
“Selli cerdas, Mas, mungkin dia cari tahu apa yang terjadi saat dia masih kecil.”
Episode 68-Rencana Awal Pihak Arlan
Fanni mencubit gemas lengan suaminya secara tiba-tiba. Tentu saja sikap wanita itu membuat Arlan tersentak dan terpekik kesakitan. Pun pada kedua putri mereka turut terkejut karena ulah orang tuanya.
Selli—putri pertama—menatap sang ibunda dengan heran sekaligus penuh keluguan. “Mama kenapa cubit Papa? Ada Dek Sella lho, Ma,” ucapnya.
Fanni tersenyum kecut. Ada rasa malu yang membuncah sebab tidak dapat menahan rasa kesalnya. Kemudian, ia lantas menggelengkan kepala. Sementara, Arlan justru memberikan cibiran pada istrinya itu, dilanjut seulas senyum yang ia tujukan pada Selli.
“Kalian bertengkar lagi, ya?” Selli menunjukkan rasa curiga. “Jangan begitu Papa, Mama!” omelnya tidak senang.
“En-enggak, Sayang,” jawab Fanni kelimpungan.
”Mama yang nakal, Kak!” timpal Arlan.
Layaknya orang dewasa, Selli berdecak sembari bergeleng-geleng tidak habis pikir. Terakhir, ia memicingkan mata dengan sorot tajam kemudian kembali berfokus pada adik keduanya.
Sulit juga, punya anak se-dewasa itu, pikir Fanni. Namun kendati merasa seperti demikian, paling tidak ia merasa bangga atas kedewasaan putri pertamanya dari Arlan dan mantan istri. Oleh karena, didikannya sendiri sekaligus masa kecil yang serba sendiri, Selli tumbuh menjadi anak dengan tutur dan budi pekerti yang bagus.
“Kak Celli, ayo main kuda,” celetuk Sella—si anak kedua—dengan ucapan yang belum begitu fasih.
Kemudian, kakak dari gadis kecil itu, memberikan anggukan. “Ayo, Dek,” jawabnya.
Sebelum beranjak keluar dari pintu ruang keluarga, Selli memberikan tatapan nanar dengan maksud mengancam agar kedua orang tuanya tak lagi bertengkar. Ya, bagi Selli pertengkaran kecil kerap kali membuatnya teringat pada ibu kandungnya. Yang mana saat itu ia ditinggalkan begitu saja. Kendati belum terlalu paham akan arti perceraian, ia tetap tidak mau hal itu terulang pada Fanni dan Arlan. Setidaknya ia sudah paham akan kesedihan karena ditinggalkan, atau sebab dari sebuah perpisahan.
Sepeninggalan kedua putrinya yang hendak bermain kuda palsu, Arlan menatap sang istri penuh rasa heran. Perihal cubitan yang ia dapatkan tentu saja menjadi tanda tanya tersendiri. Ia tidak paham mengapa Fanni menyakiti kulit lengannya, padahal urusan game sudah kelar.
“Mas salah apa lagi sih, Dek? Main cubit di depan anak aja. Untung Aksanya tidur, kalau nggak pasti ikut-ikutan ulah kamu,” ucap Arlan.
Fanni menghela napas. “Nggak tahu, intinya aku ngerasa kesel sama kamu, Mas!” tandasnya.
“Hari ini kamu uring-uringan mulu' sih? Kenapa coba? Sakit? Capek? Kalau capek istirahat, Sayang. Kalau sakit minum obat.”
“Nggak mau!”
“Ih, si istri lagi pengen dimanja kayaknya. Aaaa! Atau jangan-jangan kamu isi lagi, Dek?”
Fanni tersentak. “Ma-mana mungkin! Tanggal dapetku 'kan baru aja kelar.”
“Ya, siapa tahu pertempuran tadi malam berhasil lagi hahaha.”
Fanni berdecak sembari menggelengkan kepala. “Nggak secepet itu kali, Mas!”
“Habisnya kesel melulu, game-nya juga udah Mas hapus, kok! Hih!”
“Kamu kok ngebentak aku sih?!”
“Siapa yang ngebentak sih? Salah lagi aja.”
“Itu tadi suaranya tinggi!”
“Perasaan yang tinggi dari tadi kamu deh, Dek, Mas lagi yang disalahin. Heran!”
__ADS_1
“Papa, Mama, enggak boleh berantem!” Tepat ketika Arlan menyelesaikan ucapannya, Selli dan Sella menyerukan kalimat yang sama. Hanya saja, ucapan Sella masih cadel ketimbang kakaknya.
Karena kehadiran serta omelan kedua putri mereka, Fanni maupun Arlan menjadi bungkam seketika. Sementara di ambang pintu ruangan itu, Selli dan Sella kompak berkacak pinggang serta mengawasi kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian, Selli kembali membawa sang adik menuju ruang bermain yang memang berdekatan dengan ruangan itu.
“Hmm ... anak-anak kamu makin dewasa aja, Mas, kadang suka ngeri kalau mereka tahu kita lagi debat,” ucap Fanni sesaat setelah menghela napas.
