Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 56-Aturan Baru Nur Imran


__ADS_3

“Masuk ke kamar sekarang ... jangan keluyuran malam-malam. Mulai detik ini, entah kamu atau Jane harus nurut apa kata Papa. Titik! Kalau kamu enggak nurut Papa, dengan terpaksa Papa kirim pengawal buat kamu ataupun Jane. Sekali lagi, masuk ke kamar sekarang!”


Episode 56-Aturan Baru Nur Imran


Tiga hari setelah beberapa insiden teror yang ia dapatkan, menjadi hari damai bagi Jelita. Namun kendati tidak ada teror lanjutan lagi, hatinya masih enggan untuk diajak lebih tenang. Ia merasa jika setelah ini justru akan ada bahaya yang lebih besar. Entah karena sugesti yang masih tersisa atau memang perasaannya memiliki firasat tersendiri.


Dalam kehati-hatian itu, sikap Jelita juga berangsur berubah. Keceriaan yang kerap kali ia tampakkan di mana pun berada, kini justru memudar. Bibirnya yang manis selalu terlihat mengerucut dibarengi dengan wajah muramnya.


“Kak ...?” Dengan ragu-ragu, Jane memanggil nama Jelita sembari membuka kamar kakaknya itu perlahan.


Jelita langsung tersadar dari lamunan. Ia lantas berbalik dan dari jendela itu, ia berjalan menghampiri Jane.


“Jane?” balas Jelita sedikit merasa heran dengan kedatangan Jane. “Ada apa?”


“Mm ... enggak ada apa-apa, Kak, cuma ... cuma Kak Jeli baik-baik aja?”


Jelita terdiam. Benaknya terbayang kejadian tiga hari silam, saat ia mendorong tubuh Jane sampai terpental. “Enggak apa-apa, Jane, Kakak baik-baik aja,” jawabnya berbohong.


Jane tidak langsung percaya atas jawaban itu. Terakhir ia berbicara pada Jelita sebelum malam ini, kondisi kakaknya tersebut terlihat sayang shock akan sesuatu. Namun kendati tidak mempercayainya, Jane tidak bisa berbuat banyak, lantaran ia cukup tahu diri. Terlebih, saat ia mengingat bagaimana sikapnya saat memaki Jelita. Rasanya, Jane sudah sangat keterlaluan.


Karena memikirkan segala kerisauan hati sekaligus rasa bersalah itu, akhirnya Jane memutuskan untuk undur diri. Kakinya yang sempat ingin ia laju maju, kini justru berbalik. Tanpa pamit dan bergerak serba salah, Jane keluar dari kamar itu.


Tangan Jelita terulur ke depan, hendak menahan lengan Jane, tetapi ia urungkan. Pada akhirnya, Jelita tidak bisa menahan kepergian Jane sebab teringat akan ancaman beberapa hari yang lalu. Yang mana berkaitan dengan diri Jane. Mau bagaimanapun, Jelita tidak bisa membahayakan diri adiknya itu. Akan lebih baik, jika ia dan Jane saling menghindar hingga sang pelaku ditemukan.


Jelita menekan pelipisnya dengan kuat sembari bergumam, “Siapa dalang di balik semua ini? Dan akankah tiga hari ini dia enggak bakal balik lagi? Tapi, ... kenapa aku ngerasa bahaya besar justru akan muncul lagi?”


Tepat ketika Jelita menyelesaikan gumaman yang berisi tiga pertanyaan itu, ponselnya berdering. Mata gadis perancang yang juga seorang nona muda itu reflek membelalak. Ia menelan saliva seiringi gerak kepala yang menatap ponsel di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Bibir Jelita mendadak bergetar, kekhawatiran juga mencuat dari dalam dirinya. Sebab ia takut jika penelepon adalah pelaku peneror.


Dengan napas yang memburu sekaligus getaran hebat di tubuhnya itu, Jelita melangkahkan kaki perlahan. Ketegangan terus saja menggerus keberanian. Alih-alih menatap layar ponsel yang seharusnya sudah tampak oleh matanya, ia justru memilih terpejam. Lalu, tangan kanannya terulur dengan ragu-ragu untuk meraih benda persegi panjang tersebut.


Tanpa membuka matanya, Jelita menekan tombol hijau untuk menjawab.


“Ha-halo ...,” ucap Jelita lirih ketika ponsel telah ia letakkan di samping telinga.


“Halo, Dek, Assalamu'alaikum,” jawab seseorang dari kejauhan sana.


Mendengar suara tak asing yang sejatinya milik Reza, kedua mata Jelita reflek terbuka lebar. Detik berikutnya, ia menghela napas lega sebab bukan si pelaku teror.


“Wa'alaikumssalam, Kak. A-ada apa, Kak?”


