Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 26-Lepas Kendali


__ADS_3

“Kita harus bisa, Jane. Lupakanlah, rasa bersalahmu dan mulai terbiasa menjadi keluarga kami. Dan Kakak, Kakak akan menyembuhkan trauma. Kakak akan makan dengan baik, setelah itu pelan-pelan kita temui Mama. Seenggaknya, semua demi Papa, Jane. Papa udah berangsur tua.”


Episode 26-Lepas Kendali


Satu minggu sudah Reza dan Jelita menjalin hubungan dalam kesepakatan. Namun, sejauh itu Reza begitu setia dan selalu antusias menemani Jelita ke mana pun bahkan apa pun yang gadis perancang itu mau. Kendati sebelumnya cukup berat untuk Reza terima, tetapi dalam satu minggu ia terlihat begitu menikmati. Tidak ada perlawanan apa pun yang pengacara muda itu berikan.


Sikap Reza semakin membuat Jelita kegirangan atas kemenangannya. Tidak cukup sulit dalam mengendalikan sosok pria yang ia puja. Rengekan manjanya pun disambut kelembutan oleh pria bertubuh gempal dan tinggi itu. Bahkan, Jelita tak segan-segan meminta Reza datang ketika malam dengan alasan sepele. Namun, gadis perancang yang juga seorang nona muda itu tidak pernah sekalipun menganggu pekerjaan Reza Amdan.


Terlepas dari kedekatan dalam kesepakatan dari kedua sejoli itu, malam ini sang pemegang kendali sudah siap dengan balutan gaun putih bergaya manis. Ya, Jelita, gadis itu begitu cantik. Kendati polesan make-up hanya terulas tipis, pancaran parasnya masih tetap menawan.


Sementara, Jane—sang adik—tengah berdecak, sembari duduk di tepi ranjang milik Jelita. Gadis pemusik itu masih heran dengan apa pun yang dilakukan oleh kakaknya, terutama perihal Reza yang baru ia ketahui beberapa menit yang lalu.


“Aku enggak habis pikir, Kakak seberani itu. Apalagi sampai membuat mereka bertengkar, gila! Dan ternyata Kakak enggak pernah telepon Pak Sunar sekaligus polisi? Luar biasa! Penipu akut!” ucap Jane, antusias.


Jelita mengulas senyumnya. Kemudian, ia bangkit dari duduknya. Langkahnya terayun pelan menghampiri keberadaan Jane. Ia melipat kedua tangannya ke depan, lalu berkata, “aku udah jujur kok sama Nyonya Reyna. Tapi, ... kalau Kak Reza enggak bakalan! Lagipula, dia punya sisi bodoh juga ya?”


“Kalau misal dia tahu gimana?”


“Aku rasa, enggak bakalan kenapa-napa. Toh, sejauh ini Kak Reza justru menikmati dan selalu menuruti apa mau Kakak, Jane.”


Jane menghela napas panjang, lalu melenguh pelan. “Kenapa Kak Jel begitu menyukai cowok itu? Apa hebatnya Kak Reza, bahkan segi visual aja enggak terlalu menarik. Oke, dia imut. Tapi, bukankah Kakak bisa dapat lebih dari dia? Secara, dia sama sekali enggak tegas! Bahkan, ... terkesan plinplan.”


Jelita terdiam. Ucapan Jane memang benar. Bahkan, ia mengakui itu. Reza sama sekali tidak memiliki ketegasan perihal perasaan, meski jelas-jelas begitu menyukai dirinya. Sekalipun pria itu begitu hebat dalam karir sebagai pengacara, tetap saja tidak berpengaruh pada kehidupan cinta.


Namun, bagi Jelita—sosok Reza—mampu membuat hatinya berdesir tidak menentu. Bahkan, rasa rindu sering menyerang ketika saling berjauhan. Jelita bisa melupakan perihal ketakutannya jika bersama Reza.


“Entah!” ucap Jelita, sembari duduk di samping adiknya. Ia mengembuskan napas secara kasar melalui mulutnya.


Dahi Jane berkerut samar. “Entah? Jadi, Kakak sendiri enggak tahu?” tanyanya heran.


“Iya, Jane, aku hanya menyukainya aja kok. Emangnya cinta butuh alasan? Kalau aku suka yang tampan, dari dulu aku enggak bakal jomblo, Jane. Malahan, Kakakmu ini enggak suka sama cowok ganteng.”

