
“Kamu meminta Jeli merombak rancangan, meminta bahan-bahan mahal terus dibatalin setelah barang itu hampir rampung? Gila ya kamu, Ris! Pantes, kalau dia semarah itu. Sampai kapan kamu kekanakan begini, Risa, belum puaskah kamu berulah di rumah ini! Hah?!”
Episode 24-Kemarahan Reza
Jelita merogoh tasnya demi mencari keberadaan ponsel. Kemudian, ia mulai mencari nomor kontak milik Sunar—kepala pelayan di rumahnya.
“Pak Sunar, tolong siapkan laporan atas penipuan sekaligus tindakan tidak menyenangkan buat Jeli atas nama terlapor Risa dari pihak Nugraha,” ucap gadis perancang itu sesaat setelah meletakkan ponsel di telinganya.
“Oh! Dan, hubungi Papa sekarang juga. Jeli masih sibuk, bilang sama Papa soal kerja sama dengan pihak Nugraha harus dipertimbangkan lagi,” tambah Jelita.
Detik berikutnya, ia berangsur menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel dari telinganya. Senyumnya terulas sinis menatap pria bertubuh gempal di hadapannya, kemudian berpindah ke arah Risa yang saat ini tengah gemetaran.
“Jeli ...?” lirih Reza, tidak menyangka sebab Jelita bukan hanya sekedar bicara.
Jelita acuh, ia memilih menghela napas panjang. Lalu, senyum yang tadinya sinis kini berubah manis. “Terlepas dari kecintaan saya terhadap Tuan Pengacara, saya tetap punya harga diri. Saya bukan sosok yang bisa dibutakan oleh cinta, apalagi oleh Anda yang tidak pernah menghargai hati saya!” tegas gadis itu.
Reza menjadi terkesiap. Sosok gadis yang memang ia kagumi itu sangat kontras dengan beberapa waktu yang lalu. Kali ini, Jelita terlihat tegas bahkan menakutkan. Paras imut tak lagi terpancar, melainkan paras serius penuh kekecewaan.
Jelita mulai mengambil langkah, tidak peduli dengan rengekan Reyna yang sejak tadi meminta belas kasihan padanya. Ia tetap berjalan untuk keluar dari rumah itu. Namun ... langkah Jelita kembali berhenti dua meter sebelum sampai di letak pintu.
Gadis perancang itu berbalik badan. Ditatapnya para penghuni rumah satu persatu. Terakhir, ia menatap Reza kemudian berkata, “saya siap melawan Anda, Tuan Pengacara! Dan ....” Jelita menatap Risa. “Persiapkan diri Anda ketika ada penjemputan, Nona Risa.”
Setelah selesai memberikan pernyataan itu, Jelita kembali berbalik. Langkahnya berangsur mengayun. Hingga akhirnya, ia benar-benar keluar dari rumah itu. Suara mobil yang dinyalakan pun terdengar, sampai menjadi hilang sebab sang nona muda sudah benar-benar pergi.
Sepeninggalan Jelita, Risa menjadi ketakutan. Tidak menyangka sikapnya justru membuatnya masuk ke dalam jurang bahaya. Ia menggigit bibir bawahnya, sembari mendekati Reza.
“Kak ...?” lirih Risa. Ia mencoba menyentuh lengan sang kakak. “Kakak serius mau belain aku, ‘kan?”
Reza tidak menyahut, meski ia memberikan tatapan sekilas ke arah Risa. Ia memilih menghindar—menghampiri salah satu kursi tamu. Kemudian, ia duduk di sana diiringi gerak tangan yang menekan keningnya.
Reyna yang masih diliputi kegelisahan pun, mendekati anak pertamanya itu. Wanita paruh baya itu juga merasa ketakutan. Juga, tidak menyangka Jelita mengetahui perihal kerja sama yang baru dibuat oleh suaminya dan Nur Imran.
“Za, Mama minta tolong bujuk Jeli. Jangan seperti ini, kalau Papa kamu marah gimana, Za? Mama yang salah, Za, Mama yang bikin Jeli kecewa,” ucap Reyna memohon. Kendati demikian, ia tetap menutupi kesalahan Risa yang telah membuat kemarahan Jelita menjadi ada.