“Ada apa? Mm ... kamu yang ada apa? Suara kamu kok aneh gitu? Kamu sakit?”

__ADS_1


“Ah ... en-enggak kok! Jeli baik-baik aja, Kak.”


“Ya syukur kalau begitu. Maaf ya, Dek, belakangan Kakak enggak ada waktu banyak buat kamu. Kangen sih, tapi agenda harian makin banyak.”


“Enggak apa-apa, Sayang, 'kan lagi sibuk kerja bukan main. Mm ... kalau gitu kita ketemu yuk, kalau udah ada waktu.”


“Mm ... udah ada waktu kok. Kakak udah di depan rumah kamu, mau masuk kata kamu belum izin papa kamu kemarin. Kakak masuk aja, ya? Enggak apa-apa, 'kan?”


“Jangan dulu! Papa ada di rumah, biar Jeli yang keluar!”


“Emang kenapa sih?”


“Mm ... aa ... mm ... po-pokoknya tunggu Jeli di depan aja.”


Jelita menutup panggilan itu secara sepihak. Ia terdiam sejenak, sementara benaknya terbayang permintaannya pada Reza untuk bersabar guna menemui ayahandanya. Sebab bagi Jelita, sebelum urusan perjodohannya dengan William belum diselesaikan, keadaan akan semakin runyam jika Reza justru datang. Apalagi, jika Nur Imran malah memberitahukan kebenaran pada kekasihnya itu, sudah pasti perdebatan akan terjadi.


Tanpa mengenakan make-up, Jelita segera menyambar tas jinjing kesayangan. Beruntung pakaian yang ia kenakan saat ini cukup pantas untuk keluar. Ia melangkah cepat keluar dari kamarnya itu. Tak peduli waktu yang sudah sampai di 20.00 WIB, ia tetap bertekad untuk bertemu Reza. Kakinya terus berlari menuju elevator di rumah itu.


Namun ketika sampai di lantai dasar, laju kaki Jelita justru dihadang oleh Nur Imran. Ayahandanya itu tengah berkacak pinggang dan berekspresi tegas.


“Mau ke mana kamu, Nak?” tanya Nur Imran.


Jelita reflek menelan saliva. Kendati merasa tak biasa atas sikap ayahandanya, ia tetap merasa takut.


“A-anu, Pa, ke butik,” jawab Jelita berbohong.


“Jangan bohong! Mau ke mana kamu malam-malam begini? Selama ini Papa kurang memperhatikan bukan berarti terima gitu aja, ya. CCTV di rumah banyak, Papa tahu kamu sering keluar malam, termasuk Jane. Sekarang enggak boleh lagi.”


“Ta-tapi, Pa, Jeli mau ke butik beneran!”


“Kamu pikir Papa begitu bodoh, sampai harus percaya sama kebohongan kamu? Kamu mau main sama cowok, 'kan? Ini sudah malam, Jeli!”


Jelita terkesiap, tetapi ia tetap menjaga sikap agar kecurigaan ayahandanya itu tidak terbukti. “Papa ngomong apa sih?”


“Papa ngomong apa? Ya, Papa ngomong sesuai fakta!”


“Papa ke-kenapa sih?! Bi-biasanya enggak begini, 'kan? Kenapa tiba-tiba marah-marah? Padahal Jeli beneran mau ke butik.”


Nur Imran menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, sebab sudah ketahuan anak pertamanya itu masih saja berbohong. Padahal selama ini ia tidak banyak menuntut ini itu, tetapi detik ini ia justru mendapati Jelita tengah menipunya. Memangnya salah jika seorang ayah marah-marah? Terlebih ketika seorang putri akan keluar di waktu yang sudah malam.


Belum lagi belakangan ini, Nur Imran mendapatkan pesan ancaman. Karena nomor yang selalu diganti, ia kesulitan untuk melakukan pelacakan. Ia hanya ingin melindungi kedua putrinya itu saja, tetapi tampaknya mereka sudah terbiasa akan kebebasan.

__ADS_1


“Masuk kamar, Jel,” titah Nur Imran.


Jelita menggeleng. “Enggak, Pa, Jeli beneran ada urusan penting. Maaf, Pa,” jawabnya.


Kemudian, gadis itu kembali melangkahkan kaki.


Melihat Jelita yang keras kepala, Nur Imran naik pitam. “Papa bilang masuk kamar!” Suaranya meninggi ketika mengulangi perintahnya, sampai-sampai langkah sang putri kembali terhenti. “Kamu udah nggak mau dengerin Papa?! Inget, Jel, kamu calon istri orang! Jaga harga diri kamu!”


