
“Aku cuma butuh sebuah jawaban dari Kak Jeli. Jane mau tanya sesuatu, boleh?”
Episode 73-Pergerakan
(Note : Jangan bingung, ya, paragraf awal sudut pandang Lesy pas ada Nur Imran. Biar pembaca juga tahu info apa saja yang Lesy dapat)
Dimulai dari lift menuju kantornya, para pengawal Nur Imran berbalik dan melangkah pergi. Keenam orang itu akan berjaga-jaga di depan pintu loby, sementara Anhar masih setia mendampingi atasannya itu.
Langkah kedua pria dengan rentang usia delapan tahun itu, dibawa dengan tegas. Beberapa karyawan yang melintas pun serentak merundukkan badan sebagai salam kehormatan. Tak ada yang Nur Imran katakan sebagai balasan, melainkan anggukan pelan. Tidak pula ia berhenti untuk berbasa-basi.
“Anhar, hal ini semakin tidak menentu. Kita harus menemukan Dery.” Nur Imran membuat rencana berikut mengetahui keberadaan pria yang merupakan kekasih gelap mantan istrinya beberapa tahun yang lalu. “Saya yakin dia terlibat, hanya dia yang saya jebloskan ke penjara sampai bertahun-tahun. Bisa jadi Jane dalam bahaya karna Jane korban penyerangan pria itu.”
“Baik, Pak, saya akan segerakan mengambil langkah,” jawab Anhar dari belakang Nur Imran. “Oh, iya mengenai nyo—”
Ucapan Anhar terpotong sebab Nur Imran mengangkat tangannya. “Diam dulu ada orang lain.” Matanya lantas menatap seorang office girl yang bertugas. Wanita berambut kecoklatan itu, begitu sibuk menyapu lantai di depan ruangan Nur Imran.
Karena tidak mau rahasia seputar teror itu semakin terkuak oleh khalayak, akhirnya Nur Imran tidak berbicara lagi. Ia segera melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti. Sedangkan Anhar begitu setia membututi dari belakang.
Sang office girl, melainkan Lesy—penyadap informasi—lantas mengernyitkan dahi. Namun di detik berikutnya ia tersenyum lebar. Ia mengambil ponselnya dari dalam kantong celana, kemudian melakukan panggilan pada seseorang.
“Za! Gue ada kabar yang mungkin berkaitan sama cewek loe,” ucap Lesy tanpa basa-basi
“Apa kita bisa ketemu sekarang, Les?” balas penerima telepon itu yang sejatinya adalah Reza.
“Nggak! Gue lagi di kantor Nur Imran, pura-pura jadi office girl. Butuh waktu lama buat kabur, dan info ini gue rasa belum terlalu cukup.”
“Ada info apa? Bisa bilang sekarang?”
“Dengerin gue baik-baik, karna nggak bakal gue ulang lagi. Dery, dia pernah nyerang adiknya Jeli sampai jadi buronan. Orang itu masuk penjara sekian tahun, dan gue rasa dia bisa masuk list tersangka. Karna saat inipun, Nur Imran lagi curiga sama dia. Terlebih, si nyonya menghilang dari rumah sakit jiwa. Loe tahu, 'kan, loe harus apa sekarang?”
“Benar—”
Sebelum Reza menuntaskan ucapannya, Lesy langsung mematikan panggilan tersebut karena khawatir jika ketahuan. Lalu, wanita segera mengendap-endap untuk mencari celah mendengar ucapan Nur Imran selanjutnya.
Samar terdengar suara Nur Imran oleh telinga Lesy, karena alat sadap berbentuk kancing telah ia lempar melalui kolong pintu ruangan sang pengusaha besar. Alat pendengar di telinganya memberikan dukungan penuh atas sadapan itu.
“Pelaku itu tiba-tiba membahas soal penjara, Anhar. Saya yakin Dery ada kaitannya. Entah bersama Riris atau tidak, yang pasti dia dalang utamanya,” ucap Nur Imran.
“Anda tetap tidak ingin melibatkan aparat?” tanya Anhar.
Nur Imran menggeleng sembari menyangkal, “Nggak! Kita lihat progress pencarian kita sendiri dulu.”
