Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 38-Pengacara?


__ADS_3

“Iyalah, coba Kakak kurus kayak dulu pasti enggak kalah ganteng dari dia. Jadi enggak waswas begini, punya pacar cantik lagi. Semua serba mengkhawatirkan!”


Episode 38-Pengacara?


Jelita menghentikan mobilnya tepat di area parkir milik gedung firma hukum di mana Reza bekerja. Ia yang baru saja turun dari ruang kemudi lantas berjalan menuju kabin mobil bagian belakang. Setelah membuka pintu, ia mengambil bekal khusus untuk kekasihnya dan tiga loyang pizza berukuran besar.


Sesaat setelah menghela napas dalam, gadis perancang itu mulai mengayunkan langkah menuju kantor tersebut. Senyumnya yang sempat memudar karena sikap Jane, kini berangsur kembali hanya karena manisnya ucapan dari Reza. Tak akan ada yang bisa menentang kebucinan Jelita pada pengacara gembul itu.


Sampai di lobby kantor tersebut, Jelita duduk di sebuah sofa untuk menunggu. Dikeluarkannya ponsel dari dalam tas selempang. Kemudian, ia mencari keberadaan kontak milik pria gembul kesayangannya. Baru setelah itu, ia menekan tombol hijau dan meneleponnya.


“Assalamu'alaikum, Kak!” sapa Jelita.


“Wa'alaikumssalam. Kamu udah sampai, Dek?” tanya Reza dari lantai kedua.


“Mm ... udah, Kak. Jeli di lobby.”


“Tunggu ya, bentar.”


“Hu'um.”


Telepon pun mereka matikan. Jelita setia menunggu. Meski hanya sebentar momen bertemu hari ini, tak apa baginya asal bisa menatap wajah Reza. Kalau dipikir-pikir ulang, ia memang tidak pernah sehari pun tidak menatap Reza. Meski tidak lama, setiap siang mereka selalu bersama. Tentu, ketika gadis itu merengek meminta Reza makan siang bersama. Karena bagi Jelita, setiap kali bersama Reza, tak ada kekhawatiran mengenai traumanya. Entah, tetapi itu yang terjadi padanya.


Kedua mata Jelita mengedarkan pandang ke seluruh penjuru lobby itu. Seolah ia hendak menghapal semua sudut yang ada di sana. Meski sejatinya, hanya untuk membuang kebosanan sampai Reza datang. Tampaknya pun, Reza benar-benar sibuk hari ini. Bahkan, kendati jam makan siang hampir sampai, tak ada satu pun orang yang keluar dari kantor tersebut.


“Jeli!” Tiba-tiba, suara Reza terdengar. Pria itu tampak dari belokan yang di sana terdapat elevatornya.


Melihat kedatangan kekasihnya, Jelita lantas berdiri.


“Maaf, Dek, lama ya? Lagi sibuk banget,” ucap Reza sesaat setelah sampai di hadapan Jelita.


Kemudian, Jelita mencubit dengan gemas pipi kanan Reza. “Makanya jangan suka bolos, kalau begini 'kan susah sendiri,” ucapnya sembari mengerucutkan bibir.


Reza mengaduh sakit sembari mengusap pipinya. Namun, itu tidak lama, karena bibirnya justru tersenyum. Kedua matanya menatap Jelita dengan teduh. Jantungnya pun dibuat berdebar, sebab keimutan yang terpancar di wajah kekasihnya tersebut.


Lalu, Reza membalas cubitan itu di pipi Jelita dalam gerakan pelan. “Ah, kamu selalu berhasil bikin Kakak deg-degan, Dek!”


Jelita melongo. Namun, ia lantas tersenyum malu-malu sembari menggoyangkan badannya ke kanan kiri. Sementara matanya sesekali melirik wajah Reza.


Reza sedikit merunduk, tepat di depan wajah gadis itu. Bahkan, ia tidak peduli ada recepsionist yang sedang bekerja.


“Maafin Kakak, enggak bisa temenin kamu makan siang hari ini,” ucap Reza kemudian ia menarik tubuhnya kembali.


Jelita yang terus-terusan dibuat melongo, kini menghela napas untuk menguasai dirinya. Ia menggeleng pelan sembari berkata, “Enggak apa-apa, Kak. Jeli janji 'kan enggak bakal ganggu kerja Kakak. Jangan minta maaf terus!” tegasnya.


“Hu'um, kamu kerja yang semangat dan jangan lupa makan meski enggak sama Kakak. Dan ... kalau malam ini bisa pulang cepat, kita kencan.”


“Hu'um, yang penting kerjanya dulu. Jangan terlalu terburu-buru hanya demi ketemu Jeli.”


“Aish! Pacarku selalu GR begini.”

