
“William ...?”
Episode 40-Keinginan
Jane masih sibuk mengusap-usap kedua telapak tangannya, sambil sesekali menggigit bibir. Ada keraguan ataupun rasa malu untuk mengatakan sesuatu pada Arlan sekaligus istri dari pria itu. Bukan tanpa sebab, melainkan karena tidak terlalu akrab. Justru kakaknya yang begitu akrab dengan mereka berdua.
Jane menelan saliva, kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Suaranya seolah tertahan di tenggorokan dan enggan untuk dikeluarkan. Gadis itu seolah tak bisa berkutik oleh tatapan tajam yang sarat akan rasa penasaran dari Arlan. Namun, kendati begitu, Jane tetap mengumpulkan sisa energinya untuk berucap maksud sekaligus tujuannya.
Fanni menghela napas perlahan, kemudian ia hembuskan secara perlahan pula. Melihat gadis yang merupakan tamu rumahnya begitu bimbang, Fanni memutuskan untuk berdiri. Sedetik kemudian, ia berjalan menghampiri gadis itu.
Fanni duduk di kursi tamu lain dan tentu saja dekat dengan Jane. Perlahan, wanita blasteran Belanda itu meraih jemari Jane dan digenggamnya.
“Jangan sungkan, Jane. Ada apa? Pelan-pelan aja,” ucap Fanni lembut penuh aura keibuan.
Mendengar kelembutan dari nada suara Fanni, Jane terenyuh. Ada haru yang bercampur kedamaian di hatinya. Suara seorang ibu yang sangat ia rindu. Kendati Fanni bukanlah ibu yang ia rindu tersebut, tetapi cukup mendamaikan hatinya.
“Mm ... maaf, Tante, Om.” Jane menatap Fanni berganti Arlan dengan pancaran mata yang sendu. Gurat kesedihan pun muncul di wajah ayunya itu.
Arlan menghela napas dalam, berusaha menenangkan dirinya yang sempat menegang. Kemudian, ia memundurkan badan dan bersandar.
“Bicara aja,” ucap Arlan.
Jane menunduk. “Ini soal Papa dan Mama,” jawabnya lirih, bahkan nyaris tidak terdengar oleh sepasang suami istri itu.
Mata Arlan membelalak, meski hanya mendengar perkataan Jane samar-samar. Bahkan, istrinya pun merespon dengan sikap serupa.
Arlan kembali membangunkan dirinya. Tubuhnya ditegakkan dan menatap Jane dengan rasa penasaran yang mencuat dari dalam hatinya. “Ada apa dengan mereka?” tanyanya.
“Jane tahu kalau Om sangat dekat dengan Papa. Mereka enggak ada apa-apa, tapi ini soal aku juga, Om,” jawab Jane.
Dahi Fanni mendadak berkerut. “Kamu?” tanyanya.
Gadis itu menatap Fanni dan mengangguk pelan. “Iya, Tante.”
Sementara Arlan lebih memperhatikan wajah Jane, seolah sedang mencari jawaban atas pernyataan gadis itu. Kemudian ia menghela napas lagi, cukup dalam dan berat. Ada sesuatu yang bisa ia tangkap sekaligus pastikan dari wajah ayu itu. Berikut cerita Nur Imran yang kembali mendengung di telinganya.
Sementara Fanni, ia tidak bisa memberikan dugaannya terhadap Jane dan kedua orang tuanya. Tidak banyak yang ia tahu perihal Jane, selain hubungan gadis itu dengan sang kakak sekaligus masa lalu. Ia hanya bisa memberikan sentuhan lembut di tangan Jane penuh kasih sayang, dan menunggu keputusan dari suaminya.
Arlan kembali bersandar. Ia menautkan kedua telapak tangannya satu sama lain. Ia masih menghela napas beberapa kali sembari menunduk. Seolah-olah ia tengah merenungkan sesuatu mengenai ucapan Jane, meski belum ada jawaban pasti dari gadis itu. Namun, Arlan memastikan jika dugaannya pasti benar.
“Kamu masih merasa bersalah?” tanya Arlan beberapa detik kemudian sembari menatap wajah sendu milik Jane.