“Baiklah.”
“Oh, ... kirim dua pengawal itu. Satu untuk Jelita, satu lagi untuk Jane. Mereka sulit saya kendalikan, pastinya adanya pengawal mereka justru merasa terganggu. Oleh sebab itu, lakukan secara diam-diam.”
“Baik, saya laksanakan, Tuan besar. Tapi, apakah ada informasi mengenai alamat pria itu?”
“Ya, saya sendiri ingat dia pernah tinggal di cluster elit Cendana Sanjaya. Rumah bertingkat dua dengan gerbang berciri ukiran kayu di atas logam tajam. Tempat itu milik Sanjaya Group, maksud saya kantor marketingnya.”
“Bagus, mungkin hal ini akan sangat membantu penyelidikan kita, Pak.”
__ADS_1
“Ya, tentu saja. Satu lagi, jangan biarkan masalah ini merebak. Memang, rumor sudah menyebar, tapi jangan sampai mereka mendapat pembenaran.”
Anhar mengangguk mantap penuh tanggung jawab. Dan tanpa pikir panjang, ia segera melaksanakan apa yang Nur Imran perintahkan.
Di sisi lain, ketika mendengar suara pintu terbuka, Lesy segera mengambil posisi untuk bersih-bersih lagi. Anhar sama sekali tidak menyadari adanya penyusup itu, entah ia tidak peka atau Lesy yang terlalu pintar dalam melakukan aktingnya.
Sepeninggalan Anhar, Lesy menghela napas. Ia kembali menyudahi aktingnya, kemudian bergerak hati-hati untuk menghindari kecurigaan serta CCTV. Kabur dari tempat tersebut merupakan rencananya detik itu.
Dan tibalah saat di mana Reza berada di Cluster elit tersebut. Matanya menatap gapura indah berpatung sepuluh kuda hijau. Informasi lanjutan sekaligus alamat itu benar-benar sangat membantunya. Lesy bukan lagi pencuri data ilegal yang sangat ia benci, tetapi untuk kali ini wanita itu sangat berguna. Bahkan, Reza sangat berterima kasih meski tak terucap dari bibirnya.
Setelah memperlihatkan identitas diri serta kartu nama, security Cluster tersebut mengizinkan Reza untuk masuk ke kawasan Cendana Sanjaya. Rindangnya pohon akasia menjadi sajian pertama bagi mata awas pengacara itu. Vila-vila indah begitu megah berdiri kokoh di kiri dan kanan dari jalan yang Reza dan mobilnya lewati.
“Wuuah! Apaan tuh? Rumah mewah gerbangnya pedang-pedangan. Mm ... unik sih, khas banget. Gila juga, pahatannya detail banget kayaknya. Kalau ada ada si pelaku, gue cabut satu tuh buat nikam ginjalnya,” ucap Reza terpana saat mendapati sebuah rumah unik di samping kiri dari mobilnya.
Namun untuk saat ini merasa takjub dengan keindahan rumah mewah bukanlah keputusan yang bagus. Reza tidak mau hanyut dalam perasaan yang bahkan tidak berguna. Sesuai informasi mengenai ciri-ciri bangunan yang Lesy ceritakan, Reza tetap mengedarkan pandang ke kanan-kiri dengan teliti.
“Apa yang dimaksud ukiran kayu di atas logam tajam? Kayak apa gitu bentuknya, coba?” Reza berdecak. Ia menghela napas, kemudian memperlambat laju mobilnya. Kesal menjadi rasa yang didera sebab sudah sepuluh rumah ia lewati, gerbang dengan bentuk demikian sama sekali tidak ia lihat.
“Ukiran kayu, di atas logam tajam? Hmm ... apa ini sebuah istilah yang dibuat calon mertuaku, tapi kalau nggak gagal?” Sesaat setelah menghentikan mobilnya hampir di perbatasan, Reza kembali memperkerjakan otaknya.
Lalu, karena mengira bahwa kalimat itu merupakan sebuah istilah, Reza mencari keberadaan ponselnya. Sembari asyik berdecak, ibu jarinya begitu lihai bergoyang di atas layar sang telepon genggam. Pria tambun itu sedang mengetik istilah itu pada papan pencarian di internet.