Arlan masih terdiam dalam sesaat. Sedetik kemudian, ia menjawab, “Selli pernah bilang sama Mas, takut kalau kamu ninggalin kami kayak Nia, Dek. Makin besar, dia makin paham akan kehidupan, Dek. Mas juga khawatir kalau dia nyimpan trauma tersendiri, meski hubungan kita udah membaik dengan pihak Nia.”
“Selli cerdas, Mas, mungkin dia cari tahu apa yang terjadi saat dia masih kecil.”
“Hmm ....”
“Iya, aku kesel sama kamu karena kamu justru mainin si tamu tadi. Kenapa sih? Sikap kamu enggak ramah banget? Kan kasihan, ditambah aku nggak enak karena dia anak dari pelanggan VIP-ku, Mas. Mana aku nggak boleh nyamperin sama kamu.”
“Cuma karena dia, kamu nyubit Mas?”
“Mm ... gara-gara kamu, aku bisa jadi kehilangan pelangganku, Mas! Huh!”
“Ya, maaf, Sayang. Mau tes ilmu dia aja hehe.”
“Tuh 'kan, padahal iseng doang kamu mah.”
“Nggak sepenuhnya iseng sih, Dek, ada beberapa hal yang bikin Mas mesti hati-hati. Termasuk untuk melibatkan kamu, soalnya mengenai tindak kriminal.”
Fanni tercengang. Sepasang matanya turut melebar. Namun kendati merasa penasaran, ia menunggu sampai Arlan memberikan penjelasan. Memang wajar, ketika Arlan tidak memberikan izin padanya untuk bertemu tamu tadi yang merupakan Reza, jika kedatangan pria muda itu ada kaitannya dengan tindak kriminal. Ya, kriminal! Tentu saja, akan membuat mereka turut terlibat jika salah memberikan informasi, bahkan untuk anak-anak mereka.
Kali ini, setidaknya Fanni sedikit memahami sikap Arlan yang seolah memberikan penekanan. Mengusir secara tiba-tiba tentu saja tidak sopan. Kendati, ia sendiri sempat merasa tidak tega pada Reza. Bahkan, sepertinya tidak ada secuil informasi pun yang pria muda itu dapatkan.
“Hmm ... mulai kepo, ya?” tanya Arlan menangkap raut penasaran dari binar mata biru keabu-abuan milik istri tercintanya itu.
Fanni mengulas senyum simpul. “Mm ... ada masalah apa emangnya?” balasnya.
Helaan napas kembali Arlan ambil untuk menghalau kegelisahan. Awalnya ia enggan untuk mengatakan yang sebenarnya karena tipikal Fanni begitu keras, bahkan kerap kali nekat untuk melakukan sesuatu. Namun untuk menyembunyikan hal itu tentu tidak mungkin, karena bisa saja ia meminta tolong pada istrinya itu.
“Soal Jeli, Dek.”
“Jeli? Lita?”
“Mm ... ternyata bukan hanya Pak Nur yang diincar, tapi putrinya juga. Bahkan, dua hari sebelumnya, terjadi penyusupan di butik bocah itu. Sesuai informasi yang Reza ketahui, sepertinya sempat ada penyerangan yang bisa jadi percobaan penculikan atau bahkan pembunuhan. Petugas keamanan pun berhasil dilumpuhkan dengan obat tidur oleh sang pelaku.”
Hati Fanni terenyak. Darahnya berdesir begitu cepat karena kabar buruk yang baru ia dengar. Wanita itu hanya tidak menyangka jika sahabat mudanya sempat mengalami hal se-mengerikan itu. Namun jika mengingat perihal siapa Jelita, juga bisnis baru gadis itu, hal semacam teror bukan mustahil untuk terjadi.
Fanni lantas meraih ponsel di sampingnya. Menghubungi Jelita menjadi rencana. Setidaknya ia harus tahu apa gadis itu baik-baik saja. Namun, ... Arlan segera merampas benda persegi panjang itu, sembari menggelengkan kepala.
“Jangan, Dek,” ucap Arlan.
Dahi Fanni berkerut. “Kenapa, Mas? Aku harus tahu apa Lita baik-baik aja. Itu doang,” jawabnya.
Arlan tetap menggelangkan kepala, tidak menyetujui rencana istrinya tersebut. “Jangan nambahin pikiran bocah itu, Sayang. Mas pikir dia mau menjauh sampai kasus ini selesai.”
“Menjauh? Kok bisa menjauh? Emangnya kita kenapa?”
__ADS_1
“Dari cerita Reza, dia yang merupakan pacarnya aja nggak dikasih tahu. Mas inget gimana si Jeli pengen jadian sama cowok itu, menggambarkan kalau si Jeli emang beneran suka sama Reza. Dan dengan menyembunyikan hal sebenarnya bagi Jeli adalah cara terbaik untuk nggak melibatkan orang lain, Dek. Kamu paham, 'kan?”
