
“Berada di rumah tinggal terasa enggak nyaman. Jadi, aku mutusin buat mampir kafe dan pulang ketika mereka sudah makan malam."
Episode 44-Menciut
“Jadi, Kak Willi ke sini karena Kak Jeli?” tanya Jane sesaat setelah mendengar pengakuan William yang baru saja berbincang dengan kakaknya tersebut.
Sembari tersenyum, William menjawab, “Enggak. Kebetulan aku ke sini untuk ngopi.”
“Benarkah? Rasanya cukup aneh.”
William menghela napas panjang. Pandangan yang sejak tadi terarah pada Jane kini mengedar menatap jalan raya yang lengang. “Aku seperti dirimu, Jane.”
“Mm?”
William kembali mengingat cerita seputar Jane dari Arlan beberapa hari yang lalu. Yang mana berkaitan dengan rencana Jane untuk keluar dari rumah Nur Imran. Sekaligus, rasa bersalah yang membuat gadis itu tidak nyaman berada di istana mewah tersebut.
Bagi William, ada kesamaan antara dirinya dengan Jane. Kendati ia tahu jika permasalahan munculnya perasaan itu sangat berbeda. Namun ketika Leny—ibu kandung William—memutuskan untuk kembali ke Australia sebab bisnis jahit di sana, ia terpaksa tinggal di kediaman keluarga besar Harsono. Selain sebab itu, ia dipinta oleh paman tertuanya karena setelah Riska, ia akan menjabat sebagai CEO di Harsun Group.
“Berada di rumah tinggal terasa enggak nyaman. Jadi, aku mutusin buat mampir kafe dan pulang ketika mereka sudah makan malam,” lanjut William.
Jane termenung sebentar. Ia berusaha mencerna perkataan dari sosok tampan tersebut. Apa maksudnya sama? Dan apa pula maksud dari ketidaknyamanan ketika berada di rumah tinggal? Kendati sudah bertemu beberapa kali, rasanya ia tidak pernah menceritakan hal apa pun pada pria itu, terlebih jika mengenai masalah keluarga.
Jane bukan tipikal orang yang terbuka. Jika tidak mendesak, ia tidak akan mendatangi Arlan sekalipun. Hanya saja, ucapan William berarti jika pria itu mengetahui sesuatu tentang dirinya.
“Mm ... bentar deh, Kak, jadi maksud Kak Willi?” tanya Jane memastikan.
Namun, William hanya tersenyum manis. Ia menggeleng pelan. “Enggak kok. Lupain aja,” jawabnya memutuskan untuk tidak mengaku. Sebab bagi William, Jane pasti akan merasa tidak nyaman jika dirinya mengetahui yang sebenarnya.
Kendati sudah diberikan jawaban oleh pria itu, nyatanya tidak membuat Jane merasa puas. Ia masih menatap wajah William dengan banyak pertanyaan. Namun ... ketika tatapannya berlangsung semakin lama, ia justru menelan saliva sebab ketampanan yang dimiliki oleh William.
Rasa takjub menjadi kagum, kemudian perlahan menyisakan perasaan suka. Namun jika pada kenyataannya William diperuntukkan bagi Jelita, lalu Jane bisa apa? Mencari ibunya saja belum berhasil, tidak mungkin ia egois dan memikirkan perihal cinta.
“Kenapa?” Pertanyaan singkat tiba-tiba dilontarkan oleh William.
Dan pertanyaan tersebut membuat Jane menggeragap. “En-enggak kok, Kak!” jawabnya tegas sebab sangat gugup.
__ADS_1
Lagi-lagi, William mengeluarkan senyum manis yang menjadi andalannya. “Aku ganteng?”
“Mm?” Jane tercengang, dengan pertanyaan narsis tersebut. Kemudian, justru muncul tawa yang dipaksakan. Mengusap tengkuk pun ia lakukan karena salah tingkah yang masih enggan pergi.
Kemudian, William menilik waktu pada jam tangan yang ia kenakan. Dua puluh menit lagi sampai di waktu maghrib. Sesaat setelah menghela napas panjang, ia pun bertanya, “Kamu enggak bawa mobil?”
“Enggak, Kak. Tadi Kak Jeli maksa pakai mobilnya,” jawab Jane tak lagi ceria.
“Hmm ... kakakmu diam-diam keras kepala juga, ya?”
“Ya, lumayan, Kak.”
“Hmm ....”
Jane berangsur menatap William ketika pria itu menjawab hanya dengan dehaman. William begitu senang ketika berbicara seputar Jelita. Ini bukan kali pertama, melainkan kedua setelah ia mengetahuinya ketika di rumah Arlan. Rasa hati Jane menjadi menciut, karena sosok Jelita memang lebih dari segalanya daripada dirinya.
Bagaimana kakaknya itu mampu menutupi segala luka selama ini dan mencoba ceria setiap saat. Ada momen di mana Jelita begitu tegas, cerdas bahkan menjadi bodoh dalam sekejap. Sungguh, gadis penuh warna yang tentu saja mampu membuat orang lain bahagia.
Lalu untuk dirinya, Jane sendiri merasa jika ia sangat membosankan. Ia paham jika dirinya mudah kesal, mengeluh dan tentu saja jaim. Ia tidak mampu bersikap asyik. Jika saja bukan anak kedua dari Nur Imran seperti yang orang-orang tahu, pastinya tidak ada yang menyukai dirinya.