Dan ... muncul beberapa barang antik khas piranti di zaman dahulu. Melainkan tombak, parang, bahkan pedang. Benda-benda itu sama-sama memiliki gagang berupa kayu yang dipahat dengan indah, menjadi sebuah ukiran detail di setiap sudut kayu itu sendiri.
Mata Reza membelalak ketika menyadari sesuatu. “Pedang? Pedang yang disusun terbalik tadi? Di rumah itu, sekaligus gaya unik dari gerbang rumah itu? A-apa jangan-jangan ini yang dimaksud ukiran kayu di atas logam tajam?”
Reza menyipitkan matanya, tetapi tetap bersorot tajam. Ya! Hanya tajam, Pak Nur enggak bilang jika bagian tajam bersentuhan dengan kayu. Lesy mengatakannya seperti itu.” Ia menelan saliva. “Jadi, ... rumah pedang-pedangan tadi ...? Rumah tersangka Dery?”
****
Dari segi mental, tentu saja Jane sedang mengalami stres berat. Ia ketakutan, cemas, malu serta tidak enak hati. Oleh sebab keadaan buruk itu, perut Jane enggan untuk merespon makanan dengan baik. Akhirnya, Jane jatuh sakit—terkulai lemas tanpa ada satupun orang yang tahu.
Namun sepertinya Jelita tidak sebodoh dan se-egois itu. Beberapa hari mendapati paras Jane yang tampak pucat pasi, terlebih ketika menyadari kondisi badan adiknya yang semakin kurus, Jelita curiga jika Jane tengah terluka. Tulang pipi Jane tampak jelas, sorot mata gadis itu yang lemah menjadi kecemasan tersendiri bagi Jelita. Dan pada akhirnya, ia memutuskan untuk mampir sebentar ke kamar adiknya.
Jelita mengetuk pintu berkali-kali, tetapi tidak disahuti. Ia lantas menekan tombol bel kamar itu agar Jane merespon, setidaknya menyahuti. Namun semua nihil! Jelita mulai panik.
“Mas! Tahu, nggak, Jane kenapa?” tanya Jelita pada seorang pelayan pria bertopi hitam.
Pelayan rumah Nur Imran itu hanya menggeleng kepala.
“Ih! Lepas tuh topinya, jangan gegayaan kalau lagi kerja. Dan lagi emangnya kamu penjahat, pakai topi hitam!” geram Jelita yang kadung kesal lantaran informasi tidak ia dapat perihal kondisi Jane.
Pelayan pria itu merunduk rendah untuk meminta maaf. Detik berikutnya ia berlalu, karena Jelita tidak menggubrisnya lagi, melainkan sibuk dengan kepanikannya sendiri.
“Jane? Ini Kakak!” seru Jelita dengan suara lantang, tetapi cempreng.
Ketika gadis perancang busana itu hendak mengetuk pintu lagi, Jane justru sudah membuka terlebih dahulu.
“Jane ...?” Tanpa pikir panjang, Jelita menyelinap masuk tanpa meminta izin. Ia menutup pintu setelahnya, kemudian mencengkeram kedua lengan adiknya. “Jane, kamu enggak apa-apa? Pucet banget sih?! Ka-kamu sakit?!”
Jane mengangguk lemah. “Mm ... sakit, lenganku sakit ditekan kayak gini,” balasnya.
__ADS_1
“O-oh maaf!” Jelita melepaskan cengekeramannya itu. “Ayo, ayo, balik rebahan lagi. Kamu mau apa? Kakak ambilin.”
“Jangan khawatirin aku, Kak, khawatirin diri Kakak sendiri.”
“Apaan sih? Kakak baik-baik aja. Bilang aja kalau kamu pengen sesuatu.”
“Bolehkah?”
Jelita mengangguk mantap. Kemudian, ia memapah Jane menuju ranjang bernuansa merah muda. Dengan setia, Jelita membantu adiknya itu untuk merebahkan diri.
Tak lama kemudian, Jelita hendak berdiri. Tujuannya mengambil minum dan ponsel untuk menghubungi seorang dokter. Sayangnya, Jane justru menahan tangannya.
