Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 45-Desas-desus


__ADS_3

“Enggaklah! Mana ada yang berani, dia bawa potongan kaca, terus nyerang membabi buta. Terus langsung lari pas ada beberapa warga yang nyamper.”


Episode 45-Desas-desus


Di pinggir jalan raya yang lengang, Reza menepikan mobilnya. Ia menghela napas beberapa kali sesaat setelah melakukan hal itu. Wajahnya yang sejak tadi memerah kini berangsur berwarna normal. Kendati sudah mendapatkan ketenangan, tetap saja kekesalannya masih pekat menyelimuti hatinya.


“Sayang ... jangan marah lagi, Jeli 'kan udah jujur,” rayu Jelita sembari bergerak manja menyentuh lengan besar milik kekasihnya itu.


Namun Reza hanya sekedar meliriknya. Setelah itu kembali diam.


“Kakak, ayolah. Maafin Jeli, ya?”


Tak berhasil hanya dengan ucapan, Jelita memajukan wajahnya. Kemudian, ia memberikan kecupan manis di pipi gembul milik Reza. Alhasil, sikap manisnya itu sukses membuat Reza tercengang. Kedua mata milik sang pengacara mendadak terbelalak. Dengan hati yang berdesir, akhirnya ia luluh.


Sikap Reza yang menunjukkan rasa malu-malu, membuat Jelita menyeringis. Harus dikecup dulu, pria itu akan menyudahi kemarahannya. Dasar cowok! Pikir Jelita.


“Mm ... ja-jadi kamu beneran mau datengin kencan itu?” tanya Reza tanpa menatap wajah cantik milik Jelita.


Jelita berangsur mengangguk. “Iya, Kak. Jeli harus datang sesuai janji.”


“Dek!” Sembari menoleh pada sang kekasih, Reza meninggikan nada suaranya. “Jangan dong! Kamu 'kan ada pacar, masa' mau jalan sama cowok lain? Kamu enggak anggap Kakak?”


“Ish! Kalau aku enggak anggap Kakak, juga enggak bakal jujur begini. Aku bilang karena aku butuh jalan keluar, tanpa menimbulkan masalah lain lagi!”


“Sebenarnya, apa sih masalah lain yang kamu khawatirkan?”


“Ah ....”


Jelita menggeragap. Sementara otaknya kelabakan mencari alasan. Bagaimana ia menjelaskan perihal perjodohan yang direncanakan sang ayah dengan sosok William? Dan itu pada Reza—kekasihnya. Berkata jujur perihal kencan atas syarat dari William saja, Reza sudah marah dan kecewa, apalagi jika tentang rencana dari ayahnya itu. Jika hanya kecewa seperti detik ini, Jelita masih mampu mengatasi.


Namun, jika sampai minder dan berlalu pergi, ia tidak bisa mencari cara untuk menahan Reza. Dan tentu saja, Jelita tidak ingin kehilangan pria itu. Hingga saat ini pun, ia memutuskan untuk bungkam. Sebab bagi Jelita, tanpa sepengetahuan Reza, ia bisa mencari jalan keluar agar perjodohan tidak dilanjutkan.


“Sayang ...?” Melihat Jelita yang justru larut dalam pemikirannya sendiri, membuat Reza menaruh curiga. “Ada masalah apa?”


“Ah ... a-anu, Kak, di-dia 'kan partner kerja Papa. Jadi, Jeli ta-takut kalau dia membatalkan kerja sama hanya karena aku yang enggak tepat janji,” jawab gadis itu gelagapan.


Jawaban dari Jelita tidak lantas membuat Reza percaya. Ia yang sejatinya seorang pengacara andal sekaligus memiliki insting tajam seperti seorang detektif, kini menangkap keanehan yang tengah ada pada diri kekasihnya. Namun kendati merasa aneh, sisi hati lain pria itu membenarkan alasan tersebut. Bisa jadi, karena belum lama ini mereka memang ada pertemuan tentang bisnis. Mungkin saja, William memang tertarik dengan Jelita, sehingga menghalalkan segala cara.


