Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 57-Langkah Nur Imran


__ADS_3

“Kedua putriku, pekerjaan mereka membutuhkan nama baik. Mereka cukup dikenal masyarakat luas, akan fatal jadinya jika laporan ke aparat justru bocor ke media. Rumor-rumor aneh akan beredar, kehidupan kedua putriku akan terganggu. Lalu, dengan kesehatan mental mereka ...? Bukankah kita harus memikirkan itu?”


Episode 57-Langkah Nur Imran


“Bagaimana soal penyelidikan itu, Anhar?” tanya Nur Imran pada sekretaris pribadi yang telah menghadap dirinya.


Pria bernama Anhar itu sedikit merundukkan kepala sebagai sikap hormat pada sang atasan. “Mohon maaf, Tuan Besar, kami berhasil melacak nomor tersebut sesuai wilayahnya. Namun, sepertinya tempat itu hanya sebagai tempat singgah sementara. Dengan kata lain, bukan tempat tinggal ataupun asal sang pelaku,” jelasnya.


Nur Imran menghela napas berat. Tentu, kekecewaan begitu pekat menyelimuti hatinya saat ini. Bukan hanya kecewa, melainkan khawatir. Sebab, jika sang pelaku teror tersebut belum ditemukan—kedua putrinya sekaligus dirinya akan ada dalam bahaya berkepanjangan.


Sebenarnya, bukan kali pertama bagu Nur Imran mendapatkan ancaman serupa. Namun kali ini ia merasa ancaman berbentuk teror itu tidak main-main lagi. Sebelum ini, hanya dirinya yang masuk dalam list bahaya. Namun teror yang tengah ia alami detik sekarang, kedua putrinya disebut-sebut oleh sang pelaku.


Anhar mengamati mimik wajah Nur Imran yang sesekali mengerutkan dahi. Sebagai tangan kanan selama belasan tahun dari pengusaha besar itu, tentu ia sudah sangat paham apa saja kebiasaan Nur Imran. Ketika sang tuan tengah marah, khawatir, sedih sekaligus kecewa. Tentu, ketika anak dari Nur Imran dalam bahaya, Anhar juga mengkhawatirkan segalanya.


“Tuan, apa begini saja, kita buat laporan pada pihak aparat. Soalnya, ... kali ini membawa-bawa kedua putri Tuan besar,” usul Anhar.


Sekali lagi, helaan napas cukup dalam diambil oleh Nur Imran. Sesaat setelah menatap Anhar, ia menggeleng. “Tidak, Anhar, jangan buat keributan.”


“Ta-tapi ....”


“Kedua putriku, pekerjaan mereka membutuhkan nama baik. Mereka cukup dikenal masyarakat luas, akan fatal jadinya jika laporan ke aparat justru bocor ke media. Rumor-rumor aneh akan beredar, kehidupan kedua putriku akan terganggu. Lalu, dengan kesehatan mental mereka ...? Bukankah kita harus memikirkan itu?”


Anhar terdiam.


“Lakukan saja sebisa kita, jangan libatkan kedua putriku. Selesaikan masalah ini sampai tuntas!”


Sebagai seorang bawahan, tentu Anhar hanya bisa menuruti permintaan sang tuan. Ia mengangguk pelan, meski tak sejalan dengan hatinya. Namun kendati ragu, Anhar juga sangat memahami segala kekhawatiran Nur Imran. Hingga pada akhirnya, tanpa bisa menampik lagi, ia bergegas keluar dari ruangan itu.


Sepeninggalan sang asisten sekaligus sekretaris andal tersebut, Nur Imran menyandarkan punggung pada kursi kerjanyan. Ia memejamkan mata dengan pikiran yang saat ini berkecamuk. Bukan hanya mengingat berbagai macam teror yang telah ia terima, melainkan juga pada kedua putrinya.


Entah Jelita atau Jane, keduanya justru keras kepala. Mereka berdua hanya memakai cara sendiri dalam bersikap, tanpa menggubris sedikit pun ucapan sang ayah. Hal itu tentu membuat Nur Imran merasa menyesal. Sebab, pengusaha besar tersebut selalu membebaskan segala hal pada kedua putrinya itu. Namun, ketika Jelita juga Jane menikmati kebebasan, ada sesuatu yang tidak bisa mereka turuti meski hanya permintaan sederhana.


Nur Imran membuka matanya segera, ia menghela napas sangat panjang. Kemudian, ia meraih ponsel dari atas meja kerja. Sesaat setelah mencari sebuah nomor, ia melakukan panggilan.


“Brian, saya butuh bantuan kamu,” ucap Nur Imran setelah panggilan tersebut dijawab oleh pemilik nomor yang ia tuju.

__ADS_1


“Tentu, Pak Ketua,” jawab pria bernama Brian tersebut.


“Lacak di mana keberadaan mantan istriku, sekaligus laporkan siapa saja yang ada di sekitarnya.”


“Baik, Pak.”


Panggilan pun dimatikan. Nur Imran kembali duduk tegak, kendati pikiran serta hatinya masih tidak keruan. Ia mengamati beberapa berkas yang seharusnya sudah ditandatangani sejak tadi.