Jane tidak menjawab. Ia menatap sekilas wajah Arlan kemudian memilih menunduk.
“Kamu masih ada pengobatan psikiater, 'kan?” tambah Arlan.
Jane berangsur menggeleng. “Udah lama enggak, Om.”
__ADS_1
“Kamu belum sembuh, Jane.”
“Sama kayak Kak Jeli, aku juga malu kalau dipikir gila. Dan kenapa Kak Jeli enggak mau ada pengobatan seperti itu, karena aku udah menjalaninya. Dia khawatir jika Papa dianggap enggak bisa mendidik anak dan membuat para rekan Papa sungkan bekerja sama.”
“Tapi, kalian 'kan bisa pengobatan pribadi. Lagipula, selama ini juga begitu, 'kan?”
“Terlalu banyak mata-mata, Om. Om pasti paham gimana Papa melindungi perusahaan dari para pesaing dan orang syirik.”
“Ya, Om tahu. Tapi enggak sebahaya itu, Jane. Rumah kamu banyak pelayan dan pengawal. Tentu keamanan enggak main-main. Kesembuhan mental kalian berdua lebih penting dan Papa kalian pun juga penting.«
Jane terdiam. Ia tidak bisa memberikan penyanggahan, karena ucapan Arlan benar. Kendati seseorang sempat menanyakan perihal pengobatannya. Seseorang yang merupakan pembenci dirinya. Dan hal itu membuktikan bahwa ada mata-mata yang memberikan info pada orang tersebut. Kejadian itu sudah terjadi sangat lama, sampai Jane memutuskan untuk menyudahi pertemuan dengan seorang psikiater.
Kemudian, Fanni mengambilkan cangkir milik Jane. Ia menyodorkannya pada sang pemilik. Dengan anggukan pelan dan kata terima kasih, Jane menerima. Kemudian, ia lantas menyesap air hidangan tersebut.
“Lalu, apa rencana kamu, Jane?” tanya Arlan beberapa saat setelah bergeming.
Jane meletakkan kembali cangkir itu. Kemudian, ia menatap Arlan dengan ragu. “Jane ....” Ia menelan saliva. “Jane ... i-ingin pergi, Om.”
Dahi kedua orang dewasa yang bersamanya kini kompak berkerut. Mereka terkesiap dengan penuturan yang terbata-bata itu.
“Jane datang ke sini buat mi-minta tolong sama Om, supaya membujuk Papa untuk melepaskan Jane. Jane ... Jane ingin pergi, Om, ingin bersama Mama. Jane ingin rawat Mama, karena kalau bukan sama Jane Mama sama siapa?”
Air mata meluruh membasahi kedua pipi Jane di sela-sela ucapannya. Dadanya terasa sesak serta hati yang sakit atas semua sembilu yang ia tanggung selama ini. Merasa bersalah atas dosa ibundanya sendiri, sementara ia masih enak-enakan di kediaman sang korban yaitu ayah dan saudari tirinya. Jika dunia tahu, sudah pasti ia akan disalahkan dan menjadi bahan cercaan.
Meski Nur Imran telah menutupi status diri Jane sekaligus Riris—ibundanya—sebagai sosok kedua di hidup pria itu. Namun beberapa orang telah mengetahui segalanya, termasuk masa lalu ayah tirinya itu. Sudah pasti, termasuk status Jane sebagai anak tiri dan ulah ibundanya saat itu.
Fanni berangsur memeluk tubuh gadis itu tanpa sepatah kata pun ia ucapkan.
Arlan yang sempat tercekat, kini berangsur terenyuh. Sementara benaknya kembali mengingat tentang masa lalu, di mana ia merasa bersalah atas kejahatan mantan istrinya. Saat itu, Nia—istri pertamanya sebelum Fanni—sekaligus ibunda kandung dari Selli, memberikan informasi rahasia pada pihak kontemporer. Yang mana, pihak tersebut adalah selingkuhan wanita itu. Kekacauan terjadi di antara kedua belah pihak perusahaan dan saling menyerang. Arlan sebagai seorang suami disalahkan, kemudian memilih mundur dari jabatan sebagai seorang CEO dari Harsun Group.
