Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 34-Tertarik


__ADS_3

“Jika kinerjaku buruk, tentu perlahan bisa menghancurkan kalian.”


Episode 34-Tertarik


Baru saja kembali dari pertemuan, pria tampan itu sudah tersenyum-senyum sendiri. Sementara CEO cantik yang masih sibuk bekerja, kini tersadar akan keberadaan sepupunya itu. Kedua orang dari keluarga terpandang tersebut kini berada di dalam suatu ruang kerja yang mewah serta luas.


Melihat, William yang tampak melamun sembari tersenyum, membuat CEO yang merupakan kakak perempuannya itu merasa heran. Tak lama kemudian, ia memilih berdiri. Kemudian, ia melangkah menuju ruang tamu di mana William berada.


“Gadis itu cantik, ya?” tanya wanita cantik itu sesaat setelah sampai di samping tempat duduk William.


“Imut, Kak,” jawab William tanpa sadar. Dua detik berikutnya, matanya sontak terbelalak menyadari pancingan dari kakak sepupunya. Ia mengusap tengkuk belakang sembari salah tingkah detik itu juga. “Ma-maksud Willi ya ... me-menarik, Kak Riska.”


Wanita berkelas dengan jabatan tinggi yang bernama Riska tersebut, mengulas senyum manisnya. Kemudian, ia berangsur duduk di sofa lain yang tepat berhadapan dengan sepupu tampannya.


“Kamu suka dia, Willi?” tanya Riska lagi.


William tertawa kecil, seolah tengah menganggap pertanyaan Riska seperti sebuah lelucon. “Mana ada suka, baru pertama bertemu,” jawabnya berkilah.


“Hmm ... siapa yang tahu, Om Arlan pun suka sama Tante Fanni pas bertemu pertama kali.”


“Iyakah?”


Riska mengangguk pelan. “Pas, Kakak kabur, Om Arlan sempat cerita kisah mereka. Lucu pokoknya.”


“Naksir secara visual aja mungkin, Kak, kalau semacam cinta pasti belum tentu.”


“Ih kamu! Tapi, Willi, sekalipun kamu suka sama Nona Jelita, pasti sulit mendapatkannya.”


“He'em, judes orangnya.”


“Rumor mengatakan, dia paling benci sama orang tampan dan cantik.”


Mendengar rumor itu, membuat William tercengang. Bagaimana bisa, Jelita membenci seseorang karena tampan dan cantik? Padahal, wajah nona muda itu saja termasuk dalam kategori cantik. Namun, William tidak mau dipusingkan oleh masalah orang lain, sehingga ia segera menepis rasa penasarannya.


Berbeda dengen William, meskipun menyandang jabatan tinggi sekaligus seorang istri dari konglomerat nomor satu, sebagai seorang wanita Riska masih gemar bergosip. Sesuai kegemarannya itu, ia kembali melanjutkan perkataannya. “Sama seperti kamu, Nona Jelita memiliki masa lalu yang enggak baik. Kabarnya sih, dia sempat mengalami pembullyan. Mungkin saja, sang pelaku bully merupakan orang-orang dengan tipikal cantik dan tampan,” kisahnya.


Dahi William berkerut samar. “Kenapa dia sampai dibully? Bukankah dia kaya dan fisiknya terbilang menarik?” tanyanya.


Riska tersenyum. “Kalau kamu tertarik padanya, selidiki sendiri kisahnya hihi,” godanya.


“Hah! Enggaklah, Kak, aku hanya memberikan pendapatku bukan karena tertarik! Ada-ada aja,” kilah William sembari tersenyum kecut.


Riska tertawa kecil, sesekali ia masih melontarkan godaan perihal sosok Jelita pada William. Meski terkesan berkilah, tetap saja William tidak bisa menyembunyikan rasa tertariknya pada putri dari Nur Imran tersebut. Riska rasa tujuannya dan para pria dewasa lain, akan berjalan dengan lancar. Hanya saja, kesulitan yang akan didapatkan adalah dinginnya hati Jelita.


Sementara William yang sempat menepis rasa penasarannya perihal masa lalu Jelita, kini justru dirundung banyak pertanyaan. Sesekali ia melirik kakak sepupunya yang seolah tengah mengawasinya. Jika, Riska sedang mengarahkan pandang pada arah lain, diam-diam William memainkan ponselnya. Ia mencari nama akun sosial media milik Jelita. Ketika sudah ditemukan, tanpa sadar ia tersenyum-senyum menatap foto Jelita di laman sosial medianya.


“Cie!” seru Riska tiba-tiba.

