Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 55-Tujuan William untuk Reza


__ADS_3

“Tidak pernahkah Anda memikirkan pandangan orang-orang, yang mana mereka melihat laki-laki besar bersama seorang gadis kecil?”


Episode 55-Tujuan William untuk Reza


“Apa?! Diet? Saya?” pekik Reza dengan tiga pertanyaan singkat, tetapi dilontarkan dalam waktu yang bersamaan.


William mengangguk mantap. “Iya! Saya yang akan menjadi pelatih Anda, Pengacara Reza!” jawabnya.


Reza menghela napas dalam. Permintaan William yang tadinya seputar pertarungan, kini justru beralih pada program diet. Reza masih mencoba membuat teori-teori atas permintaan rival asmaranya itu. Mengapa tiba-tiba menginginkan dirinya untuk diet? Dan apa maksud di balik permintaan itu? Beberapa menit Reza berpikir, tetapi ia tidak bisa memberikan dugaan yang masuk akal.


“Tadi pertarungan, sekarang program diet, jadi Anda ini menyukai Jeli apa saya?” tanya Reza sembari menggelengkan kepala.


“Woah! Saya? Suka sama Anda? Pertanyaan gila macam apa itu? Jeli masih tetap yang nomor satu, sekalipun Anda jauh lebih imut dari gadis itu.” William mengerlingkan satu matanya, kendati memberikan penolakan atas pertanyaan Reza.


Tentu saja sikap William membuat Reza terkesiap. Bahkan, ketika William memasang sikap kemayu layaknya seorang wanita, Reza bergidik dan mengetuk dahinya beberapa kali.


“Anda belok, ya?”


William cekikikan. Selang beberapa detik, ia menjawab, “Entah!”


Reza menelan saliva detik itu juga. Semakin bergidik tubuhnya, apalagi saat William melipat kakinya yang tumpang tindih di antara satu sama yang lain.


“Gila!”


“Hahaha, tentu saja tidak! Sayang sekali ketampanan saya, jika saya serius belok!”


“Lalu? Apa maksud dan tujuan Anda meminta saya menurunkan berat badan? Bukankah, ketika saya jelek Anda punya nilai plus sebagai rival? Lagipula Jeli tidak pernah menyarankan hal itu pada saya sebagai seorang kekasih!”


“Hmm ... begitu, ya. Tapi, ... Anda yakin Jeli tidak pernah sekalipun membandingkan Anda dengan saya? Atau laki-laki lain yang sedap dipandang mata? Secara Jeli seorang nona muda, yang mana pekerjaannya pun selalu mengutamakan penampilan.”


Reza terdiam seketika. Selama ini, Jelita memang tidak pernah merasa terganggu atas tubuhnya yang besar. Terlepas dari hubungan mereka yang telah menjadi sepasang kekasih, apa benar Jelita sudah menerima Reza apa adanya? Ketika sosok sempurna macam William pun hadir, apakah gadis itu sedikit pun tidak melakukan perbandingan?


Sementara Reza yang tengah merenung, mata William mengedarkan pandang ke setiap sudut ruangan. Beberapa foto terpasang, di mana menampilkan seorang Reza dengan keluarga sekaligus para rekan. Ruang kerja itu tampak seperti kamar pribadi juga cukup nyaman.


“Jeli tidak begitu, saya jamin itu,” celetuk Reza tiba-tiba.


William tersenyum. “Ya, untuk sekarang, untuk nanti? Dan apa Anda benar-benar tidak ingin berjuang untuk menjadi lebih baik? Tidak pernahkah Anda memikirkan pandangan orang-orang, yang mana mereka melihat laki-laki besar bersama seorang gadis kecil? Terlebih jika mengingat siapa dan apa sosok Jelita.”

__ADS_1


Reza membisu lagi. Hanya helaan napas berat yang beberapa kali ia lakukan. Tampaknya, ia sudah sedikit terpengaruh setiap ucapan William. Hanya saja, ia sudah pernah berusaha, tetapi semua usahanya seolah sia-sia.