“Kamu butuh sesuatu?” tanya Jelita.
Jane menggeleng lemah. “Aku cuma butuh sebuah jawaban dari Kak Jeli. Jane mau tanya sesuatu, boleh?”
Mata Jelita berkedip ragu. “Bo-boleh ... sih.” Bahkan, suaranya pun terdengar gentar. Ia khawatir jika pertanyaan Jane tidak masuk akal.
Sembari menarik Jelita agar terduduk, Jane tersenyum. Senyum yang seolah akan menjadi senyum terakhir ia suguhkan untuk kakaknya. Karena senyum itu pula, firasat Jelita menjadi tidak enak. Jane tidak hanya sakit fisik, Jelita yakin ada sesuatu yang telah menganggu psikis adiknya itu.
Apa si pelaku itu juga gangguin Jane? Kendati merasa penasaran dalam menduga, Jelita tidak berani bertanya. Sebab, selain membuat situasi menjadi mencekam, Jane pasti akan merasa tidak nyaman.
“Ada apa, Adikku?” tanya Jelita dengan lembut sarat akan kasih sayang.
Mata Jane yang bulat bergerak pelan ke kanan dan kiri menyusuri setiap jengkal bagian wajah kakaknya. “Kakak itu orang yang tulus, pasti enggak pernah bohong, 'kan?”
“Nggak juga, saat ini aku justru menyimpan kebohongan pada pacarku sendiri.”
“Mm ... begitu. Jadi, Kak Jeli juga punya peluang buat bohong sama aku, ya?”
“Tadinya, aku pikir sekarang akan jadi sia-sia kalau Kakak bohongin kamu.”
“Berarti mau jujur?”
“Mm ... akan Kakak usahakan.”
Jane menghela napas sembari mengulas senyumnya. “Kak ...?” Ia menggenggam jemari Jelita dengan lembut tetapi kuat. “Kak Jeli, Jane mau tahu siapa ... wanita tua itu. Apa mamaku?”
Jelita terkesiap detik itu juga. Mata juga rahangnya terbuka dengan lebar. Tidak ia sangka Jane akan menanyakan seputar wanita tua—penyerang jam satu malam.
Jangan-jangan ... Jane mikirin ini sampai kurus dan jatuh sakit begini? Kepanikan yang luar biasa besar melanda diri Jelita, sampai kedua tangannya bergetar. Dunia seolah berhenti berputar hanya karena kalimat tanya dari adiknya.
Jadi benar, Mama pelakunya, pikir Jane. Kendati tidak diberi jawaban, respon Jelita sudah memberikan sebuah kejujuran. Hatinya lantas terenyak, bahkan tersiksa seperti disambar kilat ribuan kali. Dadanya sesak seperti dihantam sebuah batu yang besar. Perasaan yang sebelumnya hanya menjadi kecemasan, kini benar-benarnya menjadi kepiluan. Kenyataan pahit yang baru saja Jane dapat seperti lubang neraka yang ia masuki, bahkan tanpa sebuah kematian.
Haruskah aku dan Mama mati agar Kakak dan ayah tiriku nggak se-menderita ini? Rencana buruk tersemat di otak Jane karena keputusasaannya dalam menerima kenyataan itu.
****
Reza udah mulai dapat petunjuk, begitupun Nur Imran, Arlan dan William. Jeli masih didera ketakutan, gampang panik dan sering khawatir. Jane yang juga udah tahu siapa pelaku wanita tua itu, dan berencana mati bersama ibunya. Tinggal mencari saja keberadaan Dery dan Riris+peperangan selanjutnya. Kalau bab-bab ini diringkas tampaknya mulai mendekati ending ya? Sepertinya memang begitu, dan karena progress novel ini nggak sebagus Aku GENDUT!!! dalam segi pembacanya dan view, sepertinya cukup satu season saja yah? Dan entah bakal happy atau sad ending dengan ngerinya masalah mereka hehehe. Oh iya, aku mohon maaf karena konflikku selalu berat. Jujur, aku justru enggak bisa bikin konflik ringan. Maaf ya kalau bertele-tele dan membosankan 🙏
Terima kasih terus buat yang sudah membaca.
__ADS_1