__ADS_1


Sontak saja, William terkejut sampai gelagapan dan ponselnya meloncat begitu saja. Selain malu luar biasa, ada sesal karena menatap ponselnya terjun ke lantai ruangan itu dengan bebas.


Riska tertegun turut menatap keberadaan ponsel William di lantai itu. “Aduh maaf, Dekku ganteng. Jadi jatuh deh! Habis lihat apa sih? Nyampe kaget begitu?” ucapnya sok merasa bersalah.


William mendengkus kesal. “Kakak ...!” ucapnya sembari memungut ponsel tersebut.


“Nanti Kakak ganti deh, sekalian Kakak isi info tentang Nona Jelita.”


“Apaan sih! Enggak!”


CEO cantik itu tertawa lebar, mendapati adik sepupunya yang kesal sekaligus merasa malu. Apalagi wajah William benar-benar merah padam.


Beberapa saat kemudian, Riska menyudahi tawanya. Lalu, ia memasang wajah lebih serius, sembari berkata, “Willi, kapan kamu mau gantiin Kakak? Kamu tahu, ‘kan, Kakak pengin jadi ibu rumah tangga dan melihat perkembangan sekaligus pertumbuhan anak. Apalagi, suami Kakak udah kaya raya, harusnya Kakak sebagai istri cukup di rumah aja, ‘kan? Kakak enggak enak sama Celvin.”


William tak langsung menjawab, ia justru termenung. Sejujurnya, ia belum percaya diri sama sekali untuk menggantikan Riska sebagai CEO di perusahaannya. Apalagi, ia belum memiliki pengalaman apa pun dalam dunia bisnis. Selain itu, usianya masih sangat muda dan ia masih belajar di suatu perguruan tinggi. Dengan beberapa pertimbangan itu, apakah dewan direksi juga akan menerima dirinya dengan suka rela untuk menggantikan kedudukan Riska? Pasti ada beberapa petinggi yang merasa keberatan.


Riska menghela napas panjang. Keinginannya untuk pensiun muda, tampaknya masih belum bisa diwujudkan. Ia tahu bahkan paham betul semua pertimbangan William. Apalagi, masa lalu sepupunya itu sangatlah berat. Bertemu ayah yang merupakan adik dari ayah Riska saja, William belum mampu.


“Kenapa, Kak Riska dan Om Gun begitu suka rela ingin memberikan posisi ini? Apa kalian enggak khawatir jika aku balas dendam? Dan membuang kalian semua atas rasa sakitku di masa lalu? Belum lagi, kalian pasti akan kesulitan dengan keberatan para dewan petinggi,” ucap William.


Riska tersenyum. “Kamu masih memiliki dendam itu, Willi? Mm ... papaku ketua dengan saham paling tinggi di perusahaan ini, dewan lain enggak ada yang berani menentang beliau. Lagipula, semua berkas penting papaku yang pegang, kamu enggak bakal bisa membuang kami,” jawab wanita itu dengan tenang.


“Jika kinerjaku buruk, tentu perlahan bisa menghancurkan kalian.”


“Kamu bisa melakukan itu?”


Perlahan, William menggelengkan kepala. “Mungkin, enggak bisa. Tapi, itu hanya sekedar mungkin, Kak,” jawabnya.


Sesaat setelah menghela napas dalam, Riska kembali berkata, “Willi, kamu emang anak dari Om Dian. Tapi, ... entah kenapa kamu justru mewarisi sifat Om Arlan. Bahkan, parasmu hampir mirip dengan beliau. Kadang kalau kepikiran itu, Kakak jadi heran sendiri.”


“Karena selama ini, aku sering meminta penjelasan dari Om Arlan, termasuk pembelajaran hidup. Apalagi, mamaku ‘kan sangat luar biasa. Dan soal paras, bukankah ayahku juga mirip dengan Om Arlan?”


“Mm ... ya, kamu benar, Willi. Soal kedekatan kamu dengan Om Arlan, Kakak baru tahu. Tapi, Kakak selalu yakin kamu orang yang bisa pegang amanat apalagi belajar dari sosok sehebat Om Arlan. Tapi, jangan narsisnya, ya? Makin tua, Om Arlan makin narsis.”


“Haha, bener, Kak. Willi rasa beliau bangga dengan wajah awet mudanya, walaupun sebentar lagi udah hampir 50 tahun. Ah, iya, besok aku mau ke rumah Om Arlan. Kakak mau ikut?”


