
“Pe-pengen apa sih maksud, Om? Jeli ‘kan gadis baik-baik, enggak mungkin begitu! Justru Om sendiri, yang jo-rok!”
Episode 15-Rindu
Cinta memang tidak bisa dipaksa, tetapi bisa diperjuangkan, bukan? Dan Jelita sedang memperjuangkan cinta itu. Cinta yang ia jatuhkan pada sosok pria tinggi besar berprofesi sebagai pengacara muda yang handal berikut Reza Amdan Nugraha.
Membayangkan wajah pria itu saja, sudah membuat Jelita merasa rindu. Meski lamaran darinya sama sekali tidak digubris oleh Reza, dianggap sebagai canda belaka. Padahal, ia mengucapkannya dengan kesungguhan hati—meminta pria itu untuk menjadi suaminya. Bukankah Nyonya Reyna selaku ibunda dari pria itu juga akan senang? Sebab rencana perjodohan diterima dengan baik oleh Jelita? Namun, mengapa Reza tetap menampiknya?
Sudah terhitung satu minggu sejak Jelita bertemu dengan Reza. Selama beberapa hari pun, ia sering datang—menghampiri—pria itu untuk makan siang. Meski ia sadari sikapnya terlihat sangat centil bahkan tidak tahu malu, tetapi rasa rindu membuatnya tidak tahan untuk tidak bertemu.
“Ah!” pekik Jelita kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang berbalut spray berwarna merah muda.
Jelita menghela napas dalam, berikut rasa ragu yang mendadak meliputi hatinya. “Apa aku enggak cukup menarik di mata Kak Reza? Bukankah sikap dia selama bertemu sama aku adalah sikap orang yang sedang jatuh cinta? Tapi, ... kenapa Kak Reza malah anggap lamaran aku sebagai canda?” gumamnya.
“Dan apa itu gadis kambing? Nyebelin banget! Aku ‘kan cuma jaga berat badan aja, bukan mau jadi kayak kambing,” tambah Jelita diiringi dengkusan kesal.
“Mm ... tapi, aku beneran suka sama si Kakak gembul. Ganteng kok, imut, pengen nyubit bahkan kecup gemes pipi dia.”
“Aaa!” Jelita geregetan sendiri, atas perasaannya yang bahkan belum dibalas sama sekali oleh Reza.
“Aku beneran suka sama Kakak!” tambahnya gemas. Ia menghela napas panjang setelahnya, mencoba menguasai hatinya sendiri.
Kemudian, gadis itu kembali membangunkan diri. Menatap nakas yang di atasnya terdapat tas jinjing berikut ponsel dan buku berisi rancangan. Ia menelan saliva sebab malas sekali untuk berangkat bekerja. Ingin sekali ia membolos sesekali, toh butiknya sendiri. Namun, bagaimana jika para pelanggan mencarinya?
Akhirnya, dengan mau tidak mau, Jelita berangsur berdiri. Disambarnya tas dan ponsel dari atas nakas, tidak lupa sebuah kunci mobil yang hendak ia kendarai. Langkahnya terayun gontai, menghampiri pintu kamar. Lalu, dibukanya pintu itu dan bergegas keluar.
Istana megah milik Nur Imran cukup ramai oleh banyaknya pelayan. Namun justru membuat hati Jelita gusar, sebab tidak ada sosok keluarga yang ia temui setelah keluar dari kamarnya. Sang ayah masih berada di luar kota, bahkan akan lanjut ke luar negeri nantinya. Pagi ini pun, Jane sudah berangkat karena jadwal latihan bermusik yang begitu padat, juga beberapa pertemuan yang hendak gadis itu lakukan.
Jelita menghela napas panjang. Benaknya terlintas salon di mana dua orang wanita dewasa yang sempat membantu hidupnya, berada. Mampir sebentar ke salon itu menjadi rencananya saat ini.
Tanpa pikir panjang lagi, Jelita segera mempercepat langkah. Ia menuju elevator untuk mencapai lantai paling bawah.
****
Di sebuah salon, sepasang suami istri masih saja menampilkan keharmonisan yang rasanya tidak pernah habis. Berikut Arlan dan Fanni, serta seorang balita bernama Aksa. Sedangkan kedua kakak dari balita itu sudah berangkat ke tempat belajar—sekolah formal.
“Mas, kamu enggak berangkat? Udah jam segini lho?” tanya Fanni pada suaminya.
__ADS_1
Arlan berangsur menatap manik mata berwarna biru abu-abu milik Fanni. “Bentaran, Dek. Masih pengen deket kalian,” jawabnya.
“Udah jam tujuh lebih lho, Mas!”
“Biarin sih, emang kenapa? Kok yang heboh malah kamu?”
“Ih! Aku ‘kan cuma memperingatkan, takutnya kamu telat. Ingat, Mas! Kamu itu tetap bawahan.”
Kedua tangan Arlan terulur. Ia mencubit kedua pipi gembul istrinya dengan gemas. Rasanya ingin sekali ia gigit detik itu juga, sayangnya beberapa pegawai sudah hadir di dalam salon tersebut. Membuat Arlan mau tidak mau menepis keinginan manisnya.
Namun, bukan Arlan namanya, jika keusilan tidak berlanjut. Tangannya bergerak diam-diam. Menyusuri pinggang Fanni dan memberikan cubitan lembut di pinggang wanita itu. Lemak bergelambir bagaikan squishy menjadi incaran Arlan, membuatnya kerap gemas karena terasa empuk bahkan lembut.
