Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 64-Analisa


__ADS_3

“Gue harus cari tahu sendiri, tanya sama mereka bertiga pasti nggak membuahkan hasil. Pertama, gue cari tahu dari beberapa teman dia, tanpa menimbulkan masalah.”


Episode 64-Analisa


Pikiran Reza masih terganggu atas insiden kemarin pagi. Terlebih ketika ia mendapati dua kamera CCTV dalam keadaan rusak parah, seperti sengaja dipukul dengan suatu benda. Ia mengetahuinya ketika tengah mendongak, sesaat sebelum beranjak dari butik Jelita. Namun pada saat itu, Reza tidak bisa bertanya apa pun lantaran belum lama menyudahi pertengkaran. Alhasil, ia menyimpan rasa heran hingga sekarang.


Ya, untuk sekarang, untuk nanti? Dan apa Anda benar-benar tidak ingin berjuang untuk menjadi lebih baik? Tidak pernahkah Anda memikirkan pandangan orang-orang, yang mana mereka melihat laki-laki besar bersama seorang gadis kecil? Terlebih jika mengingat siapa dan apa sosok Jelita.


Terngiang kalimat yang diucapkan oleh William beberapa hari silam. Juga, bagaimana pria itu terus mendesak Reza dalam hal menurunkan berat badan. Ditambah beberapa hal aneh yang terjadi belakangan. Insting pengacaranya muncul seketika.


“HP sengaja dibuang, tangan Jeli yang gemetar. William yang mendesak diet, sekaligus melatih ilmu bela diri. Wajah cowok itu yang memar, lalu kebersamaan mereka sepagi itu? CCTV pecah?” Reza memangku dahinya menggunakan kedua tangannya. “Kalau dipikir-pikir terlalu nggak pantes kalau hanya kebetulan, 'kan? Pasti ada sesuatu. Mereka ... merahasiakannya.”


Reza menelan saliva. “Kenapa? Kalau dugaan gue bener, kenapa justru William yang tahu dan terlibat? Kenapa gue nggak dikasih tahu?”


“Siapa dan apa Jelita? Nona muda, selebgram, perancang busa ... na? Tunggu! Apa ada sesuatu yang menimpa Jeli?” Dahi Reza mengernyit dengan jelas. Pikirannya dipacu untuk menganalisis beberapa kejadian aneh itu. “Gue harus cari tahu sendiri, tanya sama mereka bertiga pasti nggak membuahkan hasil. Pertama, gue cari tahu dari beberapa teman dia, tanpa menimbulkan masalah.”


Reza mengepalkan telapak tangannya diiringi ekspresi wajah yang tegas, penuh keyakinan. Jika tidak dapat mendengar sebuah kejujuran, maka ada jalan lain untuk mengetahui rahasia itu. Sepertinya mereka lupa akan siapa Reza yang sebenarnya.


Memang bukan seorang detektif, tetapi sebagai pengacara nomor satu di forum milik pamannya sendiri, Reza tak pernah melewatkan penyelidikan untuk mencari bukti. Dan karena itu, ia selalu sukses dalam memenangkan kasus yang ditangani. Serendahnya, mungkin hanya mengurangi hukum pidana yang menimpa kliennya.


Tak lama kemudian, Reza memutuskan untuk keluar dari ruangan pribadinya. Menyeduh secangkir kopi menjadi tujuan. Dengan sikap cuek sekaligus angkuh, pria itu bergerak membuka pintu. Namun, belum sempat melanjutkan langkahnya, mata Reza justru menangkap keberadaan seorang artis terkenal.


“Bud?” ucap Reza memanggil rekannya.


Budi menoleh ke arah Reza sesaat setelah memberikan salam hati-hati pada kliennya tersebut. “Ya, Ja? Kenapa?” balasnya.


Reza memutar arah. Ia menghampiri Budi yang saat ini tengah menghampirinya pula.


“Siapa tadi?” tanya Reza sembari menunjuk pintu keluar.


“Napa emang? Cantik, ya? Loe udah punya Nona Jelita, inget!”


“Nggak, gue nanya doang, Bud! Bukannya dia ...?”


“Iya, si Bunga Cita, artis sinetron sekaligus penyanyi itu.”


“Ada masalah apa dia?”


“Kepo loe, Ja!”

__ADS_1


Reza menarik lengan Budi yang hendak pergi. “Gue serius, Bud!”


Mata Budi memicing tajam. Sebenarnya ia merasa heran dengan sikap Reza yang tiba-tiba. Tidak biasanya, rekannya tersebut kepo tentang klien orang lain. Budi menyimpulkan jika ada sesuatu yang ingin Reza selidiki, meski ia tidak tahu tentang hal di balik sikap itu.


“Kasus perceraian?” lanjut Reza dengan ekspresi penuh harap.


Budi lantas melepaskan cengkeraman tangan Reza. Kemudian, ia memasukkan kedua telapak tangannya itu ke dalam kantong celana. Sesaat setelah menghela napas, Reza menjawab, “Do'i belum nikah, Ja, kudet banget loe?”


“Sorry ... terus? Gue juga nggak mau tahu sebenarnya, cuma dia 'kan orang terkenal. Sama kayak cewek gue.”


“Nona Jelita ada masalah?”


“Entah ... gue lagi cari tahu,” bisik Reza.


Budi manggut-manggut. “Teror.”


“Teror?”


“Iya, ayo ke dalam, gue nggak enak sama Pak Alif nggosip di sini.”


“Oke.”


Meski tidak seluas ruangan Reza, ruangan Budi termasuk nyaman untuk disinggahi. Penataan berkas begitu rapi, sofa berjejer dalam keadaan bersih. Di sini, Reza menelan saliva sembari menahan rasa minder. Ya, tentu saja ia merasa demikian, sebab di dalam ruangannya banyak berkas yang justru berantakan.


