Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 10-Perdebatan (Bonus)


__ADS_3

“Menurut apa kata suami juga salah satu kewajiban kamu, Jel!”


Episode 10-Perdebatan (Bonus)


“Aku nggak ingin hamil dulu.”


Gumaman yang Jelita lontarkan memang sangat pelan. Sialnya, Reza tepat berada di belakangnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, hendak mengagetkan istrinya yang melamun. Namun, justru ia sendiri yang terkejut.


Seperti sebuah belati yang tipis, tetapi tajam dan tentu saja terasa perih mengiris hatinya. Reza terdiam detik itu juga. Pasalnya, istri cantiknya itu belum menginginkan seorang bayi yang sudah ia impikan selama ini. Tentu saja, ia pria. Sekalipun tak sekaya keluarga Jelita, Reza tetap ingin menghidupi keluarganya, terutama bocah kecil yang nanti akan mengobati segala keletihan.


“Tapi, ...,” lanjut Jelita masih pelan. “Kak Reza gimana? Apa dia bakal setuju kalau aku minta tunda dulu? Ah! Aku pengin ke USA!”


Kebingungan merayap meliputi seluruh relung hati. Keinginannya kemungkinan besar tidak sejalan dengan sang suami. Namun meski begitu, Jelita sangat keras dengan apa yang hendak ia rencanakan. Lalu, haruskah pilihan KB secara diam-diam, ia lakukan?


“Nggak, nggak, nggak!” ceracau perancang busana yang cantik bak namanya itu. “Aku udah nggak jujur waktu itu dan aku sampai kehilangan Kak Reza. Aku nggak mau melakukan kesalahan yang sama.” Jelita tersadar.


“Lalu?” sahut Reza dari belakang istrinya. “Lalu, kamu mau pakai cara apa biar nggak ngandung?" lanjutnya sembari melangkahkan kaki menghampiri Jelita.


Detik itu juga, Jelita terkesiap bahkan sampai menggeragap. Perlahan, ia memutar badan serta pandangan yang sejak tadi menatap suasana di luar jendela besar.


“Ka-kakak? Se-sejak kapan?” tanya Jelita, gugup.


Reza tak menyahut. Ia menatap wajah wanitanya itu dengan nanar. Ekspresinya begitu dingin tak sama seperti biasanya.


“Aku heran sama kamu, Jel!” ucap Reza. Ia menggeleng-gelengkan kepala. “Biasanya yang minta tunda hamil itu pihak suami, tapi kenapa? Kenapa justru kamu yang sebagai istri? Apa kamu merasa lebih kaya dariku, sampai berpikir kayak gitu? Menganggap aku belum sanggup membiayai anak kita? Begitu?” tanyanya ketus.


Jelita mati kutu. Ia hanya bisa pasrah, mendengarkan omelan panjang suaminya. Setidaknya agar bisa mencegah pertengkaran saja. Entah jika Reza sudah berbicara keterlaluan nanti.


“Ayahku, ibuku, ayahmu, bahkan aku menginginkan seorang bayi. Kamu mau alasan apa lagi? Karir? Se-begitukah tingginya karirmu? Enggak puaskah kamu dengan pencapaian kamu saat ini?” lanjut Reza.


Kemudian, pria itu mendesis menahan kejengkelan agar tak sampai berkata kasar. “Jel!” Ia mencengkeram kedua pundak istrinya. “Sekalipun kamu punya anak, hamil, dan udah jadi istriku, aku ngasih izin. Mau apa pun kamu selagi positif aku kasih izin!”

__ADS_1


“Tapi, Kak!" Jelita melepas cengkeraman di lengannya itu lantaran merasa sakit. “Kalau kita udah punya anak, Jeli nggak bisa ke luar negeri. Nggak mungkin 'kan Jeli ninggalin anak, Jeli nggak mau nitipin anak sama orang lain, Jeli mau urus sendiri.”


“Apa?! Luar negeri? Gila, ya. Oke ... jadi, kamu bisa tinggalin suamimu, begitu? Atau kalau nggak kamu mau kabur kalau aku nggak ngasih izin, begitu?”


“Kak!” Suara Jelita meninggi. “Kak Reza ngajak nikah aku masih di usia muda, impian aku belum sepenuhnya berhasil!”


“Kamu sendiri yang maksa aku buat balik sama kamu, Jel! Kamu yang datang, dan aku, ... aku udah janji kalau aku bakal ketemu perempuan, sekalipun bukan kamu aku bakal nikah! Kamu tahu gimana sakitnya dibohongi, kemudian tak diandalkan?”


“Kakak! Jangan bahas masa la—”


“Jangan bahas masa lalu katamu? Terus kamu ungkit lamaran baikku, juga bukan masa lalu, begitu?”


