Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 8-Keberanian Jeli


__ADS_3

“Yang gantle dong, Za ...!”


Episode 8-Keberanian Jeli


Sebuah butik, yang juga berisi alat jahit, maneken dan beberapa bahan pakaian lain, Jelita tengah berdiri. Sebuah alat pengukur terkalung di lehernya. Gadis itu terlihat sangat serius, mengamati sebuah gaun yang hampir ia selesaikan pembuatannya.


Gaun berwarna pink manis, dengan manik-manik cantik berwarna putih. Sebuah maha karya milik Jelita, dengan segala kemampuan juga kecerdasannya.


“Cantik!” gumam gadis itu, sembari tersenyum simpul.


Iin yang baru saja muncul dari arah pintu, perlahan masuk ke dalam tempat di mana sang atasan berada. Wanita berusia 25 tahun itu turut takjub melihat sebuah gaun terpampang indah, terlebih maha karya milik atasannya.


“Nona, ... tadi malam lembur?” tanya Iin setelah menyudahi pandangan terpananya.


Jelita menoleh ke arah wanita yang merupakan salah satu pegawainya. Senyumnya merekah, bahkan mampu menyamai keindahan gaun rancangannya sendiri.


“Iya, Mbak Iin,” jawab gadis itu ramah.


“Wah, kok enggak panggil saja aja, Non? Terus tadi malam menginap di sini? Bukannya siangnya libur?”


“Mm ... aku enggak tahan, Mbak, jadi sorenya ke sini.”


“Nona muda emang seorang pekerja keras, ya? Saya jadi malu sendiri.” Iin tersipu, juga tidak enak hati lantaran tidak bergabung dengan Jelita di sore kemarin.


Jelita menghela napas lega, meski mengabaikan perkataan dari Iin juga perasaan malu wanita itu. Sorot mata designer muda itu kembali menatap gaun miliknya. Perasaan bersemu merah jambu turut hadir menyelimuti hatinya, bahkan seluruh relung jiwanya. Akhirnya, setelah dua bulan ia hampir menyelesaikan satu maha karya yang menawan.


Mungkin, jika ada kesempatan, ia akan menjual gaun tersebut dengan harga yang tinggi. Ya, karena semua ia kerjakan kmulai dari pembuatan rancangan, bahan, manik dan setiap detail berikut gaun begitu seksama. Jelita selalu memastikan setiap titik kesalahan, dan akan segera memperbaiki detik di mana ia mengerjakannya.


Bahkan, jika tidak ada yang berminat untuk membelinya, Jelita akan menyimpannya sendiri. Tidak akan ia pakai, semacam dimuseumkan di dalam kamar, atau ruangan khusus.


“Jadi, ... ini tinggal apanya, Non?” tanya Iin mengamati gaun tersebut sembari menatap gambar rancangan.


Jelita berpikir, memastikan lagi apa yang kurang dari maha karyanya itu. “Aku mau tambahkan manik kupu-kupu berwarna putih di bagian dada kiri, Mbak. Di bagian belakang aku bakal tambahkan pita besar warna pink,” ucap gadis itu detik berikutnya.


Iin manggut-manggut, tetapi tetap mengerti. Tidak pernah ia merasa tidak setuju atas ide Jelita, karena semua pemikiran Jelita selalu sempurna.

__ADS_1


“Ini ‘kan gaun pesta, jadi meriah sedikit kayaknya enggak apa-apa, Mbak. Tapi, warna yang dipakai harus elegan sesuai warna dominan, karena warnanya pink mungkin bisa cocok sama putih. Kita coba dulu, Mbak, misal enggak cocok ganti warna lain aja,” jelas Jelita.


Iin mengangguk pelan.


Iin segera bergerak cepat, mengambil beberapa manik yang tersedia di dalam sebuah kotak bahan. Wanita itu mulai menyibukkan tangannya, mencari kain transparan berwarna pink sebagai bahan pita besar untuk gaun itu. Juga, beberapa manik kupu-kupu berwarna putih yang sudah tersedia di sana, berkat Jelita yang selalu menyiapkan bahan-bahan tanpa menunggu dibutuhkan.


“Selamat pagi,” ucap seseorang dari arah pintu butik itu.


Membuat sang pemilik tertegun heran, perihal siapa yang datang bahkan butiknya belum dibuka. Jelita memutar badan, memastikan siapa tamu yang kini mampir ke tempat kerjanya.


“Selamat pagi, Nyonya,” sapa gadis itu, setelah mendapati Reyna sudah hadir dan masuk tanpa izin ke dalam butiknya.


“Za, sini dulu!” ucap Reyna. Wanita itu menoleh sesaat setelah menghentikan langkahnya. Ia memanggil seorang pria yang merupakan anak lelaki kesayangannya.