“Lantas, ... apa yang perlu saya lakukan untuk mencapai badan ideal? Dan hal itu sudah sering saya lakukan, tapi semua gagal? Ah! Tidak, tunggu, sebenarnya maksud Anda apa? Kita saling bersaing, Tuan Willi!”


William menghela napas dalam, sembari menatap wajah Reza yang tampak gelisah. “Saya ingin bertarung dengan adil, itu saja.”


“Jelita pacar saya, untuk apa saya bertarung dengan Anda.”


“Karena kalau Anda masih monoton dan berpegang pada keyakinan sendiri, tanpa menimang ucapan saya tadi, saya bisa merebut Jeli dengan mudah.” William tersenyum sarkastik. “Aa ... terlepas dari Jeli yang mungkin bisa menerima Anda apa adanya, apakah ayahnya juga bisa menerima Anda?”


“I-itu ....”


“Jika Anda menerima penawaran saya, saya siap membantu, sekaligus mengajarkan beberapa teknik bela diri. Oh, atau mungkin Anda memiliki ilmu bela diri? Tapi, jika kondisi badan Anda begitu besar, apa Anda bisa melakukan hal itu dengan baik?” William menunjuk foto Reza yang terpasang di dinding sebelah kiri. “Itu, saat Anda terlihat lebih ramping, bukan hal sulit untuk membuat tubuh Anda seperti itu lagi. Karena, pada dasarnya Anda pernah kurus!”


“Saya benar-benar tidak bisa mengerti semua permintaan Anda.”


“Singkatnya, saya ingin bertarung lebih adil. Karena saya tidak bisa gemuk seperti Anda, setidaknya Anda yang bisa setara dengan fisik saya. Lagipula, banyak manfaatnya! Susah banget sih?!”


Karena jika pada akhirnya Jelita enggak menerima gue, loe harus bisa jaga dia, Pengacara culun! William mengembuskan napasnya dengan kasar. Masih hangat di pikirannya perihal penembakan tiga hari yang lalu. Yang mana, harus ada setidaknya dua orang untuk menjaga Jelita dengan baik. Di sisi lain, ia merencanakan permintaan itu agar nantinya Reza siap melindungi Jelita dengan sempurna. Bukan tanpa sebab, melainkan William paham betul jika Jelita tidak akan mudah ia taklukan setelah berusaha melindungi Reza.


“Saya memiliki beberapa kemampuan bela diri, dan sekarang pun jika diminta untuk bertarung dengan Anda, kemungkinan besar saya menang,” ucap Reza sembari menundukkan kepala.


“Tentu, saya juga tahu soal itu. Mana mungkin seorang pengacara yang menangani banyak kasus kriminal, tidak memiliki perbekalan ilmu semacam itu. Hanya saja, jika terbalut lemak, kecepatan dan kemampuan pun akan menurun. Lagipula, jika tidak segera diurus, Anda bisa lebih besar dari hari ini,” jawab William tanpa basa-basi.


Reza mendesis. “Memangnya apa salahnya memiliki badan besar? Kenapa Anda tampak menghina kami?”


“Tidak, saya tidak menghina. Tante saya pun memiliki postur demikian, tapi beliau memiliki pelindung dan orang seperti Om saya tidak pernah memandang fisik. Tapi yang Anda hadapi adalah Presdir besar!”


“Haah ... jadi Anda membantu saya agar diterima oleh Pak Nur Imran?”


William menggeleng. “Tidak, tapi bersaing secara adil di hadapan Pak Nur!” Ia menghela napas panjang, menahan rasa kesal. “Ayolah, jangan hanya tegas di pengadilan. Tapi untuk diri sendiri, sekaligus pacarmu! Kalau enggak, gue beneran mau rebut dia! Ah ... tapi rasanya nggak akan menarik jika semudah itu.”


