Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 21-Nasehat Om Arlan


__ADS_3

“Jel, selagi Papa kamu masih ada bahagiakan beliau. Dan bahagianya orang tua itu cukup simpel, ketika sang anak juga bahagia. Ini ... hanya sebagian kecil yang Papa kamu khawatirkan, sebenarnya masih ada lagi.”


Episode 21-Nasehat Om Arlan


Arlan menghela napas panjang, lalu kembali ia hembuskan secara kasar dari mulutnya. Ia berangsur bersandar pada badan kursi yang ia duduki. Sedangkan, kedua bola matanya masih sibuk menatap designer muda di hadapannya.


Bagi Arlan, sudah pasti Jelita belum melupakan tentang masa lalu. Kendati, nama "Jeli" sudah berani dipakai oleh gadis itu, setelah sebelumnya menjadi nama yang sangat gadis itu hindari. Sebab, nama itu merupakan cara penyebutan untuk Jelita sebagai bentuk bully yang dialami olehnya. Para pembully-nya mengatai gelambir lemak seperti layaknya hidangan Jelly dan sangat cocok dengan keadaan fisik Jelita pada saat itu.


Arlan pikir, Jelita sudah lepas dari trauma. Namun, pola makan juga ingatan mengenai keluhan Nur Imran membuat keyakinan Arlan menjadi kebimbangan. Bagaimana bisa, Jelita makan hanya dengan dedaunan? Bahkan, di siang yang terik seperti ini. Asupan energi dari mana yang gadis itu dapatkan? Serta tubuh yang sudah sangat kecil membuat Arlan benar-benar turut gusar.


“Cil, mau Om ceritain kisah seorang ayah?” tawar Arlan beberapa saat setelah terdiam.


Jelita berangsur menatapnya. Lalu, menggeleng. “Enggak mau, pasti nyeritain dirinya sendiri. Jeli muak denger cerita Om yang melebih-lebihkan diri sendiri,” jawabnya.


Pria 48 tahun itu mengulas senyum masam. “Dasar bocah enggak ada sopan santun sama orang tua, udah minta konsul enggak nerima saran. Dan sekarang, justru bilang muak,” ucapnya sembari menggelengkan kepala, tidak habis pikir.


Jelita justru tertawa. “Kalau sama Om, Jeli enggak bisa sok baik.”


“Hmm ... ini soal kisah seorang ayah yang merupakan pengusaha besar di Indonesia.”


Jelita bergeming. Ditatapnya wajah pria ayah dari tiga anak itu. “Maksud Om, Papa Jeli?”


“Ya ... mungkin.”


“Bener, Papa ya? Pantes sih, ‘kan Om deket sama Papa. Tapi, Papa kenapa, Om? Kisah apa yang Papa ceritain ke Om?”


“Ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan Papa kamu.”


“Ketiga 'ke' itu sama artinya, Om!”


Arlan tertawa sesaat. Helaan napas dalam ia ambil lagi. Namun kali ini, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jika seperti itu, Jelita melihat sosok Arlan seperti bapak-bapak kebanyakan. Raut wajah yang datar, sekaligus serius. Wibawa dari pria yang beristrikan wanita blasteran itu, semakin terpancar. Benar-benar kontras dengan kebiasaan usilnya setiap hari.


Sikap Arlan yang tiba-tiba itu pula membuat Jelita tahu, bahwa ada pesona yang luar biasa dari sosok pria itu. Juga, wajah manis meski sudah memasuki usia 50 tahun. Pantas, Fanni pun selalu mencintainya. Pernah sekali Jelita bertanya; mengapa Fanni bersedia menjadi istri seorang duda yang bahkan terpaut usia jauh sekali? Lalu, Fanni hanya memberikan jawaban singkat yaitu cinta.


Beberapa saat setelah bergeming sembari berpikir, akhirnya Arlan berdeham. Selang dua detik saja, ia lantas berkata, “Om sering bermain golf sama Papa kamu. Ada kalanya pertemuan bisnis, atau pertemuan makan siang seperti ini.” Pria itu kembali terdiam, dengan maksud menunggu respon dari gadis yang merupakan buah hati dari Nur Imran—pria yang ia maksud.


Jelita berangsur menunduk. “Lalu ...?” tanyanya lirih.


“Papa kamu selalu cerita soal kamu sama adik kamu. Hmm ... Cil, beliau tahu apa yang kalian berdua alami. Kamu yang masih segan makan dengan nyaman, sedangkan adikmu segan berada di dalam rumah sendiri. Bener, begitu?”


Jelita tak langsung menyahut. Ia bergeming, sebenarnya sama sekali tidak ingin membahas perihal ini.


Namun, Arlan tidak peduli. Rasanya, gadis itu perlu arahan yang tepat. “Kamu bisa pakai nama Jeli? Tapi, kenapa kamu enggak bisa makan dengan nyaman?”

__ADS_1


“Mm ... karena secara fisik aku udah pantas memakai nama itu, Om. Tapi, kalau soal makan, Jeli masih ....”


