sekarang Kakak enggak mau sungkan. Yang ada kamu ngandelin orang lain lagi, ketika Kakak udah berani, maka kamu juga nggak perlu takut lagi bersandar sama aku.”
Jelita tersenyum canggung. Senang memang, tetapi bahasan yang Reza ucapkan mengenai kesalahannya di masa lalu, yang mana ia lebih mengandalkan William bukan pria itu. Rasa bersalah pun kembali datang, membuat Jelita enggan memberikan jawaban. Ia memilih diam sembari mendekatkan diri.
Dengan ragu, Jelita membalas rengkuhan Reza di pinggang pria itu. Reza tersenyum.
Namun sayang, elevator telah sampai di lantai dua puluh. Jelita lantas melepaskan pelukan dan berjalan terlebih dahulu.
“Hei! Mau ke mana coba?” tanya Reza.
Jelita menghentikan langkah. Ia memutar badan tanpa memandang Reza. “Nggak tahu,” jawabnya.
“Hmm ....” Reza menghampiri gadis itu. Kemudian, merengkuh pundak Jelita dengan mesra. “Ayo!”
“Ke mana?”
“Bermesraan.”
“Kok?!”
“Haha, becanda, Sayang. Ikut aja.”
“Tetep aja Kakak nakutin.”
__ADS_1
“Ck. Biasanya juga kamu yang centil, suka berubah-ubah sih, Dek!”
“Ya kalau dibawa ke tempat sepi, berdua doang! Terus, meskipun pacar sendiri, Jeli nggak mau. Jeli belum siap!”
“Ck ck ck, hiii mikir kotor. Parah!”
“Eh, oh, bu-bukan gitu, Kak!”
Reza melangkah lebih cepat. “Punya pacar mesu—”
“Kakak! Bukan gitu!”
“Parah! Jorok pikirannya!”
“Iiiih! Dibilangin bukan gitu!”
Reza gemas. Ia meraih tubuh Jelita dan ... menggendong gadis itu seperti putri duyung. Tentu saja Jelita terpekik karena terkejut. Ia meronta, tetapi Reza enggan menurunkan dirinya.
Reza membuka sebuah pintu dengan sandi yang telah ia atur sebagai kunci. Pada unit apartemen itu, ia membawa Jelita dengan susah payah.
“Cha! Di sini,” ucap Reza.
Mata Jelita lantas menatap segala penjuru ruangan. Ia takjub, kejutan? Ya, kejutan lamaran. Tulisan besar berbunyi 'AYO MENIKAH NONA JELI' di bawahnya 'AKU MENCINTAIMU JELI'.
Reza berangsur menurunkan gadis itu. Detik berikutnya, Jelita melangkah perlahan. Hiasan bunga tersaji rapi menghiasi kedua kalimat besar itu. Foto-foto dirinta terpasang di beberapa bingkai besar. Hati Jelita menjadi berdesir-desir. Ia bahagia, terharu dan terlalu takjub atas kejutan itu.
Bulit bening pun jatuh di pipi Jelita. Ia tidak menyangka. Belum lama ini ia terluka, kesepian saat Reza pergi bersama rasa kecewa. Namun, pria itu kembali menerima dirinya dengan segenap cinta yang masih ada. Reza berjuang keras untuk memantaskan diri dan membuat bahagianya.
Tiba-tiba, Reza memberikan pelukan dari belakang. “Jangan nangis dong,” bisik pria itu.
“Terharu. Terima kasih,” jawab Jelita.
“Aku mencintai kamu.”
“Mm ... makasih, Kak.”
“Aku serius, Jel.” Dihadapkannya tubuh Jelita agar menatap Reza. Setelah itu, ia kembali berkata, “Jangan ragu lagi. Aku telah melamarmu. Aku akan memberikan hidup bahagia padamu, memahamimu.”
“....”
“Aku serius nggak mau kehilangan kamu lagi, Jeli. Aku tahu saat itu aku masih berusaha menolakmu, tapi di saat kita berdua di dalam mobil karena trikmu itu, aku nggak bisa menahan rasa rindu lagi, Jeli. Keputusan pernikahan emang terkesan mendadak, tapi aku yakin dengan keputusan ini.
“Kakak ...?”
“Aku siap, dan apartemen ini buat kamu. Meski nggak semegah rumah kamu, Jeli. Tolong, jaga ragu karena usia kamu yang masih muda. Aku ... mm, Kakak pasti akan selalu ngertiin kamu sesuai keinginan mudamu ini.”
Reza mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam yang merupakan alat simpan perhiasan. Detik berikutnya, ia membuka benda itu dan tampak cincin berlian yang memancar indah.
“Kamu serius mau, 'kan, nikah sama aku?”
****
__ADS_1
Haruskah diadakan season 2 guyssss?!