__ADS_1


“Emang enggak? Ah, ya udahlah, ini Jeli bawain makanan. Jeli rasa semua bakal lembur, pasti kalian bakalan pesan makan online doang. Jadi, Jeli bawain. Dan yang khusus kotak putih, buat Kakak.”


Jelita menyerahkan makanan-makanan itu pada Reza, sampai Reza merasa terkejut. Bagaimana tidak, jika kekasihnya membawakan banyak sekali loyang pizza dalam kotaknya, termasuk bekal yang dikhususkan untuk dirinya. Namun, ia tidak mau mengecewakan gadis itu dengan menampiknya. Karena Reza sudah membulatkan tekadnya untuk membahagiakan Jelita apa pun keadaannya. Bahkan, ia sudah bertekad untuk menguruskan badan!


Reza mengusap halus kepala Jelita. “Kamu hati-hati, ya. Jangan ngebut dan terima kasih hidangannya, Nona Muda,” ucapnya.


“Sama-sama, Tuan Pengacara. Terima kasih juga atas perhatiannya,” balas Jelita sembari merundukkan badannya, sopan.


“Nona Jelita.” Tiba-tiba seseorang menyapa Jelita. Suara seorang wanita yang asing di telinga gadis itu.


Kemudian, Jelita juga Reza berangsur menoleh pada orang tersebut. Tampak wanita cantik dan seorang pria yang tidak asing di mata Jelita. Rahang Reza mendadak mengeras, sebab pria yang ia cemburui hadir di depan mata. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun lantaran tidak ada masalah untuk mengusir pria itu.


“Halo, Nona. Selamat siang,” ucap sang wanita.


Jelita masih berpikir. Meski begitu, ia tetap menjawab, “Se-selamat siang.”


“Tidak mengenal saya, ya? Tapi, mengenal pria ini?”


“Ah, benar. Tuan William, dan ... Nona Riska?”


“Wah, ternyata mengenal saya juga. Salam.” Riska mengangguk pelan sembari tersenyum, kemudian menatap wajah Jelita lagi. “Senang bertemu dengan Nona, dan kebetulan seperti ini.”


“Salam, Nona,” sambung William.


“Ah, iya, terima kasih atas salamnya. Tapi, ... saya harus segera kembali.”


“Tentu, hati-hati di jalan, Nona.”


Sementara Reza sibuk menghela napaa beberapa kali. Tak ingin jika cemburu kembali menguasai hatinya. Namun mau bagaimanapun tetap ada sesak di dadanya. Ia lantas, menutup mata Jelita yang masih menatap kepergian Riska dan William.


“Lihat Kakak aja,” ucap Reza.


Jelita berangsur menatap pengacara itu sesuai permintaannya. “Cemburu lagi?” tanyanya.


“Ya, sedikit. Dia ganteng banget ternyata, Kakak malu sama perutnya.”


“Hah? Kok perut?”


“Iyalah, coba Kakak kurus kayak dulu pasti enggak kalah ganteng dari dia. Jadi enggak waswas begini, punya pacar cantik lagi. Semua serba mengkhawatirkan!”


Jelita meringis geli. Kemudian ia mencubit perut gembul Reza dengan gemas. “Jangan kurus! Jeli enggak suka! Jeli emang cantik, dan itu buat Kakak doang. Ya udah, balik gih katanya sibuk. Jeli juga mau balik.”


“Hmm ... iya, Sayang. Hati-hati di jalan. Maaf Kakak enggak bisa antar kamu.”


Sesaat setelah memberikan senyum terakhir, gadis itu berbalik. Hanya dengan tasnya, ia menuju area parkir di mana mobilnya berada. Sementara Reza kembali bersama makanan-makanan itu.


****


Riska dan William dipersilakan duduk oleh Nisa di ruang tamu pada ruangan kerjanya. Wanita sekaligus rekan dari Reza Amdan itu merupakan pengacara yang dipercayai oleh Riska selama ini. Selain sesama wanita, Riska menganggap Nisa tak kalah handal daripada rekan lainnya. Sekaligus bagi teman dirinya ketika sedang sendu.

__ADS_1


Namun meski dianggap sespesial itu oleh Riska, Nisa tak lantas berbangga diri. Ia tetap patuh sekaligus menghormati CEO cantik dari Harsun Group tersebut. Tak hanya itu, selain memang menghormati, Nisa juga merasa kagum. Sebab, meski menyandang status tinggi sosok Riska begitu baik dan tidak angkuh seperti wanita-wanita papan atas yang pernah ia tangani kasusnya.


“Untuk plagiat arsitektur, sudah terbukti salah, Nona. Jadi, mungkin setelah sidang lanjutan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” ucap Nisa setelah menyelesaikan beberapa diskusinya. Sesekali ia melirik ke arah William. Selain merasa kagum karena ketampanan William, ia juga heran tentang siapa diri pria itu.


