
“Kamu jangan mulai bolos-bolosan, Za! Jangan mentang-mentang sudah di atas angin, terus sombong dan terkesan menyepelekan!”
Episode 35-Hukuman
Selepas dari butiknya, Jelita tidak langsung menuju rumahnya, melainkan bergegas ke sebuah gedung teater. Bahkan, ia sampai membatalkan lemburan lantaran Jane meminta dirinya untuk menjemput. Ada kesal yang bersarang di hati Jelita, tetapi bukan permintaan Jane, melainkan ada-ada saja halangan ketika ia sangat ingin bekerja. Tadi siang Reza dan kini Jane justru terjebak di gedung theater tersebut sebab mobilnya mogok.
Tepat di samping pagar tembok yang dekat dengan gerbang gedung, Jelita menghentikan mobilnya. Ia memilih untuk diam di tempat itu daripada masuk ke dalam. Sebab, sang perancang busana itu tidak mau ribet dengan urusan. Tentu, beberapa rekan Jane sudah mengenalnya dan hal itu bisa saja menahannya terlalu lama di dalam gedung. Sebagai selebgram yang terkenal sekaligus anak pertama dari konglomerat besar sebelum Jane, membuat dirinya cukup disegani sekaligus kerap kali didekati.
Bukan niat ingin angkuh, tetapi mood Jelita sedang berantakan. Apalagi jika bukan tanda-tanda datang bulan.
Dengan gerak cepat, Jelita meraih tasnya. Di dalam tas itu, ia mencoba mencari keberadaan ponselnya. Ia menghela napas dan mengembuskannya perlahan, untuk membuang sisa-sisa rasa kesal. Gadis itu tidak mau membuat Jane merasa sungkan, jika kekesalannya tak lantas hilang.
Sesaat setelah panggilannya diterima oleh Jane, Jelita berkata, “Jane, Kakak udah di luar. Cepetan, ya!”
Tanpa menunggu jawaban basa-basi dari Jane, Jelita langsung mematikan panggilan tersebut. Ia menunggu dalam kebisuan adik tirinya itu. Satu menit rasanya cukup lama ketika mood sedang tidak menentu. Ditambah kekesalannya pada Reza yang juga belum berangsur pergi.
“Ck, setengah hari, aku benar-benar enggak kerja! Kak Reza kenapa sih? Cemburunya gitu banget. Emangnya dia enggak pernah denger rumor tentangku? Kalau aku ini enggak suka manusia sempurna!” celoteh Jelita dengan wajah muramnya. Ia menghela napas setelahnya, kemudian kembali berkata, “Jangan-jangan aku enggak seterkenal itu? Kalau benar, berarti selama ini aku GR doang. Ck, Jeli Jeli menyedihkan sekali kamu! Berharap jadi pusat perhatian, ingat perut kamu yang pernah jadi sarang anaconda!”
Detik berikutnya, Jelita meletakkan kepalanya di atas bulatan stir. Mata sipitnya terpejam seiring hembusan napas yang ia buang dengan kasar. Wajah Reza terlukis di benaknya. Ia merasa sebal, tetapi sangat rindu. Kemudian ia membuka mata. Ada rasa sesal menyelinap di hatinya, apa ia tidak terlalu kasar pada kekasihnya itu? Bahkan sampai membuat Reza membisu saat mengantarkan ia kembali ke butik.
Namun, Jelita segera menepis dugaannya itu. Ia tidak mau disalahkan sebab Reza memang sangat berlebihan. Ia akan tetap menunggu pria itu kembali menghubunginya dan tidak mau bergerak duluan.
Tiba-tiba seseorang mengetuk jendela mobil Jelita. Saat sang pemilih menatap, Jane tampak di sana. Adik tirinya itu memintanya untuk membuka kunci pintu. Tanpa menunggu lama, ia segera membukanya. Kemudian, Jane berjalan menuju kabin mobil dekat dengan ruang kemudi Jelita.
