Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 60-Rencana Si Pelaku


__ADS_3

“Serang aja, siksa dia dalam keadaan hidup-hidup. Sebagai bukti bahwa teror kita bukan main-main.”


Episode 60-Rencana Si Pelaku


Pria itu mendorong wanita paruh baya agar berjalan lebih cepat. Tak peduli dengan waktu yang sudah sangat larut. Tujuan mereka merupakan sebuah butik di kawasan kios-kios elit. Pukul dua malam nyaris bertemu pagi tentu suasananya sepi sekali. Namun demi sebuah rencana, kedua orang tersebut tetap nekat.


Sang pria yang begitu lihai dalam bergerak, dengan gesitnya menghindari kamera CCTV. Ia yang memiliki kemampuan semacam bela diri, tentu mudah melakukan hal itu. lalu setelah berhasil menghindari benda-benda perekam itu, ia menghancurkannya satu persatu. Namun bagaimanapun lincahnya seorang manusia, pasti tidak akan sempurna. Oleh karena itu, pria tersebut menutupi wajah bahkan sekujur tubuh dengan pakaian serba hitam, tak hanya bagi dirinya, melainkan wanita paruh baya yang bersamanya.


“Menyelinaplah ke dalam dan bunuhlah dia keesokan harinya,” ucap sang pria.


Wanita paruh baya itu menunduk ragu. “Lalu gimana kalau aku ketahuan?”


“Aku pastikan si Jelita datang lebih awal, bahkan sebelum subuh. Di saat lengah, baru serang dia dan kamu bisa kabur dengan leluasa. Beberapa kamera telah aku hancurkan.”


“Gimana kamu bisa tahu dia akan datang lebih awal? Padahal nomor yang dia gunakan aja udah enggak aktif lagi.”


Pria itu menghela napas. Matanya yang tertutup topeng hitam, memutar sinis. Sangat malas sekali ia menghadapi rekannya yang banyak bertanya ketimbang menuruti ucapannya. Baginya, sangat merepotkan!


“Nyonya lupa siapa diriku? Sepintar apa diriku?”


Wanita paruh baya tersebut lantas terdiam.


“Turuti aja apa yang aku bilang. Aku akan menunggu Nyonya di samping toko ini, jika rencana telah berhasil Nyonya tinggal menghampiriku.”


“Kamu enggak berniat menjebakku, ‘kan?”


“Tidak!”


“Baiklah, kalau begitu. Aku turuti maumu, lagipula aku udah nggak tahan akan rasa dendam ini, aku harus segera membunuhnya.”


“Tunggu! Jangan dibunuh.”


“Apa maksudmu, Dery?”


“Serang aja, siksa dia dalam keadaan hidup-hidup. Sebagai bukti bahwa teror kita bukan main-main.”


“Lalu gimana kalau identitas kita terbongkar?”


“Apa Nyonya Riris lupa jubah yang kita kenakan? Udahlah jangan banyak tanya!”


Wanita paruh baya yang ternyata adalah Riris itu lantas menghela napas. Untuk saat ini, keadaan emosinya memang sedang stabil. Ada kalanya ia sangat berhati-hati dengan rencana yang diterapkan oleh pria bernama Dery tersebut. Sebab, Riris khawatir jika Dery justru menjebak dirinya sebagai tameng atas teror yang terus dilanjutkan. Selain itu, keamanan Jane masih perlu ia awasi sendiri.


Perihal dendam, keduanya memiliki dendam berbeda tetapi masih saling berkaitan. Dery yang tidak terima karena Nur Imran mengejar dirinya, dan akhirnya masuk ke dalam penjara karena kasus penyerangan terhadap Jane. Lalu Riris yang tidak terima sebab Nur Imran membuang dirinya begitu saja, bahkan sampai membuat dirinya gila! Kedua orang penuh dendam kesumat itu tidak peduli jika kesalahan berawal dari perselingkuhan menjijikkan yang telah mereka lakukan. Karena hati yang telah tertutup oleh kabut hitam, tidak akan bisa disembuhkan hanya karena satu kesalahan.

__ADS_1


Kemudian, Riris mulai melangkahkan kakinya. Ia memasuki butik tersebut yang pintu samping telah dicongkel menggunakan linggis oleh Dery. Posisi toko milik Jelita berada paling pinggir terbatas pagar tembok yang masih memiliki jarak dua meter, tentulah mudah untuk dijangkau. Sekaligus keamanan tidak terlalu dipentingkan untuk pintu bagian samping tersebut.


