Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 79-Kasus Itu


__ADS_3

“Riris, ... aku sangat menyayangi anakmu. Kasih sayangku sama rata pada mereka berdua. Kamu ....”


Episode 79-Kasus Itu


“Aaaaaakkh!” Seruan orang-orang menggema di ruangan rumah besar Nur Imran ketika bunyi letupan peluru terdengar. Beberapa orang bertambah pilu hanyut dalam tangisan yang menyedihkan.


Siapa itu? Siapa yang mati oleh senjata api? Jane? Bahkan mereka tidak mampu menatap sebab terlalu takut pada kenyataan.


“Janeeeee!” Jelita kembali berteriak sembari berlari ke bawah. Begitu pun dengan William. Hancur sudah hati mereka semua jika Jane benar-benar meregang nyawa. Sesungguhnya akan menjadi pengorbanan yang menyisakan duka.


Jane melebarkan mata kemudian berkata, “A-aku ...? Aku enggak merasa sakit, kok.” Ia bingung. Bahkan muncul pertanyaan; apa mati tidak sesakit itu?


David yang sejak tadi menjadi saksi kini menimpali, “Bukan Nona Jane. Tapi ....” Ia menunjuk seseorang di belakang Jane.


Ya!


Oleh sebab dua peluru melesat di punggungnya, rasa sakit luar biasa seolah enggan sirna. Bahkan napas Dery tinggal dihitung jari saja. Ia tetap mengokohkan kedua kaki untuk berdiri tegak. Namun apa daya, nyawa sudah berada di ujung tanduk. Cengkeramannya pada diri Jane pun melemah.


“A-aku ... a-aku ak ... an menun-tut balas!” ucap Dery sekuat tenaga. Tubuhnya yang secara kebetulan membelakangi si penembak, sekaligus mengawasi gerak-gerik para polisi kini meluruh. Kemudian pria itu tumbang, dengan menggoreskan luka sayat di leher Jane menggunakan ujung belatinya.


Sementara di belakang Dery dan Jane, tampak seorang wanita paruh baya. Rambutnya acak-acakan, wajahnya yang cekung pun begitu pucat. Pada baju yang ia kenakan tampak robekan cukup panjang, karena sempat bertengkar dengan seorang pengawal. Ya, Riris telah di rumah itu. Ia merupakan pelaku penembakan. Korban atas nama Dery Prakosa.


Senjata api yang sempat dilempar jauh—hampir mendekati pintu oleh seorang pelayan beberapa saat yang lalu, ada di tangan Riris. Benda mematikan itulah yang menjadi alat untuk melakukan pembunuhan barusan.


Beruntung, Jane baik-baik saja kecuali shock luar biasa dan sedikit perih di leher. Tak lama setelah menatap Jane, Arlan segera merengkuh gadis itu dan membawanya menjauh.


“Anak ....” Alih-alih melanjutkan ucapannya, Riris justru menelan saliva, sementara pistol di tangannya jatuh seketika. Ia tersenyum tipis, seiring air mata yang meluruh di pipi. “Kamu selamat, Jane,” lanjutnya.


Semua orang membisu atas insiden lebih mengejutkan dari insiden-insiden sebelumnya. Juga, pada seorang pengawal yang ditugaskan oleh Anhar untuk membawa Riris menjadi tidak berdaya. Bahkan pria itu sempat dihadang warga karena Riris menggunakan trik histeris untuk melepaskan diri.


Namun, tanpa ulah Riris, Jane sudah pasti akan meregang nyawa. Setidaknya, Riris masih memiliki hak untuk menjadi seorang ibu yang penyayang.


“Bawa wanita itu. Untuk sekarang, bisa menjadi tersangka pembunuhan. Hubungi tim medis untuk membawa jasad ini,” titah David pada dua orang bawahannya. Sebab, untuk alasan apa pun membunuh bukanlah cara yang tepat. Bahkan, sejak tadi ia tidak pernah berniat membunuh siapa pun termasuk Dery. Sekalipun menembakkan pistol, mungkin akan mengarah pada kaki si pelaku bukan jantung pria itu.


Dengan berat David mendekati Jane yang saat ini masih ditangani oleh Arlan. Ia menghela napas kemudian berkata, “Anda sungguh berani, Nona. Saya sangat takjub akan hal itu. Dan perlu Anda tahu saya tidak pernah berniat menembakkan peluru pada kalian berdua termasuk si pelaku. Membunuh tersangka adalah haram hukumnya bagi kami. Sekalipun terpaksa, kami akan mengarahkan pistol pada kaki agar tersangka tidak bisa melarikan diri.”


“P-pak ...? Bolehkah saya menemui wanita itu?” tanya Jane pada topik yang lain.


“Jane?” sahut Arlan.