Jane menghela napas lega sesaat setelah ia masuk ke dalam kendaraan mewah tersebut. Sedetik kemudian, ia menatap wajah sang kakak. Dahi Jane berkerut, juga rasa tak enak hati yang mendadak muncul.
“Kakak kenapa? Lagi repot ya di butik? aku ganggu ya?” tanya Jane bertubi-tubi.
Jelita lantas menggeleng kepala. “Enggak, Jane! Mobil kamu?” jawabnya tegas. Kemudian, ia mulai menyalakan mesin dan melajunya meninggalkan gedung teater itu.
“Udah diambil pihak bengkel, Kak. Maaf ya, Kak, aku enggak sangka ada yang salah sama mobil itu. Dan sebentar lagi ada pementasan drama, tim musikku dipinta jadi pengiring. Alhasil, Kak Jel jemputnya agak jauh begini.”
Sembari menyetir, Jelita menatap Jane sekilas. Ia menghela napas kemudian. “Bukan karena kamu, Dek. Tapi emang ada orang yang bikin mood Kakak berantakan,” ucapnya menepis kesalahpahaman yang mungkin adiknya itu pikirkan.
“Kak Reza?” sahut Jane, cepat.
Meski ragu, Jelita tetap mengangguk. “Perdana dia cemburu, tapi enggak masuk akal!”
Dahi Jane berkerut samar. “Cemburu? Emang Kak Jel habis ketemu siapa? Ada pelanggan cowok atau udah mulai perekrutan model di butik Kakak?”
Jelita menggeleng, menampik semua dugaan adiknya itu. “Sejauh ini yang jadi model masih Kakak, karena kamu enggak mau! Jadi, ... tadi Kakak ketemu wakil dari Harsun karena Papa masih ketahan di Singapura. Tadinya aku dan Kak Reza mikir dia CEO baru ternyata belum diangkat kok,” kisahnya.
Jane manggut-manggut. Tanpa menunggu cerita lebih lama, ia sudah menyimpulkan beberapa kemungkinan. Otaknya yang tak kalah cerdas dari kakaknya itu, kini mulai bekerja. Jika sosok yang ditemui Jelita masih muda dan tampan tentu saja Reza akan cemburu, bahkan uring-uringan. Membayangkan wajah Reza yang bulat sedang menahan gelisah sudah pasti sangat imut sekaligus lucu. Bayangan itu berangsur membentuk tawa kecil dari bibir Jane.
Tanggapan Jane yang justru tertawa, membuat Jelita terheran-heran. Ia mendengkus setelahnya, sebab cerita perdananya soal pacar justru ditimpali dengan tawa oleh adiknya. Namun ... saat ia hendak memberikan gertakan untuk Jane, adiknya itu justru terdiam dengan mata membelalak.
“Harsun? Harsono?” tanya Jane beberapa detik kemudian.
Meski sibuk memandang jalan dan memutar stir, Jelita tetap memberikan anggukan.
Namun ... terhitung lima detik berikutnya, Jelita sontak menghentikan mobilnya. Ia menatap Jane segera. Tatapan sepasang adik dan kakak itu saling bertaut.
__ADS_1
“Jadi?!” pekik keduanya bersamaan. Setelah itu, mereka berdua memasang wajah takjub.
Karena tidak ingin menghalangi laju kendaraan lain, Jelita segera menepikan kendaraan mewahnya itu.
“Berarti saudara Om Arlan, Kak!” Jane antusias ketika menyadarinya.
“Kakak baru ngeh, Dek!” balas Jelita.
Setelah itu, Jane memasang wajah centil. “Siapa namanya, Kak?”
“William Anderson.”
“Waaah! Ganteng, Kak?”
“Buat kamu mungkin iya. Buat Kakak no! Kakak suka yang gembul imut-imut!”
Dengan malu-malu, Jane mendekati kakaknya. “Kenalin sama aku, Kak,” bisiknya.
Jelita mengernyitkan dahinya. “Belum tahu orangnya juga! Aneh kamu!”