Reza mengembuskan napas secara kasar, lantaran tahu jika ibundanya itu tengah menutupi sesuatu. “Jelasin sesuai fakta yang ada, Ma. Jangan nutup-nutupin begitu, Reza tahu bukan Mama yang salah, melainkan Risa. Apa lagi yang dia perbuat?” tanyanya.
Risa berangsur menunduk. Sementara, Dika—calon suaminya—benar-benar tidak bisa berkutik. Bahkan, untuk berucap saja Dika tidak diberikan izin oleh Reyna. Pria yang benar-benar malang.
“Jawab, Ris!” tegas Reza, geram.
__ADS_1
Risa menggeragap. Ia dirundung kebingungan detik itu juga. Namun, tatapan Reza mau tidak mau memaksanya untuk mengakui perbuatannya. “Aku batalin pesanan kebaya dari dia, padahal udah mau rampung. Dan ... bahan-bahan yang aku minta harganya mahal, Kak,” jawabnya lirih.
“Terus?” Reza berangsur berdiri. Ia lebih mendekat agar mendengar dengan jelas ucapan sang adik.
“A-anu, Kak, a-aku juga pernah minta dia buat merombak rancangan. Te-terus, tadi aku bersikap enggak sopan, Kak.”
“Kamu meminta Jeli merombak rancangan, meminta bahan-bahan mahal terus dibatalin setelah barang itu hampir rampung? Gila ya kamu, Ris! Pantes, kalau dia semarah itu. Sampai kapan kamu kekanakan begini, Risa, belum puaskah kamu berulah di rumah ini! Hah?!” Kemarahan Reza sudah tidak bisa ditahan lagi. Bahkan, rasanya ia ingin menampar pipi Risa juga Dika. Penyesalan pun berangsur mengepung hatinya sebab sudah melontarkan tantangan pada Jelita.
Reyna tidak tinggal diam. Ia maju menghampiri kedua anaknya itu. “I-ini salah Mama, Za. Ja-jangan terlalu keras sama adik kamu. Sebentar lagi dia jadi pengantin,” ucapnya membela Risa sebab khawatir jika anak keduanya itu kembali memberikan ancaman perihal bunuh diri.
“Enggak, Ma. Risa udah keterlaluan, gara-gara dia perusahaan Papa juga terkena dampaknya. Kenapa sih, enggak dipikir dulu kalau berbuat sesuatu, hah?!” Reza mengumpat setelah mengatakan itu.
“Aku terus, aku terus, salahin terus!” seru Risa, tidak tahan.
“Emang kamu yang salah!”
Reyna menjadi kewalahan karena pertengkaran kedua anaknya. Bahkan, wanita paruh baya itu sampai menangis sembari memohon-mohon. Sementara Dika mencoba menenangkan calon istrinya.
“Risa muak! Kalian enggak pernah melihat kami, aku dan Dika! Karena apa? Dika miskin? Sedangkan cewek itu kaya, begitu?” Adik dari Reza itu pun mengumpat setelahnya. “Terserah, kalau Kakak enggak mau bantu aku gara-gara dibutakan cinta sama dia. Aku enggak peduli!”
Kemudian, Risa menarik tangan Dika dan berangsur pergi dari tempat itu. Menyisakan kepiluan tersendiri bagi Reyna. Wanita paruh baya itu masih menangis, sembari duduk di kursi tamu. Sedangkan Reza masih uring-uringan. Kebingungan pun meliputi dirinya, sebab bingung harus membela siapa. Antara Risa yang merupakan adiknya, atau Jelita yang merupakan gadis kesayangannya.
****
Reza meraih ponselnya. Ia mencari keberadaan nomor Jelita. Namun, ia menjadi bimbang sebelum melakukan panggilan.
“Enggak, kalau dia enggak mau angkat gimana? Dan kalau tahu gue ada di sini, takutnya malah diusir,” gumam Reza. Detik berikutnya, ia mengembalikan ponsel itu ke dalam saku celananya.
