
“Jadi, mau aku kiss?”
Episode 52-Dipaksa!
Setidaknya hatinya sudah mulai tenang, juga tubuhnya yang berangsur bisa dikendalikan. Kendati otak gadis perancang itu masih terbayang perihal pesan tadi pagi. Beberapa kali ia masih bergidik ngeri, bahkan mual. Pasalnya, pesan yang ia terima itu merupakan pesan teror lanjutan.
Yang mana, Jelita diperintah untuk menjauhi Jane—adiknya—dan jika tidak, orang itu akan menghukum Jane dengan cara yang kejam. Di bawah pesan itu, dikirimkan sebuah foto, seseorang yang diikat dan mulutnya disumpal kain, sekaligus tubuh dari seseorang dalam foto itu berlumur cairan merah yang kental.
Jelita menghirup udara begitu dalam, bahkan beberapa kali ia lakukan. Kengerian membuncah di hatinya, jika mengingat foto tersebut. Namun, ia tidak bisa mengidentifikasi orang itu wanita atau laki-laki. Jika ditilik melalui postur tubuhnya, sepertinya seorang wanita, tetapi Jelita masih tidak yakin sebab pria kurus pun bisa menyerupai wanita. Dan pelaku di balik teror itu sama sekali tidak bisa ia perkirakan.
“Mau gimanapun, masih takut kalau su korban itu ibunya Jane. Tapi, gimana kalau Tante Riris juga termasuk dalang di balik semua ini? Ah ....” Jelita masih menampik dugaan kedua, sebab ia pikir tidak mungkin jika mantan ibu tirinya itu sebagai pelaku, tetapi justru memasukkan Jane dalam bahaya.
”Ah ...! Siapa sih?” Setelah bergumam demikian, Jelita merengek sekaligus masih menyimpan sejumlah ketakutan.
William yang baru memasuki butik itu, melirik diam-diam pada sang pemilik. Di mana secara kebetulan, Jelita tidak di dalam ruang pribadinya melainkan duduk di ruang kasir. Pria itu tersenyum manis sembari menatap gadis itu. Namun, hatinya bertanya-tanya sebab Jelita tampak sedang tidak baik-baik saja.
“Siang, Nona Jeli,” sapa William sesaat setelah menghampiri Jelita.
Sontak saja, Jelita terdiam dari rengekannya. Ia segera mengusap air matanya yang keluar.
“Kamu?” balas gadis itu tak menyangka.
William masih tersenyum. “Kenapa aku? Ah ... pacar nggak dateng, terus nangis ya? Ck, justru aku yang calon suami malah dateng.”
Jelita memicingkan matanya diiringi dengkusan kesal sebab malas bertatap muka dengan si Tampan. Sementara William hanya cekikikan. Kendati, pria itu merasa khawatir lantaran Jelita sempat menangis sekaligus berwajah pucat, William enggan untuk mempertanyakan sebab tak ingin membuat tidak nyaman.
“Mau makan siang bareng aku, Jel?” tanya William.
Jelita langsung menggeleng cepat. “Enggak!” tolaknya tegas.
“Hmm ... padahal aku jauh-jauh datang ke sini, habis dari Tangerang lho. Masa' kamu nggak kasihan?”
“Aku nggak nyuruh kamu dateng, buat apa aku kasih.”
William mendesis. “Cewek dingin!”
“Cowok nyebelin!”
“Aish!” William menelungkupkan kedua tangannya, kemudian menopang dagunya di atas meja kasir itu. “Mukanya murung pun kamu tetap cantik, Jel.”
Jelita lantas menoyor dahi William. “Jangan gombal, nggak mempan buat aku!”
“Aku serius, enggak gombal. Yuk makan siang.”
“Nggak mau!”
William kembali menarik tubuhnya untul berdiri tegak, kemudian ia menghela napas panjang. Tanpa permisi, bahkan terkesan kurang ajar, ia mendekati pintu pembatas di ruang kasir itu. Reflek, Jelita membelalakkan mata. Ia memundurkan posisi dengan maksud menghindari pria itu. Sayangnya, ruangan buntu alias mentok di dinding butik.
“Jangan kurang ajar di tempat orang!” tegas Jelita dengan berapi-api penuh amarah yang membuncah.
Namun William justru tersenyum penuh kemenangan. Gerak kakinya terus maju, sehingga menyudutkan tubuh Jelita. Kemudian, pria itu memenjara tubuh Jelita dengan kedua tangan yang menekan dinding pembatas.
__ADS_1
“Mau makan siang bareng aku?” desak William sembari menatap manik mata Jelita yang masih membulat.
“Enggak!”
William tidak menyerah atas penolakan itu. Ia justru bertindak lebih berani, memajukan wajahnya pada wajah cantik milik Jelita.
“Mau makan siang bareng aku?”
“E-enggak! Ja-jangan begini!”
“Jadi, mau aku kiss?”
Jelita membuang muka dengan hembusan napasnya yang kasar. “Oke, oke! Mundur dulu!”
Mau tidak mau, Jelita menyetujui ajakan itu. Ia terlalu malu sebab William terus mendesaknya. Beruntungnya, waktu memang sudah siang hari sehingga para karyawannya tengah keluar mencari makanan.
Setelah mendapat kemenangan itu, William lantas meraih tangan Jelita. Dibawakannya tas jinjing gadis itu tanpa bertanya. Langkah William yang tegas sekaligus cepat, membuat Jelita kewalahan. Dan masih tidak ada celah untuk melarikan diri bagi gadis itu.
