Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 65-Pacar Rasa Bayangan


__ADS_3

“Apa gunanya gue bagi dia kalau begini? Kok gue kayak bayangan buat dia.”


Episode 65-Pacar Rasa Bayangan


“Jadi, Bapak enggak lihat wajah orang itu? Kok bisa?” tanya William pada seorang security yang menjaga komplek kios elit di mana butik Jelita ada di sana.


Sang security tampak berpikir. Kedua matanya yang sudah terbingkai keriput menatap ke arah langit. Ingatannya malam itu begitu samar, mungkin karena tak terlalu mengenal sang pelaku kejahatan. Hanya secangkir kopi yang ia terima tanpa berpikir curiga. Wajah dari pria itupun sama sekali tidak ia ingat.


“Enggak deh, Mas, saya pikir dia orang pemalu. Dia terus menunduk, belum lagi pakai topi. Lumayan sopan dan menawarkan secangkir kopi pada saya. Dia duduk beberapa saat setelah mengajak berbincang mengenai harga beberapa kios yang kosong. Saya pikir dia mau investasi atau bahkan membuka usaha di sini,” jelas security itu.


Jelita menghela napas. Kendati ia mengetahui sosok wanita tua merupakan mantan ibu tirinya, tetapi bagi sosok pria itu sama sekali tak bisa ia duga.


“Tapi, masa' Bapak dengan gampangnya menerima kopi dari orang yang dikenal sih?” tanya William menahan rasa jengkel yang sudah mulai membuncah.


Security tersebut sedikit tidak nyaman. Baginya, William tak hanya mendesak, melainkan memaksanya untuk mengingat wajah orang itu.


“Gini, ya, Mas. Saya 'kan bukan orang jenius yang bisa mengingat setiap detail bentuk wajah orang. Dan saat itu, dia begitu ramah meski terbilang pemalu. Sebagai orang berkelas rendah, atau bisa dibilang miskin, ya saya nggak curiga. Lha wong, ada rezeki kopi gratis, ya diterima!” Suara petugas keamanan itu mulai meninggi.


Beberapa detik kemudian, security tersebut melanjutkan perkataan. “Lagian kenapa sih tanya-tanya? Pas ditanya balik ada masalah sebenarnya apa, situnya bilang nggak apa-apa. Tenang aja, Mas, saya juga nggak bodoh kok! Saya sudah lapor polisi soal insiden malam itu, sekaligus penyusupannya sesuai yang saya tahu.”


Jelita terenyak. Ia menelan saliva dengan getir. Penyelidikan pribadi ini tidak membuahkan hasil.


“Udahlah, Willi, mungkin Bapak Security juga masih syok atas insiden itu,” ucap Jelita sembari menahan lengan William.


William menatap gadis itu. “Tapi, Jel, saksi kita hanya Bapak ini.”


“Will, tolong ...? Aku pusing, mau istirahat.”


Cengkeraman tangan Jelita yang menguat di lengannya, membuat William berangsur terenyuh. Ia tidak bisa memaksa lagi atas apa yang saat ini ingin ia ketahui. Pun pada security tersebut yang tampaknya memang terpengaruh atas insiden malam itu.


“Makasih, Pak,” ucap William seiring langkah yang ia ambil. Sementara tangan kanannya sibuk menggandeng tangan Jelita.


Sepeninggalan William dan Jelita, seorang pria tengah terdiam di dalam mobilnya. Namun dalam diamnya itu, matanya begitu awas menatap kedua sejoli itu. Juga, hatinya yang lantas curiga sekaligus cemburu. Kedua rasa berbeda justru berbaur menjadi satu, menyisakan semacam rasa tidak nyaman.


“Apa gunanya gue bagi dia kalau begini? Kok gue kayak bayangan buat dia,” ucap pria itu yang sejatinya adalah seorang Reza Amdan Nugraha. Misinya untuk mengetahui perihal apa yang terjadi dimulai dari seorang security, tetapi tujuannya itu didahului oleh William sekaligus kekasihnya.


Secara manusiawi, tentunya hati Reza merasakan sakit yang luar biasa. Menganggap dirinya sungguh tak berguna, sampai-sampai kekasihnya itu bersama pria lain yang lebih sempurna. Ada keraguan membuncah di antara rasa gelisah dan cemburu. Jika memang benar seperti itu, dengan kata lain Jelita tak benar-benar mencintainya. Gadis perancang busana itu tak menerima apa adanya dirinya.