Ingin sekali Arlan menenangkan Jane sekaligus meminta gadis itu tetap bertahan di rumah Nur Imran, lantaran sikap kedua anggota keluarga tirinya begitu baik terhadapnya. Namun, Arlan tidak bisa mengatakannya, sebab ia pernah berasa di posisi Jane yang serba salah.
“Papa kamu sayang sama kamu, Jane,” ucap Arlan.
Jane mengusap air matanya. Kemudian, ia menjawab, “Jane tahu, Om. Dan semakin Papa peduli, semakin besar pula beban rasa bersalah ini.”
“Renungkan dulu, Jane. Lagipula, ibumu masih menjalani perawatan. Sampai saat diagnosa beliau benar-benar bagus, kamu boleh memutuskannya. Om akan bantu bicara pada papamu. Tapi ... jika papamu menyetujui keinginan kamu sekaligus masih memberikan nafkah padamu, Om minta kamu menerima.”
Jane terdiam.
“Kamu anak beliau, Jane. Om denger, nama kamu pun diubah oleh beliau supaya memiliki satu huruf depan yang sama dengan kakakmu. Dan ... selama bertahun-tahun pun kamu selalu diutamakan ketimbang Jeli, kamu harus ingat masa-masa itu. Jika kamu menolak, pasti beliau akan sangat kecewa. Sekaligus, jangan pernah merasa iri pada kakak kamu.”
Hati Jane terenyak. Iri? Benarkah ia merasakan itu sebab sempat kesal terhadap Jelita? Bahkan, saking kesalnya ia menolak semua penggilan telepon dari kakaknya itu. Jane menegang. Jika benar-benar iri, lantas untuk hal apa? Karena William, kah? Sosok pria yang bahkan tidak pernah ia temui. Atau, ... ?
Jane tercekat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak mau kurang ajar lebih dari itu. Jangan sampai ada perasaan iri untuk kakaknya yang bahkan menjalani penderitaan dalam kurun waktu yang lama.
Arlan tersenyum menatap respon Jane. Ia bisa membaca apa yang dipikirkan oleh gadis itu, meski tidak seratus persen benar.
__ADS_1
“Jangan sekali-kali kamu menginginkan posisi kakakmu saat ini, Jane,” ucap pria itu tanpa ragu.
“Mas!” tegas Fanni berupaya mencegah suaminya untuk tidak berkata hal yang menyakitkan.
Arlan menatap wajah istrinya yang beraut tegas. “Apa, Sayangku?”
Kemudian, Fanni meletakkan jari telunjuknya di depan hidung mancungnya sembari mendesis. Namun ... Arlan malah mengerlingkan satu matanya sebagai tanda goda. Otomatis, Fanni tercengang berkat sikap usil suaminya itu.
“Apa benar aku iri pada Kak Jeli?” Suara Jane cukup lirih untuk didengar. Namun tetap sampai di pendengaran Fanni juga Arlan.
Arlan menghela napas dalam sembari menatap wajah Jane yang sendu. “Mungkin ada sedikit. Mau gimanapun, posisi Jeli lebih kuat saat ini. Kenyataan bahwa dia merupakan nona muda pertama di keluarga Nur Imran dan pasti enggak ada rasa bersalah di hatinya selayaknya kamu,” jawabnya.
“Benar, Om, Kak Jeli bisa mendapatkan segalanya dengan mudah bahkan seorang laki-laki sekalipun. Juga, dia enggak menanggung beban perasaan ini. Dia sangat hebat, cantik sekaligus pintar. Sosok gadis baik yang sangat diidam-idamkan. Bahkan, selalu mendapat pujian dari rekan Papa atau fans-nya.”
“Percayalah, Jane, kakakmu meraih semua itu penuh perjuangan keras. Termasuk menahan traumanya, agar kamu bisa menjalani perawatan. Seperti katamu, untuk melindungi nama baik papa kalian. Dia memilih menahan daripada berobat.”
“Aku egois ya, Om?”
Arlan tersenyum. “Selama kamu bisa menahan diri atas rasa iri, kamu enggak egois.”
