Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 70-Menyadap


__ADS_3

“Om Arlan Mahendra Suharsono.”


Episode 70-Menyadap


“Kamu di mana, Jel?” tanya Reza melalui sambungan telepon yang tengah ia lakukan pada ponsel Jelita.


Mendapat pertanyaan itu, Jelita gugup seketika. Meski latar keberadaannya merupakan butiknya sendiri, hari ini pun ia bersama William. Tentu saja, ia merasa sungkan sekaligus tidak enak hati untuk mengatakan suatu kebohongan lagi. Selain karena hal itu, ia takut jika Reza tiba-tiba datang menghampiri kala mengetahui dirinya di butik itu dan tengah bersama pria lain.


“A-aku, masih ada meeting sama klien, Kak.” Pada akhirnya, Jelita kembali berbohong. Ia menggigit bibir menahan rasa getir. Sejatinya, ia hanya tidak mau jika Reza salah paham dan kejadian pagi hari itu kembali terulang.


“Oh, klien, ya?”


“I-iya, Kak.”


“Kenapa suara kamu gugup begitu?”


“Oh, enggak apa-apa kok, Kak. Cuma nggak enak telepon pas sama klien.”


“Hmm ... lebih nggak enak sama klien, ya. Ketimbang sama aku?”


“Bukan begitu Kakak sayang.”


“Nggak apa, aku paham. Ya udah, nikmati pertemuan itu dulu. Bye, Jel!”


Jelita tercengang dengan respon Reza barusan, terlebih ketika pria itu mematikan panggilan secara sepihak. Tak biasanya. Sebelumnya, Reza justru enggan untuk berpisah meski hanya via suara. Namun detik lalu sangat aneh.


Khawatir menyerang hati sang gadis perancang. Lidahnya dibuat kelu sampai tidak bisa berkata apa-apa. Ia sangat takut jika Reza mengetahui kebohongan yang ia lakukan. Lantas, jika itu terjadi langkah apa yang perlu Jelita ambil? Menjelaskan semuanya sudah pasti tidak cukup, karena kadung tidak jujur.


“Kok bohong, Jel?” celetuk William mempertanyakan sikap Jelita pada Reza beberapa detik yang lalu.


Jelita tersentak. Matanya yang sempat menurun, kini justru menatap bingung pada pria di hadapannya itu.


“Kamu akan kesulitan kalau terus berbohong, Jel.”


Jelita menelan saliva. “Terus aku harus gimana, Willi? A-aku baru pertama kali dapat kenyataan buruk kayak gini. Aku terlalu takut melibatkan siapapun, bahkan termasuk Kak Reza, teman-temanku dan siapapun itu. Aku takut! A-aku berbohong untuk kebaikan mereka,” jelasnya.


“Tapi, seenggaknya kamu bisa cerita sama Reza, 'kan? Jujur, aku semakin nggak enak kalau dia salah paham sama kita. Tapi, ninggalin kamu dalam keadaan ini aku sangat enggak bisa.”

__ADS_1


Jelita terdiam, merenungkan perkataan William. Tak bisa dipungkiri kesalahpahaman pasti akan terjadi. Namun sebagai seseorang yang baru pertama kali menghadapi teror mengerikan, tentu saja ia dibuat gelisah tidak keruan. Sugesti yang diberikan oleh si pelaku benar-benar membuatnya ketakutan.


Karena rasa takut itu, Jelita menuruti dengan cara membungkam mulut dan berusaha melindungi mereka semua; Reza, keluarga, termasuk para sahabatnya.


“Semalem, Tante Fanni telepon aku, Willi. A-aku nggak tahu kenapa tiba-tiba Tante Fanni tanya apa aku baik-baik aja. Aku enggak bisa begini, Willi, mereka nggak boleh terlibat,” ucap Jelita.


William mengulas senyum manis. “Aku rasa, Tante Fanni merasa gelisah karena kamu jarang mampir. Untuk sekarang aku masih bisa jaga rahasia, seenggaknya sampai pelaku itu ditemukan. Aku juga berharap, meski aku masih menyukai kamu, tapi alangkah baiknya kalau Reza perlu tahu. Sebelum semua terlambat, Jel.”


Ikhlas melepaskan gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya, itulah yang saat ini William rasa. Namun kendati sudah menyerah, ia belum bisa meninggalkan Jelita dengan alasan yang sama yakni pelaku itu belum tertangkap. Bahkan, ia mengambil cuti satu minggu atas izin Riska demi mencari informasi, atau setidaknya melindungi Jelita.


Justru, saat ini William mulai memperhatikan Jane secara diam-diam. Mungkin lebih baik merespon gadis yang menyukainya, ketimbang terlalu berharap pada kekasih orang. Namun ia masih menunda pendekatan pada Jane , kecuali via chat saja, sebab masih berfokus pada kasus Jelita.


Jelita menelan saliva, kemudian berkata, “Ada satu hal yang enggak aku bilang sama kamu, Willi. Mu-mungkin sesuatu ini bisa sangat membantu penyelidikan kita. Tapi, ....”


“Apa itu?” Dahi William berkerut samar.


“Itu ....”


“Bilang sama aku, Jel.”


“Tapi, kamu, tapi ka-kamu jangan membenci adikku. Tolong.”


Sembari mengangguk, Jelita menjawab, “Iya.”


“Kenapa aku harus membenci Jane karena sesuatu itu.”


“Soalnya ....”


Tak sanggup bagi Jelita melanjutkan perkataan yang seharusnya ia sampaikan. Wajah Jane justru terlukis jelas di benaknya. Membicarakan tentang keberadaan Riris di malam mencekam itu, tentu saja menjadi kekalutan tersendiri.