Reza tidak mau dibantu untuk merapikan ruang kerjanya. Sebab, jika sudah tersentuh tangan orang lain, berkas penting akan sulit untuk dicari. Dengan begitu, Reza hanya membiarkan semua dokumen itu berserak tak menentu.


“Duduk,” titah Budi dengan angkuh.


Reza mendesis pelan sembari menggelengkan kepala. Kemudian, ia baru menduduki salah satu sofa. Sementara itu, Budi justru sibuk mencari sesuatu di mejanya. Tampak belakang pria itu terlihat gagah dengan bahu yang besar. Namun bukan karena gemuk, melainkan otot-otot yang terbentuk berkat kebiasaan olahraga. Melihat itu, Reza kembali merasa ciut. Terlebih ketika, ia memandang perutnya yang muncul ke permukaan.


Berasa jadi kingkong gue, kalau lihat perut dan badan atletis mereka-mereka.


Budi terpekik tiba-tiba, diiringi tawanya yang menggelegar. Sikap pria itu membuat Reza tersentak, dan lantas bersikap tegak. Tak lama setelah itu, Budi menghampirinya sembari membawa tumpukan berkas.


”Nih!” ucap Budi sembari melempar tumpukan kertas penting ke hadapan Reza.


Sekilas, Reza menatap Budi dan lantas memeriksa barang tersebut. Satu persatu ia buka. Kedua matanya sibuk naik turun untuk membaca.


“Sejak kapan ini terjadi?” tanya Reza.

__ADS_1


Budi menghela napas. “Lima bulan terakhir. Awalnya dia mau tunda tuntutan, karena mikir kalau itu hanya iseng. Tapi, lima bulan berjalan teror tersebut semakin menjadi-jadi,” jelasnya.


“Loe tahu pelakunya, Bud?”


“Salah satu fans fanatik do'i, Ja. Tapi, soal identitas si pelaku belum bisa dipastikan.”


Dahi Reza berkerut samar. Ia menghentikan pergerakan tangannya. Dengan menatap Budi, Reza bertanya, “Kok bisa fans?”


“Zaman sekarang fans fanatik begitu, Ja. Nggak semua, tapi ada beberapa. Seolah-olah, idola adalah milik mereka. Dengan cara meneror tentu membuat si artis ketakutan, dengan begitu si fans bisa ngendaliin hidup si artis ini. Coba buka paling belakang, ada beberapa bukti teror.”


Pandangan Reza kembali teralih pada berkas-berkas yang ia pegang. Atas saran Budi, Reza membuka bagian belakang. Tampak beberapa foto bukti atas insiden teror yang menimpa Bunga Cita. Di antaranya; chat berisi ancaman bahwa Bunga hanya milik pelaku tersebut, mawar merah yang telah dicat hitam, kaca jendela mobil milik sang artis yang pecah karena dilempar batu, terakhir kalimat besar berisi kalimat lamaran yang tertulis dalam spanduk. Spanduk tersebut terpasang di gerbang rumah Bunga Cita dan sepertinya si pelaku datang ketika dini hari sekitar jam satu sampai dua pagi.


Reza menghela napas panjang. Ingatannya kembali pada kejadian-kejadian aneh yang menimpa Jelita. Jika yang terjadi pada Bunga Cita, juga terjadi pada kekasihnya itu, mengapa tidak mengatakan padanya? Dan lantas pada William yang sejatinya bukan siapa-siapa. Apa keadaan tubuhnya yang besar membuat Jelita ragu untuk meminta pertolongan? Kedua pertanyaan itu memenuhi benak Reza. Namun ia mencoba untuk tidak berprasangka, sebab belum bisa memastikan yang sebenarnya.


“Pelakunya?” Reza kembali pada topik pembicaraan.


Budi menghela napas lagi. “Belum diketahui, Ja!” jawabnya.


“Polisi?”


“Polisi lagi nyelidikin, Ja. Tapi, ... CCTV dirusak sama pelaku, jadi penyelidikan menjadi terkendala.”


Hati Reza terenyak, dadanya turut sesak. CCTV dirusak? Kejadian yang sama terjadi di butik Jelita. Cara itupun sepertinya kerap dilakukan oleh sang pelaku untuk menghilangkan jejak.


Semua rentetan kejadian disusun satu persatu oleh Reza menjadi sebuah analisa, yang kemudian membentuk hipotesis atas dugaan itu sendiri. Dengan kata lain, Reza perlu membuktikan kebenarannya sesuai kejadian aneh yang ia ketahui belakangan ini.


“Oke, Bud, thanks! Lancar, kasus ini semoga menang. Jangan sampai malu-maluin nama forum kita,” ucap Rexa sembari berdiri.


Budi mendengkus. “Loe terlalu ngeremehin gue, Ja!” tandasnya.


“Si pintar akan meremehkan si bodoh yang tertinggal, ungkapan yang tepat 'kan buat kita?”


“Hais! Pergi sonolah!”


Reza tak menyahut lagi. Ia segera pergi dari ruangan tersebut. Ada beberapa hal yang harus ia selidiki. Jika benar, Jelita mengalami kasus serupa menimpa Bunga Cita, sungguh! Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Sebab, selain tak diberi tahu sebagai seorang kekasih, William yang bukan siapa-siapa justru seolah tahu akan segalanya.


Hei, jangan nuduh sembarangan kalau enggak becus jaga anak orang!


Berikut ucapan tegas William yang terus mendengung di telinga sang pengacara. Tentu menambah nikmatnya rasa curiga yang mencengkeram hatinya.

__ADS_1


****


__ADS_2