Terlalu sulit bagi Reza untuk menerima. Namun ketika ia sudah menduga sebelumnya, untuk saat ini ia masih bisa menahan kejengkelannya. Dan ia tetap memutuskan untuk melanjutkan tujuan awal. Pria itu lantas turun dari mobil, kemudian melangkah menghampiri sang security.


“Pak ...? Mohon maaf,” ucap Reza bersikap santun pada sang petugas keamanan.

__ADS_1


Sang security mengernyitkan dahinya. “Ya, Mas, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya seiring langkah yang ia ambil untuk mendekati Reza.


“Mas dan Mbak itu tadi sedang apa, ya?”


“Mm?”


“Oh ... perkenalkan saya pengacara pribadinya Mbak yang tadi, pemilik butik pakaian.” Reza mengulurkan tangannya.


Tanpa pikir panjang, sang security menyambut tangan pria itu.


“Pengacaranya Nona Jelita, toh? Yang sering datang ke sini, ya?”


“Ah ... betul, Pak.”


“Itu tadi, masnya yang sama Nona Jelita tadi nanyain soal penyusup dua hari silam. Awalnya saya menjelaskan, tapi karena nggak terlalu ingat wajah si pelaku saya hanya bisa memberikan rincian yang saya ingat.”


“Pe-penyusup?”


“Benar, Mas, seorang laki-laki mampir ke sini, dia selalu memakai topi dan kacamata hitam. Dia tanya-tanya soal harga kios, dan kebetulan ada yang kosong satu unit. Dia membelikan saya kopi hitam, tahunya sudah dicampur obat tidur. Nah, antara jam satu sampai dua dini hari, beritanya orang itu menyusup ke butik Nona Jelita, yang anaknya Pak Nur Imran itu, 'kan?”


“I-iya, Pak, benar.”


“Saya sudah lapor ke polisi sih, Mas. Tapi, tadi saya sempet jengkel sama mas yang ganteng tadi. Sepertinya pacarnya Nona Jelita, ya? Wajar sih, kalau khawatir. Tapi, kalau didesak buat sesuatu yang benar-benar nggak saya ingat, ya jengkel juga.”


“Mas ...?”


Reza segera tersadar atas lamunannya. Ia mencoba mengulas senyum. “Iya, Pak, be-berarti Nona Jelita memang sedang diincar?”


“Soal itu, saya kurang tahu, Mas. Tapi, ... pelaku tersebut memang sering datang dan saya pikir dia mau membeli unit kosong itu. Ternyata, ada udang di balik batu. Oh iya, memangnya Nona Muda itu nggak bicara sama Mas yang katanya pengacara?”


Reza menelan saliva. Ia merasa tersinggung atas sindiran itu. “U-untuk sekarang belum, Pak, mungkin karena dia pikir hanya iseng.”


“Owalah, memang sih, Mas, jadi orang kaya nggak selamanya mudah hehe. Semoga kasus ini cepat selesai ya, Mas.”


“Amin, Pak, terima kasih atas informasinya.”


“Sama-sama, Mas, hati-hati di jalan.”


Reza berbalik badan. Dengan nestapa itu, ia melangkah menuju keberadaan mobilnya. Informasi yang ia dapatkan hampir sesuai seperti hipotesis yang ia susun kemarin siang. Semua rentetan kejadian aneh saling berkaitan. Namun hal itu tak membuatnya berangsur merasa lega. Yang ada justru rasa khawatir, tetapi didominasi perasaan kecewa.


Bagaimana bisa Jelita lebih memilih William untuk meminta pertolongan? Apa hubungan mereka yang sebenarnya? Mengapa pula Reza tak diberi tahu walau secuil atas peristiwa itu? Berbagai pertanyaan tanpa jawaban mengapung di benak Reza. Hatinya dibuat perih bak ditusuk jarum-jarum tajam ratusan kali.

__ADS_1


“Kalau emang harus dia, kenapa masih pertahanin hubungan kita, Jel?!” geram Reza sembari mencengkeram setir ketika ia telah masuk ke dalam mobilnya.


