
“Sebelum menjadi istri Anda, bagaimana jika Jelita mampu luluh pada pesona saya?”
Episode 49-Si Tampan yang Malang
Mata pria itu memicing tajam menatap Jelita dan Reza secara bergantian. Sejak tadi, ia sudah merasa menahan rasa kesal, tetapi keduanya terasa tidak menganggap keberadaannya. Sepasang kekasih di hadapannya itu malah sibuk berlaku romantis sama lain. Entah itu panggilan sayang, suap-suapan, saling cubit gemas di pipi, kemudian mengecup telapak tangan.
Tadinya, William masih mencurigai jika Reza hanyalah kekasih palsu yang disewa oleh Jelita. Namun, kecurigaannya itu justru tak terbukti. Bukti paling besar adalah keromantisan yang ia saksikan mengarah pada hubungan yang lebih manis, dengan kata lain sepasang sejoli di hadapannya itu benar-benar menjalin kisah cinta.
Bukan hanya tak digubris, makanan yang William pesan pun raib diambil oleh Jelita, kemudian gadis itu membaginya dengan Reza. William tahu betul jika saat ini Jelita sedang membuatnya kesal, tentu dengan sengaja. Sampai satu jam berlalu, ia hanya menyesap air mineral.
“Kakak Embul, mau pesan makanan lagi?” celetuk Jelita sembari mencubit mesra kedua pipi bulat Reza.
Melihat sikap gadis itu, William mendesis. Detik berikutnya, ia tersenyum kecut. Ia masih tidak menyangka kehadiran dirinya di sini, justru seperti serangga di antara mereka.
“Makanan di sini mahal, Sayang,” jawab Reza sembari membalas cubitan kekasih hatinya itu.
Lagi-lagi, William mendesis. Setelah itu, ia menghela napas lebih dalam.
“Enggak apa-apa, Kakak sayang, 'kan ada Tuan calon CEO yang bayar.” Mata Jelita melirik sekilas ke arah William sembari tersenyum sarkastik.
William reflek membelalak mata. “Mana mungkin aku bayar makanan di—” Namun, ucapannya justru terpotong begitu saja.
“Yang undang kencan siapa? Tanggung jawab, dong!” potong Jelita sembari menjulur lidahnya.
William melotot dengan rahang yang jatuh menganga. Napasnya mendadak memburu. Beberapa detik kemudian, ia justru tertawa dengan perasaan kelu.
“Aku mengundang kamu, bukan dia, Jel!” ucap William, sementara telunjuknya menunjuk Reza diiringi pelototan mata.
Tentu, Reza membalas pelototan mata calon CEO Harsun Group itu. “Jangan takut, saya bisa bayar sendiri. Mungkin enggak semua CEO memiliki modal untuk membayar makan malam,” ucapnya.
“Dasar pelit!” timpal Jelita.
William semakin tersudut. Bagaimana bisa ia berada di situasi memalukan seperti itu? Dan pelakunya adalah gadis yang mampu mendebarkan jantungnya, sekaligus kekasih dari gadis itu. William menekan pelipisnya, sesekali ia masih melirik Jelita juga Reza yang semakin mesra. Beberapa kali pun ia mendesis diiringi hembusan napas yang kasar. Bahkan, matanya masih kerap memicing, ada perasaan geli dengan pertunjukan di hadapannya itu.
Sementara Jelita masih asyik suap-suapan bersama Reza. Gilanya, makanan yang ia santap bersama kekasihnya itu merupakan pesanan William. Tentu, rasa hati William semakin dibuat kesal. Bagaimana tidak, jika sesendok hidangan pun tak tersentuh di mulutnya, tetapi ia justru harus menanggung biaya dari hidangan-hidangan itu. Jika ia menolak seperti sebelumnya, sudah pasti harga dirinya semakin hilang, termasuk dipermalukan lagi oleh sepasang kekasih tersebut.
“Bisa enggak, nggak usah se-lebay itu?” tanya William beberapa saat kemudian.
“Enggak!” sahut Jelita dengan cepat.
Lagi-lagi William dibuat tersentak. “Enggak? Jadi, di tempat umum pun kalian alay kayak gitu?”
“Iya, Pak!” Kali ini, Reza yang menimpali.
“Astaga!” Tak habis pikir dengan kelakuan mereka berdua, William mengusap matanya dan mengalihkan pandang.
Sementara Reza dan Jelita justru terkikik pelan. Rencana mereka berhasil membuat William gusar, bahkan kesal. Meski sebenarnya, Reza baru pertama kali melakukan hal romantis di hadapan orang lain, tetapi ia cukup sukses memerankan tugasnya. Semua demi Jelita, setelah ini ia juga belum tentu melakukannya lagi.
