Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 66- Minder Bisa Menghancurkan!


__ADS_3

“Reza, Pak. Sa-saya, ... pengacaranya Nona Jelita.”


Episode 66- Minder Bisa Menghancurkan!


Minggu pagi menjadi kesibukan tersendiri bagi seorang ibu rumah tangga. Terlebih, ketika ia memiliki tiga orang anak. Tentu saja rasa lelah dan pusing menyerang tubuhnya. Tak sepadan dengan sang suami yang enak-enak terlentang di atas ranjang. Kadangkala tidak peka atas kesibukan istrinya.


“Mas! Jaga Aksa dulu, napa? Udah tahu Mbak Yuni mudik, masih nggak peka! Lagian siapa sih yang ngajarin main game? Bener-bener bikin racun!” omel Fanni pada suaminya itu.


“Iya, iya, bentar, Dek. Lima menit,” jawab Arlan yang tak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


“Halah lima menit bakal jadi lima jam, terus aku beres-beresnya kapan? Kok makin tua, makin egois sih?”


“Iya, serius lima menit. Kalau udah mati ini, Sayang.”


Fanni semakin jengkel oleh karena sikap Arlan yang tidak terpengaruh atas ucapannya. Meski kedua putrinya sudah bermain sendiri, tetap saja mengurus rumah akan tersendat jika Aksa tidak mau turun dari gendongan. Selayaknya keinginan istri-istri yang lain pada umumnya, keberadaan suami di rumah bisa sedikit membantu menjaga anak.


“Maaaaaas!” tegas Fanni tak bisa lagi menahan amarah.


Arlan menghela napas sembari mengerucutkan bibirnya. “Bentar sih, Dek. Lagian hari minggu, kamu juga ke salonnya siang nanti, 'kan? Sayang ini kalau mati,” tukasnya.


“Maaaaaaaas! Kelarin nggak? Apa mau aku banting HP-nya? Kamu tuh nggak ngertiin banget sih?! Lagian nggak lama kok, sejam doang. Mau nyuci dulu, belum lagi pakaian di lemari kamu berantakin semua!”


“Tuh, 'kan malah ke mana-mana ngomelnya.”


“Ya emang gitu, 'kan?! Aku 'kan udah bilang kalau ambil baju tuh atasnya diangkat dulu, jangan asal tarik. Jadi nggak berantakan! Percuma dong aku setrikanya.”


“Yak! Yaaaah, Dek! Mati, 'kan! Duh ... udah sejauh ini.”


Fanni terkejut atas respon Arlan yang masih tetap pada game. Kekesalannya sudah tidak bertepi lagi. Air matanya jatuh membasahi pipi. Ia merasa tidak dihargai, tetapi hanya bisa menangis untuk meluapkan perasaannya itu. Suaranya begitu pilu ketika didengar oleh telinga orang lain. Pun pada Aksa—balita mungil yang tampan—turut terenyuh karena air mata ibunya. Dan pada akhirnya, sepasang ibu dan anak itu menangis bersama.


Di titik itu, Arlan mulai menyadari kesalahannya. Lantas, ia melemparkan ponselnya begitu saja di atas ranjang. Dengan gerak malu-malu sekaligus merasa bersalah, ia menghampiri istri dan anak ketiganya.


Arlan memberanikan diri merengkuh tubuh Fanni yang kini bersimpuh di samping ranjang. “Iya, iya, maafin Mas, Dek,” ucapnya lembut.


“Kamu nyebelin!” tandas Fanni sembari meredakan tangisannya. Ia memilih menenangkan Aksa, ketimbang melanjutkan kepiluannya sendiri.


“Maaf, Sayang, Mas khilaf. Sini, Aksa sama Papa dulu.”


“Nggak usah!”


“Dek, maaf sih ...?”


“Nggak mau!”


“Terus Mas harus apa, biar kamu maafin Mas?”


Fanni terdiam, lebih tepatnya merenung memikirkan syarat untuk suaminya. Bukan hanya syarat, tetapi sebuah hukuman. Sementara Arlan masih mencoba merayu-rayu. Jari-jarinya begitu nakal disisipkan pada pakaian sang istri. Sesekali, ia mengecup kening, pipi bahkan bibir.


“Papa nacal ... Papa cahat!” celetuk Aksa sembari menyerang wajah Arlan. Seolah-olah, ia tahu jika ibunya disakiti oleh ayahnya itu.


