
“Dengan tubuh yang seperti ini, Kakak pasti enggak bisa melindungi kamu dengan leluasa.”
Episode 58-Firasat
Sesampainya di rumah keluarga Nugraha, keadaan begitu lengang. Reza sendiri dibuat bingung sebab tak ada satu pun orang di rumahnya, sekalipun asisten rumah tangganya. Yang ada hanya bapak security di bagian depan yang menjaga gerbang. Pria itu diam-diam merasa cemas sendiri, beberapa kali ia mengusap tengkuknya. Badannya pun menghangat seketika.
Reza seolah dibuat mati kutu oleh ketidakadaan orang di rumah tinggalnya itu. Bagaimana tidak, jika dalam arti lain ia hanya akan berdua saja dengan sang kekasih. Kendati sering melalui waktu berdua, tetap saja ia tidak cukup percaya diri jika latar keberadaan adalah rumahnya yang sepi.
“Kak ...? Kenapa?” celetuk Jelita, mempertanyakan keadaan Reza yang kentara sekali jika pria itu tengah bingung. “Enggak suruh Jeli masuk?”
Reza menggeragap. Ia ingin bergegas maju, tetapi dibatalkan. Sepasang matanya kebingungan mencari obyek pengamatan. Dirinya benar-benar didera salah tingkah sekaligus rasa bingung yang luar biasa.
“Ka-kayaknya rumah kosong deh, Dek,” balas Reza.
“Terus?”
“Mm ....”
“Hmm ....”
Tidak peduli dengan kekhawatiran Reza, Jelita nyelonong memasuki pintu yang telah pria itu buka. Gadis perancang itu bahkan tidak meminta izin terlebih dahulu. Pasang mata Jelita langsung mendapati keberadaan ruang tamu. Dengan riang ia melaju kakinya menuju tempat itu.
Sementara Reza, akhirnya ia pasrah dan mengikuti gerak kekasihnya. Dan keduanya duduk di kursi sofa yang berbeda.
“Hmm ... damainya,” ucap Jelita.
“Mm ... ma-mau minum apa, Dek?” tanya Reza.
Jelita lantas menatap wajah bulat kekasihnya tersebut. “Air putih aja, Kak.”
“Masa’ air putih?”
“Susu.”
“Hmm ... oke!”
“Eh! Enggak becanda! Air putih aja, lagian udah siang ngapain minum susu.”
“Emang harus pagi doang boleh minum susu?”
“Ya ‘kan cocoknya pas pagi. Lagian susu Jeli ‘kan khusus rendak lemak.”
“Susu Jeli?”
“Aaa ... ih! Udah ambilin Jeli minum!”
“Hahaha.”
“Jorok pikirannya!”
“Ye ... kamu sendiri yang bilang.”
“Kan beda!”
“Kedengarannya sama, Sayang.”
“Ih ... udaaah! Jangan dibahas, jorok!”
Bersama tawanya yang masih sulit ditahan, Reza beranjak berdiri. Detik berikutnya ia melangkahkan kedua kakinya ke arah dapur lantai satu. Sementara Reza yang beranjak, Jelita masih menunduk menahan rasa malu. Ya, tentu kalimatnya cukup ambigu untuk diartikan. Dan lagi, ia mengatakannya menggunakan namanya sekaligus bibirnya sendiri.
__ADS_1
Suasana rumah yang sepi tentu menjadi sesuatu yang sedikit ditakuti gadis itu. Kendati begitu berani masuk tanpa permisi, berjalannya waktu ia justru tersadar akan beberapa kemungkinan. Terlebih, ketika ia mengingat keberanian Reza belakangan ini. Bagaimana jika Reza atau bahkan dirinya kebablasan? Dan lagi, kesan sikapnya beberapa saat yang lalu, bukankah bisa diartikan sebagai kode pada pria itu. Astaga!
“Jeli bodoh! Kenapa main nyelonong aja, dalam kondisi rumah sepi?” gumam Jelita sembari memukul dahinya sendiri.
Tak berselang lama, akhirnya Reza kembali muncul. Ia berjalan dari arah dapur denga membawa nampan berisi air minum dan dua piring cemilan berupa biskuit jenis berbeda. Kedatangan pria itu membuat Jelita semakin gelisah daripada bahagia. Ketika Reza sudah mulai mendapatkan ketenangan, giliran Jelita yang mati kutu oleh keadaan.