Reza menghela napas, diiringi gerakan tangan yang sibuk mengusap tengkuk lantaran malu. Bagaimana tidak, jika sang ibunda terkesan menjualnya pada gadis itu, gadis yang mampu menarik hatinya. Dengan mau tidak mau, Reza menghampiri butik milik Jelita, tentunya dengan gerak kaku.


Reyna tersenyum. “Pagi, Jeli,” ucapnya lagi.


Jelita mengangguk pelan. “Pagi, Nyonya, dan Kak Reza,” jawabnya seiring senyum yang terulas manis di bibirnya.


“P-pagi, Jel,” ucap Reza kikuk. Ia masih sibuk menatap lantai butik yang ia singgahi. Tidak ada keberanian sedikit pun untuk menatap Jelita, bahkan manik mata gadis itu.


Gagah juga.


Tampilan seorang pengacara muda berhasil membuat hati Jelita berdebar. Berbeda dengan pagi kemarin yang hanya memakai kaos dan celana jeans besar, Reza tampak rapi dan berwibawa. Kendati, tubuh pria itu begitu jangkung bahkan buncit di bagian perut, kharismanya sebagai seorang ahli dalam bidang hukum masih melekat erat pada sosoknya.


“Kak Reza mau berangkat?” tanya Jelita.


Reza mengangguk pelan. “I-iya, Jel,” jawabnya masih dengan sejumlah perasaan gugup.


“Mau sarapan dulu? Forum Kak Reza dibuka jam berapa? Aku bisa pesankan sarapan di resto depan.”


“Anu, tadi aku u—“


“Iya, Jel, kebetulan saya juga lapar.” Reyna menyambar ucapan Reza begitu saja. Alhasil, putranya terkesiap bahkan tidak habis pikir.

__ADS_1


Namun, meski merasa keberatan atas sikap ibundanya, Reza hanya bisa bergeming. Sesekali ia menghela napas, atau menahan rasa malu yang seakan-akan tidak ada ujungnya. Perasaan Reza semakin dibuat getir, ketika ia menyadari tatapan mata Jelita yang sejak tadi tertuju padanya.


Dia pasti ngetawain gue, Mama! Batin pria itu.


Hmm ... imut banget, jadi gemes! Batin Jelita.


Gadis itu semakin melancarkan tatapannya, lebih dalam bahkan sampai melangkahkan satu kakinya menghampiri sang pengacara. Sikapnya sukses membuat Reyna berdecak senang. Bagaimana tidak, jika rencana berangsur berhasil, mendekatkan kedua sejoli itu.


“Kak?” ucap Jelita.


Reza menggeragap detik itu juga. “I-iya, Jel,” jawabnya gugup.


“Gimana? Masih ada waktu sarapan bareng aku enggak?”


Reza kembali terdiam. Tawaran itu, rasanya sayang untuk ditolak karena bisa menjadi kesempatan sekali seumur hidupnya nanti. Namun, sebelum berangkat ke butik itu, ia sudah melahap satu piring nasi goreng buatan pembantu rumah tangganya. Mengingat itu, Reza sontak menelan saliva. Bagaimana bisa, dalam waktu belum ada satu jam ia sudah menyantap makanan dua kali?


Reyna kesal, sebab Reza yang tidak segera memberikan jawaban atas tawaran Jelita. Ia tidak habis pikir, anak lelakinya itu justru ketar-ketir ketika menghadapi seorang gadis.


Anak ini!


Lalu, wanita itu menghampiri Reza lebih dekat. Ia memberikan cubitan tipis, tetapi sukses membuat Reza merasakan perih di kulit yang ia cubit.


“Yang gantle dong, Za ...!” bisik Reyna tepat di telinga Reza.


Jelita semakin dibuat gemas sebab tingkah Reza. Seorang pria berdasi dengan tubuh tinggi besar, justru kikuk menghadapi dirinya. Selain gemas, ia merasa tersanjung. Tidak menyangka bahwa dirinya yang dulu buruk rupa, kini mampu membuat pria itu salah tingkah bahkan sejadi-jadinya.


“Ayo, Kak, kita sarapan,” ajak Jelita. Gadis itu meraih lengan Reza dan membawanya keluar hendak ke restoran depan butik.


“T-tapi, Jel ...?” Reza menggeragap lagi.


“Aku lapar dan butuh teman makan!”


Reyna terkesiap sekaligus senang, melihat gadis yang ia sukai lebih berani. Tatapan matanya menatap kedua sejoli itu dari posisi yang sama.


“Sukses!” pekik Reyna bangga.

__ADS_1


****


Jangan lupa like, komen, bahkan poin hehehe


__ADS_2