
“Tapi, Nona Jeli 'kan bukan orang biasa seperti kami. Pasti akan banyak bahaya yang mengintai, terlebih ketika butik ini makin maju. Persiapan fashion show pun udah di depan mata. Mbak harap, Nona bisa lebih terbuka sama Mas Reza, ayah ataupun pengawal lain, supaya Nona bisa tetap aman.”
Episode 46-Paket!
Malam minggu yang sangat dinantikan William, tetapi sangat dikhawatirkan oleh Jelita pun sebentar lagi akan tiba. Membuat gadis itu menghela napas karena merasa sesak. Ingin sekali ia tidak datang ke kencan dari persyaratan itu, tetapi ia takut jika William benar-benar mendatangi ayahnya. Sehingga mau tidak mau, Jelita memutuskan akan hadir.
Beberapa hari sebelumnya keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja. William masih saja kepikiran perihal keadaan Jane yang tidak stabil dalam segi emosi, kemudian Jelita yang turut prihatin setelah ia mendengar cerita seputar rumor yang beredar. Rumor tentang orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa, juga orang tak sehat mental tersebut melakukan penyerangan beberapa kali dan merampas isi dompet para korban. Jika benar itu adalah Riris, tentu menjadi ketakutan terbesar bagi mereka semua, termasuk Nur Imran—mantan suami dari wanita itu.
Sore ini pun, Jelita masih berada di dalam butiknya. Ada perencanaan tentang fashion show yang ia diskusikan dengan para bawahannya. Ia tidak mau membuat pakaian secara sembarangan, sehingga ia menegaskan agar semua bekerja keras. Untuk pertama kali diadakan atas nama dirinya sendiri, Jelita tidak menuntut sempurna, tetapi harus lancar dan setidaknya sedikit membius para undangan nantinya.
“Sudah sore, karena Jeli juga ada janji. Kalian bisa pulang awal,” ucap Jelita sembari mengulas senyuman. “Malam minggu bareng keluarga, deh!”
Mendengar atas izin pulang cepat itu, Iin dan para rekannya reflek bertepuk tangan. Karena malam minggu sebelumnya, mereka akan terus sibuk di butik sampai menjelang malam. Sementara sang atasan mengatasi beberapa masalah di luar. Namun, untuk saat ini mereka mendapat rezeki waktu untuk berkumpul bersama keluarga.
Beberapa saat kemudian, mereka yang berada di butik tersebut lantas bergegas. Namun, tiba-tiba saja suara seseorang terdengar dari luar. Seorang pria dengan seragam dari sebuah jasa antar paket. Lantas, Dina—salah satu bawahan Jelita—berinisiatif untuk menerima paket tersebut.
Tak lama kemudian, Dina memberikan paket tersebut pada seseorang yang namanya tercantum. Orang itu merupakan sang pemilik butik sekaligus perancang busana di butik tersebut. Ya, Jelita. Dengan dahi berkerut ia mengamati paket sesaat setelah menerimanya dari Dina. Kedua matanya mengedarkan pandang dalam beberapa saat, kemudian ia menghela napas. Tak ada alamat pengirim sekaligus nama pengirim. Entah. Lantas, dari siapa dan untuk apa?
“Apa ini?” tanya Jelita. Sementara para bawahannya tak terlalu menggubris. Ada sebagian yang sudah keluar dari butik. Setidaknya, terhitung sembilan orang yang masih tinggal di dalam butik bersamanya.
“Buka aja, Non,” usul Iin sembari berjalan menghampiri gadis itu, yang sebenarnya hendak pamit pulang.
Jelita melirik, kemudian lantas mengangguk. Sesaat setelah menghela napas, ia bergegas merobek bungkus paket yang berwarna cokelat. Tidak ada ketegangan yang merambat, tetapi rasa penasaran pun menyelimuti hati sembilan orang tersebut.
Lalu, tiba-tiba ....
__ADS_1
“Aaaaaaa!” Jelita terpekik, sementara paket tersebut reflek ia jatuhkan. Tubuhnya gemetar, dengan napas yang seketika memburu.
Bukan hanya Jelita, melainkan para bawahannya termasuk Iin dan Dina. Bagaimana tidak, jika isi yang ada di dalam kardus paket merupakan ayam mati. Terbungkus di dalam plastik bening, sehingga cairan merah yang masih basah dari tubuh ayam tidak tercecer.
Tubuh Jelita terhuyung ke belakang, nyaris terjatuh jika saja tidak ditangkap oleh Iin. Bagi seseorang yang tidak pernah melihat jasad meski binatang, pasti akan terkejut, jijik bahkan ketakutan. Hal itu pula yang saat ini dirasakan oleh Jelita. Sekaligus, faktor lain menambah nikmatnya rasa takut.