Jika William—pria yang disukai adiknya itu—mengetahui siapa wanita paruh baya itu, respon apa yang diberikan oleh William? Bagaimana jika pria itu justru merasa jijik?


“Lupakan! Sepertinya bukan sesuatu yang penting,” ucap Jelita pada akhirnya.


William meluruhkan ketegangan dengan cara menghela napas dalam. “Aku bukan orang yang gemar memaksa orang lain. Tapi, sepertinya aku harus keluar dari prinsip itu. Tolong, bilang sama aku, Jel, apa pun yang sekiranya bisa membantu kamu sendiri,” tukasnya.


Mata Jelita berkedip penuh ragu sembari menatap pria tampan itu. Ia dibuat bingung atas keputusan simpang siur di hatinya. Kenyataan lebih buruk dari teror itu, menyebabkan dirinya tersiksa. Wanita tua yang sejatinya ibu kandung dari adiknya itu merupakan salah satu dalang di balik teror mengerikan.

__ADS_1


Dunia sedang mempermainkan Jelita, bahkan realita yang penuh nestapa tak lagi memberikan kesempatan untuknya berbahagia. Sepertinya perlu waktu sangat panjang untuk membentuk senyum lega.


“Jel?” William memasang wajah penuh harap setelah sepersekian detik pertanyaannya mengambang tanpa jawaban. “Ayolah, biar semua cepat kelar dan kamu enggak perlu lagi terjebak dalam situasi ini.”


“Mama,” jawab Jelita singkat.


“Mama?”


“Mm ... wanita berjubah hitam itu bekas mama tiriku. Dengan kata lain—”


“Ibu kandung Jane?”


“Iya, Willi, aku mohon jangan merasa jijik dengan Jane. Di-dia sangat menyukai kamu.” Jelita memohon dengan buliran air mata yang kini membasahi pipi kiri.


“Jane enggak bersalah, buat apa aku benci dia? Aku justru khawatir sama mental dia kalau tahu kenyataan ini.”


“I-itu kenapa, aku baru bilang sekarang. Aku terlalu takut ....”


Derasnya air mata tak terbendung lagi. Kenyataan menyakitkan itu belum bisa diatasi sampai pelaku tertangkap. Namun bagaimana jadinya jika saat itu Jane justru mengetahui sosok di balik penyerangan? Hal itu yang saat ini Jelita juga William pikirkan. Masalah yang seharusnya dianggap sepele, kini justru beresiko besar. Selain membahayakan nyawa, mental pun akan diserang.


Terlepas dari kebersamaan berselimut nestapa antara Jelita dan William itu, Reza termenung di dalam mobil yang terparkir pada halaman toko sebelah butik kekasihnya. Satu kebohongan lagi ia terima. Tak menyangka jika Jelita sampai berbuat seperti itu. Semua ucapan Jelita dan William terdengar melalui alat penyadap yang ia pasang diam-diam— ketika tadi pagi mengantarkan Jelita.


Reza melakukan hal kurang ajar itu sebab tidak tahan lagi menjadi orang bodoh. Seperti yang ia dengar saat ini, Jelita memang sedang melindungi dirinya, sekaligus menghargai niat William. Hanya saja, kebohongan bentuk apa pun tidak bisa dibenarkan. Apalagi jika Jelita justru selalu datang pada pria itu ketimbang dirinya. Apakah Jelita tengah mempertimbangkan perjodohan itu, sehingga sangat mengandalkan William Anderson?


Entahlah!


Reza kurang menerima jika ia dimasukkan dalam list orang yang perlu dilindungi seperti teman-teman Jelita yang lain. Kendati memiliki tubuh gendut, setidaknya ia masih bisa diandalkan. Namun ... Jelita tidak mempercayai kekuatannya.


Reza menghela napas dalam. “Apa kamu masih menyukaiku, Jel? Jika kenyataan saat ini, justru mendorongmu untuk mengandalkan dia—calon suamimu. Selain dari segi pekerjaan, aku juga nggak diberi kesempatan untuk bisa diandalkan.”


“Aku nggak bisa melindungimu seperti William. Papa benar, Pak Nur akan lebih senang jika kamu bersama William daripada pengacara bodoh sepertiku, Jel,” lanjutnya.


Sesaat setelah mengangkat kepalanya dari atas setir mobil, mata Reza mengedarkan pandang. Keberadaan butik milik kekasihnya menjadi fokus utama. Ia mendapati sebuah mobil hitam yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya. Sekian detik menunggu, sang pengemudi keluar dari mobil tersebut.


“Om Arlan Mahendra Suharsono,” gumam Reza. “Kayaknya, beliau emang sedeket itu sama Jeli. Tapi, kok, enggak kasih info banyak? Sebenarnya, hubungan mereka itu apa? Kerabat? Kok orang se-dewasa itu bisa deket sama Jeli?”


“Jangan-jangan ... Suharsono? A-apa ini?” Reza tersadar akan siapa Arlan dari nama belakang pria itu. Sungguh! Terlalu kebetulan jika tidak ada kaitannya dengan Nur Imran, ataupun William. “Papa bilang Pak Nur punya sahabat. Dan Om Arlan tahu perihal teror yang diterima Pak Nur. Nama belakang beliau Suharsono. Lalu, William penerus Harsun Group berikutnya. Yang mana perusahaan itu milik keluarga besar Harsono.”

__ADS_1


Reza menelan saliva. Kedua bola matanya begitu kompak bergerak tidak menentu. “Mereka ... sedang mainin aku? Om itu sengaja nggak ngasih info banyak karena William? Om itu sama William berasal dari satu keluarga besar, keponakan? Atau mungkin William adik dari Arlan Mahendra?” Ia menggertakkan gigi. “Lalu, gue ini siapa? Siaal!”


****


__ADS_2