__ADS_1


“Kenapa? Bukannya, punya cowok ganteng adalah impian tiap cewek, Kak?”


Jelita hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari adiknya itu. Benar, ia sama sekali tidak pernah tertarik dengan sosok pria tampan dengan kesan yang sempurna. Bukan satu dua orang saja yang mendekatinya dengan tipikal seperti itu. Mengingat di masa SMA, para pembully-nya adalah orang-orang sempurna. Rasa takut sekaligus muak selalu ada setiap para pria tampan mendekati dirinya.


Jelita tahu bahkan paham betul, tidak semua orang tampan atau cantik sama seperti para pembully pada saat itu. Ia memiliki teman cantik sekelas Mita, blasteran sekelas Fanni, juga pernah mendengar cerita seputar kebaikan Celvin Hariawan Sanjaya—pembisnis nomor satu yang parasnya bak pangeran dari negeri fantasi—ia tampan dengan fisik atletis. Namun, Jelita tetap enggan untuk menjadikan pria tampan sebagai pasangan. Ia juga sangat berhati-hati ketika orang cantik yang tidak kenal ingin mengajak berteman.


Dan gadis perancang itu tidak bisa memberitahu alasan sebenarnya pada Jane. Ia khawatir jika adiknya itu merasa bersalah lagi, sebab semua penderitaannya berawal dari ibu kandung dari adiknya itu.


Jelita menghela napas dalam. Tak berselang lama ia bangkit. Ditatapnya Jane dengan senyuman. “Kakak harus berangkat, Jane. Pacar kesayangan udah di depan,” ucapnya setelah mendengar dering dari ponselnya.


“Bentar, Kak!” pinta Jane sembari menahan lengan Jelita. “Soal investasi juga bohong?”


Jelita menggeleng. “Enggak, itu beneran, Jane. Aku dan Papa berinvestasi pada perusahaan keluarga Nugraha.” Ia menggenggam kedua tangan Jane. “Perusahaan keluarga Kak Reza merambah di bidang yang sama. Bahkan, bisa jadi pemasok bahan baku buat perusahaan Papa. Jane, ... terlepas dari kesepakatanku sama Kak Reza, aku juga mulai merambah ke dunia bisnis. Kamu tahu, ‘kan, di antara kita harus mulai membantu Papa? Seenggaknya pelan-pelan.”


“Tapi, aku ....” Kepala Jane berangsur menunduk. “Aku enggak berhak untuk itu, Kak.”


“Kamu berhak dan sangat berhak! Jane ... mari berusaha bersama, kita adik dan Kakak, kita keluarga Nur Imran. Kita masuk dalam bidang berbeda, tapi kita tetap harus bantu Papa. Kita berdua, Jane, agar kita juga bisa mencapai mimpi.”


Perlahan, Jane menurunkan kedua tangan Jelita dari wajahnya. Ia masih membisu. Perasaannya berkecamuk, sementara di sisi hati yang lain ia sangat mengerti sekaligus memahami perkataan kakak tirinya. Hanya saja, melupakan rasa bersalah atas perbuatan ibundanya bukanlah perkara mudah.


Di samping itu, Jane memiliki rencana untuk undur diri dari rumah sang ayah tiri, suatu saat nanti. Ia ingin merawat ibundanya ketika sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Karena sejahat apa pun Riris—wanita itu tetap ibu kandung baginya. Dan kini, permintaan Jelita justru menggusarkan hatinya.


“Pacar Kak Jel udah nungguin. Jangan membuat dia menunggu lama,” ucap Jane, menepis ucapan Jelita. Kemudian, ia memberikan semangat dengan tingkah polah imutnya. Kakinya berangsur mundur, hingga akhirnya berbalik dan meninggalkan kamar itu.


Melihat respon Jane, Jelita hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, Jane sedang menghindari topik pembicaraan perihal perusahaan. Jane tidak mau mewarisi sepeser pun harta milik Nur Imran, Jelita sangat paham. Namun, baginya Jane tetap adiknya dan berhak atas harta ayahnya. Entah, sampai saat ini ia tidak bisa membujuk adiknya itu. Mengobati traumanya sendiri saja sulit sekali!


Karena ponselnya berdering lagi, Jelita segera menyambar tas selempang bermerk. Tak lupa dipakainya sepasang sepatu model pantofel. Kemudian, langkahnya begitu terburu. Ia menuju elevator untuk mencapai lantai dasar.