Memang tak ada air mata yang mengalir, tetapi sesungguhnya tangisan Reza terjadi di dalam batin. Ia pun tidak tahu harus berbuat apa untuk sekarang, lantaran semua serba membingungkan. Meminta penjelasan? Sudah pasti Jelita tak akan memberikan kejujuran.


Beberapa menit dalam kebimbangan, Reza memejamkan sepasang matanya. Ia menghela napas cukup dalam meminta ketenangan atas hatinya yang lara. Hingga sekian detik, ia membuat keputusan.


“Baiklah, untuk saat ini gue harus pura-pura nggak tahu. Bantu cari pelaku, seenggaknya sampai semua selesai, baru bisa pastiian Jeli nyari gue apa enggak,” ucap Reza. Kemudian, ia menyalakan mesin mobilnya. Tanpa menunggu lama, ia melaju dan pergi dari kawasan itu.


****


Kebiasaan mondar-mandir memang kerap dilakukan oleh beberapa orang ketika sedang kebingungan. Pun pada Dery yang saat ini melakukan kegiatan itu. Kebingungan atas langkah apa yang perlu ia ambil setelah ini. Juga, kekhawatirannya mengenai keamanan identitasnya. Ia tidak mau masuk lagi ke dalam penjara. Hidupnya saja sudah hancur, berbagai pelecehan ia dapatkan di dalam bui karena beberapa napi begitu menyeramkan.


“Nggak! Nggak bisa begini, aku nggak mau masuk bui lagi!” geram Dery mengingat kembali kenangan buruk itu. Berbagai kekerasan yang menorehkan luka di punggungnya membuat trauma tersendiri atas hidupnya. Selain itu, ia menjadi benci sekaligus dendam pada semua keluarga Nur Imran.


“Aaarrgg!” Tak bisa menahan gejolak amarahnya, Dery mengumpat sembari menendang kursi besi di hadapannya.


Kursi tersebut terlempar di hadapan Riris yang saat ini tengah meringkuk di sudut ruangan. Tentu saja wanita itu merasa terkejut dan sontak melebarkan mata. Tubuhnya turut gemetar, karena merasa gentar atas sikap kasar Dery yang dulunya begitu patuh padanya.


“Apa?!” tegas Dery pada Riris yang saat ini memberanikan diri menatapnya.


Riris menggelengkan kepala dengan ekspresi ketakutan.


“Semua ini gara-gara Nyonya! Andai aja nggak terpengaruh ucapan gadis itu, identitas kita akan tetap aman!” Dery mengumpat lagi, bahkan sampai lima kali. “Dia pasti sedang mencari tahu siapa aku, Nyonya!”


“Di-dia nggak mungkin menemukan kamu, Dery! Kamu yang harus melindungiku saat ini,” jawab Riris.


Dery memicingkan mata. “Melindungi Nyonya? Yang benar saja!”


“Kalau aku tertangkap, identitasmu juga akan terbongkar, Dery! Oleh sebab itu, lindungi aku!”


“Semua karena kebodohan Nyonya sendiri! Mana mungkin Nur Imran masih mencintai wanita gila, hah?! Harusnya Nyonya mengingat itu! Ah ... iya juga, mana mungkin wanita gila mengingat hal yang lebih wajar haha ... hahahaha.”


“De-dery ...?”


Dery menyudahi tawanya yang menggelegar tersebut. Matanya kembali tajam bak pedang yang siap dihunuskan pada sang korban. “Kalau pada akhirnya identitasku terbongkar, gadis itu harus mati terlebih dulu. No ... tapi semua anggota keluarga itu.”


Riris menelan saliva mendengar rencana rekannya tersebut. Perihal Jane yang masih menjadi bagian dari keluarga Nur Imran menjadi kekhawatiran tersendiri. Terlebih ketika Jane merupakan penyebab utama Dery masuk ke dalam penjara. Riris tidak bisa membiarkan pria itu menyakiti Jane. Dan jika itu harus terjadi, Riris akan membunuh Dery sebelum berani menyentuh anak kandungnya itu.


Dia yang lebih berbahaya, daripada mereka, pikir Riris. Sementara otaknya sudah sibuk menyusun rencana untuk menyingkirkan sosok Dery terlebih dahulu.


****

__ADS_1


Clue episode selanjutnya ada Om Arlan, pantengin aja ya.


__ADS_2