Reza menatap rumah mewah itu sekali lagi. Meski segan bahkan minder, ia harus tetap melancarkan rencananya. Dengan kegugupan yang luar biasa, Reza berangsur membuka pintu mobilnya. Kemudian, ia turun dan membiarkan mobilnya begitu saja. Langkahnya mulai diambil menuju gerbang rumah itu.
Bersamaan dengan datangnya sebuah mobil merah yang berhenti tepat di samping sang pengacara. Gadis yang mengendarai mobil tersebut berangsur membuka jendela. Ada senyum yang terulas manis pada wajahnya.
“Kak Reza, ya?” tanya Jane kemudian.
Reza berangsur mengangguk. Dengan gugup, ia menjawab, “i-iya, No-nona Jane.”
“Ah, santai aja lagi. Ini hanya Jane, bukan Nona Jeli. Yuk, masuk mobil, mau ketemu Kak Jeli, ‘kan? Pintu utamanya terlalu jauh.”
“Tapi ...?”
__ADS_1
“Udah cepet, Kak! Maybe, Kak Jeli udah nungguin di dalam.”
Reza mengusap tengkuknya sebab rasa malu sekaligus gugup masih meliputi hatinya. Namun, ia tetap menerima tawaran Jane sebab tidak ada cara lain untuk memasuki rumah itu.
Benar, pintu utama rumah itu terbilang jauh dari gerbang utama. Tentu saja membuat Reza semakin terpana. Belum lagi ornamen-ornamen indah yang ada di dalamnya, taman-taman asri yang begitu menawan pun ada. Tampak belasan pelayan yang Reza amati. Bagaimana bisa ada rumah dengan sehebat ini? Pertanyaan itu terlintas di benak Reza.
“Kak Reza, boleh enggak Jane tanya sebelum mempersilakan masuk?” tanya Jane tiba-tiba.
Dahi Reza berkerut samar, setelah menatap gadis itu. “Bo-boleh, kok,” jawabnya.
“Kenapa Kakak enggak terima cinta kakakku?”
“E-eh?”
“Why? Kak Jeli cantik, ‘kan? Cerdas, humble, kenapa Kak Reza enggak mau?”
“Karena ... ka-karena, dia ter-terlalu sempurna.”
Jane berdecak. “Alasan macam apa itu? Haish, oke, silakan turun dan kita masuk!”
“Ba-baik.”
Jane memandu Reza untuk memasuki rumahnya. Dan kegugupan masih saja bersarang pada diri Reza. Bukan hanya minder, melainkan tidak enak hati jika sudah bertemu dengan Jelita. Mungkinkah rencana berjalan dengan lancar? Meminta maaf pada gadis itu dan memintanya untuk menghentikan tuntutan.
Kemudian, Jane mempersilakan Reza untuk duduk. Dipanggilnya salah satu pelayan untuk menyajikan hidangan. Gadis itu pamit untuk memanggil sang kakak, membiarkan Reza sendiri sejenak.
Namun ... belum sempat Jane masuk ke dalam elevator, Jelita tampak keluar dari benda itu.
“Kak, ada Reza,” ucap Jane.
Jelita mengulas senyuman. “Aku tahu, karena aku yang membuatnya datang ke sini,” jawabnya seiring senyum sinis yang ia kembangkan.
Dahi Jane berkerut samar. “Aneh deh. Kakak habis ngapain dia emangnya?”
Jelita berangsur menatapnya. “Enggak ngapa-ngapain. Tapi, baru akan ngapa-ngapain. Aku bakal balikin keadaan, Jane.”
Jane mendesis. “Baiklaaah ... goodluck, Kak!”
Sementara Jane yang memasuki elevator, Jelita melanjutkan langkahnya. Gadis perancang itu melangkah begitu tegas. Menuju ruang tamu di mana tamu istimewanya berada menjadi rencana tunggalnya.
__ADS_1
****
Aku up lagi nih, jangan lupa like+jempol+vote ya hehe.