Jelita tersinggung. Ia berbalik badan, kemudian membalas tatapan tajam ayahandanya itu. “Iya, Jeli calon istri orang, tapi bukan Willi! Jeli enggak mau dijodohin! Kenapa Papa masih berharap atas perjodohan itu sih?!”


“Papa enggak pernah menuntut kamu apa-apa, Nak! Hanya itu! William! Dari keluarga pengusaha, memangnya pacar kamu sekarang seorang pengusaha? Setidaknya bantu Papa menjaga perusahaan yang Papa bangun dari nol, hanya itu Jelita ...!”


“Oh ... jadi perusahaan lebih penting daripada anak? Sampai-sampai Jeli dijual sama anak pengusaha? Memangnya kenapa sih, kalau Jeli punya pacar pengacara? Yang penting Jeli bahagia, 'kan? Kenapa Papa ikut campur?!”


“Pengacara? Pengacara enggak bisa bantu bapakmu, Jel, pokoknya kamu harus sama William! Itu yang Papa minta sebelum Papa mati, Jel!”


“Papa?!”


“Masuk ke kamar sekarang ... jangan keluyuran malam-malam. Mulai detik ini, entah kamu atau Jane harus nurut apa kata Papa. Titik! Kalau kamu enggak nurut Papa, dengan terpaksa Papa kirim pengawal buat kamu ataupun Jane. Sekali lagi, masuk ke kamar sekarang!”


Nur Imran menghela napasnya. Ia menatap Jelita untuk terakhir kali, sebelum akhirnya ia pergi. Sementara Jelita masih tidak menyangka dengan sikap ayahandanya itu. Bagaimana bisa, perihal jodoh pun diatur oleh orang tua? Ia tahu jika selama ini Nur Imran tidak pernah menuntut ini itu, tetapi sekalinya menuntut mengapa soal jodoh?


Dari lantai dua, Jane menyaksikan pertengkaran kakak dan ayah tirinya itu. Terlepas dari rasa sakit sebab Nur Imran terus bersikukuh menjodohkan Jelita dan William, ia merasa khawatir pada hal lain. Jika jam keluarnya sudah diatur oleh ayahandanya itu, sudah pasti misi mencari ibundanya tidak akan berjalan dengan lancar. Entah Jane ataupun Jelita sama sekali tidak terima dengan aturan baru itu, tetapi keduanya tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang. Sebab jika membangkang, hidup mereka akan diawasi oleh para pengawal.


Tanda pesan masuk terdengar di ponsel Jelita, sehingga mampu memecah keheningan. Ia pikir adalah Reza, tetapi justru nomor tidak dikenal. Otomatis, kedua matanya membelalak. Teror telah kembali!


Nomor tidak dikenal : Apa kabar, Sayang? Sudah rindu padaku? Aku siap menjabik-jabik dirimu. Jadi, persiapkan dirimu baik-baik mulai sekarang, karena waktu istirahat sudah kelar.


Tangan Jelita mendadak gemetar, sehingga ponsel yang ia pegang pun terjatuh. Firasatnya selama tiga hari ini benar, bahaya kembali datang! Dan kemungkinan lebih besar!


****


Di luar istana megah Nur Imran itu, Reza semakin dirundung gelisah. Bagaimana tidak, jika kekasih yang ia tunggu justru tidak kunjung keluar. Ada kecemasan yang menggelitik hati Reza, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara gerbang besar rumah itu justru tertutup dengan rapat.


“Hmm ... kayaknya Jeli ada masalah, mungkin ketahuan papanya. Sepertinya, meluluhkan hati Pak Nur emang nggak mudah. Gue enggak bisa masuk gitu aja dalam keadaan badan kayak gini,” gumam Reza.


“Hmm ... apa gue bener-bener harus terima tawaran cowok itu, ya? Memalukan sekali!” lanjut pengacara itu.


Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena Jelita yang sepertinya ada kendala, ia memutuskan untuk pulang saja. Namun, ketika ia hendak memutar stir mobilnya, kedua matanya justru menangkap keberadaan seseorang.


Orang tersebut berpakaian serba hitam, lengkap dengan topi di kepalanya. Ia tidak menggunakan masker wajah, tetapi karena berada di tempat yang gelap wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Orang yang secara visual merupakan seorang laki-laki tersebut mengarahkan pandang menatap kediaman Nur Imran.

__ADS_1


“Aaah ... pegawai Pak Nur emang banyak banget, sampai lupa ada yang belum masuk. Orang kaya mah beda,” gumam Reza. Setelah itu, ia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk melaju kendaraan. Sama sekali tidak ada kecurigaan di hatinya atas orang tersebut. Reza pikir pria misterius itu adalah seorang pengawal atau petugas keamanan di kediaman Nur Imran.


****


__ADS_2