David mengernyitkan dahi. “Tersangka pembunuhan sangat berbahaya, Nona, alangkah baiknya tidak bertemu. Saya duga ciri-ciri pada wanita itu sama seperti ciri-ciri rekan tersangka. Bisa jadi wanita tadi hendak menembak Anda dan bukan pelaku.”


Jane menggeleng cepat. “Dia ibuku!”


David menelan saliva dengan wajah yang begitu terkejut. Bagaimana bisa?

__ADS_1


Pengawal yang gagal mengurus Riris kini mendekati kerumunan orang-orang. “Mohon maaf, saya gagal menahan Nyonya Riris karena beberapa kendala. Tapi, ... Nyonya benar-benar ingin melindungi Nona Jane. Itu sebabnya kabur dari pengawasan saya,” jelas pria itu.


David menghela napas. “Baiklah, tapi tolong dampingi Nona Jane.”


Tanpa pikir panjang Jane mengambil langkah sekuat tenaga dengan didampingi Arlan.


“Mama!” seru Jane sebelum Riris dimasukkan ke dalam mobil kepolisian.


Riris dan kedua aparat yang menjaganya menghentikan langkah. Wanita itu lantas menoleh ke belakang. Ketika mendapati sang putri di sana, ia tersenyum. Kelegaan ia dapat di hati, meski Nur Imran dan Jelita tetap selamat. Baginya untuk saat ini, Jane baik-baik saja.


“Maaf ...,” lirih Riris sembari berusaha menyentuh pipi Jane yang telah berada di hadapannya.


Jane menelan saliva. Ingin ia tahan gejolak di dada, tetapi air mata enggak diajak bekerja sama. Ingin sekali ia menampar ibundanya itu, sayangnya terlalu sulit untuk dilakukan. Bahkan, mengucapkan kalimat 'aku malu memiliki ibu sepertimu' benar-benar tidak bisa. Jane ... terlalu rindu pada wanita itu. Benar-benar rindu sebagai seorang putri.


“Maafin Mama, Jane,” ucap Riris lebih jelas. Sama halnya dengan putrinya itu, Riris berderai air mata. “Maaf ....”


“Terima kasih,” jawab Jane tidak Riris duga.


“Te-terima kas—”


“Terima kasih telah menyelamatkan kami semua, Ma.”


Riris terenyak. Benar, ia yang sejatinya ingin membunuh Nur Imran dan Jelita, kini justru menjadi pahlawan bagi mereka. Seandainya ia tidak kabur dari rumah sakit jiwa dan ditemukan oleh Dery, belum tentu Nur Imran juga putrinya selamat dari cengkeraman pria itu.


“Jane!” Dengan tergopoh-gopoh, Nur Imran memasuki gerbang rumahnya. Bahkan mobilnya masih terkendala para wartawan di luar sana. Beruntung wartawan-wartawan itu masih memiliki kepekaan tinggi, sebelum kasus berakhir mereka memberika ruang agar Nur Imran masuk tanpa kendala.


Nur Imran terdiam ketika mendapati Riris di hadapan putri keduanya. Alih-alih menghujat mantan istrinya itu, ia justru berkata, “Riris, ... aku sangat menyayangi anakmu. Kasih sayangku sama rata pada mereka berdua. Kamu tenang saja.”


“Maaf ....” Kata itu lagi yang Riris ucapkan.


Nur Imran mencoba mengulas senyum, meski begitu kaku. “Terima kasih, telah menyelamatkan putri kita,” ucap Nur Imran sesuai informasi yang baru saja ia dengar dari Anhar.


Seketika itu, Riris menangis penuh penyesalan. Namun di sisi lain, ia merasa bangga atas apa yang ia lakukan meski sebuah kejahatan. Setidaknya ia melindungi keluarga mantan suaminya.


Selepas Riris dibawa oleh petugas, jenazah Dery telah diangkut ambulance, Nur Imran bergerak cepat membawa Jane. Ia memasuki rumah itu demi mencari Jelita. Arlan, William, dan Reza memutuskan untuk pulang. Namun, mereka terkendala para wartawan yang kepo luar biasa, sebab kabar keberadaan polisi di rumah pengusaha besar itu begitu cepat menyebar.


****


Setibanya di rumah, Arlan mendekap anak dan istrinya yang sama-sama menangis. Bagi Fanni dan Selli berita yang baru didengar sangatlah mengkhawatirkan. Sementara kedua adik Selli hanya menangis karena tersugesti oleh kakak dan ibunya.


“Pantes kamu pulang malem, gimana kalau kamu nggak selamat, Mas! Gimana aku sama anak-anak?” ucap Fanni disela-sela tangisannya.


“Papa jangan ikutan kayak gitu lagilah. Jahat banget sih!” omel Selli sama dengan tangisannya.


Arlan tersenyum. Ketegangan dan letihnya tubuh berangsur pergi ketika me dapati keluarganya. Memang obat paling mujarab adalah mereka.