Dengan wajah yang tiba-tiba sendu, Riska menggeleng. “Pengin, tapi meski hari libur kerjaan Kakak banyak. Juga, ada rencana sama suami dan anak. Nitip salam aja, ya, sama mereka. Udah lama juga Kakak enggak ke sana, kalau Om Arlan ke rumah pasti Kakak lagi enggak ada. Kangen, segede apa Aksa sekarang, juga nggak tahu. Makanya, kamu buruan gantiian aku!”


“Nanti, Kak!”


“Setelah mendapatkan Nona Jelita, maksudmu?”


“Kok dia lagi? Apa hubungannya?”


“Sepertinya sesulit mendapatkan nona itu, untuk menggantikan posisi Kakak!”


William tak menyahut keluhan Riska lagi. Ia memilih diam. Meski, tak lama kemudian ia kembali tersenyum seiring munculnya wajah Jelita di benaknya.

__ADS_1


****


Jelita mengusap telinga kanannya dengan sebal, lantaran sejak tadi tidak berhenti berdengung. Bahkan, ia merutuk seseorang yang kemungkinan sedang membicarakannya. Sikapnya itu, membuat Reza tertegun heran.


“Kenapa sih, Sayang?” tanya Reza.


Jelita berangsur menatapnya. “Kuping aku degung mulu', Kak. Entah, siapa kali yang gosipin aku!” jawabnya.


“Dih, GR banget. Itu karena kamu jarang ngebersihin kali, bukan ada yang gosipin.”


“Ye enak ajak! Jeli rasa, infotaiment deh, secara Jeli ‘kan populer.”


“Enggak!”


“Ha?”


Reza menelan saliva. “En-enggak salah, maksudnya,” jawabnya salah tingkah karena spontanitasnya itu.


Jelita menghela napas lega, kendati ada rasa tak nyaman sebab perubahan Reza yang cukup aneh. Terlebih lagi, ketika ia meminta untuk diantarkan ke butik, Reza justru menahannya untuk tetap bersama. Pada akhirnya, sepasang kekasih itu kompak membolos dari pekerjaan mereka.


Latar keberadaan mereka berdua saat ini, adalah suatu taman yang sepi. Bagaimana tidak sepi, jika waktu masih dalam jam kerja. Mungkin terhitung setengah jam lagi, karyawan-karyawan baru dipulangkan. Kendati berada di suatu taman, keduanya tidak turun dari mobil. Hal itu pula yang membuat Jelita berangsur bosan.


“Pulangin Jeli, Kak! Udah mau jam tiga lho!” pinta Jelita.


“Masih lama, Sayang,” jawab Reza.


“Ih, Jeli bosen tahu!”


Reza yang sejak tadi bersandar, kini sontak duduk dengan tegap. “Kamu bosan denganku?” tanyanya cemas sembari menatap wajah ayu kekasihnya itu.


“Bukaaan! Tapi, dari tadi di mobil terus. Enggak dijajanin lagi!”


“Ya, maaf, Sayang. Kamu 'kan habis makan siang sama Kakak, terus ketemu CEO-CEOan itu di kafe. Mm ... maaf, Kakak enggak peka lagi.”


Jelita merengut.


Reza menggigit bibir bawahnya, karena merasa bersalah. “Ka-kakak beliin sesuatu ya?”


“Enggak usah, sebenarnya Kak Reza kenapa sih? Cemburu ya, cemburu. Tapi jangan begini juga kali, berlebihan banget lho! Nyampe bolos kerja. Kenapa sih Kakak enggak percaya sama Jeli? Sama aku?!”


Tampaknya, Jelita benar-benar bosan sekaligus kesal. Terlebih mimik wajahnya menampilkan ekspresi muram. Ia menatap Reza dengan aura penekanan. Reza kembali menyesal. Di saat tanggal-tanggal emosi kekasihnya itu, pria itu justru sering melakukan kesalahan. Selain kurang peka, sepertinya Reza memang menyebalkan.


“Maaf, Dek,” lirih Reza dengan panggilan seperti biasanya. Kemudian, ia menghela napas panjang. Detik berikutnya, ia mulai menyalakan mesin mobilnya lalu melajunya perlahan. Mengantarkan kekasihnya ke butik, menjadi rencana tunggalnya.


Emang kamu mengaku ini tanggal emosimu, Dek. Tapi, saat ini kamu bukan seperti kamu sebelumnya. Mungkin Kakak emang nyebelin. Tapi, yang Kakak khawatirkan, ketakutan Kakak sebelum menerima kamu terjadi. Gimana, jika saat ini kamu mulai enggak yakin sama perasaan kamu padaku?


****

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya.


__ADS_2