Demi menghilangkan rasa gusar yang masih mencengkeram hatinya, Reza menghela napas dalam. Kedua matanya pun dipejamkan sesaat. Seiring hembusan napas dengan perlahan, ia membuka pejaman tersebut. Sementara gadis canyik di sampingnya itu, tengah menahan tasa panik. Ada kekhawatiran jika Reza tidak percaya dengan alasan yang ia pakai.


Sembari menyandarkan tubuhnya, Reza bertanya, “Jadi jam berapa kalian bertemu?”

__ADS_1


“Eh? Ah ... a-anu, jam tujuh malam, Kak. Kalau enggak ya, habis maghrib,” jawab Jelita, ia menundukkan kepala dengan jari-jari yang saling bertaut.


“Di mana?”


“Belum tahu.”


“Ada syarat lain kecuali itu?”


Gadis perancang tersebut lantas menggeleng cepat. “Enggak ada, Kak!”


Kendati masih berat, Reza mengulas senyumnya. Kemudian, ia menatap wajah kekasihnya. Tatapan mereka saling bertaut, ada ketulusan yang memancar dari dua pasang mata itu.


Beberapa detik kemudian, Reza mengusap pipi milik Jelita. Rambut yang terurai ke depan pun, ia rapikan di belakang telinga gadis itu. Ada rasa bangga di balik perasaan minder, sebab seorang Reza yang bertubuh tambun bisa mendapatkan hati gadis secantik itu. Apalagi seorang nona muda.


“Kakak percaya sama kamu. Tapi, ... tetap aja ada rasa takut karena kamu emang sangat cantik. Wajar kalau cowok itu tertarik sama kamu. Kamu unik dan berbeda, Dek,” jelas Reza atas apa yang tengah ia khawatirkan.


“Kakak ...?”


“Maaf, kalau belakangan ini Kakak agak berlebihan. Kakak cuma enggak tahu gimana cara mengendalikan diri dari rasa khawatir. Maaf, ya?”


Jelita mengangguk pelan. Sedetik kemudian, ia memeluk Reza dengan erat. “Jeli yang minta maaf karena bertindak sesuka hati tanpa memikirkan perasaan Kakak,” ucap gadis itu sarat akan penyesalan.


“Kakak bakal jaga kamu besok. Tenang aja.”


“Lihat aja besok.”


“Ooh ... i-iya.”


Kendati merasa penasaran apa yang dimaksud dari kata tersebut, Jelita memilih tak melanjutkan pertanyaan. Ia tetap percaya pada Reza. Mungkin saja ada cara yang dipikirkan pria itu untuk masalah yang akan ia hadapi, sekaligus membuat William tak lagi mengganggunya.


Lalu, karena tidak enak hati jika membawa anak orang hingga larut malam, Reza segera menyalakan mesin mobilnya. Detik berikutnya, ia melaju kendaraan tersebut dan memutar arah untuk kembali ke istana megah di mana kekasihnya bernaung.


****


William menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi panjang di sebuah taman. Ia menghirup udara cukup dalam sembari terpejam. Detik berikutnya, ia membuka kedua mata berbulu lentik itu dan tersenyum. Sementara Jane diam-diam mengamati setiap sikap yang dilakukan oleh pria tampan tersebut. Yang mana selalu sukses mendesirkan hatinya.


“Kalau musim hujan emang sejuk, ya, udara malamnya? Sayangnya malam ini enggak hujan,” celetuk William.


Jane yang terkesiap langsung mengalihkan arah pandangan. “I-iya, Kak,” jawabnya.


“Ah! Kamu jalan sama aku begini, enggak ada yang marah?” Sembari membangunkan dirinya, William menatap Jane.

__ADS_1


“Papa mungkin, Kak.”


“Mm? Itu sih wajar, maksudku pacar.”


Jane menggeleng. “Aku enggak punya. Harusnya Kakak yang khawatir, harusnya sama kakakku ini malah sama aku.”


William terkesiap. Namun ia justru tertawa dua detik kemudian. Sikapnya membuat Jane membuang muka karena malu. Meski ia tidak tahu apa yang tengah pria tersebut tertawakan. Namun daripada malu, ia memilih tak bertanya.