“Enggak kok, maafin Papa, yah. Sini coba Aksa sama Papa dulu. Biar Mama beres-beres.”

__ADS_1


Ketika Arlan hendak mengambil alih tubuh Aksa, Fanni justru menepis tangannya.


“Enak aja nyuruh aku beres-beres! Nanti pas Aksa kamu pegang, tangan kamu yang lain bakal balik megang game lagi!” omel wanita bertubuh gempal itu.


“Enggak, Dek, janji.”


“Hapus!”


“Eh?”


“Hapus game-nya!”


“Ya jangan dong, Dek. Nggak ada hubungannya, 'kan?”


“Hapus nggak?! Kalau enggak, nggak usah sentuh aku selama satu bulan penuh!”


“Yah, kok gitu?”


“Hapus makanya!”


Arlan menggaruk tengkuknya meski tidak merasa gatal. Dengan berat hati, ia berdiri dan meraih ponselnya dari atas bantal. Sembari melirik Fanni yang mengawasi dengan tajam, Arlan mempertimbangkan keputusan. Menatap sebuah aplikasi game yang sedang tenar, bagaikan menatap sebongkah berlian yang urung dibuang.


“Dek ...? U-udah Mas hapus,” ucap Arlan.


Fanni memicingkan matanya. “Mana coba HP-nya,” pintanya.


Seketika, Arlan menelan saliva. Ia salah tingkah detik itu juga.


“Belum dihapus, 'kan? Jangan bohong kamu! Kalau kamu tahu waktu dan bisa lebih ngerti, aku pasti nggak marah, Mas. Tapi, selama dua bulan setelah kenal game kamu mulai nggak tahu diri!”


“Nggak mau! Pokoknya hapus! Kalau kamu nggak setuju, jangan juga mainin hati bahkan tubuh aku!”


”Duh ... hmmmmmmm!”


Dengan terpaksa, akhirnya Arlan tidak bisa melawan atau sekedar memberikan rayuan. Pada akhirnya, ia menghapus aplikasi game itu. Jika Fanni sedang tidak ada, mungkin bisa diunduh lagi, begitu pikirnya. Namun, sepertinya Fanni sudah menyimpan rencana sendiri untuk hal itu.


“Awas aja kalau download lagi! Aku nggak bakal ....” Fanni sengaja menggantungkan ucapannya.


“Bakal apa?!” balas Arlan dengan sengit.


“Bakal nggak cium kamu selama setahun!”


“Selalu begitu ancamannya, kamu pikir Mas nggak bisa serang hahaha.”


“Ck, udah tua nggak malu sama anak.” Fanni beralih pada Aksa. “Aksa ikut Papa dulu ya, Sayang. Mama mau beres-beres.”


Sebelum mengikuti ayahnya, Aksa memberikan kecupan manis di pipi sang bunda. Setelah itu, ia menghampiri Arlan dengan wajah jutek serta mengerucutkan bibir. Balita menggemaskan itu lantas mencubit kaki Arlan dengan sekuat tenaga, di pikirannya ia sedang menghukum ayahnya. Demi memuaskan hati sang anak, Arlan berpura-pura kesakitan sekaligus meminta ampun.


Sementara Fanni yang menuju ruang belakang, Arlan berjalan menuju halaman rumah bersama Aksa.


Suasana pagi masih segar, terlebih sehabis hujan dini hari tadi. Dedaunan masih basah oleh buliran air, menambah kesan segar atas suasana itu sendiri. Oleh sebab itu, Arlan segera mendekap Aksa dengan erat agar sang putra merasa hangat. Namun, yang namanya balita aktif tidak akan tahan dengan jeratan, ia lantas melepaskan diri dan mencari objek untuk dimainkan sendiri. Di teras rumah itu, Arlan mengawasi dengan mata tak lepas dari keberadaan Aksa.

__ADS_1


“Berani kotor boleh, Nak, biar Mama pusing hahaha. Tapi, jangan sampai dikunyah ya, Nak!” seru Arlan pada Aksa.


Keasyikan ayah dan anak itu menjadi terganggu oleh suara mobil yang memasuki gerbang rumah itu. Pak Edy—tukang kebun—tampak sigap memandu sang pengemudi dari arah yang sama. Tentu membuat si tuan rumah mengernyitkan dahi mempertanyakan siapa tamu di pagi-pagi begini. Bahkan, dirinya saja belum mandi!