Tepat di depan pintu butik, William memasang tanda istirahat. Ia meminta agar Jelita mengunci butik itu, tetapi tangannya masih tidak melepaskan gandengan erat.
Jelita mendengkus, setelah itu berkata, “Nanti kalau Kak Reza tahu pasti marah, Will.”
Sembari melangkah, William menjawab, “Bagus!” Ia tersenyum setelah mengatakan itu.
“Ck, aaaa! Kenapa sih kamu suka sama aku?! Nyebelin tahu!”
“Dah, masuk dulu. Jangan ngeluh.”
Meski sangat keberatan, Jelita terpaksa masuki mobil yang pintunya telah dibuka oleh William. Setelah memastikan Jelita aman di dalam, pria itu beralih menuju ruang kemudi. Tak lama kemudian, mobil dijalankan melengang berbaur dengan kendaraan lain.
****
Sesaat setelah menemukan tempat yang nyaman dan duduk, keduanya memesan makanan sesuai selera. Tak sama dengan William yang memesan hidangan berat, Jelita kembali pada rutinitas sebelumnya—ia memesan salad sayur serta minuman rendah lemak.
“Kamu diet?” tanya William membuka perbincangan.
Jelita menggeleng. “Itu makananku sehari-hari. Kenapa? Kamu tahu 'kan aku ini gila?”
William tercengang. Gila? Sepertinya keterlaluan sekali sebutan itu. Kendati tidak mengerti apa maksud Jelita yang sebenarnya, ia menyimpulkan jika Jelita memang berhati-hati dalam menyantap makanan.
“Willi ...?”
“Mm?”
Jelita menelan saliva. “Mm ... apa yang kamu suka dari aku? Kenapa suka maksa aku?”
“Karena kamu calon istriku.”
“Itu belum pasti.”
“Aku akan memastikannya.”
__ADS_1
“Ya, silakan, kamu boleh memastikan ketika aku menikah sama Kak Reza.”
William reflek tertawa kecil. “Sampai saat ini pun, kamu pasti belum berani membuka siapa Reza di hadapan ayahmu. Iya, 'kan?”
“Ka-kata siapa? S-sok tahu kamu!”
“Aku tahu, karena aku yang justru dijodohkan denganmu, bukan Reza. Dan selama aku bertemu ayahmu, beliau enggak pernah membahas Reza. Padahal, sering nyeritain seputar cowoknya Jane.”
“Willi ... lupakan urusanku sama Kak Reza, kamu sendiri aja nggak peka sama perasaan Jane.”
William terdiam. Ia menyandarkan punggungnya. Berita Jelita seputar Jane bisa ia nilai sama seperti ucapan Arlan tadi pagi.
Ketika hendak memberikan jawaban, seorang pelayan justru datang. Mau tidak mau, William menunda perkataannya. Lalu, ia mulai menyantap hidangan yang telah disajikan oleh sang pelayan wanita.
“Jane suka sama kamu, Willi, bukan aku ...!” ungkap Jelita.
William sibuk mengunyah makanan, ia hanya menggeleng pelan. Hal itu membuat Jelita menghela napas dalam.
“Will! Aku serius!”
“Aku juga serius suka sama kamu, Jeli!”
Mendengar pengakuan yang tegas itu, Jelita salah tingkah. Kedua matanya berputar-putar menatap segala arah. Tak sama seperti beberapa saat yang lalu, kini William memasang wajah tegas sekaligus serius.
“Selama kamu belum menikah sama Reza, aku masih punya kesempatan,” lanjut William.
“Aku enggak bakalan suka sama kamu, Will.” Jelita masih berusaha membuat pria di hadapannya itu agar tersadar.
Namun, William masih ngeyel. “Oke, jadi teman pun tak apa untuk sekarang.”
“Teman?”
“Teman tapi mesra.” Pria itu mengulas senyum lebar.
Namun Jelita justru bergidik. “Teman biasa pun aku enggak mau, apalagi teman menjijikkan begitu! Jangan harap!”
“Kamu imut kalau marah haha. Well, pusingin soal masalah aku aja.”
“Haa?”
“Hmm ... masalah aku nggak bakal bikin kamu nangis, jadi pikirin masalah aku yang ngeyel ini, jangan masalah yang bikin kamu nangis. Sebab, di saat kamu nangis pun aku justru bisa bikin kamu marah. Tahu 'kan kalau kamu jauh lebih cantik ketika marah berapi-api, ketimbang nangis sendiri di ruang kasir tadi.”
Jelita masih menatap William ketika ucapan panjang pria itu telah selesai. Benar, jika diingat lagi ketika William datang, ia tengah merengek sendiri. Jadi bisa disimpulkan sikap menyebalkan yang William lakukan padanya, hanya untuk membantu melupakan masalahnya.
“Kenapa? Mulai tersentuh sama kehadiranku?” celetuk William tiba-tiba.
Sontak saja, Jelita membuang muka. “Ja-jangan harap! Enggak akan pernah.”
“Hmm ... aku enggak tahu masalah kamu apa, dan aku enggak mau tanya. Tapi misal mau cerita, aku bakal dengerin, Jel. Yang penting makan dulu, biar kamu kuat menghadapi aku.”
“Cihh!”
__ADS_1
Berkat sindirian itu, akhirnya Jelita bersedia menyentuh makanannya yang sejak tadi dibiarkan saja. Kendati memang sangat kesal, tak bisa ia pungkiri kehadiran William siang ini mampu membuatnya lupa soal teror itu. Di sisi lain, ia justru menanggung beban tidak enak hati pada Reza.
****