Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 41-Kesadaran


__ADS_3

“Jangan membebani dirimu dengan hubungan seperti ini, Jel. Bukan mau ikut campur, tapi setidaknya kamu harus lebih memahami situasi dan pekerjaan Reza.”


Episode 41-Kesadaran


Jelita menghela napas beberapa kali sembari menahan hawa dingin yang menerpa kulitnya malam ini. Latar keberadaannya adalah di depan gedung kantor firma hukum di mana Reza bekerja. Sudah satu jam ia di sana dan saat ini menunjukkan pukul sembilan malam. Namun yang ia tunggu tak kunjung keluar.


Beberapa saat yang lalu, Jelita masih ditemani seorang security. Mereka berbincang-bincang mengusir hawa sepi. Namun, karena ada tugas penting, security itu lantas pergi. Dan tentu saja membuat sang nona muda yang juga seorang perancang busana itu sendirian.


Jelita tak bisa masuk ke dalam gedung lantaran hari sudah malam. Tentu saja, gedung firma hukum itu sudah ditutup meski ada para pengacara yang masih bekerja. Selain tamu penting yang merupakan kline, tidak diperkenankan untuk memasukinya.


“Nona Jeli?” sapa seseorang yang tiba-tiba sudah sampai di keberadaan Jelita.


Gadis yang sejak tadi menunduk, kini reflek mendongak kepala berharap pria itu adalah Reza. Namun ... harapan Jelita langsung padam seketika karena justru Budi—rekan Reza yang terkenal genit.


Jelita mengulas senyumnya, meski terlihat terpaksa. Kemudian ia berdiri dari duduknya. “Malam, Kak Budi,” sapanya.


Budi mendekap tubuhnya sendiri sembari berusaha gantle di hadapan gadis itu. “Nunggu Reza, ya?”


“Iya, Kak.”


“Ck ck ck, setia banget kamu, Jel. Reza masih banyak kerjaan di dalam. Biasanya sih sampai pagi enggak pulang, biasa kliennya banyak.”


“Mungkin untuk malam ini enggak, Kak.”


Budi menghela napas. Ia yang semoat ingin terlihat jagoan, kini berangsur merasa iba. Matanya menatap Jelita dengan seksama. Gadis itu cukup lelah dan sepertintnya telah menunggu Reza sejak tadi. Oh, andaikan Jelita adalah miliknya, pikir Budi detik itu. Namun sayang, yang ia harapkan sudah milik orang lain. Lagipula, memiliki kekasih yang merupakan nona muda bukanlah perkara mudah.


Kemudian, karena rasa iba semakin pekat menyelimuti dinding hatinya, Budi meraih ponsel dari dalam kantonf celana. Sembari melirik Jelita sesekali, ia mencari nomor ponsel milik Reza. Setelah menemukannya, ia lantas melakukan panggilan pada rekannya tersebut.


“Pacarmu masih di luar, jangan terlalu lama lembur, Za!” ucap Budi ketika panggilannya telah diterima. Tanpa basa-basi, setelah mengucapkan itu ia lantas mematikannya.


Jelita masih membelalak, sebab tidak menyangka Budi akan membantunya. Selain itu, ia cukup malu lantaran terlihat seperti wanita manja.


Budi menghela napas panjang, kemudian ia hembuskan pelan melalui mulutnya. Ditatapnya Jelita dengan lebih seksama lagi. Setelah itu, ia kembali berkata, “Jangan membebani dirimu dengan hubungan seperti ini, Jel. Bukan mau ikut campur, tapi setidaknya kamu harus lebih memahami situasi dan pekerjaan Reza.”


Jelita hanya bisa menelan saliva.


“Juga, soal kemarin dia bolos banyak sekali pekerjaan yang menjadi tersendat. Klien pun merasa kecewa, karena Reza sebagai pengacara yang disewa justru membatalkan janji temu. Apalagi jika urusan kasus menjadi terbengkalai hanya karena urusan cinta.”


“Ma-maaf, Kak.”


Budi tersenyum tipis. “Jangan minta maaf ke aku, aku bukan bagian dari kalian berdua. Aku juga enggak menyalahkan kamu, karena aku enggak tahu sifat kalian masing-masing. Tapi, ... saat melihat kamu di sini sampai malam, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Jangan begitu, boleh aja rindu, tapi ya jangan sampai memaksakan diri apalagi jika sampai menjadi beban untuk Reza.”


