Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 17-Tak Gentar


__ADS_3

“Dek? Jangan seperti ini. Kamu selalu nyamperin Kakak, bahkan sampai ke sini. Jangan main-main dengan hati. Bisa jadi saat ini kamu hanya bosan, dan meminta Kakak jadi suami kamu hanya sebuah canda yang kamu utarakan.”


Episode 17-Tak Gentar


Di sebuah pengadilan, Reza baru saja menyelesaikan prosesi persidangan. Ia menghela napas panjang sekaligus merasa lega, lantaran ia berhasil memenangkan sidang itu beberapa saat yang lalu. Senyum manis pun ia lebarkan di bibirnya yang terapit dua pipi gembul. Setelah sebelumnya ia dipusingkan dengan kasus yang ia pegang, akhirnya keadilan pun bisa ia tegakkan. Sang pelaku pembunuhan dihukum tuntas—mendekam seumur hidup di dalam jeruji besi.


“Terima kasih, Pak, terima kasih,” ucap seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba menghampiri Reza. Wanita itu tengah berderai air mata, sembari bersujud di hadapan Reza.


Reza merunduk. Dengan sopan, ia meminta wanita itu untuk bangkit. “Ibu harus kuat, sekarang anak Ibu sudah tenang karena pelaku sudah dihukum dengan setimpal,” jawabnya.


“Saya, saya akan selalu mendo'akan yang terbaik buat Bapak. Terima kasih, terima kasih banyak.”


Reza tersenyum. “Terima kasih kembali karena selalu mempercayai saya sejauh ini, Ibu. Semoga selalu tabah dan menjalani hidup dengan baik. Anak Ibu pasti sedang tersenyum di langit.”


Wanita paruh baya itu berangsur mengusap air matanya. Terakhir, ia menjabat bahkan hendak mengecup tangan Reza. Namun, Reza segera menepis dengan sopan lantaran ia masih terlalu muda untuk mendapatkan perlakuan sedemikian rupa.


“Terima kasih, Pak Pengacara. Semoga karir Anda semakin cemerlang. Saya dan istri undur diri dulu,” ucap suami dari wanita paruh baya itu.


“Sama-sama, Pak Toni. Terima kasih kembali dan hati-hati di perjalanan,” balas Reza sopan.


Kemudian, sepasang suami-istri yang merupakan klien Reza itu berbalik. Keduanya kompak melangkah meninggalkan halaman pengadilan di mana Reza masih berdiri.


Sementara, sang pengacara memandang punggung keduanya dengan helaan napas yang ia ambil dalam penuh kelegaan. Pun meski, mereka kehilangan seorang anak, setidaknya saat ini sang pelaku sudah berhasil ditangkap bahkan dihukum seumur hidup. Reza berharap kedua orang itu selalu tabah dan bahagia.


“Luar biasa! Calon suami Jeli emang orang hebat!”


Seorang gadis tiba-tiba hadir di samping Reza. Membuat pria itu terkesiap, kemudian berbalik dan menatap. Jelita sudah ada di dekatnya, mengulas senyum manis.


“Hai, Kak!” sapa gadis itu pada Reza yang masih bergeming tidak habis pikir.


“K-kok kamu ada di sini, Dek?” tanya Reza sesaat setelah ia menggelengkan kepala—menyadarkan diri atas rasa terpana.


Jelita maju satu langkah lebih mendekat. Kemudian, ia merengkuh lengan Reza tanpa rasa malu sedikit pun. “Jeli mau makan siang lagi sama Kakak.”


Reza reflek menelan saliva. Degup jantungnya sukses dibuat berdebar tidak keruan. Ulah Jelita benar-benar membuatnya terkunci dalam romansa yang bahkan belum ia yakini. Dengan gerak kaku, Reza mengikuti langkah gadis itu.


“Makan nasi padang yuk, Kak,” ajak Jelita. Ia masih mempertahankan gemulai manjanya. Tidak ia pedulikan sama sekali bahwa pria di sampingnya merasakan debaran jantung yang semakin cepat.


“Ka-kamu enggak takut?” tanya Reza sesaat setelah menelan saliva dengan susah payah.


Jelita menggeleng. “Kalau sama Kakak, aku enggak takut. Nanti ‘kan aku bisa olahraga.”

__ADS_1


“Hmm ....”


“Kenapa, Kak? Kakak masih enggak nyaman deket sama Jeli?” Gadis itu menghentikan langkah. Ia menatap Reza penuh tanya.


Reza menghela napas panjang, lalu ia hembuskan perlahan. Matanya mencoba menatap kedua manik mata milik Jelita. Sampai tatapannya bertaut dengan tatapan gadis itu. Wajah Jelita yang manis bahkan imut, membuat Reza terus berdebar. Juga, tidak habis pikir dengan sikap gadis itu.


Masih sulit untuk Reza percayai, jika gadis itu benar-benar menyukainya. Rasa takut jika dipermainkan pun turut muncul di hatinya. Sebab baginya adalah sesuatu yang mustahil gadis cantik bahkan nona muda seperti Jelita menyukai pria bertubuh tinggi besar.