“Aku tahu, kalau Kakak enggak suka berarti orang itu tampan. Apalagi ada hubungan kerabat sama Om Arlan. Enggak mungkin ’kan aku suka sama Om Arlan cuma kagum aja, tapi kalau saudaranya boleh kali.”
“Pacar kamu?”
“Aku sudah lama jomblo!”
Jelita manggut-manggut. Kendati, ia sedikit bergidik sebab Jane tampak genit. Ah ... benar, ia saja kurang nyaman dengan sikap Jane yang demikian. Apalagi Reza terhadap dirinya. Sesal pun kembali datang. Tampaknya, ia cukup membebani Reza selama ini. Namun, ketika Reza menunjukkan kecintaan dengan cara cemburu padanya, ia justru bersikap acuh bahkan marah pada pria itu.
Aku harus minta maaf sama Kak Reza. Walaupun lebih baik dia yang duluan. Tapi, dia 'kan lamban kalau urusan cinta, keburu kangen kalau nungguin dia bergerak! Pikir Jelita.
Apalagi, selama ini Jane sangat mengagumi sosok Arlan. Bahkan, ketika pria itu memperlakukan istrinya dengan lembut. Kendati sudah hampir paruh baya pun, visual Arlan tetap menawan. Namun, Jane tahu akan batasan, ia hanya sekedar mengagumi pria yang merupakan suami orang itu. Terlebih lagi, Arlan sudah sangat tua jika untuk dirinya. Dan tiba-tiba saja muncul sosok William yang kata kakaknya cukup tampan.
“Kenalin aku sama dia, Kak,” pinta Jane sembari menatap Jelita.
Jelita tak langsung menyahut. Ia menyesal lantaran tidak memberikan nomor ponselnya. Ia pikir masih privasinya, tanpa tahu jika akan penting ketika adiknya tengah merengek minta dikenalkan oleh pria tampan itu.
“Kak? Ayolah,” rengek Jane.
Jelita mengembuskan napas melalui mulutnya. Kemudian, ia menatap adiknya itu. “Kamu jangan kayak Kakak, Jane!” ucapnya.
Dahi Jane berkerut samar. “Kayak Kakak gimana maksudnya?” tanyanya dengan heran.
“Jangan genit duluan! Apalagi dia bukan orang biasa.”
“Hmm ... iya sih, tapi ... dia sama keturunan dengan Om Arlan. Pasti orangnya baik dan penuh perhatian.”
Sejenak, Jelita memikirkan gerak-gerik William siang tadi. Benar, meski sangat ia hindari, pria itu terbilang sopan bahkan lembut. Ada paras manis yang hampir mirip dengan wajah Arlan.
“Ya sih, ada kemiripan sama Om Arlan. Tapi 'kan sifatnya belum tentu, Jane,” ungkap Jelita.
Jane melenguh. Sebenarnya ia merasa sebal sebab Jelita terkesan menutupi pria itu darinya. Namun ketika ia mengingat kecintaan sang kakak pada sosok pengacara, ia segera menepis semua pemikiran buruk tentang kakaknya.
__ADS_1
“Baiklah, biar waktu yang mempertemukan kami,” ucap Jane.
Setelah mendengar ucapan adiknya itu, Jelita bisa bernapas dengan lega. Ia kembali melaju mobilnya. Tetap saja, ia tidak mau jika Jane mengikuti jejak dirinya yang centil dan genit hanya untuk mendapatkan Reza. Ia beruntung lantaran Reza justru melindungi dirinya dan tidak mencercanya ketika itu. Bahkan, pria itu tidak berbangga diri meski dikejar olehnya yang menyandang status nona muda.
Sementara William dengan pesonanya, tentu saja masih ambigu. Kendati merupakan saudara pria baik hati semacam Arlan Mahendra, pria itu belum tentu mewarisi sifat dari Arlan. Jelita tidak mau jika Jane sampai terjebak. Apalagi, tipikal pria dengan paras menawan biasanya seorang player. Entah, wanita, uang atau bahkan keburukan yang lainnya.