Diam-diam William mengamati sosok Jane. Dari wajah gadis itu yang kini terlihat dari samping. Secara visual, gadis itu tak kalah cantik dari Jelita, mereka berdua memiliki tipikal kecantikan masing-masing. Wajah sendu yang kini dipasang oleh Jane tak luput dari observasi mata William. Namun saat itu, ia tidak merasakan apa pun kecuali rasa iba. Melihat sosok Jane, ia seperti diperlihatkan sosok dirinya sendiri. Kesepian, tidak nyaman sekaligus ragu-ragu bercampur di balik wajah sendu itu.


“Gila sih, kemarin itu si bapak-bapak tukang sampah jadi luka berat di bagian lengan. Penyerangnya kayaknya dari RSJ, baju pasien masih dipakai.”


“Terus ditangkep enggak?”


“Enggaklah! Mana ada yang berani, dia bawa potongan kaca, terus nyerang membabi buta. Terus langsung lari pas ada beberapa warga yang nyamper.”


“Ngeri, ya? Duh, pulang cepet yuk. Takut nih, kalau belum ketangkep. Orang gila kabur itu. Hiii ....”


Mendengar percakapan dari pengunjung lain di taman tersebut, tubuh Jane menegang. Napasnya seolah tersendat di tenggorokan. Kedua telapak tangannya gemetar hebat. Ingin sekali ia mengejar kedua orang tersebut dan meminta info lebih lanjut, sayangnya tubuhnya tidak siap. Bagaimana tidak, jika ia mendengar perihal penyerangan.


“Jane?” William bergerak cepat mendekati Jane. Digenggamnya kedua telapak tangan Jane. Sementara tangan yang lain milik William merengkuh tubuh gadis itu. “Tenang, Jane, belum tentu mama kamu,” lanjutnya.


“Aku harus gimana, Kak ...? Aku, aku khawatir, aku takut.”


Air mata meluruh membasahi kedua pipinya, Jane tidak tahu harus bagaimana di detik ini. Sementara kedua orang yang sempat bergunjing telah berlalu pergi. Dalam beberapa saat, ia larut dalam kesedihannya di pelukan William. Terlalu takut untuk menerima kenyataan jika benar si penyerang adalah ibundanya. Jane tidak tahu akan menaruh mukanya di mana, semua hal yang membentuk masalah saat ini tidak bisa ia terima sama sekali.


Andai saja, sejak dulu Jane tetap kekeuh mencari tempat tinggal sendiri, sudah pasti ia tidak perlu merasa malu. Apa yang terjadi pada dirinya sekaligus ibundanya akan menjadi rahasia pribadi. Selain itu, ia tidak perlu merepotkan Nur Imran, Jelita, keluarga Arlan ataupun William. Namun hingga kini ia tidak bisa melangkah melanjutkan rencana itu.


“Enggak apa-apa, nangis aja, jangan ditahan. Aku temani sampai kamu tenang,” ucap William sembari menahan tubuh Jane ketik gadis itu hendak bangkit. Ia masih memberikan pelukan hangat, setidaknya agar Jane merasa aman.


“A-aku terlalu malu,” jawab Jane di sela isak tangisnya.


“Enggak apa-apa, enggak perlu malu, Jane.”


William berpikir; lebih baik Jane menangis sesenggukan ketimbang gemetaran atau menahan sejumlah sembilu. Sementara benaknya tengah bernostalgia dengan masa lalu. Di mana pada saat itu, ia dan ibundanya terbuang dari keluarga besar Harsono. Di mana ayahandanya tak mengakui keberadaannya. Tanpa ia sadari, setitik air mata meluruh membasahi pipi kiri.


****


Sementara itu, Nur Imran sibuk mondar-mandir di ruang utama rumah mewahnya. Kekhawatiran mencuat ketika putri keduanya tak kunjung pulang.


“Jane? Di mana kamu, Nak? Kenapa enggak angkat panggilan Papa?” gumam Nur Imran.

__ADS_1


Pengusaha besar tersebut menghela napas beberapa kali sembari mengusap-usap dadanya yang sejak. Bagaimana jika Jane kembali merencanakan untuk pergi? Salah satu kekhawatiran paling besar yang terus mengganggu hati Nur Imran. Ia tidak bisa kehilangan Jane, sebab meski hanya anak tiri, baginya Jane tetap anak kedua yang sama seperti Jelita. Hanya saja, pemikirannya itu tak lantas menyembuhkan batin Jane yang terus tertekan sendirian.


****


__ADS_2