Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 51-Anak Durhaka?!


__ADS_3

“Jangan sakiti anakku!”


Episode 51-Anak Durhaka?!


Seperti sebelumnya, tepatnya ketika ia menempati rumah besar milik keluarga Harsono itu, William selalu melewatkan santap pagi alias sarapan. Ia berangkat sebelum jam enam untuk ke kantor menjadi asisten kakak sepupunya—Riska—untuk sementara.


Namun ketika William hampir sampai di pintu utama, ia justru dihadang oleh seseorang. Tanpa menatap sang pelaku, William hanya merespon dengan helaan napas cukup panjang. Kepalanya yang sejak tadi tidak tegak, semakin ia tenggelamkan dalam tundukan. Sementara matanya mengedar tajam menatap lantai keramik yang bermotif indah itu.


“Mau ke mana kamu?!” tanya orang di hadapan pria berparas tampan itu.


“Kerja,” jawab William singkat sekaligus bernada ketus.


“Enggak bisakah kamu tinggal lebih lama? Ikut sarapan bersama kami, hah?! Sampai kapan kamu mau mempermalukan saya?!”


Mendengar itu, William berangsur mengangkat kepalanya. Ia menatap manik mata orang itu dengan sinis. “Ma-af.” Namun, hanya satu penggal kata saja yang ia berikan sebagai jawaban.


Pria tua yang merupakan ayah kandung dari William itu spontan geram. Bagaimana tidak, meski sebuah permintamaafan nada suara William terdengar mengejak, seolah tengah meremehkan dirinya. Dian—ayah dari William—semakin tidak habis pikir dengan sikap putra tertuanya.


Terlepas dari insiden beberapa tahun silam, Dian merasa apa yang didapat William saat ini sudah cukup untuk menebus semua kesalahannya. William adalah calon pewaris tahta dari Harsun Group! Sayangnya, putranya tersebut justru masih tidak menghormati dirinya.


Dian menghela napas sangat dalam. “Masuk, setidaknya sekali-kali buatlah bapakmu ini bangga!” ucapnya.


William justru tersenyum kecut. Matanya memicing dengan sinis. “Saya menolak!” balasnya tegas seiring pudarnya senyum itu, lalu berganti ekspresi tegas.


“Kamu tidak berhak untuk menolak ketika tinggal di rumah ini! Sudah cukup jadi anak liar, Willi! Bersikaplah seperti apa yang dilakukan keluarga ini!”


“Saya bersedia pergi dari rumah ini, Pak! Lagipula, jika saya hanya membuat malu, untuk apa saya bertahan? Bukankah itu mau Bapak? Dengan begitu, tidak ada yang membuat Bapak terhina di dalam keluarga ini!”


“Willi!”


Tangan Dian spontan menyambar pipi William, sehingga terjadi tamparan keras yang mendarat di pipi sang putra. Napas Dian memburu, jantungnya berdegup lebih cepat, ia benar-benar dibuat naik pitam. Bagaimana tidak, ketika ia hanya meminta William bersikap layaknya keluarga, permintaannya tersebut justru dibalas dengan sengit. Alih-alih menyetujui, William justru menolak mentah-mentah, bahkan rela pergi dari rumah itu.


“Anak tak punya sopan santun! Anak durhaka! Tidak tahu terima kasih! Kalau bukan karena bapakmu ini, kamu tetap akan jadi anak terlantar, Willi! Kamu pewaris Harsun! Ingat itu!” omel Dian dengan geram.


William tergelak beberapa saat. Sembari tertawa, ia berkata, “Sejak awal bukankah saya sudah Anda terlantarkan? Sok mengaku-aku berkat Anda, bak malaikat penolong! Munafik sekali, Anda!” balas William sengit.


Muak, rasa itu yang tersemat di hati William. Tidak, bukan hanya tersemat, melainkan sudah benar-benar pekat untuk ayah kandungnya itu. Ia benci diperlakukan seperti seorang perusuh! Bahkan, bagi Dian—William hanyalah sebatas putra yang selalu mempermalukan dirinya. Padahal, sejak awal pria paruh baya itulah yang membuang William. Memberi nafkah pun menggunakan uang hasil korupsi!


Dengan perasaan marah yang sudah tak tertahan lagi, Dian kembali melayangkan tangannya menuju pipi putranya itu. Namun ... seseorang justru menahannya sebelum berhasil ia daratkan.

__ADS_1


“Jangan sakiti anakku!” tegas Arlan yang merupakan pelaku penahan laju tangan Dian.


Dian terbelalak. “Kamu?!”


Dengan sangat keras, Arlan melempar tangan Dian begitu saja. Sampai akhirnya, tatapan adik dan kakak itu saling bertaut dengan ketajaman masing-masing.


“Jika tak sanggup memberikan manfaat sebagai seorang ayah, setidaknya jadilah ayah yang tak pernah menganggu anak,” ucap Arlan pada kakak keduanya tersebut.


Dian menggertakkan gigi. Ingin sekali ia menyanggah atau bahkan melawan setiap perkataan dan ucapan Arlan, tetapi ia tidak kuasa melakukannya. Sebab, Arlan merupakan orang yang ia fitnah sebagai penanggung jawab atas penggelapan dana. Namun, adik nomor tiganya itu justru bersedia membantu meringankan hukuman penjara yang harus ia jalani. Tentu saja, Dian merasa malu, di sisi lain ia memang perlu berterima kasih.


Akhirnya, Dian hanya mampu menghela napasnya. Setelah itu, ia bergegas pergi lantaran tak ingin lagi semakin dipermalukan.