Makanan yang disantap oleh Jelita dan Reza pun habis. Mereka saling mengusap bibir dengan menggunakan tissu yang tersedia. Keduanya masih tidak peduli jika William belum menyantap apa pun.
“Kakak sayang, Jeli ke toilet dulu, ya?” pamit Jelita sembari beranjak berdiri.
__ADS_1
Reza mengangguk pelan. “Iya, Dede' sayang,” jawabnya.
William tertawa geli ketika mendengar sebutan di antara kedua sejoli itu. Bahkan, ia sempat menggeleng kepala lantaran tidak habis pikir. Menurutnya, aksi mereka terlalu konyol. Kendati ada kemungkinan hanya sebuah akting, tetap saja terdengar menggelikan.
Sepeninggalan Jelita ke kamar kecil, Reza memicingkan matanya dengan tajam. Pengacara andal itu menatap William dengan pancaran kebencian. Tentu, sikapnya dibalas oleh sang pria tampan. Di antara tatapan mereka yang sama-sama tajam seolah muncul petir ataupun aliran listrik yang mampu menyengat.
“Jangan ganggu pacar saya lagi!” tegas Reza.
William melembutkan tatapannya. Ia tersenyum meremehkan. “Pacar? Belum istri, 'kan?” balasnya.
Reza menggeragap. Namun ia tetap membalas pertanyaan sarkastik itu. “Te-tentu akan menjadi istri saya!”
“Sebelum menjadi istri Anda, bagaimana jika Jelita mampu luluh pada pesona saya?”
“Itu tidak akan terjadi!”
“Bisa saja terjadi.” William masih tersenyum penuh pengejekan itu.
Reza mulai bergetar. Ia menghela napas beberapa kali demi mencari ketenangan. “Tidak akan terjadi, Pak!”
“Kenapa Anda gemetar? Takut? Atau memang sudah menduga bahwa hal itu bisa terjadi?”
Ingin sekali, Reza menghantam wajah William, tepatnya ketika alis dari pria tampan itu terangkat satu—tanda semakin meremehkan dirinya. Namun, ia tetap menguasai gejolak amarahnya. Sebab, Reza tidak ingin Jelita kecewa jika ia menghajar pria itu.
Sementara William semakin bangga, sebab Reza yang mulai gentar. Pengacara di hadapannya itu terlihat sekali tengah menyimpan sejumlah kekhawatiran.
Hingga beberapa detik kemudian, William menghela napas panjang dan ia hembuskan dengan kasar. Ia menyandarkan tubuhnya pada badan kursi, lalu melipat kedua tangannya ke depan. Kendati sangat ingin memiliki Jelita, William tidak mau membawa-bawa perihal perjodohan, karena permainan tak akan menarik jika ia langsung menang. Sepertinya, Reza masih belum tahu perihal perjodohan Jelita dengan pria tampan itu.
Reza masih saja menatap pria tampan itu dengan tajam. Meski tidak ada jawaban yang ia berikan, masih tetap ada perlawanan besar dari sorot mata Reza. William semakin tertantang, tetapi ia ingin persaingan yang adil tanpa membawa kata perjodohan.
“Sampai mati pun, saya tidak akan menyerahkan gadis itu kepada, Anda!” ucap Reza dengan nada penegasan.
William melenguh panjang. Detik berikutnya, ia membalas ucapan Reza. “Sebelum mati pun, saya juga tidak akan menyerah tentang Jelita.”
“Dia tidak akan pernah tertarik kepada, Anda.”
“Dan dia juga belum tentu menjadi istri, Anda.”
“Saya akan membuat dia menjadi istri saya. Tahu apa kamu tentang masa depan kami?!”
“Saya tidak tahu, tapi ada kemungkinan besar masa depan Jelita adalah saya, Bapak Pengacara.”
Rahang Reza mengeras, menahan gejolak amarahnya. Kedua telapak tangannya pun mengepal, ingin sekali ia hantamkan pada wajah William. Namun lagi-lagi, ia tidak mau mengecewakan Jelita, sebab jika terjadi perkelahian, gadis itu tentu saja akan merasa malu.
Lalu, Jelita yang sudah hampir sampai di keberadaan dua pria itu, hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa keberatan, jika karena seorang Jeli mampu membuat dua orang pria saling bermusuhan. Namun di sisi lain, ia merasa terkesan dengan ambisi Reza perihal mempertahan dirinya. Sementara untuk William, ia ingin agar pria tampan itu melepaskan dirinya dari jerat cinta segitiga kemudian menghampiri Jane saja, sebab Jane sangat tertarik dengan sosok itu.