Fanni berangsur mengangguk. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan rencananya. Namun bukan berarti rasa khawatir turut pergi bersama rasa mengalah itu, bahkan justru bertambah besar.
Sebagai seseorang yang dekat dengan Jelita, tentu saja Fanni tidak tenang jika tak diberi kabar, setidaknya perihal urusan lain. Beberapa hari belakangan, Jelita memang jarang singgah di salonnya. Ia pikir karena sibuk dengan butik, apalagi akan ada fashion show.
Melihat raut cemas pada paras bule milik Fanni, Arlan mengusap pundak istrinya itu sembari berkata, “Kamu tenang aja, Sayang. Dia baik-baik aja kok. Dia berhasil lolos di malam itu katanya.”
“Mm? Kalau Reza nggak tahu, berarti dia nggak ada di malam terjadinya penyusupan itu dong? Terus yang nolongin Lita siapa, Mas? Kalau security pun nggak sadarkan diri.”
“Mas juga nggak tahu itu siapa, cuma kata Reza temennya si Jeli. Reza mulai curiga pas pagi-pagi cowok itu di sana bareng Jeli dan ada memar di wajah cowok itu, Sayang.”
“Wah! Hancur sudah perasaan Reza, Mas!”
“Yaaaaa ... mungkin perasaan pengacara itu sama kayak perasaan Mas pas kamu lebih banyak ngabisin waktu sama Celvin Sanjaya, Dek! Sakit, perih, iri, cemburu, dan—”
“Jangan bahas masa lalu kenapa, Mas?! Lagian Celvin udah jadi keponakan kamu lho, ayah dari cucu kamu sendiri. Dan aku enggak ada hubungan sama dia! Masih aja!”
“Kan menggambarkan perasaan Reza, Dek. Hmm ... iya, ya, Mas udah punya cucu dari Celvin Sanjaya.”
“Celvin Hariawan Sanjaya, Mas. Anak bos kamu!”
“Waaaah! Kamu masih hapal nama dia?”
“Iyalah, pasti!”
“Haa?!”
Merasa jengkel, Arlan menyerang wajah Fanni dengan kecupan bertubi-tubi. Sementara Fanni terus berusaha melepaskan diri. Memang menyebalkan, tetapi kebiasaan itu cukup menggemaskan. Justru ia akan heran dan gelisah, jika Arlan hanya diam.
Suasana mencekam seputar Jelita berganti kehangatan atas cinta mereka. Pertengkaran yang sempat terjadi pun menjadi terlupakan. Hanya saja, kecemasan justru masih mendekam di dalam hati jika sang gadis perancang tidak memberikan kabar. Untuk saat ini sepasang suami istri itu tidak bisa asal melangkah, karena jika tiba-tiba mengetahui segalanya akan membuat Jelita semakin resah.
“Stop, Mas! Geli!”
Ketika muncul seruan semacam itu, Arlan langsung melepaskan tubuh istrinya. Ia hanya menyentil hidung panjang milik Fanni.
“Mm ... jadi kita harus gimana, Mas? Kan nggak mungkin berdiam diri,” lanjut Fanni kembali pada topik pembicaraan mengenai Jelita.
Arlan menghela napas. “Entah, Mas juga bingung mau ikut-ikutan apa nggak. Tapi, kalau seserius itu kayaknya emang harus ikut campur,” jawabnya.
“Kasihan dia kalau lewatin semua sendiri.”
“Ya, ya, Mas bakal bantu diem-diem. Tapi, kamu jangan ikut-ikutan. Pikirin anak-anak kamu, terus pura-pura nggak tahu. Dan jangan ngomongin masalah ini sama Mita, kamu 'kan tahu sendiri lagaknya dia yang lebih nekat ketimbang kamu, Dek.”
“Mm ... aku tahu, tapi, ... aku juga nggak mau kamu masuk dalam bahaya, Mas.” Fanni mencengkeram lengan Arlan dengan erat. Ada raut kecemasan yang kini terbagi pada dua orang, pada Jelita juga suaminya.
Pria paruh baya itu lantas tersenyum. Diusapnya rambut Fanni dengan lembut. “Mas cuma mau bantu cari informasi aja, Sayang. Perihal jaga Jeli itu 'kan udah tugasnya Reza sama si cowok yang kemungkinan demen sama bocah itu. Yah, untuk langkah awal mungkin Mas bakal cari tahu siapa cowok itu dan diskusi diam-diam.”
“Apa pun itu, pokoknya kamu harus hati, Mas! Karna pelaku kejahatan nggak pandang bulu buat menyerang. Aku janji kok bakal diem sama jagain anak-anak.”
“Ya udah, siap-siap gih udah hampir jam dua. Kamu harus berangkat kerja.”
Fanni memberikan anggukan. Kemudian, ia bergegas untuk bersiap-siap. Sistem kerja baru yang ia terapkan secara bergantian dengan Mita dalam mengurus salon itu, membuatnya terpaksa berangkat siang dan akan pulang ketika malam.
__ADS_1
****