Reza meletakkan hidangan yang ia bawa di atas meja ruang tamu tersebut. Sedangkan nampan ia letakkan di bagian kiri dari meja itu. Setelah selesai, ia mendudukkan diri sama seperti sebelumnya.
“Diminum, Sayang,” ucap Reza.
Jelita menelan saliva. Tanpa mengubah sikapnya, ia menjawab, “I-iya, Kak. Makasih, ya.”
Karena tidak ingin mengecewakan Reza, Jelita lantas mengambil segelas air minum itu. Kemudian, ia bergegas menyesapnya dengan cepat, bahkan nyaris habis dalam sekejab.
Mendapati Jelita yang begitu terburu-buru, dahi Reza berkerut samar. Sementara matanya mulai menyelidik diam-diam. Hingga akhirnya, ia menyadari jika Jelita tengah salah tingkah saat ini. Menyadari hal itu, Reza menelan saliva. Benar, ia hanya berdua saja dengan gadis perancang itu! Hal yang sempat ia lupakan, kini kembali datang membawa kekhawatiran.
Sikap keduanya kini menjadi sama, jari-jari mereka saling bertaut sekaligus bergerak-gerak tidak menentu. Reza juga Jelita kompak merasakan bingung dan takut. Oleh karenanya, tercipta keheningan di antara kebersamaan. Hanya hembus napas mereka yang mengisi, sementara bibir sama-sama terkunci. Sekaligus suhu AC yang dingin menambah nikmatnya desiran hati.
Karena tidak ingin terlalu lama terjebak dalam kecanggungan, Reza memberanikan diri untuk berdeham. Sesaat setelah menatap Jelita, ia berkata, “I-ini pertama kalinya Kakak berdua sama cewek di rumah, Dek.”
Jelita mendengar, tetapi ia membuang muka. “I-iya, Kak, ini juga pertama kali Jeli main ke rumah cowok,” jawabnya.
“Ma-maaf, agak canggung ya? Bisa enggak kita bersikap biasa aja?”
“Entah.”
“Mm ... kamu mau keliling rumah?”
“Bo-boleh.”
“Hayuk!”
“Emm.”
Mereka berdua menyusuri lantai keramik yang lebar. Arah yang dituju oleh Reza adalah pekarangan samping yang berisi taman bunga milik Reyna. Keasrian tentu ada di sana, dan mungkin bisa menjadi pilihan tempat yang bagus untuk bercengkerama.
“Mm ... hobi Nyonya Rey, girly banget ya, Kak?” tanya Jelita saat matanya mendapati taman indah di samping rumah.
“Begitulah mamaku, Dek, terlalu feminim. Tapi, taman dan rumah kami enggak ada apa-apanya sama rumah kamu yang wah banget!” balas Reza.
Jelita mendesis. “Jangan merendah gitulah! Lagian, itu rumah papa aku dan rumah ini juga bagus kok.”
“Hmm ... iya sih, berarti kita sama-sama belum punya rumah ya, haha.”
“Nah itu tahu! Mm ... oh iya, tadi kata Kakak enggak pernah berduaan di rumah sama cewek? Kalau di luar rumah pernah?”
Mendengar pertanyaan tak terduga itu, Reza langsung menatap Jelita. Tidak ia sangka gadis itu akan terganggu dengan pengakuannya.
Reza berpikir sejenak. Detik berikutnya, ia mendekati Jelita. Diraihnya kedua tangan Jelita dan ia genggam dengan erat. Mendapati perlakuan tersebut, Jelita menundukkan kepala.
“Yang terpenting 'kan sekarang Kakak sama kamu, Sayang.”
Jelita menahan napas sesaat. “Iya sih. Tapi perlu Kakak tandai, kalau Kakak cowok pertama bagi Jeli! Sekaligus orang pertama yang melalui banyak hal manis bersama Jeli.”
“Kamu merasa enggak adil, Dek?”
“....”
“Hmm ... itu terjadi lama sekali bahkan di jaman SMA, pas kuliah dan kerja Kakak enggak kenal cewek, Dek. Lagian Kakak kalau pacaran ya biasa aja, enggak aneh-aneh. Dulu badan Kakak masih langsing, ya wajar 'kan kalau agak genit sama cewek?”
__ADS_1
“Mantan Kakak berapa?”