“Aissh! Orang ini! Kenapa dari tadi seolah merendahkan gue sih?! Oke! Gue terima, kapan latihannya? Di mana? Tempat fitness, kolam renang?”


William tersenyum penuh kemenangan. Usahanya membujuk pengacara itu tidak sia-sia. Kendati ada beberapa ucapan yang rasanya keterlaluan, tetapi cukup bagus hasilnya.


Kemudian, William mengisyaratkan jika nanti ia akan menghubungi Reza. Tak lama setelah itu, ia lantas berdiri. Tanpa kata pamit atau setidaknya rasa terima kasih atas waktu yang Reza berikan, ia berbalik dan melangkah pergi begitu saja. Tentu hal itu menyisakan rasa heran di hati Reza. Beberapa ucapan William pun masih membekas di ingatan, tampaknya ia memang harus memulai hidup lebih sehat. Ya, demi melindungi Jelita dari William sekaligus mencuri hati Nur Imran.

__ADS_1


****


Sebuah ruangan yang remang-remang karena lampu bohlam kekuningan, berada di bawah tanah. Tidak, lebih tepatnya pemukiman kumuh yang posisinya lebih rendah dari pada jalan. Tempat itu cukup tersembunyi, apalagi keberadaannya yang sepi sebab dekat dengan areal pemakaman yang sudah lama tak terawat.


Tampak luar bangunan itu kumuh sekali, banyak dedaunan kering yang berserak seolah tak pernah terjamah tangan manusia. Biasanya tempat seperti itu dijadikan rumah oleh beberapa preman jalanan atau tunawisma.


“Ja-jangan sakiti anakku!” Suara serak seorang wanita terdengar dari dalam.


Ketika ditilisik lagi, di dalam ruang itu dihuni oleh dua orang.


“Tenang aja, dia enggak bakal terluka,” jawab orang yang lainnya dengan suara berat khas pria.


“Tapi kamu memasukkan dia ke dalam list ancaman!”


“Itu salah satu strategiku.”


“Aku enggak percaya sama kamu!”


Pria itu berdiri mendekati sang wanita. Sesaat setelah menatap tajam, ia menarik rambut wanita itu. “Lalu, gue juga percaya gitu sama orang gila macam loe, hah?!”


Sang wanita gemetar luar biasa. Kedua telinganya mendengung beberapa ucapan orang-orang di masa lalu. Matanya yang tadi berkaca-kaca, kini bertambah merah.


“Gara-gara anak loe, gue masuk penjara sekian tahun!” Pria itu mengumpat setelah melontarkan penegasan. Masih hangat di pikirannya bagaimana ia jadi buronan, lalu tersangka penyerangan. Belum lagi, ketika ia masuk ke dalam bui dan mendapatkan perlakuan buruk dari napi lain. “Masa depanku hancur, Nyonya besar!”


Wanita itu semakin gemetar. Tak sanggup menahan tubuhnya yang gemetar itu, ia berteriak-teriak sembari menutup telinga.


“Teriak terooos!” Sang pria melemparkan tubuh wanita itu dengan keras hingga jatuh tersungkur. “Ribet urusan sama orang gila ....”


“Diam! Kalau enggak diam, kubunuh anakmu!” tegas pria itu lagi.


Wanita paruh baya itupun diam seketika. Ia menatap pria itu dengan ketakutan. “Ja-jangan ....”


“Turuti apa kata-kata gue, ingat gimana susahnya loe kabur dari rumah sakit jiwa itu! Kalau bukan gue yang selametin loe, udah habis loe dihajar warga. Diam, tenang, kalau loe nurut anak loe aman. Dendam kita terbalas, Nur Imran dan anaknya itu bakal musnah! Jadi, tunggu aja sampai peran loe gue buat.”


Setelah memberikan penjelasan, pria itu pergi begitu saja. Sementara si wanita masih bergeming bersama bisikan-bisikan yang terus mendengung di telinganya. Kejadian barusan menambah kengerian ruangan kecil itu.


****

__ADS_1


__ADS_2