Reza menggeleng lagi. “Kenapa kamu jauh-jauh ke pengadilan, Dek?” tanyanya sembari mengayunkan kaki.


“Tadi Jeli ke kantor Kakak, tapi katanya ada di sini. Ya udah, Jeli ke sini,” jawab Jelita sembari mengikuti langkah Reza.


Reza kembali menghentikan langkah. Ia berbalik dan menatap Jelita. “Sebenarnya apa yang kamu mau dari aku?”


Jelita tak langsung menjawab. Ia membalas tatapan pria itu. “Masih sama, Kak.”


Dahi Reza berkerut samar. “Sama?”


“Mm ... Jeli mau Kak Reza jadi suami Jeli.”


“Jangan konyol, Jeli!”


Jelita mendengkus. “Konyol gimana maksud, Kakak? Jeli serius!”


Reza melepaskan rengkuhan tangan Jelita dari lengannya. Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan mengambil langkah pergi. Baginya, ulah Jelita sudah melewati batas. Bahkan, untuk gadis itu sendiri. Reza tidak ingin jika Jelita terus menyulitkan dirinya sendiri. Perihal rasa suka yang bahkan gadis itu belum sadari, antara canda atau benar-benar serius.


Sementara, Jelita yang ditinggalkan begitu saja kini menjadi kesal. Usahanya menyusul Reza ke pengadilan seolah menjadi sia-sia. Padahal, perjalanan yang ia tempuh cukup memakan waktu untuk makan siang.


Namun, Jelita tetap tidak gentar. Gadis itu segera berlari. Beruntung, hari ini ia memakai sepatu kets.


“Kak Reza!” seru Jelita, geram. Karena Reza terus saja berjalan membuatnya kesulitan dalam menyusul langkah pria itu.


Reza menghentikan langkah. Tanpa mengubah sikap, ia bergeming menatap ke depan.


“Aku cinta sama Kakak! Serius!” Seruan Jelita semakin keras. Sukses membuat orang di sekitar lingkungan itu menatapnya. Ia tidak peduli, yang penting Reza berbalik lagi.


Reza reflek membelalakkan mata. Ia berangsur memutar badan. Ditatapnya Jelita dengan heran, sebab sikap gadis itu terbilang sangat berani.


“Jeli cinta sama Kak—”


“Jeli!” tegas Reza. Ia mengambil langkah untuk menghampiri gadis itu kembali.

__ADS_1


Mata Reza menatap wajah Jelita yang tengah berekspresi sebal. Beberapa kali ia menelan saliva, seiring rasa bingung yang mengepung hatinya. Lalu, ia mengembuskan napas secara kasar melalui mulutnya.


“Kenapa kamu selalu bertindak segegabah ini jadi cewek!” ucap Reza sembari memberikan jitakan di kening Jelita.


Jelita mendengkus, sembari menahan sakit sebab jitakan dari Reza. Baru ia sadari beberapa orang tengah memperhatikan bahkan menertawai dirinya. “Habis, susah banget bikin Kakak yakin sama aku,” lirihnya.


“Baiklah, ... ayo kita makan siang.”


“Mm? Enggak ninggalin aku lagi?”


“Mau ditinggalin lagi?”


Jelita menggeleng. Senyumnya kembali merekah. Dengan gemulai manja, ia merengkuh lengan sang pengacara. Keduanya kompak berjalan menuju sebuah mobil milik Jelita yang terparkir di halaman pengadilan itu.


“Kenapa Kakak ninggalin aku tadi?” tanya Jelita sesaat setelah memasuki mobilnya.


Reza berdeham. “Biar kamu kapok dan berhenti berbuat sesuatu yang bikin kamu susah sendiri. Kalau sampai nyamperin Kakak ke sini, kamu udah bener-bener sembrono, Dek!” jawabnya sembari melaju mobil itu.


“Bukannya harusnya Kakak menghargai usahaku? Ini malah ninggalin aku.”


“Kakak cuma enggak mau kamu nyusahin diri sendiri.”


“Enggak, Jeli melakukannya dengan senang bukan susah.”


“Mungkin kamu hanya bosan.”


“Enggak! Jeli serius!”


“Kamu terlalu cantik untuk serius sama orang jelek.”


“Enggak! Kakak imut!”


“Dek!”


Jelita mendesis, sebal. “Jeli beneran suka sama Kakak. Kenapa sih enggak percaya?! Arrgh! Nyebelin tahu, enggak?!”


Reza bergeming. Masih ia dengar celotehan sebal dari gadis designer itu. Hatinya dikepung bingung. Antara percaya dan tidak percaya. Sebagai pria normal, tentu saja ia senang lantaran gadis yang ia suka memberikan pernyataan itu. Namun, di sisi hati yang lain, ia tetap harus menahan diri.


Jika nanti, Jelita benar hanya bosan dan melemparkan canda, bukankah dirinya juga gadis itu akan kesulitan? Reza tidak ingin terburu-buru.


****

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya, ya!


__ADS_2