****
Sementara di rumah mewah tetapi tak seindah milik Nur Imran, Reza yang biasanya menghadapi sidang kini justru disidang. Bagaimana tidak, jika setelah makan siang ia tidak kembali ke kantor. Padahal ada kasus yang perlu ia tangani serta teliti. Keteledorannya sukses membuat amarah Alif—CEO firma hukum sekaligus pamannya—menjadi meluap.
Alif menggeleng-geleng, tidak habis pikir. “Kamu jangan mulai bolos-bolosan, Za! Jangan mentang-mentang sudah di atas angin, terus sombong dan terkesan menyepelekan!” ucapnya tegas penuh penekanan.
Reza hanya menunduk tanpa memberikan jawaban. Ia rela disalahkan daripada memberikan alasan tak masuk akal. Dan memang ia telah melakukan kesalahan itu, sebab kecemburuan butanya terhadap CEO baru tampan itu.
“Om enggak bakal datang ke sini, kalau kline kamu enggak marah-marah, Za! Kamu pikir kamu bekerja di bawah naungan siapa, hah?! Oke, Om akui kalau selama ini karirmu bagus sekali. Tapi jangan tiba-tiba melenceng seperti!”
“Maaf, Om, Reza enggak bakal mengulangi lagi,” jawab Reza dengan lemah.
“Om heran sama kamu, Za. Seharusnya ketika karir mulai menanjak, kamu harus lebih semangat dong! Jangan ngedepanin perut doang, tapi ambisi kamu juga!”
“Iya, Om, Reza bakal ngebelakangin perut.”
Mendengar jawaban dari keponakan sekaligus bawahannya itu, Alif sontak terkejut. Bagaimana bisa Reza menjawab sekonyol itu? Alif menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengamati Reza lebih seksama. Reza yang menunduk tengah murung. Insting detektif Alif pun muncul, sepertinya otak dan fokus Reza tidak pada dirinya juga omelannya. Entah, Reza memikirkan apa, yang pasti ucapan-ucapan tegasnya tidak masuk di telinga keponakannya itu.
“Pokoknya Om mau kamu lebih serius lagi, Za, layaknya sebelumnya,” ucap Alif lagi untuk memancing.
“Reza serius, enggak main-main sama dia,” jawab Reza nggeladrah.
“Reza!”
“Mm ....”
“Kamu mikirin apa sih?”
“Musuh.”
“Musuh? Siapa?”
“Perut.”
“Heeh?!”
Karena geram, Alif segera menghampiri Reza. Dengan gerak cepat ia menarik telinga Reza. Karena sikap spontan dari pamannya, Reza tersentak. Kemudian, ia mencoba melepaskan diri sembari merengek kesakitan.
“Adududuh, sakit, Om! Reza bukan anak kecil! Jangan begini dong!” keluh Reza tidak tahan.
Namun, karena sudah dendam, Alif tidak mengindahkan permintaannya. Malahan, pria paruh baya itu menambah hukuman dengan mencubit-cubit perut Reza yang buncit. Otomatis, Reza semakin merengek bahkan ia meloncat-loncat sembari mengaduh sakit. Alif benar-benar tak ada ampun padanya.
Sampai-sampai, Reyna dan Risa yang datang karena penasaran sebab kegaduhan mereka menjadi terpaku. Dalam bisu ibu dan anak perempuan itu saling bertatapan penuh tanya. Mereka menggeleng-geleng tidak habis pikir dengan sikap Alif dan Reza yang bagaikan guru dan anak TK.
“Khusus detik ini, mereka bukan anak dan adikku,” gumam Reyna sembari melangkah pergi. Dan Risa mengikuti langkahnya di belakang. Keduanya kompak bergidik geli.
__ADS_1
****
Part panjang nih, jumlah katanya hampir dua ribu ganti kemarin gak up hhe. Jangan lupa like komen dan poinnya yah Guys.