William segera tersadar dalam lamunan yang sebenarnya khayal untuk kencan esok hari. Kemudian, ia menatap Jane dengan sedikitnya rasa heran.
“Aku?”
Jane mengangguk pelan. “Iya, siapa lagi?”
“Entah.”
“Entah?”
“Ya, untuk saat ini aku merasa takjub aja, Jane. Dia unik.”
Sembari berucap, William kembali mengulas senyum dan terbayang wajah cantik Jelita. Paras imut yang dimiliki oleh gadis itu, benar-benat membuatnya candu untuk mengingat.
Namun, di sisi lain, Jane menjadi semakin menciut. Ia hanya bisa menelan saliva dengan getir sembari memandangi wajah William yang tengah berkhayal. Dadanya bergejolak, rasanya ia benar-benar sendiri di dunia ini. Kendati William ada di hadapannya, kenyataannya otak dan hati pria itu justru ke orang lain.
__ADS_1
Sadarlah, Jane, kamu enggak boleh punya rasa lebih dari kata takjub. Dia dan rumah itu bukan tempat kamu, yang sesungguhnya. Menyadari siapa dan apa posisi dirinya, Jane hanya bisa menekankan segala hal mustahil untuk dirinya sendiri. Bisa bernapas, makan, bahkan hidup dibawah atap rumah Nur Imran saja sudah berkah baginya. Untuk apa ia meminta lebih, bahkan ingin mengambil alih hati William? Bukankah akan sangat menyakitkan jika baru selangkah saja ia sudah gagal?
“Jelita punya pacar?” tanya William tiba-tiba.
Jane sempat tercengang, tetapi ia langsung bingung. Selain ia harus tahu diri, perihal menjawab privasi Jelita bukanlah hal tepat untuk ia lakukan. Daripada memberikan jawaban dan akhirnya merasa bersalah, ia memutuskan untuk diam. Sehingga pertanyaan William menjadi mengambang tanpa jawaban.
“Baiklah.” William tiba-tiba saja berdiri. Ia menatap Jane, kemudian berkata, “Ayo ke masjid. Udah mau maghrib.”
“Ah ... i-iya, Kak,” jawab Jane.
“Tenang aja, aku bakal temani kamu seperti janjiku pada kakakmu.”
“Oh.” Jane menghela napas. Dugaannya kini dibenarkan dengan pengakuan dari William. Sudah pasti Jelita yang mendorong William agar menemaninya. Tidak mungkin pria itu mendatanginya, ia tahu perihal apa dan siapa dirinya.
****
Malam harinya, Jelita memutuskan untuk keluar. Lebih tepatnya terpaksa keluar, sebab Reza tiba-tiba saja berada di luar gerbang rumahnya. Bukan tanpa alasan pria gembul itu mendatangi kediaman Nur Imran, melainkan kesal karena mendengar pengakuan dari kekasihnya melalui media obrolan suara.
“Masuk!” titah Reza tanpa turun dari mobilnya. Ia memerintah kekasihnya itu tanpa rasa takut sedikitpun.
Dengan perasaan takut dan tidak enak hati, Jelita berangsur membuka pintu mobil. Detik berikutnya, ia masuk. Ketika sang kekasih sudah siap, Reza lantas melaju mobilnya.
Sementara Nur Imran yang baru saja keluar dari gerbang rumah kini terheran-heran. Dahinya berkerut samar, mempertanyakan ke mana dan dengan siapa Jelita pergi.
“Wah, dia udah ada gandengan kayaknya. Jadi beneran, sama pengacara itu toh? Ck, cowok macam apa yang bawa anak orang tanpa izin? Malam-malam begini lagi!” ucap Nur Imran dengan sebal.
Namun kendati tengah merasakan perasaan itu, senyumnya justru mengembang. Ya, setidaknya Jelita sudah melangkah lebih maju dan memiliki tambatan hati. Hanya saja, perihal siapa yang akan ia akui sebagai menantu, belum bisa dipastikan. Ia masih menunggu sampai anak gadisnya itu mengakui siapa sosok kekasih yang sebenarnya.
“Pengusaha apa pengacara?” Nur Imran tersenyum sinis. “Dia pikir bapaknya ini enggak tahu. Lha wong, bapaknya si gendut partner bisnis. Ah ... dua pengusaha melamarkan anak mereka untuk anakku. Hmm ... Jeli, Jeli, kamu sudah naik ke strata tinggi. Tinggal, nunggu Jane nih.”
Sesaat setelah berbangga diri, Nur Imran berbalik badan. Kemudian ia memasuki gerbang rumahnya itu, sembari menimang di antara mereka. Antara William atau sosok pria yang belum ia ketahui siapa namanya, yang pasti putra dari partner bisnis yang beberapa saat yang lalu ke luar negeri bersamanya.
Mengapa ia justru menjodohkan Jeli dengan William? Sebab ia ingin tahu bagaimana perjuangan Jelita dan kekasihnya itu nanti. Perihal William, entah! Ia tahu jika ia melakukan kejahatan sebab seperti memanfaatkan pria muda tersebut.
****
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya, ya.