Reza pintar, pengacara memang andal membalikkan kata-kata lawan. Dan hal itu membuat Jelita merasa tercengkeram tanpa bisa mengatakan sanggahan. Sebab, ia yang memicu. Masa lalu itupun ia yang memulai. Ia terlalu bodoh dan terjebak dalam situasi semacam ini.


Menikah dengan Reza tentu saja membahagiakan. Namun, ... detik ini Jelita justru berandai-andai jika dirinya masih melajang. Bukan do'a, hanya saja seandainya. Mungkin impiannya akan tercapai tanpa membuat suaminya marah besar dan lantas kesulitan. Lalu, haruskah ia menghapus cita-citanya itu?


“Jeli, ini ....” Sejenak, Jelita menggantungkan ucapan demi menghela napas dalam. “Sepuluh bulan Kak Reza pergi, Jeli berencana ke luar negeri. Jeli mau mengasah lagi kemampuan dengan perancang ternama. Papa udah kasih izin kala itu.”


Jelita menatap wajahnya. “Iya! Jeli mau Kak Reza kasih izin, setidaknya satu tahun aja, Kak.”


“Satu tahun? Ngaco kamu, Jel! Kamu udah punya suami. Menurut apa kata suami juga salah satu kewajiban kamu, Jel!”


“Terus aku harus merelakan cita-cita aku, begitu?”


“Iya!”


“Kak Reza ....”


Bulir air mata berwarna bening meluruh di pipi Jelita. Dadanya merasa sesak, pasca Reza melarangnya dengan tegas. Ia tidak menyangka. Mungkin benar kata sebagian orang, wanita yang sudah menikah sulit untuk bergerak.


Sementara Reza merasa menyesal, lantaran istrinya sampai menangis. Ia hendak memeluk wanita itu, tetapi di detik berikutnya ia batalkan. Reza harus tegas, setidaknya demi keamanan Jelita juga. Lantaran ke luar negeri bukan masalah sepele lagi. Jika ia memberi izin, tentu perpisahan akan terjadi. Jelita telah menjadi tanggung jawabnya. Berkarir boleh, tetapi cukup di Indonesia. Toh, rezeki tak ke mana. Asal berusaha, siapa tahu melalui media sosial rancangan Jelita dikenal dunia.

__ADS_1


Namun tampaknya, pemikiran Jelita belum bisa sematang Reza. Wanita itu masih berada masa-masa memiliki ambisi besar, sekaligus kestabilan emosi belum beraturan. Ibarat bunga, Jelita baru mekar dari kuncupnya.


“Kamu boleh bekerja, berkarir sesuai yang kamu mau. Tapi, setidaknya hargai aku sebagai suamimu, Jel. Perpisahan antara suami dan istri itu nggak baik,” ucap Reza lembut.


Jelita masih membisu. Kemudian, pria itu menarik pinggangnya, mendekatkan posisinya dan lantas memeluk erat. “Kakak itu sayang sama kamu. Tapi, mbok ya, sedikit aja kamu berpikir dewasa, Jeli. Apa kamu enggak mikirin masa lalu kita?”


“Mm ....”


“Kalau Kakak ini jahat, udah Kakak kerangkeng kamu di dalam kamar tanpa boleh keluar. Tapi, Kakak nggak mau kamu jenuh dan menjadi tawanan. Makanya, Kakak kasih bebas. Main boleh, ketemu teman-temanmu boleh, asal positif dan nggak terlalu jauh.”


“Mm ....”


“Kalau ke luar negeri itu udah beda cerita dan demi itu kamu mau nunda punya anak? Jangan nakal, Dek! Anak itu rezeki, bisa jadi setelah kamu memilikinya, rancangan kamu bisa dikenal dunia melalui jalan apa pun!”


“Yaaa.”


“Jangan ya ya, mm mm, dengerin baik-baik!”


“Iya, Sayang, ini didengerin!”


“Hmm ... oke, kalau kamu masih belum siap lantaran kamu sendiri masih kecil.”


Jelita tertohol. Masih kecil kata Reza, sudah pasti seperti bocah bagi pria itu.


“Kamu bisa tunda, sampai batas waktu tak lebih dari lima bulan. Anggap aja kita masih pacaran dalam pernikahan, tapi demi keluar negeri, Kakak paksa kamu biar sampai ngandung!”


Jelita menelan saliva. Benaknya berpikir liar oleh sebab ucapan suaminya. Pemaksaan yang bisa saja membuatnya kewalahan. Dan meski menyesal lantaran keinginannya tidak disetujui, Jelita mengangguk. Setidaknya, untuk mencegah ancaman Reza terjadi.


***


JANGAN LUPA MAMPIR DI -AMANAT ISTRI PERTAMA- YA, GUYS (◕દ◕)(◕દ◕)

__ADS_1


__ADS_2