Sesampainya di bawah, lebih tepatnya ruang tamu, Jelita melihat Reza tampak duduk di salah satu kursi. Pria itu mendadak berdiri ketika mendapati dirinya muncul di ruangan itu.


Reza itu reflek menelan saliva. Rasa kagum sekaligus terpana sebab kekasihnya itu begitu cantik dan luar biasa. Kekasih? Itu hanya anggapan Jelita. Bagi Reza, ia masih bingung mau menyebut gadis itu dengan apa, sebab belum percaya diri menganggap sebagai kekasih hati.

__ADS_1


“Maaf, Kak, Jeli lama ya?” ucap Jelita sembari meraih kedua tangan Reza.


Reza menyudahi rasa takjubnya. “Enggak apa-apa, Dek. Mm ... jadi, kamu mau ke mana?” tanyanya.


“Ke mana pun, Kakak mau bawa Jeli.”


“Hmm ... bukannya, Kakak harus nurutin omongan kamu?”


“Khusus malam ini, Jeli yang bakal manut sama Kakak. Bukankah, pihak cowok harus selalu manis dan romantis?”


Tatapan Reza bertaut dengan tatapan Jelita. Manis dan romantis? Bolehkah? Mendadak keraguan menyelimuti hatinya. Terlepas dari boleh atau tidaknya, ia pun bingung dengan cara apa memberikan kedua hal itu pada Jelita. Dan apakah hal itu masuk sebagai perintah? Atau keinginan murni karena hati gadis itu?


Namun, fokus Reza justru teralih pada hal lain. Pendar lampu ruangan yang begitu terang mampu memperlihatkan setiap keindahan yang terpancar di wajah sang gadis perancang. Sekali lagi, Reza menelan salivanya. Keraguannya menjadi menepi, terhempas oleh rasa kagum berkat keanggunan begitu jelas terpampang di depan matanya.


“Cantik ...,” lirih Reza tanpa sadar.


Jelita reflek membuka mata lebar. Namun, tak berselang lama senyumnya terulas manis. Ia menang telak atas hati Reza yang terus mengelak.


Satu langkah ke depan Jelita ambil. Sementara, Reza masih bergeming. Dua langkah berikutnya, gadis itu lanjutkan. Reza semakin terpaku, tanpa bisa bergerak karena tiba-tiba saja tubuhnya kaku. Dan ... kecupan manis jatuh di bibir Reza oleh sang nona muda yang menjerat hatinya. Mata Reza reflek membelalak, tubuhnya kian kaku, sementara napasnya tersendat.


Jelita mengumpat pelan. “Aku lepas kendali ...!” rutuknya pada dirinya sendiri. Kemudian, tubuhnya berangsur turun. Jelita jongkok sembari menutup wajahnya yang kini terhias rona merah. Entah, ia yang melakukan dan ia sendiri yang merasa dipermalukan.


“Jeli ...?” Reza bergumam lirih, dengan napas yang kini menjadi terengah-engah. Detik berikutnya, tubuhnya limbung ke belakang. Hingga akhirnya, ia terduduk sama halnya Jelita.


“Maafkan Jeli, Kak. Maaf, Jeli lepas kendali. Ini pertama kalinya bagi Jeli, mungkin Jeli emang bodoh dan genit!” ucap Jelita tanpa berani menatap pria gembul di hadapannya.


Kedua insan itu saling terdiam. Karena pegal, akhirnya Reza memilih duduk lesehan daripada berjongkok sebab tubuhnya juga cukup mengganggu. Kecanggungan meliputi kebersamaan itu. Mereka berdua bingung harus memulai kembali pembicaraan dari mana. Kencan pun menjadi tertunda.


Sementara Jelita masih sibuk merutuk dirinya dalam hati, sebab menyadari kecentilannya saat ini. Kekhawatirannya mencuat. Benar, ia memang pemegang kendali. Namun, jika sudah seberani itu, apa yang akan Reza pikirkan mengenai dirinya? Jelita tidak mau dianggap sebagai gadis tidak benar!


****

__ADS_1


Terlalu cepat enggak sih? Maaf, deh. Habis gemes hehehehe. Jangan lupa jempulnya ,ya. Selamat kemerdekaan. Semoga hidup kita juga merdeka dari segala macam cobaan!


__ADS_2