“Ingat, jika Jelita udah ada tanda-tanda datang, langsung tusuk bagian lengan kanannya. Bahkan kalau bisa, potong salah satu jemarinya. Buat dia enggak bisa menggambar lagi,” ucap Dery dengan rencana yang begitu kejam.


“Baiklah, akan aku usahakan, Dery. Dan pastikan anakku selalu aman,” jawab Riris.


Dery hanya menyeringai. Tentang Jane ia belum membuat sebuah rencana. Kendati Riris memintanya untuk tidak menyentuh gadis itu, tetap saja dendam Dery yang paling pekat mengarah pada Jane ketimbang Jelita. Karena di masa lalu, Jane memergokinya tengah memadu kasih bersama Riris. Karena terdesak, Dery mendorong tubuh Jane hingga terpental dan jatuh tersungkur sekaligus terluka. Insiden itu pula yang mengantarkan dirinya ke dalam penjara.


Sementara Riris yang menyelinap ke dalam butik tersebut, Dery berjaga-jaga di samping pintu. Ia harus memastikan rencananya berhasil, dan jangan sampai penyakit mental Riris kumat ketika Jelita telah datang. Ia tidak bisa menyerang sendiri, sebab untuk melindungi identitasnya. Dengan memakai jasa Riris, namanya akan aman dalam kendali, apalagi ketika wanita itu mantan pasien gangguan jiwa. Semua orang tidak akan sepenuhnya percaya ucapan Riris.


****


Sebelum tidur beberapa saat yang lalu, Jelita sengaja mematikan AC sebab udara malam begitu dingin. Namun tiba-tiba saja ia merasakan buliran keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dengan mata yang masih terpejam, ia berusaha meraih remote dari benda pendingin tersebut dari atas nakas bagian kiri. Detik berikutnya ia membangunkan dirinya sembari membuka mata perlahan.


Sesaat setelah menyalakan AC, mata Jelita menyelidik ke arah jam dinding cantik. Masih pukul dua dini hari, masih cukup waktu untuk kembali tidur. Sayangnya, ia tipikal orang yang kesulitan terpejam setelah tak sengaja terjaga.


“Wuaah ... paling males kalau kebangun dini hari kayak gini,” gumam Jelita sembari menurunkan badannya dari ranjang empuk. Ia berjalan menuju lemari pendingin kecil yang tersedia di kamar itu.


Sembari meneguk air mineral yang telah ia ambil, Jelita kembali terbayang sikap Reza siang tadi. Tampaknya Reza memang memiliki rasa curiga terhadap dirinya. Ya, secara umum orang akan bertanya-tanya ketika sang kekasih seolah menyembunyikan identitas penelepon ketika tengah bersama.


“Apa Kak Reza kecewa sama aku, ya?” gumam Jelita, cemas. Kendati Reza telah bersikap manis seperti biasanya, tetap saja ia tidak merasa tenang. “Ck, Willi enggak bilang apa-apa, ‘kan?”


Jelita membuka mata lebar ketika mengingat nama William. Tanpa pikir panjang, ia segera kembali ke ranjang. Kemudian, ia mencari-cari ponsel baru yang telah ia beli sore tadi.


Tepat ketika Jelita selesai berucap, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk atau sesekali bel berbunyi. Gadis itu sempat merasa heran, tetapi segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu sembari bertanya-tanya.


Jane terlihat sangat cemas di balik pintu ketika Jelita telah membuka benda tersebut. Sikap gadis itu tentu membuat Jelita semakin heran.


“Ada apa, Jane?” tanya Jelita pada sang adik.


“Kak ... ada orang yang telepon Jane katanya mau bakar butik Kak Jeli,” jawab Jane dengan panik.


“Hah?! Orang iseng kali, Jane.”


Jane menggeleng cepat. “Aku enggak tahu, nomornya di-privat barusan telepon aku, dan aku juga enggak tahu dia dapat nomor aku dari siapa.”


Jelita langsung teringat akan pelaku teror belakangan ini. Ia tidak menyangka jika orang itu mampu mendapat koneksi untuk menghubungi adiknya. Ia menelan salina dalam kepanikan yang bisu itu. Kedua tangannya bergetar, sementara hatinya menyesalkan insiden jatuhnya ponsel ke dalam kolam. Alhasil sang pelaku beralih pada Jane yang semestinya ia lindungi.


“Kak ...?” ucap Jane merasa takut.