“Oh, baik. Anda memang selalu bisa diandalkan, Nona Nisa. Mm ... kenalkan, ini adik sepupu saya, William,” ucap Riska sembari menunjuk William.


William tersenyum sembari mengulurkan tangannya ke arah Nisa. “Salam kenal, saya Willi.”


“Oooh ... ah, iya. Salam kenal, saya Nisa,” jawab Nisa sembari menjabat tangan William.


“Dia yang bakal gantiin posisi saya, Nona Nisa. Tapi proses masih lama, rasanya masih harus jadi ibu jahat sampai Willi benar-benar bertekad.” Riska mendengkus sembari melirik sebal ke arah William.


Tentu saja sikap kakak sepupunya itu, sukses membuat William diliputi rasa malu. Ia tidak bisa berkilah karena ada orang lain di tempat itu.


Beruntungnya, Riska tidak membahas dirinya lagi. William bernapas lega karena itu. Sementara benaknya justru terbayang wajah Jelita. Semakin imut saja, pikirnya. Tidak ada dugaan lain di benaknya. Bahkan, ia menganggap pria bertubuh tambun tadi sebagai pengacara pribadi gadis itu.


Sama dengan pemikiran William, Riska berpikiran hal yang sama.


“Tadi, saya bertemu Nona Jelita. Tampaknya memiliki pengacara di firma hukum ini juga ya?” tanya Riska pada Nisa.


Nisa membuka matanya lebar. “Pengacara? Nona Jeli?” balasnya.


“Mm ... tadi saya di lobby Nona Jelita bersama Pengacara yang terkenal hebat itu.”


Benak Nisa spontan terlintas wajah Reza. Ia juga menduga jika Jelita pasti sedang mengunjungi kekasihnya itu. Namun untuk menjelaskan siapa Reza pada Riska juga William tampaknya bukan haknya. Nisa berpikir jika hubungan mereka adalah sebuah privasi. Terlebih dengan status Jelita sebagai gadis terkenal sekaligus nona muda. Hal itu membuat Nisa memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun mengenai hubungan khusus mereka. Lagipula selain kekasih, Reza juga merupakan pengacara Jelita. Jadi, tidak ada yang salah pada dugaan Riska saat ini.


Tiba-tiba terdengar sorakan di luar ruangan Nisa. Yang sejatinya adalah para rekan Nisa sekaligus pengacara lain. Mereka gembira karena dibawakan makanan gratis oleh Reza.


Nisa tersenyum. Ia merasa tidak nyaman atas kebisingan itu pada Riska dan William. “Biasa, anak-anak,” ucap Nisa.


Riska dan William hanya membalas senyuman itu. Kemudian, mereka melanjutkan diskusi yang sempat terhenti sebelum jam makan siang datang.


****


Jane bergeming sendirian. Kedua matanya mengedar menatap ke jalan raya di depan. Ia merasa bingung harus ke mana setelah memutuskan untuk membolos latihan. Suasana hatinya masih tidak nyaman. Semua serba salah untuk dilakukan.


Jane menghela napas dalam. Benaknya membayangkan wajah ibundanya yang tak kunjung sadar dan justru selalu diam. Jane hanya ingin Riris dikatakan sembuh tuntas, sehingga ia bisa merawat sendiri ibundanya itu.


Meski banyak perubahan, Nyonya Riris masih perlu pengawasan, Nona. Emosinya memang sudah stabil tidak pernah, maaf ... mengamuk lagi. Hanya saja, jika pasien memilih diam seperti itu, justru mengkhawatirkan. Kami tidak tahu apa yang tengah dipikirkan pasien. Jika tidak ada pengawasan, tentu dikhawatirkan melakukan hal yang berbahaya. Apalagi, tatapan mata beliau sering tajam dengan rahang yang mengeras seolah sedang marah pada seseorang.


Nona, usahakan jangan mengatakan sesuatu yang memprovokasi hati beliau. Itu saja pesan saya.


Penjelasan dokter yang merawat ibundanya, terngiang kembali di telinga Jane. Diagnosa Riris memang banyak perubahan. Hanya saja, pikiran ibundanya itu masih perlu diwaspadai.


Jane menekan pelipisnya kemudian menjatuhkan kepalanya di atas bulatan stir. Kepalanya seolah berputar-putar, dengan rasa pusing yang bersarang di sana. Rasa bersalah sekaligus prihatin pada kondisi ibundanya itu, bercampur menjadi satu mengaduk-aduk hatinya.


“Aku harus gimana?” gumam Jane, seiring jatuhnya air mata dari mata bulatnya.


****

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya ya,


Kalian ngeh enggak sih sama ucapan Dokter dan bab kemarin, ada hubungannya enggak? 😁


__ADS_2