“Aku udah kelar!” ucap Jelita sesaat setelah sampai di meja tersebut. Dengan paras ceria seolah tidak ada masalah, ia lantas duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya.
Reza dan William kompak mengulas senyuman.
“Mau pulang?” tanya kedua pria itu dengan serempak. Detik berikutnya, tatapan mereka beradu diiringi dengkusan kesal yang lagi-lagi berbarengan.
__ADS_1
Jelita tertawa kecil. “Biar turun dulu isi di perut,” jawabnya.
William mendesis. “Yang udah makan mah begitu, kalau belum?”
“Kan kamu bisa pesan lagi, Willi!” balas Jelita sengit.
“Kamu mau temani aku makan, dan pacarmu disuruh pulang?”
Gadis itu langsung menggeleng. “Enggak! Makan sendirilah, kayak anak SD aja suruh ditemenin. Aku mau pulang sama kesayangan!”
“Ya udah, aku enggak makan!” William memasang ekspresi lesu.
“Ya udah, terserah.”
“Haaah!” William mendengkus mendengar ucapan Jelita yang tak memedulikannya sama sekali.
Sementara Reza justru tergelak. Beberapa saat yang lalu, William masih percaya diri tak akan menyerah soal Jelita dan kini baru urusan makan saja, pria tampan itu sudah ditolak mentah-mentah. Setidaknya, ia sudah menang 3-0, memiliki Jelita, membuat William kesal, dan Jelita memilih pulang bersamanya ketimbang menemani William bersantap.
Tiba-tiba, dering ponsel terdengar dari salu blazer yang William kenakan. Pria tampan itu segera meraihnya, kemudian menatap layar ponsel tersebut. Tampak sebuah kontak melakukan panggilan masuk. Sebelum memutuskan menjawab, William melirik Jelita seperti meminta izin, tetapi gadis itu justru acuh.
“Halo, Jane,” sapa William pada sang pemanggil setelah menjawab panggilan tersebut.
Mendengar nama Jane, Jelita lantas menatap William dengan seksama.
“Kak Willi ada waktu malam ini? Ma-maaf, Jane hanya butuh teman karena Kak Jeli lagi keluar,” jawab Jane dari kejauhan sana.
“Mm ... mungkin beberapa menit lagi ada, Jane, nanti aku hubungi. Oh, soal kakakmu ada di sini bersamaku.”
“Aaah ... ja-jadi ka-kalian lagi bareng toh?”
“Iya, Jane. Ada yang mau aku sampaiin?”
Sebelum ada jawaban perihal pertanyaannya, Jane justru sudah mematikan panggilan itu. Dahi William berkerut samar sembari menatap layar ponselnya. Ada apa dengan Jane? Mengapa tiba-tiba mematikan panggilannya? William menghela napas panjang sembari berharap Jane dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer, William merasa hawa dingin menyapu sekujur wajahnya. Ia menelan saliva dengan getir. Detik berikutnya, ia menatap Jelita dan Reza yang memicingkan mata padanya.
“Ke-kenapa?” tanya William dengan rasa ngeri sekaligus heran.
“Kenapa kamu bilang kalau aku sama kamu, Willi?!” balas Jelita dengan tegas dan sengit. Detik berikutnya, ia berdiri dan menarik lengan Reza. “Ayo, Kak, pulang aja! Nyebelin, loe, Will!”
“Huuu! Dasar, enggak peka!” timpak Reza yang juga diarahkan pada William. Kemudian, ia mengikuti langkah Jelita yang cepat.
Sementara William tertinggal di kursinya sembari menatap punggung kedua sejoli itu yang semakin menjauh. Ia berpikir keras, mengapa Jelita sampai sekesal itu?
“Emang gue ngelakuin apa sih?” gumam William sembari mengingat-ingat semua ucapannya. Namun, ia tidak bisa menemukan ucapan aneh pada Jelita sepanjang waktu bersama.
Ketika, pria tampan itu hendak pergi, seorang pelayan justru menghampirinya. Pelayan wanita itu menyerahkan sebuah kertas yang berisi jumlah uang yang perlu William bayarkan.
William menelan saliva menatap kertas tersebut. “Minum air putih doang, mahal banget,” gumamnya sembari merintih dalam hati. Belum lagi cacing-cacing perutnya sudah berkoar. Namun, ia enggan untuk makan sendirian.
****
__ADS_1