__ADS_1


“Papa baik-baik aja kok. Jangan khawatir,” jawab pria paruh baya itu. Dan lagi-lagi memeluk semua anggota keluarganya satu persatu.


Di tempat lain yang sama megahnya dengan rumah Nur Imran, baru saja membuka pintu William sudah dihadang oleh keluarga besar. Ia menelan saliva dengan getir, kemudian menyembunyikan tangannya yang bernoda darah.


Dian menghampiri putranya itu dengan raut wajah geram. Detik berikutnya ia menatap William dengan tajam. Namun ... alih-alih marah, ia justru memberikan pelukan. Tentu saja sikap ayahnya yang tiba-tiba membuat William tidak bisa berkata-kata.


“Pa-papa?” gumam William.


Dian berbisik, “Papa akan ikut mati kalau kamu pun mati, Willi. Kenapa kamu berbuat hal sejauh ini?”


“Kakak! Kalau mau mati jangan sekarang, tapi seratus tahun kemudian!” omel Diandra.


Kemudian, Ajeng bergerak malu-malu. Ia menunjukkan kesan ragu. “A-ajeng senang ....” Ia menelan saliva. “Karna Kakak pulang dengan selamat.”


“Jangan diulangi lagi, Willi, pihak aparat lebih jago dari kamu,” tandas Gunawan—ketua keluarga besar Harsono. “Om kamu? Om Gun lihat, dia juga ada di kamera wartawan.”


“Om Arlan jauh lebih baik-baik saja.”


Dian melepaskan pelukannya. Tanpa bisa mengangkat kepala, ia merasa khawatir luar biasa. Sebab, mau bagaimanapun William adalah darah dagingnya. Dahlia juga mampu bernapas lega sembari duduk di kursi roda.


Namun ... sebuah tempeleng cukup kencang William dapatkan di kepala. Ketika ia berbalik, tampak Riska berwajah geram. William berkedip ragu, ia menunduk sekaligus mati kutu oleh karena wanita itu.


“Kalau kamu mati yang gantiin aku siapa, Willi?!” tanya Riska dengan nada tinggi.


Kelly—ibunda Riska—dan Celvin menyela, “Riska!”


“Maaf,” jawab William tanpa bisa membalas tatapan kakak sepupunya itu.


“Uh!” Riska memukul tubuh William. Namun ada air mata yang berderai dari pelupuk mata. Tentu ia sangat khawatir jika adiknya itu tidak baik-baik saja. Bahkan, selama ini William hanya dekat dengannya selain Arlan. Sudah pasti rasa sayangnya tidak sedikit lagi. “Obati lukamu, dan jangan bikin kita khawatir lagi. Uh, nyebelin!” lanjutnya kemudian menghampiri Celvin—sang suami.


William disambut dengan baik oleh keluarga besar Harsono, berbeda saat kali pertama ia menyambangi rumah itu. Bahkan, Ajeng—adik tirinya—yang ketus, ayahnya yang penuh benci kini begitu mengkhawatirkannya. William telah diterima. Ternyata, memang ada hikmah di balik setiap kejadian. Memang begitu menegangkan, bahkan membahayakan, tetapi karena hal itu keluarga besar Harsono menunjukkan perasaan sebenarnya tanpa ragu pada William Anderson.


Alih-alih pulang ke rumah, Reza justru menepikan mobilnya di samping taman. Ia bisa bernapas lega untuk sekarang karena Jelita beserta keluarga sudah aman. Pelaku sudah binasa, sementara Riris akan ditahan atas kasus pembunuhan.


“Apa aku harus membela Nyonya itu? Orang dengan penyakit mental sudah pasti bisa bebas penjara, tapi masuk ke RSJ kembali.” Reza ragu, apalagi Nur Imran belum tentu setuju. Namun sebagai seorang pria pembela keadilan, ia tidak bisa membiarkan penderita mental didakwah tanpa pembelaan.


“Aaaah! Udahlah, yang penting Jeli dan keluarga udah aman!” lanjut Reza menepis rencananya. “Ya, mereka sudah aman. Gue, ... enggak membuktikan apa pun, karna pada akhirnya Nyonya menjadi penyelamat mereka. Gue ... gagal. Gue emang harus akhiri hubungan ini.”


Reza menelan saliva. Setelah semua yang terjadi, kini rasa kecewanya muncul kembali. Cukup egois, bukan? Namun ia tetap manusia biasa yang bisa terluka hatinya. Sebab, Jelita sudah tidak mempercayainya sebagai seorang kekasih.


“Ya, Pak Nur berhak memilik calon menantu. Jeli berhak bahagia dengan cowok itu. Gue ... juga berhak ambil keputusan ini.”


****


Jangan lupa tap-tap like dan komen untuk bab2 ending.

__ADS_1


__ADS_2