Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 5-Ijab Kabul (Bonus)


__ADS_3

“Kamu harus jadi istri yang baik, turuti apa kata suamimu dan jangan pernah membangkang, kecuali jika perintahnya merupakan sebuah kesalahan.”


Episode 5-Ijab Kabul (Bonus)


Kata 'sah' diserukan dengan kompak dan tentu lantang sekali. Kedua mempelai yang baru saja melangsungkan acara ijab kabul lantas merasa lega. Dan setelah berjibaku dengan rasa gugup itu, Reza menjadi bahagia. Perasaannya menggemakan histeria yang tanpa suara. Mungkin jika tidak ada orang, ia akan berteriak sekencang mungkin dan bahkan melompat sembari menggendong istrinya.


Ah, istri! Tentu saja. Jelita—nona muda sekaligus perancang busana itu—telah menjadi istri Reza. Tepat satu menit yang lalu. Namun alih-alih tertawa, gadis, tidak, tetapi wanita itu justru berderai air mata. Pun ketika ia merengkuh tubuh ayah, adik, dan teman-teman yang datang. Jelita sesenggukan—menangis haru karena acara pernikahannya sendiri.


“Nganten kok nangis sih?” ujar Nur Imran sembari menggenggam tangan Jelita dengan penuh kasih sayang. “Nanti cantiknya hilang lho.”


“Papa ....” Sekali lagi, Jelita memeluk tubuh Nur Imran. Siger sunda yang terpasang di kepalanya, hampir mengenai wajah ayahnya itu saking antusiasnya Jelita. “Makasih ya, Pa, udah nganterin Jeli ke momen ini.”


Nur Imran menghela napas. “Makasih karena kamu bisa menikah, setelah semua yang kamu alami, Nak. Kamu udah sembuh, terlepas dari semua derita yang berawal dari sikap egois Papa.”


“Papa ... jangan ngomong gitu.”


“Kamu harus jadi istri yang baik, turuti apa kata suamimu dan jangan pernah membangkang, kecuali jika perintahnya merupakan sebuah kesalahan.”


“Iya, Pa, Jeli janji, Pa.”


“Jangan cengeng lagi, jangan bandel, terus menata sikap biar lebih dewasa.”


“Iya, Papa.”


Hati ayah mana yang bisa menahan rasa sedih yang bercampur bahagia. Pasalnya di sebuah pernikahan, yang mana putrinya menikah, ia akan berpisah sekaligus mengantarkan putri itu ke pelukan pria lain. Pun pada Nur Imran yang kini merasakan gejolak di dalam dada.


Bahagia ketika Jelita menemukan Reza kembali, pria yang wanita itu cintai, kemudian berangsur sembuh dari trauma. Namun sedihnya, ketika Nur Imran harus berpisah rumah, melihat Jelita dengan suaminya dari kejauhan. Rasanya belum puas saja mencintai putrinya itu dengan segenap hati, setelah selama bertahan-tahun bersikap dingin dan acuh. Nur Imran menyesal, tetapi apa boleh buat. Memiliki anak gadis, maka ia harus siap menyerahkannya pada pria lain.


“Dan kamu!” ujar Nur Imran sembari menatap Reza dengan tajam. “Jaga putri saya, jangan tinggalkan dia lagi. Jadilah suami yang baik dan mampu membimbing keluarga. Stop bersikap egois, agar kamu nggak gagal seperti saya, Reza.”


Reza terenyuh. Pasalnya, kata gagal seperti penggambaran hubungan Nur Imran dan Riris yang harus kandas. Namun Reza tidak bisa menghibur, selain memberikan anggukan mantap dan berjanji dengan sangat serius perihal Jelita.


“Saya janji, Pak, saya akan jaga Jeli dengan baik,” ucap pengacara tampan itu.

__ADS_1


“Papa,” balas Nur Imran.


“Mm ... i-iya, Papa.”


Nur Imran tersenyum.


Setelah itu, Reza dan Jelita menghampiri Nugraha dan Reyna yang duduk tak jauh dari Nur Imran. Sepasang pengantin baru tersebut melakukan hal yang sama seperti ketika menghadapi Nur Imran.


Dengan girang, Reyna menyambut Jelita antusias. “Mantuku, ya ampun. Duh cantik! Adududuh, anak mama,” ucapnya.


Jelita tersipu. Sebenarnya, sedikit tidak nyaman. Namun apa boleh buat, tipikal Reyna memang agak centil.


“Mama Rey,” balas Jelita mengubah sebutan nyonya menjadi mama.