Hati Jelita terenyak. Ia merasa tersindir sekaligus tersinggung. Namun untuk menyanggah pun, ia tidak mampu. Budi yang juga berprofesi sebagai seorang pengacara pasti lebih teliti dalam menganalisis perasaan juga sikapnya saat ini. Kini ia sadar jika kehadirannya malam ini justru menambah beban bagi kekasihnya. Bagaimana tidak, jika setelah mengetahui keberadaannya, Reza pasti akan terburu-buru dalam merampungkan pekerjaan. Sialnya lagi, ia tidak memberi tahu.


Sesaat setelah menghela napas dalam, Jelita mengambil langkah untuk pergi. Namun belum sampai dua langkah, lengannya justru ditahan oleh Budi.


“Mau ke mana?” tanya Budi.


Jelita menepis tangan itu karena merasa tidak nyaman. “Pulang, Kak,” jawabnya.


“Reza sebentar lagi keluar, jangan pulang dulu. Nanti malah aku dan dia jadi salah paham. Oke, aku minta maaf kalau perkataanku terkesan lancang, maksudku itu semua untuk ke depannya.”

__ADS_1


“Tap—”


Ucapan Jelita terpotong sebab seseorang tiba-tiba saja menyerukan namanya. Lantas, ia menoleh ke arah pemilik suara itu. Tampak Reza berjalan tergopoh-gopoh dan baru keluar dari pintu gedung firma hukum tersebut. Betapa kentara sekali jika pria itu sangat terburu-buru dan menambah nikmatnya rasa bersalah di dalam hati Jelita.


“Goodluck!” ucap Budi sembari tersenyum. Kemudian, ia memutuskan untuk segera berlalu daripada mengganggu.


Berselang beberapa detik selepas Budi pergi, Reza sampai di hadapan Jelita. Napasnya terengah-engah seperti habis menuruni tangga darurat. Namun itu tidak benar terjadi, karena pria itu masih menggunakan elevator untuk turun. Hanya saja, pemilik tubuh tambun memang kerap kali ngos-ngosan meski jarak berlari hanya sedikit.


“Maaf.” Kata pertama yang meluncur dari bibir Reza setelah ia berhasil mengendalikan napasnya.


Jelita tersenyum. “Jangan minta maaf, Jeli yang minta maaf karena datang ke sini.”


“Kakak senang kamu datang ke sini, Dek. Tapi ... juga khawatir karena udah malam banget! Yuk, Kakak anter pulang.”


“Udah terlanjur di sini masa' pulang?”


“Tapi 'kan, katanya papa kamu udah di rumah?”


”Papa juga lembur sampai pagi, habis perjalanan keluar negeri pasti banyak pekerjaan tersendat. Papa tidur di kantor, di sana ada kamar buat Papa.”


“Wah, sultan mah bebas, ya. Tapi, masa' anak gadisnya malah keluyuran sih?”


“Ini pertama dan terakhir kok, Kak! Jeli janji enggak berbuat gini lagi.”


Reza menghela napas seiring senyuman terulas manis di sudut bibirnya. “Pertama kita cari makan dulu. Seharian enggak ketemu kamu, kangen juga. Jadi, ya udah untuk kali ini Kakak turuti kamu. Lain kali, enggak! Kita cari resto 24 jam.”


Kekasih dari pria itu pun tersenyum senang. Tanpa pikir panjang, ia segera merengkuh lengan Reza. Ia bergelendot manja dan berusaha melupakan sejenak ucapan Budi. Ya, karena bagi Jelita sikapnya hanya akan terjadi malam ini saja. Setidaknya, ia bisa mencerna ucapan Budi dengan sisi positif. Pria itu ada benarnya dan Jelita akan berusaha.


Reza berpikir sejenak. Ada benarnya juga, tetapi ...?


“Enggak deh, Dek. Kakak takut,” jawab Reza.


“Takut?”


“Udah malam, dingin. Takut aneh-aneh sama kamu.”


“Katanya mau jaga aku?”


“Setelah enggak bisa menahan pertama kali, tentu enggak bakal bisa lagi.”


“Hmm ... imannya enggak kuat.”


“Ya gimana namanya juga cowok normal. Justru kamu itu godain Kakak mulu'!”


“Jadi maksud Kakak, Jeli bukan cewek baik-baik.”


“Iya, kalau sama Kakak doang tapi.”


“Ish! Ya udah nikahin aku!”


Meski sempat terkesiap, Reza tertawa mendengar permintaan itu. Ingin sekali ia melamar Jelita, tetapi tentu saja bukan perkara mudah. Akan ada halangan besar perihal restu dari Nur Imran dan tentu saja Reza masih dalam fase sedang berusaha. Jika sudah siap, ia akan melamar gadis itu apa pun rintangannya sekali pun.