“Te-teror?” ucap Jelita lirih, tetapi merupakan dugaannya untuk sementara ini.
“O-orang iseng mungkin, Non, ayo duduk dulu.” Dengan setia, Iin memapah tubuh Jelita yang terkulai lemah. Sementara Dina berinisiatif lagi, mengambilkan sebuah kursi. Kemudian, atasan mereka itu dibantu duduk pada kursi tersebut.
Kedua mata Jelita mengedarkan pandang, seolah tengah mencari jawaban di setiap sudut ruangan. Jika benar paket yang dikirim adalah sebuah teror, lantas siapa dalang di balik itu? Pesaing bisnis, kah? Atau mungkin para pembenci ayahandanya? Ah ... atau mungkin ...?
Jelita menelan saliva ketika memikirkan satu nama lain. Juga, rumor yang beredar baru-baru ini. Soal orang gila yang menyerang beberapa orang, kemudian merampok uang mereka. Riris? Jangan-jangan, wanita itu kabur dari rumah sakit jiwa hanya untuk membalas dendam?
Iin menggeleng. “Enggak apa, Nona. Nona Jeli baru saja mengalami hal enggak terduga. Paketnya udah dibuang sama Susi,” jawabnya.
“Maaf, Mbak Iin dan semua. Jeli juga enggak duga bakal ada kiriman kayak gitu.”
Semua bawahan yang tersisa sembilan orang itu kompak mengatakan 'tidak apa-apa' sembari menggelengkan kepala. Mereka semua merasa prihatin, kendati hal tersebut baru terjadi satu kali. Mengingat Jelita merupakan atasan yang baik dan penuh keceriaan, rasanya sungguh sulit dipercaya jika ada orang yang membenci sampai berbuat hal tersebut.
Namun, di sisi lain, mereka juga cukup paham karena Jelita bukanlah orang biasa. Bisa jadi musuh ayahnya, musuh butik, atau haters di dunia maya.
“Jel?” Seseorang berjalan semakin dalam, menuju keberadaan sang pemilik butik.
Jelita segera berdiri ketika mendengar suara panggilan tersebut. Namun sebelum menemui orang itu, ia meminta agar semua bawahannya tidak mengatakan apa pun mengenai paket dan teror. Seiring langkah Jelita yang sudah mulai tegas, mereka segera bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
“Serius enggak bilang sama Mas Reza, Non?” tanya Iin di samping Jelita.
Gadis itu lantas mengangguk. “Iya, Mbak. Lagipula ini baru pertama dan kemungkinan hanya orang iseng. Jeli enggak mau masalah jadi besar. Tahu sendiri siapa pacar Jeli, khawatir dikit ambil jalur hukum. Jeli enggak mau ribet, Mbak,” jawabnya.
“Hihi ... iya sih, apalagi tipikal cowok kayak Mas Reza yang sayang banget sama pacarnya.” Iin menghela napas dalam seiring pemberhentian langkahnya. Dan sikapnya itu diikuti oleh gadis atasannya. “Tapi, Nona Jeli 'kan bukan orang biasa seperti kami. Pasti akan banyak bahaya yang mengintai, terlebih ketika butik ini makin maju. Persiapan fashion show pun udah di depan mata. Mbak harap, Nona bisa lebih terbuka sama Mas Reza, ayah ataupun pengawal lain, supaya Nona bisa tetap aman.”
Jelita mengulas senyuman. “Iya, Mbak Iin. Jeli akan hati-hati, kok! Makasih, Mbak!”
“Hati-hati?” Tiba-tiba Reza masuk ke dalam ruangan perancangan di mana Jelita dan Iin masih terhenti. “Aman untuk apa?”
Detik itu juga, Jelita dan Iin tak berkutik. Mereka terlalu terkejut atas kehadiran Reza. Mereka berdua pikir, Reza akan menunggu di ruang depan, tetapi justru menyusul.
“Aah ... i-itu ....”
Enggak, bahaya kalau Kak Reza tahu. Enggak boleh, dan jika benar itu ulah Tante Riris, pasti Kak Reza akan masuk dalam bahaya juga.
“Dek?”
“Mm ... a-anu, Kak. Mm ....”
Reza terus mengamati wajah Jelita dengan pancaran mata yang penuh tanya. Sesekali ia menatap Iin, berharap salah satu dari mereka mengatakan yang sebenarnya. Terlebih, ketika pria itu melihat sikap aneh dari beberapa bawahan Jelita yang ia temui sesaat sebelum menghampiri kekasihnya itu. Sebagai seorang pengacara yang menangani ratusan kasus, tentu ia bisa menangkap keanehan di dalam butik itu.
“Ada apa, Jeli?”
****
__ADS_1