“Aaa!” Reyna girang bukan kepalang. Rasa di hati seperti meletup-letup bagaikan kembang api. Memiliki menantu selevel Jelita merupakan kebanggaan sendiri. Jika bukan karena sentilan Nugraha—suaminya—sudah pasti Reyna berlari dan pamer pada semua orang bahwa ia baru saja mendapatkan berlian secantik Jelita.


Nugraha berbisik, “Jaga sikap, Ma.”


Setelah itu, nasehat yang tidak jauh berbeda diberikan oleh Nugraha pada Jelita dan Reza. Kedua mempelai itu mengiyakan, selebihnya memberikan anggukan.


Setelah menyudahi acara sungkem orang itu, Jelita segera berdiri. Matanya mengedarkan pandang ke segala sudut ruang gedung pernikahan. Ia mencari beberapa orang yang menjadi sahabat terpenting dalam hidupnya. Tentu saja, sikapnya membuat Reza terheran-heran.


Namun sebelum melontarkan kalimat tanya, Jelita justru berjalan cepat dan meninggalkan Reza. Nona muda itu terlihat tengah menghampiri sekelompok orang. Tampak di sana Arlan, Fanni, serta ketiga anaknya. Di sisi lain, terdapat seorang wanita cantik bak barbie dan pria berseragam. Kemudian, keluarga Celvin Hariawan Sanjaya juga turut ada.


“Om, Tante!” seru Jelita ketika posisinya sudah dua meter dari pria paruh baya dan wanita blasteran bertubuh gempal.


“Hei, bocil!” balas Arlan.


“Jel!” timpal Fanni dan Mita secara bersamaan.


Kemudian, Selli dan Sella kompak menghampiri Jelita dan memberikan pelukan selamat.


“Kak Jeli cantik!” ucap Selli merasa kagum atas wajah mempelai wanita itu.

__ADS_1


“Aku juga mau pakai itu, Kak,” rengek Selli sembari menunjuk siger di kepala Jelita.


“Aduduh! Adik-adikku, kalian juga cantik! Sella nanti kalau udah gede yah, cari cowok yang nggak kayak papa!”


“Sella udah punya cowok tahu!” tandas gadis kecil yang kini tengah duduk di kelas satu sekolah dasar.


“Hei!” seru Fanni dan Arlan secara bersamaan sebab merasa terkejut atas pengakuan Sella.


Selli dan Jelita, bahkan semua keluarga Harsono yang ada, ditambah Mita dan suaminya kompak tertawa. Berbeda dengan Fanni dan Arlan, mereka justru merasa lucu atas pengakuan polos anak kelas satu sekolah dasar itu.


Lalu, dengan mata yang memicing menatap Sella, Fanni bertanya, “Siapa yang ngajarin, Dek?”


“Papa,” jawab Sella tanpa rasa bersalah.


Sontak saja, Fanni terkejut, kemudian Arlan menelan saliva sembari berpikir; kok bisa Papa sih? Sementara para penyaksi pun menatap Arlan dan melemparkan goda untuk menyalahkan.


“Tunggu di rumah ya, Mas, kamu,” bisik Fanni dengan maksud mengancam.


Arlan mendesis. Sepertinya ia harus mempersiapkan diri, hati dan telinga untuk mendengarkan omelan Fanni yang bakal sepanjang tembok besar Cina.


Tak berselang lama, Jelita dipanggil oleh Reza dan pembawa acara. Atas panggilan itu, Jelita dan Fanni yang sebagai penata rias segera berlalu. Aksa yang sejak tadi ada di gendongannya pun, Fanni serahkan pada suami narsisnya itu.


“Ayo, Jel,” ucap Reza sembari memberikan tangannya pada sang istri.


Fanni berdecak. “Jel? Sayang dong!” godanya.


Reza malu-malu, hanya tawa kecil dan anggukan santun yang ia berikan. Kemudian, mereka bertiga lantas ke ruang ganti pengantin di mana Jelita akan berganti pakaian untuk resepsi yang akan dilangsungkan hari ini juga. Sebab, entah Jelita atau Reza tidak ingin membuang-buang waktu, apalagi mempersulit proses jika resepsi dan ijab kabul berbeda hari. Beruntung, mereka kaya raya, jadi bukan perkara sulit mencari biaya.


Tidak seperti penulis kisah mereka. Harus bekerja, agar bisa makan bulan ini.


****


Oooppps ada segmen keceplosan ehehehe.

__ADS_1


__ADS_2