“Tadinya, aku menampik ini ulah wanita itu. Tapi, ... sejauh Anhar melacak para pesaing atau pemegang saham besar, mereka sama sekali enggak mencurigakan. Lalu, apa benar-benar wanita itu? Karena selain dia yang memiliki dendam paling besar, situasi saat ini berbarengan dengan hilangnya dia dari rumah sakit jiwa.”


Nur Imran mulai mencurigai sosok Riris, ketika beberapa kemungkinan dan keadaan sekarang terjadi secara bersamaan. Juga, wanita itu yang tak kunjung ditemukan. Selain itu, Riris memiliki motif paling banyak untuk melakukan hal-hal gila, termasuk mengirim paket jasad ayam di kantornya. Jika bukan orang kelainan jiwa, sudah pasti mustahil untuk terjadi.


****


Hari ini pria itu sengaja mengambil cuti, sebab sang CEO memberikan izin. Ya, setelah berjibaku menangani dua kasus besar mengenai tindak marger dua perusahaan, dan satu kasus lainnya, akhirnya Reza terbebas. Kendati hanya kebebasan sementara, satu hari saja ia mendapat hari libur dari kantor firma hukumnya.


“Kamu enggak apa-apa ninggalin butik dulu, Sayang?” tanya Reza sembari membelai halus rambut poni Jelita.


Jelita mengangguk pelan. “Enggak apa-apa, Kak. Hari ini nggak ada janji sama klien. Jadi, seharian ini mau ngajak Jeli ke mana?” balasnya.


Detik berikutnya Reza menoleh kembali pada gadis perancang tersebut. “Mau nonton?” usulnya.


Jelita menggeleng tegas. “Enggak mau!”


“Hmm ....”


“Nyonya Reyna di rumah?”


“Enggak ada, Dek, Mama ada urusan bisnis tas hari ini. Kenapa? Mau ke rumah?”


“Mm ... kalau boleh sih.”


“Boleh sih, sekalian Risa mau ketemu kamu, Dek.”


“Oh, jadi rencana pernikahan itu?”

__ADS_1


“Tetap lanjut, Sayang, satu bulan lagi. Kemarin 'kan harus ditunda, karena restu papaku belum ada.”


“Oh pantes, enggak ada kabar sama sekali. Jeli pikir batal.”


“Enggaklah, Dek, mereka udah saling mencintai. Meski harus rela menunda pernikahan, tapi harus berjuang daripada batal.”


Jelita manggut-manggut. Sedetik kemudian, ia menatap Reza dengan mata yang memicing. “Kakak mau memperjuangkan Jeli? Sekaligus nikahin Jeli?”


“Itu bukan hal yang harus dijawab, 'kan? Tapi dilakukan!” Reza tersenyum lebar. Kemudian, ia beranjak berdiri. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengajak Jelita untuk segera bergegas.


Kedua sejoli itu kompak mengayunkan kaki. Mereka berjalan menuju area parkir dari sisi kiri butik tersebut. Lantas, setelah sampai di keberadaan mobil milik Reza, keduanya masuk ke dalam kabin.


Kawasan yang berada di zona elit menyajikan pemandangan kota modern yang luar biasa. Tak ada hiruk pikuk yang membisingkan telinga, terkesan lengang. Namun meski dalam kondisi sepi, beberapa kios ternama sering menjadi incaran para sosialita, termasuk butik milik Jelita. Terlebih ketika sebentar lagi ada perekrutan model dari kalangan biasa, butik itu menjadi sorotan tersendiri.


“Hmm ... kalau di sini enggak macet, nanti kalau keluar pasti macet,” celetuk Reza sembari melaju mobilnya.


“Enggaklah, Kak, masih jam segini. Jam operasional, cuma Kakak dan Jeli yang bolos kerja,” sahut Jelita.


“Kakak mah enggak dong, kamu yang bolos!”


“Siapa yang ngajak?”


“Siapa yang mau?”


“Mm ... i-itu 'kan. Aaa! Berdebat sama pengacara mah kalah telak!”


Reza memasang wajah bangga. “Pacarmu hebat, 'kan? Dan pasti selalu siap belain kamu, asal dalam hal kebaikan.”


“Jeli baik kok! Dan pasti akan dibela Kakak terus!”


“Hahaha, bukan lagi.”


Jeli mau banget dibela sama Kakak. Dalam masalah ini sekalipun, tapi Jeli enggak mau Kakak dalam bahaya. Jelita berusaha tersenyum di atas kekhawatirannya. Ada khayal di dalam benaknya, ketika sang pelaku ditangkap ia ingin Reza mendampinginya sebagai pengacara. Sekaligus dengan ikatan cinta itu, ia akan menghukum pelaku itu bersama Reza. Sayangnya, untuk saat ini ia tidak bisa terbuka. Sebab, ancaman itu bukan main-main belaka. Jelita tetap tidak mau jika kekasih kesayangannya itu terlibat!


****

__ADS_1


__ADS_2