“Assalamu'alaikum, Pak,” sapa seorang pria bertubuh tambun dengan santun.


Arlan semakin dibuat heran. “Wa'alaikumssalam, mm ... dengan siapa ya?” balasnya.


“Reza, Pak. Sa-saya, ... pengacaranya Nona Jelita.”


“Reza? Pengacara?” Merasa tidak asing dengan nama itu, Arlan memutar ingatan ke masa lalu. Perihal siapa Reza yang pernah ia dengar namanya, terus ia coba gali dari ingatannya. “Pengacaranya bocah itu?”


Reza menelan saliva. Ah, pengacara dari mana, jika sesungguhnya adalah kekasih dari gadis itu. Namun mengakui hubungannya sepertinya bukan ide yang bagus untuk saat ini.


“I-iya, Pak.” Pada akhirnya Reza tetap mengakui seperti yang ia katakan di awal tadi.


“Mm ...? Bentar, saya nggak bisa ngajak orang asal masuk aja.” Arlan segera meraih tubuh Aksa karena khawatir Reza bukan orang yang bisa dipercaya.


Reza tahu akan kekhawatiran pria dewasa itu. “Ma-maaf, Pak, kalau mengganggu. Saya hanya mampir sebentar untuk bertemu istri Bapak, yang katanya dekat dengan Nona Jeli.”


“Istri saya? Tunggu! Jangan-jangan kamu mau modusin istri saya, ya. Anak itu yang nyuruh pasti, ck, udah lama nggak mampir mau ngerjain tuh anak.”


Reza tercengang berkat respon Arlan. Sepertinya pria itu begitu mencintai istrinya, sampai-sampai memberi dugaan semacam itu. Tentu saja membuat Reza semakin tidak enak hati, takutnya setelah kedatangannya Arlan akan bertengkar dengan sang istri. Dan untuk saat ini Reza tidak bisa menggunakan umurnya sebagai tameng, sebab pria gendut biasanya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.


Seorang Arlan yang cerdik memang sulit untuk dilewati. Tak hanya Reza yang seorang pengacara, Arlan pun bisa menganilisis apa yang dikatakan oleh sang tamu. Baginya, ada sesuatu yang Reza tidak akui, entah apa itu.


“Be-begini, Pak, ad—” Ucapan Reza terpotong seketika.


“Pak, Pak, memang aku ini bapakmu? Kamu cowok yang nolak bocah itu mulu, 'kan?” potong Arlan.


“Hah?! Mm ... i-itu.”


“Kamu mau apa dengan berbohong sebagai pengacara si Jeli? Mau cari info apa dari istri saya?”


“Sa-saya—”


“Ck.” Arlan menggelengkan kepala. “Berani-beraninya yah kamu tolak seorang nona muda.”


“Om! Saya pacarnya Jelita!” ungkap Reza dengan tegas karena tidak tahan setiap ucapan dipotong oleh Arlan.


“Woah! Udah jadi toh?”


“Iya, udah jadi, Om. Udah beberapa bulan.”


Arlan tersenyum penuh makna. Tak berselang lama, ia berbalik badan. Tanpa mempersilakan Reza, ia berjalan begitu saja.


Namun ... baru tiga langkah, Arlan kembali berhenti. Dari posisinya itu, ia menatap Reza dengan cara menolehkan kepalanya. Sementara Reza masih mematung tanpa tahu harus berbuat apa.


“Hei, jangan pernah ragu untuk mengakui hal yang memang benar! Sikap minder kadangkala menghancurkanmu, Nak. Masuk sini, mari bicara,” ucap Arlan.


Reza tertegun sebentar. Ada rasa takjub tersendiri atas sikap ayah dari tiga orang anak itu. Dengan cara menyebalkan, Arlan mampu memancing kejujuran yang ia tutupi. Sepertinya, Arlan juga tahu jika ia minder untuk mengakui hubungan itu sebab bentuk fisik yang tak cocok disandingkan dengan seorang Jelita.

__ADS_1


Lantas, dengan perasaan lega Reza mengikuti langkah Arlan yang memasuki rumah berlantai dua tersebut.


****


__ADS_2