“Enggak banyak kok.”
“Berapa?!”
“Pacar Kakak satu, cuma kamu.”
“Berapa?!”
Reza terdiam. Ia mengamati Jelita yang sepertinya sedang cemburu. Jika dijawab tentunya, gadis itu akan semakin kesal. Akhirnya, Reza merengkuh tubuh Jelita daripada memberikan jawaban.
Awalnya Jelita terkejut dan meronta minta dilepaskan. Namun ketika tenaga Reza tak dapat ia imbangi, Jelita tak memberikan perlawanan lagi. Pelukan hangat itu justru ia nikmati, bahu yang nyaman ia sandari. Sudah beberapa hari keromantisan itu tidak terjadi, keduanya benar-benar merasa rindu. Rasa aman pun dirasakan oleh Jelita, tatkala berada di pelukan Reza.
“Kakak enggak mau bahas masa lalu, karena masa kini yang terpenting itu kamu, Dek. Lagian untuk sekarang, Kakak harus tahu diri dalam segi visual.” Sembari membelai rambut Jelita, Reza memberikan pernyataan.
Jelita menarik dirinya seketika. “Segi visual? Jadi, kalau langsing kayak dulu, Kakak bakal enggak tahu diri?” tanyanya.
“Iya, enggak tahu dirinya sama kamu.”
“Haah ...? Ma-maksudnya?”
Reza hanya tersenyum nakal. Sikapnya tentu membuat Jelita salah tingkah dan akhirnya memilih diam.
“Dek ...?”
“Hmm.”
“Kalau Kakak kurus lagi, gimana?”
“Emm ... kenapa emang? Jeli suka yang gembul-gembul.”
“Dengan tubuh yang seperti ini, Kakak pasti enggak bisa melindungi kamu dengan leluasa.”
“Me-melindungi?”
“Iya, Kakak merasa harus menjadi pelindung kamu, seenggaknya harus kuat dulu.”
Jelita mencurigai jika Reza mengetahui masalahnya. Apakah William bercerita? Namun, mengapa Reza tidak bertanya?
“Ke-kenapa Kakak tiba-tiba berpikiran seperti itu?”
Reza tampak berpikir. “Entah, hanya firasat aja sih. Mengingat siapa diri kamu, nona muda, perancang baru sekaligus selebgram papan atas. Enggak menampik 'kan misal ada orang yang jahat sama kamu.”
“Je-jeli udah jarang aktif di sosial media kok, Kak, ja-jangan terlalu khawatir. Dan, ... Kak Reza enggak perlu mempersulit diri. Butuh waktu lama untuk urusan diet, Kak, dan itu enggak mudah.”
“Hmm ... iya sih, untuk saat ini Kakak masih mempertimbangkannya. Tapi, kemungkinan bisa Kakak lakukan, soalnya semenjak lulus kuliah pola makan Kakak benar-benar enggak beraturan. Nggak ada salahnya, 'kan, kalau mulai hidup sehat?”
Jelita mengangguk. Di sisi lain, ia merasa aneh sebab Reza memiliki firasat seperti itu. Jika William benar-benar mengatakan yang sebenarnya, rasanya pasti kesal sekali. Sebab, mau bagaimanapun Reza tak boleh terlibat! Jelita tidak mau Reza terluka dan masuk dalam bahaya.
Dering ponsel begitu nyaring terdengar dari dalam tas yang masih Jelita bawa. Kedua sejoli itu merasa terkejut. Namun Jelita segera mengambil benda tersebut, berencana ingin mematikan terlebih dahulu.
Namun, ketika Jelita mulai menyalakan layar ponselnya, nomor tak dikenal kembali hadir menelepon dirinya. Jari jemarinya kembali gemetar. Napasnya yang hendak memburu, berusaha ia tahan kuat-kuat. Dalam kepanikan itu, Jelita berusaha untuk menyembunyikan ketakutan.
“Siapa, Dek?” tanya Reza tiba-tiba.
Jelita menggeragap. Ia menelan saliva dengan susah payah. “A-anu, Kak ....”
Reza merasa ada yang aneh. Matanya reflek memicing menyelidik raut wajah kekasihnya itu. Dan ....
__ADS_1
****
Hai semuaaaaaa ... pilih Reza apa Willi? Jawab Yaaaaa, yg jujur.