__ADS_1


Di sebuah taman yang sudah sepi, Reza menghentikan laju mobilnya. Sikapnya membuat Jelita kebingungan. Makan malam saja belum dibeli, tetapi Reza sudah membuat mobilnya menepi.


Gadis itu berangsur menatap kekasihnya, dengan dahi yang kini berkerut. “Kenapa berhenti?” tanyanya heran.


Wajah Reza menjadi sendu. Ia tersenyum, sembari bertanya, “Kamu udah laper, Dek?”


“Belum, Kak, aku 'kan udah makan di rumah tadi. Justru aku lagi khawatirin Kakak, jadi minta makan malam.”


“Dek ...?”


“Mm?”


Gerakan Reza sangat lembut dengan wajah yang masih saja terbalut sendu. Perlahan, ia memajukan wajahnya. Hingga kedua telapak tangannya merengkuh tubuh Jelita dengan segera. Hembusan napasnya sangat hangat mengenai kulit wajah Jelita. Gadis itu menjadi tak berkutik, darahnya berdesir juga jantung yang mendadak berdegup kencang.


“Kakak kangen kamu.” Bisikan Reza lontarkan tepat di samping teling Jelita.


Namun, Jelita tak mampu memberikan jawaban. Tubuhnya terlanjur tegang. Dan saat ini ia seolah dikendalikan oleh Reza. Ada sedikit takut yang menggelitik, khawatir jika kekasihnya itu berbuat jauh pada dirinya. Namun, ketakutannya tidak mampu ia tepis lantaran tidak kuasa menahan goda.


Tak berselang lama, tangan Reza beralih pada wajah Jelita. Dan ... pria itu memberikan kecupan hangat pada bibir gadis itu. Ia masih berusaha menahan gejolak aneh dalam dirinya untuk tidak berbuat lebih jauh dari hal itu. Rasa rindu karena sehari tidak bertemu, membuatnya tidak bisa menahan diri. Hingga satu menit berlalu, dan ia menyudahi keromantisan itu.


Jelita menunduk sembari sesekali menelan salivanya. Sementara Reza salah tingkah seketika. Diam-diam, ia merutuk dirinya sendiri karena terlalu egois tanpa aba-aba sama sekali.


“Maaf, Dek,” ucap Reza sesaat setelah menghela napas cukup dalam.


Jelita tak menyahut. Ia hanya tersenyum. Setelah ini, mungkin ia akan benar-benar menyudahi kedatangannya di malam hari. Meski terkesan centil dan sering menggoda, pada kenyataannya ia tetap takut jika sesuatu lebih besar akan terjadi.


****


“Antar pulang dengan selamat, Willi. Nanti baliknya kamu naik taksi aja,” ucap Arlan meminta keponakannya untuk mengantarkan tamunya menuju kediaman.


William mengangguk pelan. “Baik, Om,” jawabnya.


“Jane pamit, Om, salam buat Tante dan adik-adik,” sambung Jane sembari menjabat tangan Arlan. Juga, salam yang ia titipkan pada pria itu lantaran Fanni sudah beranjak sejak tadi.


Kendati Jane sudah menolak dengan keras, pada akhirnya Arlan yang menang. Pria hampir separuh baya itu tidak bisa membiarkan Jane mengemudi dalam suasana hati yang sedang tidak keruan. Sehingga, Arlan memutuskan agar William yang mengantarkan gadis itu. Sebab, bagi pria yang sudah memiliki anak pasti akan lebih riweuh.


Kemudian, kedua insan muda itu melangkah bersama. Keduanya lantas masuk ke dalam mobil Jane setelah sampai di hadapan kendaraan roda empat itu. Tanpa pikir panjang dan suasana yang semakin gelap, William segera melaju.


“Ma-makasih, Kak, udah mau antar,” ucap Jane.


William menatap Jane sekilas, kemudian tersenyum. “Jangan sungkan-sungkan, Nona Jane,” jawabnya.


“Jangan panggil nona, cukup Jane aja, Kak. Bu-bukan maksud ingin sok akrab, cuma kita bukan partner kerja.”


“Baiklah, Jane.”


Jane terkesiap. Lalu, berganti terpana. Sesekali ia melirik wajah William yang manis layaknya paras Arlan sebagai paman dari pria itu. Ternyata bukan hanya di lembar foto saja, aslinya pun jauh lebih sempurna. Sayangnya, pria itu akan dijodohkan dengan kakak tiri dari gadis itu.


Jane tersenyum kecut ketika mengingat itu.


****

__ADS_1


__ADS_2