Fanni mendesis pelan, sarat akan rasa sebal. “Jangan usil, Mas,” lirihnya.
Arlan mengulas senyum nakal. “Usil gimana, Dek, maksud kamu?” tanyanya pura-pura tidak mengerti.
“Inget tempat dong, Mas!” tegas Fanni geram. Sedangkan wajahnya sudah diliputi rona merah karena malu. Juga, tangannya yang berusaha menepis ulah suaminya itu.
“Ini ‘kan di kantor kamu, enggak bakal ada yang masuk, Dek.”
“Mas ...?”
Tiba-tiba, suara pintu ruangan di mana Fanni dan Arlan tengah bermesraan dibuka begitu saja. Seorang gadis manis berdiri di ambangnya. Hal itu membuat Fanni bahkan Arlan menggeragap detik itu juga. Lalu, Jelita terpana. Ia menelan saliva karena menyadari ketidaksopanannya.
“Maaf,” lirih Jelita. Ia berangsur berbalik badan.
“Haish! Bocah nakal lagi!” omel Arlan.
Langkah Jelita terhenti. Ia memutar kepala dan menatap pria yang ia sebut sebagai Om Galak. Lalu, ia tersenyum kecut. “Maaf, Om! Lagian tahu tempat kenapa?!” balasnya tidak mau kalah.
Arlan bergeleng-geleng. Sementara, istri dari pria itu tengah menahan berikut rasa malu yang membuat wajah bulenya merah padam.
“Udah, Mas. Berangkat sana!” ucap Fanni detik berikutnya. Ia memberikan sedikit dorongan pada Arlan agar segera bangkit dan berangkat bekerja.
Arlan berdiri seiring helaan napas yang ia ambil dalam. Sebelum melangkah pergi, ia kembali menatap Fanni dan Aksa.
“Mbak Yuni ke sini, ‘kan, nanti, Dek?” tanya Arlan perihal pengasuh yang mengurus anak bungsunya.
__ADS_1
Fanni mengangguk pelan. “Ke sini kok, Mas, jemput Aksa. Jangan khawatir,” jawabnya.
Arlan merunduk, mengecup kening dan pipi Fanni. Dilanjutkan pada putranya yang tengah berceloteh kecil. Kemudian, ia tersenyum. “Papa berangkat dulu ya, Aksa sayang. Jaga Mama sementara waktu.”
Fanni tersenyum. Sementara, suaminya berbalik dan mengambil langkah untuk meninggalkan ruang kantor dari salon itu.
Jelita masih bergeming, menyaksikan harmonisnya keluarga dari sahabat dewasanya—Fanni. Rasa iri mendadak muncul di hatinya. Juga, benaknya yang terlintas wajah Reza. Ia membayangkan jika ia dan Reza melakukan hal manis layaknya pasangan di hadapannya.
Senyum gadis itu mengembang, dengan rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Benaknya berkhayal liar, dalam rumah tangga yang akan ia arungi bersama Reza.
Sampai akhirnya, Jelita tersentak sebab kepalanya dijitak oleh Arlan. Gadis itu mendengkus kesal seiring rasa sakit berkat jitakan dari pria 48 tahun itu.
“Pagi-pagi udah mikir jorok ya, kamu?” tanya Arlan curiga.
Jelita menggeragap. “En-enggak, Om! Mikir jorok apaan sih. Emang Jeli cewek macam apa, sampai harus mikir jorok?!” balasnya sengit.
“Halah, sok berkilah. Padahal mukanya kelihatan banget, pengen, ‘kan?”
“Pe-pengen apa sih maksud, Om? Jeli ‘kan gadis baik-baik, enggak mungkin begitu! Justru Om sendiri, yang jo-rok!”
“Hii ... kayak tahu joroknya gimana aja loe!”
Ingin sekali, Jelita memukul perut Arlan. Namun, pria itu sudah cepat melangkah. Hanya olokan yang bisa Jelita lemparkan mengiringi kepergian Arlan dari salon itu.
Sepeninggalan Arlan, Jelita melangkah lebih dalam. Gadis itu menghampiri sang pemilik salon. Lalu, ia duduk di kursi lain yang kosong.
“Kenapa, Lit? Pagi-pagi udah ditekuk mukanya?” tanya Fanni heran.
“Mm ... lagi patah hati, Tante,” jawab Jelita.
Dahi Fanni mendadak mengernyit. “Patah hati gimana maksud kamu? Pacar aja enggak ada.”
“Lamaran Jeli ditolak sama seorang cowok, Tan.”
“Lamaran? Yang bener aja kamu, Dek! Masa' cewek lamar cowok? Dan cowok mana yang kamu lamar itu?” Tawa Fanni pecah setelah ia melancarkan pertanyaannya pada Jelita. Geli dan aneh menjadi rasa yang ia dera sebab curahan gadis manis di hadapannya.
Tawa ibu dari tiga anak itu sukses membuat Jelita kesal. Memangnya apa salahnya seorang perempuan melamar seorang pria? Pertanyaan itu muncul di benak Jelita. Mungkin memang terdengar aneh. Namun, kembali lagi pada cinta yang wajar untuk diperjuangkan, bukan?
__ADS_1
****
Jangan lupa jempolnya, ya. Bantu naikin rate pake lima bintang dong, Guys. Ada yang usil nurunin rate novel ini. T_T tahu deh, nakal banget. Novel sepi aja dijahatin *_*