“Maaf, Om, perdana Om datang setelah sekian lama justru disambut dengan pertunjukan buruk,” ucap William sembari menundukkan kepala.


Arlan mengulas senyumnya. “Enggak apa-apa, Will, Om udah biasa. Berangkat sana, jangan lupa sarapan. Cepet cari calon istri biar ada yang masakin bekal,” jawabnya lembut sembari mengusap kepala William layaknya anak sendiri.


“Willi belum sukses, Om, mana ada cari istri.”


“Halah, nunggu sukses dulu ya lama. Tapi, ... bagus sih, jangan kayak Om pas udah nikahin tantemu malah kehilangan pekerjaan hahaha. Jane kayaknya suka sama kamu tuh, deketin aja.”


William mengusap tengkuknya dengan ekspresi wajah yang malu-malu. Sementara Arlan memilih berlalu melanjutkan rencananya datang ke rumah keluarga besarnya itu.


Ketika hendak melanjutkan langkah, William kembali berhenti. “Ah! Jane 'kan semalem ngajak ketemu, ada apaan ya? Sore nanti baru bisa samper. Semoga dia enggak kenapa-napa.”


****


Kak Willi : Nanti sore kita ketemu ya, Jane.


Jane mengembuskan napasnya dengan kasar, sesaat setelah menerima pesan dari William. Namun kendati masih ada perasaan kesal itu, hatinya dibuat luluh karena keinginan William untuk bertemu. Yang mana tidak ada embel-embel nama Jelita di pesan tersebut, dengan begitu Jane berharap agar menjadi pertemuan berdua saja.


“Enggak! Nggak boleh! Nanti aku kecewa lagi!” tegas Jane tiba-tiba. Perihal keinginan William ingin bertemu saja, belum ia pastikan maksud di balik itu. Jane tidak mau jika kembali kecewa, ya, kecewa atas harapannya sendiri.


Adik dari Jelita itu segera menghela napasnya dalam-dalam, menguasai hatinya sendiri. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju keberadaan mobil. Di sela langkah kakinya yang mengayun tegas itu, Jelita masih beberapa kali menggelengkan kepala. Sebab, wajah William masih saja muncul di benaknya.


“Jangan! Jangan, jangan, jangan! Nanti kamu kecewa lagi, Jane!” tegasnya lagi.


Sesampainya di keberadaan mobil, Jane justru dibuat bertanya-tanya. Bagaimana tidak, jika sang kakak terlihat begitu ketakutan. Di samping mobilnya sendiri, Jelita terduduk seperti sedang syok atau ketakutan atas sesuatu.


Ingin sekali Jane tidak menggubrisnya sebab rasa kesal memang masih ada, tetapi kondisi Jelita membuatnya tidak setega itu dalam bersikap. Karenanya, ia membelokkan arah menuju keberadaan sang kakak. Dalam hatinya, Jane terus bertanya-tanya, mengapa Jelita bersikap demikian? Pagi ini, keadaan Jelita benar-benar kontras jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

__ADS_1


“Kak Jeli ...?” ucap Jane lirih. Sesaat setelah mengamati, ia bergegas membantu kakaknya itu untuk berdiri.


Jane merasakan getaran hebat yang sedang mendera tubuh Jelita. Reflek, ia turut ketakutan mengenai kondisi mendadak kakaknya itu.


“Kak Jeli kenapa?” tanya Jane mulai panik.


“Enggak, enggak apa-apa. Ja-jangan dekati aku, jangan!” balas Jelita menggigil ketakutan.


“Kenapa, Kak? Maafin Jane kalau semalem keterlaluan, tapi Kakak kenapa?”


“Lepas, lepas! Kamu nggak boleh, bahaya.”


Cengkeraman tangan Jane di tubuh Jelita semakin kuat, sementara suaranya terdengar turut ketakutan. Bahkan, air mata gadis itu sampai keluar. “Kak Jeli, kenapa sih?!”


“Pergi, Jane! Pergi dariku!” Sembari memberikan penegasan itu, Jelita mendorong tubuh Jane dengan kuat.


Spontan, Jane tercengang. Tubuhnya limbung ke belakang, sampai akhirnya jatuh terduduk. Sementara kedua mata bulatnya masih menatap wajah Jelita dengan tidak percaya. Kakaknya itu seperti tidak enak hati setelah mendorong tubuhnya, tetapi tidak ada sikap lain yang Jelita lakukan kecuali bergegas masuk ke dalam mobilnya. Detik berikutnya, Jelita langsung menancap gas.


Sedangkan Jane masih terdiam bingung. Apa yang terjadi? Pertanyaan itu terlintas di benaknya.


“Apa sikapku semalem benar-benar keterlaluan, tapi ... kenapa Kak Jeli sampai gemetaran seperti itu? Apa yang terjadi selain sikap burukku tadi malam?” gumam Jane.


“Ada apa, Jane?” Tiba-tiba suara Nur Imran terdengar.


Kedatangan ayahandanya itu, membuat Jane tersadar atas lamunan. Kemudian, ia segera bangkit.


“Papa, Jane berangkat duluan,” pamitnya tanpa pikir panjang.


Dahi Nur Imran masih berkerut. Namun, ia enggan untuk menyelidik lebih dalam mengenai sikap duduk Jane tadi.


“Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan pulang malam-malam, lho.”


“Iya, Pa. Jane usahakan.”


Sesaat setelah melangsungkan perbincangan singkat itu, Jane melaju mobilnya untuk berangkat bekerja. Sama halnya dengan putri keduanya tersebut, Nur Imran hendak melaju mobilnya sendiri.


****


Apa yang terjadi dengan Jeli??????

__ADS_1


__ADS_2