“Aku sempat kena hujat karena kabar mengenai Mama merebak di kalangan kampus. Tapi entah mengapa, tiba-tiba kabar itu hilang dan orang-orang sama-sama diam. Meski hujatan hanya sebatas gunjingan, tapi cukup menyakitkan, Om. Di saat itu perasaan bersalahku semakin berkecamuk luar biasa. Aku melontarkan ingin pergi dari rumah, tapi Kak Jeli dan Papa menahan. Lalu, Papa menyuruhku untuk berobat mental.”
Arlan manggut-manggut. Fanni pun masih setia mendampingi gadis itu.
“Lalu, dalam kurun waktu dua tahun aku berobat. Ada kabar lagi, kalau Jane depresi. Salah satu pesaing tim musikku, mengatakan aku gila, Om, Tante. Dan aku memutuskan untuk berhenti, aku bilang aku udah sembuh. Aku baik-baik aja, tapi semua terasa semakin sulit kalau aku terus di sana. Belum lagi memikirkan Mama.”
“Hmm ... jika meninggalkan rumah itu adalah keputusan yang benar dan melegakan, maka ambillah, Jane. Om bersedia membantu bicara dengan papamu sekaligus kakakmu. Setiap orang pasti punya derita sendiri. Kamu gadis yang kuat, karena bisa bertahan sampai saat ini. Seseorang juga enggak bisa memilih keluar dari rahim siapa dan dari ayah siapa. Meski ibumu sempat melakukan kesalahan, bukan berarti kamu bersalah. Mereka yang menghujat hanya ingin mencari bahan cerca, jangan didengarkan.”
Arlan mengambil jeda pada ucapannya dengan cara menghela napas dalam. Sorot matanya yang prihatin masih setia menatap wajah Jane. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun pada masalah ini, Riris sekalipun. Semua punya porsi derita masing-masing, termasuk Riris. Mungkin saja ibunda kandung dari Jane itu juga menanggung ketakutan karena posisi dirinya dan sang anak adalah keluarga kedua di hidup Nur Imran. Sayangnya, jalan yang ia ambil sangat salah dengan membuat Jelita menderita.
Saat Arlan ingin melanjutkan nasehatnya, bunyi bel pintu justru terdengar. Alhasil, ia menundanya. Kemudian, Fanni beranjak tanpa menunggu perintah. Wanita blasteran Belanda itu melangkah menuju keberadaan pintu utama rumahnya.
Sesampainya di sana, Fanni segera membuka pintu. Seorang pangeran tampan dari kerajaan Harsun muncul di balik pintu, lebih tepatnya menunggu sampai sang tuan rumah membukanya.
“Assalamu'alaikum, Tante.” Suara lembut dengan gerak santun, tamu itu berikan. Ia meraih tangan kanan Fanni dan mengecup punggung telapak tangan tersebut.
“Willi, kamu enggak bilang-bilang mau ke sini. Ah ... wa'alaikumssalam. Masuk, yuk,” jawab Fanni.
William melengang memasuk rumah itu. Ia menyamakan langkahnya dengan Fanni. “Udah, Tante. Enggak ada jawaban, dari Tante sama Om. Malahan si Selli yang angkat.”
“Ah, iya, HP di atas.”
Saat sampai di ruang tamu, Arlan pun berdiri mendapati sang keponakan datang. Juga, Jane yang mengikuti sikap Arlan. Gadis itu merasa terkesiap karena wajah William sangat tidak asing baginya.
“William ...?” lirih Jane.
Ketiga orang selain Jane terkesiap. Bagaimana Jane bisa tahu nama William? Padahal Riska belum mengumumkan pergantian posisinya. Terlebih, bagi William sang pemilik nama. Ia menautkan tatapan dengan mata gadis itu. Kedua sejoli muda saling berpandangan dengan masing-masing perasaan yang muncul di hati mereka.
__ADS_1
****
Hai guys, ini dua bab aku jadiin satu. Dan masih enggak ada Jeli dan Reza ( ╹▽╹ ) maaf. upnya juga masih terkendala urusan (◔‿◔)