“Khawatir balik kayak dulu?”


“....”


Lagi-lagi, Arlan mengambil napas panjang kemudian ia hembuskan dengan kasar melalui mulutnya. Ditariknya punggung ke depan dan memangku dagu pada papan meja, sembari menatap Jelita dengan seksama.


“Om pikir hanya sebatas kekhawatiran Papa kamu aja, tapi saat ini Om bener-bener merasa prihatin sama pola makan kamu. Dan, kata Papa kamu, kamu sering lupa makan. Cil, jangan gitu. Kamu harus ingat dan peduli sama Papa kamu juga. Jangan bikin beliau khawatir, tantemu bisa atasi trauma, Om pikir enggak mustahil buat melakukannya meskipun enggak mudah,” jelas Arlan.


Gadis perancang itu justru menelan saliva. Kali ini, ia tidak bisa menampik atau menyanggah ucapan Arlan layaknya biasa. Juga, raut serius yang dipasang pria itu benar-benar membuatnya segan. Ia justru menepis tatapan Arlan dengan cara menunduk.


Bagi Arlan sendiri, trauma tetaplah bisa disembuhkan. Ia bisa berpendapat demikian lantaran sang istri pernah mengalaminya. Bahkan, sampai bertahun-tahun menyimpan semuanya sendiri. Bukan hanya itu, istrinya itu sempat mengalami drop juga gangguan bulimia. Dan sekarang, sang istri telah berangsur sembuh. Sehingga, Arlan tidak sembarangan memberikan nasehat sebab ia paham betul tentang hal itu.


“Kamu udah ke psikiater? Psikolog atau yang lain?” tanya Arlan, mencoba mengulik.


Jelita menggeleng pelan. “Belum pernah, Om,” jawabnya.


“Kenapa enggak dicoba? Kamu bisa lepas dari masa lalu, Cil. Bahkan, kamu bisa makan dengan nyaman. Lihat badan kamu, ini udah terlalu kecil makanya Om nyebut kamu bocah kecil, selain sifat kamu yang nakal.”


“Mm ... Jeli takut, Om.”


Dahi Arlan mengernyit. “Takut?”


Perih, miris, dan tentu saja prihatin. Tiga rasa itu mendadak memenuhi hati Arlan, menyisakan sesak di dalam sana. Begitu banyak kekhawatiran yang dialami oleh gadis perancang di hadapannya. Belum lagi, ingatan masa lalu yang masih mengikat diri Jelita. Ya, sulit. Namun, tidak mustahil untuk disembuhkan, bukan? Kembali Arlan tekankan kalimat itu di hatinya.


Arlan berpikir lagi. Otaknya benar-benar dipacu detik itu. Sebagai orang biasa dan bukan seorang dokter mental, tentu saja pria itu merasa kesulitan. Bisa saja ia terdiam dan tidak ikut campur, tetapi ia tidak sanggup menatap Jelita. Teringat bagaimana sulitnya seorang Fanni—sang istri—jauh sebelum ia nikahi. Penderitaan atas trauma benar-benar sangat menyiksa. Terlebih, bagi Jelita ditambahi kekhawatiran itu.


Arlan menghela napas lagi. “Jelita, ... Om harap kamu hanya berfokus sama Papa kamu. Bukannya Om enggak paham kesulitan kamu, tapi ... Papa kamu udah tua, Jel. Seharusnya, udah waktunya pensiun. Kakak Om aja, belum genap 60 tahun memilih pensiun dari beberapa tahun yang lalu. Mimpin perusahaan itu enggak mudah, Jel. Ditambah mikirin kamu dan adik kamu, Papa kamu memilih hidup sendiri, demi kalian berdua,” ucapnya panjang.


Benak Jelita, kini dipenuhi wajah Nur Imran. Sesak di hatinya, rasanya ingin menangis detik itu juga. Benar, ia melupakan apa yang dijalani ayahnya selama ini. Bukankah, sangat egois jika memikirkan kesulitan tersendiri? Ya, ucapan Arlan berangsur membuat gadis itu sadar.


“Om tahu kalau namanya trauma ditambah banyak kekhawatiran pasti sulit sekali dijalani. Tapi, bukan mustahil, ‘kan? Kamu bisa panggil psikiater pribadi ke rumah kok,” lanjut Arlan. Pria itu mengepal kedua tangannya sembari menatap ke arah bawah. “Jel, selagi Papa kamu masih ada bahagiakan beliau. Dan bahagianya orang tua itu cukup simpel, ketika sang anak juga bahagia. Ini ... hanya sebagian kecil yang Papa kamu khawatirkan, sebenarnya masih ada lagi.”


“Om tahu? Kalau tahu, Om bisa ceritain ke aku?” tanya Jelita.


“Tentu, karena Om udah anggap Papa kamu kayak kakak sendiri. Mm ... yang ini mengenai perusahaan. Bukankah salah satu dari kalian harus meneruskan? Kalau enggak kalian, Papa kamu mau kasih perusahaan sama siapa?”