Jelita lantas tersadara dari keterpanaan. Ia menghela napas cukup dalam untuk menenangkan diri. Selanjutnya, ia berkata, “Jangan ngomong siapapun, terlebih Papa. Jangan pula Kak Reza, ini masih sangat malam. Ka-kamu di sini aja, Kakak mau ke butik. Orang itu kemungkinan hanya iseng, tapi Kakak perlu memastikan. Tolong ya, Jane!”


Ketika Jelita hendak berbalik badan, Jane menahan lengan kakaknya itu. “Tunggu, Kak! Aku ikut Kakak.”

__ADS_1


Jelita menggeleng lembut sembari tersenyum. “Ini bukan kali pertama Kakak dapet kayak gini, kamu tenang aja dan lanjut tidur aja, Jane. Lagian, butik lagi ramai-ramainya dan sebentar lagi akan ada fashion show, jadi cukup wajar jika pihak pesaing gencar kasih masalah.”


“Tapi, Kak ...?”


“Tolong, Jane, jangan buat keributan dengan hilangnya kita berdua di malam hari. Kakak enggak mau Papa tahu, kamu tahu sendiri, ‘kan, Papa sedang kasih aturan ketat? Kalau Papa tahu, kita bakal didampingi pengawal sekaligus enggak leluasa dalam bergerak.”


“Kak, Jane tahu, tapi gimana kalau Kakak dalam bahaya? Dan jika selama ini dapat teror itu, kenapa Kakak diem aja? Seenggaknya cerita sama aku, Kak!”


Jelita menyentuh kedua pundak Jane. “Dia hanya orang iseng, Jane, kamu tenang aja. Lagian kamu juga harus fokus sama konser mini, jangan libatin diri untuk hal-hal enggak penting.”


Jane terdiam. Ia selalu tidak bisa melawan ketika Jelita ngotot akan pendapatnya. Namun mau bagaimanapun, ia merasa sangat khawatir. Apalagi ketika Jelita tidak memberitahu perihal teror pada Reza, dalam artian tidak ada yang bisa melindungi kakaknya itu selain dirinya.


Perihal raut ketakutan Jelita yang terjadi pada beberapa saat yang lalu juga sangat mengganggu pikiran Jane. Namun, kembali lagi pada aturan sang ayah, ketika dua orang putri sekaligus ketahuan keluar malam tentu aturan ketat itu akan lebih diterapkan. Ia tidak bisa ikut kepergian Jelita begitu saja.


“Siapa yang tahu soal masalah ini selain aku, Kak? Apa enggak ada sama sekali? Om Arlan, Tante Fanni, Kak Mita? Bahkan Kak Reza aja enggak dikasih tahu sama Kakak. Dalam arti lain Kakak sedang melindungi mereka, ‘kan? Dan masalah ini enggak sesepele itu, ‘kan?” desak Jane.


Jelita terdiam dengan gerak mata yang ragu-ragu.


“Benar, ‘kan, ucapanku, Kak? Jane bakal ikut Kakak malam ini!”


“Jangan, Jane!” tandas Jelita sembari mencengkeram lengan Jane.


Cengkeraman yang kuat itu semakin dicurigai oleh Jane. Sudah pasti masalah tidak sesepele keisengan, ada sesuatu yang terjadi! Namun entah apa, Jane tidak bisa menduganya.


“A-ada yang tahu kok selain kamu, dan enggak sebahaya itu, Jane.”


“Siapa?”


Jelita semakin bingung.


“Kak ...?”


“Willi ....”


“Willi?”


“Ya, ka-kamu jangan salah paham, di-dia tahu karena—“


“Bukan salah paham yang terpenting sekarang. Tapi keamanan Kak Jeli, soal Willi, aku enggak mikirin lagi karena fokus nyari Mama. Baiklah kalau gitu, Jane bakal ngalah dan enggak bakal ikut Kak Jeli. Tapi, ... Kak Jeli janji hati-hati, ya.”


Jelita tersenyum. Ia merasa lega karena Jane mau melepaskan keinginannya untuk mengikuti Jelita. Dengan begitu, adiknya itu tidak perlu terlibat dalam bahaya. Kemudian, ia melanjutkan gerakannya untuk masuk ke dalam kamar. Ia mengambil jaket tebal, tas jinjing beserta kunci mobil. Sesaat setelah itu, Jelita bergegas dengan cepat tetapi tetap meminimalisir bunyi langkah kaki.


Sementara Jelita yang mengendap-endap, Jane masih mengamati gerakan kakaknya itu dalam kebisuan bercampur kecemasan.

__ADS_1


****


__ADS_2