Jelita bergeming.


“Sebenarnya, Om enggak mau ikut campur. Tapi, Cil, kamu dan adikmu udah memasuki usia dewasa. Kalian berdua harus berdiskusi tentang ini. Boleh, ngejar cita-cita sendiri. Tapi jangan melarikan diri.”


“Aku ... aku masih berambisi sama fashion, Om. Dan ... Jane pasti enggak mau, karena dia selalu mikir kalau dia bukan anak kandung Papa. Jeli pikir, Papa baik-baik aja soalnya enggak pernah bicara apa-apa.”

__ADS_1


Arlan mengulas senyum. “Papa kamu enggak mau kamu terluka. Kalau tiba-tiba ngomongin perusahaan, pasti kamu langsung enggak nyaman, ‘kan? Papa kamu enggak mau kamu salah paham, beliau ingin kamu mengejar mimpi kamu. Tapi, ... beliau menanggung beban itu sendiri, Bocil.”


Arlan memundurkan lagi tubuhnya lantaran merasa pegal. Kemudian kembali berkata, “siap enggak siap, kamu harus menghadapi semuanya. Pelan-pelan, di dunia ini enggak ada yang instan. Sembuhkan lukamu, sama tekun ibadah itu paling penting. Utamain itu dulu, setelah kamu sembuh dan bisa menjalani hidup dengan baik semua masalah bisa berangsur selesai, Cil. Jangan takut melakukan hal positif, jangan terlalu dengerin kata orang yang buruk-buruk.”


“Jeli ... juga lagi usaha kok, Om.”


“Publik figur itu juga manusia. Wajar kalau ada cacatnya, justru publik figur yang sempurna wajib dipertanyakan kemanusiaannya. Yah! Intinya berusaha, berdo'a, yakin kalau Tuhan akan bantu kamu.”


“Om cuma bisa kasih nasehat itu aja. Soal cowok tadi pun, Om enggak sembarangan ngasih saran. Om ini udah hampir setengah abad, banyak pengalaman,” tambah Arlan.


Jelita mengangguk. “Iya, Jeli percaya kalau Om udah tua.”


Arlan mendesis. “Jangan percaya tuanya, tapi nasehatnya. Aish! Bocah ini!”


Gadis perancang berusaha tertawa, sembari menutupi perasaan perihnya.


Sejauh ini, meski hubungannya dengan Arlan terbilang sering bertengkar, tetapi justru pada pria itu ia mendapatkan banyak pelajaran. Entah, meski sudah akur dengan sang ayah, kecanggungan masih tetap ada di antara dirinya dan ayahnya.


Arlan pun menyudahi acara makan siang itu, dengan melahap habis sisa hidangan di piringnya. Pria itu tidak ingin terlalu lama dalam kebersamaan, karena rasa rindu pada anggota keluarganya sudah teramat dalam.


Namun, ketika hendak berdiri, Arlan teringat sesuatu. Ia kembali menatap Jelita. “Kamu enggak ada tanda-tanda anoreksia, ‘kan?” tanyanya.


“Emangnya tandanya apaan?” balas Jelita.


“Mm ... entah. Cek internet.”


Jelita menjadi gusar sebab pertanyaan Arlan. Sepintas, ia tahu tentang anoreksia yang merupakan gangguan pola makan. Namun untuk tanda-tandanya ia tidak terlalu paham. Segera, Jelita tepis pemikiran buruk mengenai dirinya perihal penyakit itu. Tentu saja, karena ia tidak ingin memilikinya.


“Eh!” pekik Arlan. Kembali ia memutar badan dan menatap Jelita. “Udah dibayar, ‘kan?” tanyanya.


“Jeli yang urus, Om. By the way, makasih saran dan masukannya, Om,” jawab gadis itu.


“Hmm ... ya, ya, ya. Tapi, ... boleh Om minta sesuatu lagi?”


“Apa? Jeli kasih kalau mampu.”


Arlan melebarkan senyumnya. “Tentu kamu mampu, Cil! Mm ... bungkusin dong buat tante sama adik-adikmu. Om enggak nyaman makan enak sendiri, sementara keluarga di rumah enggak.” Tawa kecilnya keluar, karena permintaan itu berhasil ia lontarkan.


Meski sempat terkesiap, akhirnya Jelita turut tertawa. Tentu saja ia menyanggupi permintaan konyol dari Arlan. Juga, rasa kagum sebab kepedulian pria itu pada keluarganya. Jelita berharap Reza bisa seperti Arlan nantinya. Meski tipikal dan cara orang yang berbeda, tetapi ia ingin keromantisan yang serupa.


“Aaah ... ck, Kak Reza aja belum mau sama aku,” gumam Jelita. Ia menepuk keningnya karena ingatan itu.


****

__ADS_1


Maaf, baru up hhe. Jangan lupa jempolnya. gratis kok.


__ADS_2