
“Hanya peluru baja, enggak bakal bikin aku mati, Jel. Jangan terlalu khawatir.”
Episode 53-Letupan Peluru
Selepas dari makan siang itu, William kembali mengantarkan Jelita menuju butiknya. Tak ada perbincangan lagi ketika kebersamaan mereka di dalam mobil itu, hanya helaan napas yang sesekali terdengar. Bukan tak punya bahan perbincangan, melainkan pihak pria ingin memberi ruang agar Jelita sedikit lebih tenang.
Sampai saat ini pun, William masih belum mengetahui apa yang menimpa gadis perancang itu sampai menangis sesenggukan beberapa saat yang lalu. Ia masih memiliki batas agar tidak terlalu ikut campur. Lagipula, William tahu betul jika Jelita masih jengkel padanya, jika ia terus mendesak perihal masalah itu sudah pasti Jelita semakin menjauhinya.
“Willi, besok enggak perlu ke tempatku lagi,” celetuk Jelita tiba-tiba.
Meski sempat terkejut, William lantas mengulas senyumnya. “Kenapa? Takut kalau kamu luluh sama aku?” tanyanya.
“Tentu saja enggak, lagian enggak bakalan! Aku hanya, ... enggak nyaman.”
“Oh ya?”
“Iya!”
“Tapi, jujur, aku terlalu nyaman sama kamu.”
“Ck, enggak jelas! Mana ada orang nyaman sama seseorang yang benci sama orang itu?”
“Ada, Jel.”
“Siapa coba?”
“Aku.”
Jelita tercengang, detik berikutnya ia tertawa geli mendengar pengakuan itu. Baginya, William benar-benar tidak tahu malu. Ada saja akal bulus dari pria itu, seakan sengaja membuatnya terus merasa kesal. Sangat berbeda dengan Reza yang penuh perhatian, sifat William justru penuh keusilan. Gilanya, gadis itu malah terjebak oleh sosok William di saat ia tengah mencintai Reza terlalu dalam.
Mobil yang ditumpangi kedua insan itu masih terus melaju. Sejak beberapa menit yang lalu seolah tidak sampai-sampai di tempat tujuan. Tentu, karena William sengaja memperlambat kecepatan mobilnya. Pria itu ingin lebih lama bersama Jelita. Mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu cara mendekati gadis itu. Tak peduli jika Jelita telah memiliki seorang kekasih, ya, hanya kekasih yang belum tentu menjadi seorang suami.
“Bisa enggak sih, cepetin laju mobilnya?!” sindir Jelita, tegas.
William acuh tak acuh. Ia justru asyik mendendangkan lagu.
“Willi!”
“Iya, Sayang,” goda William seiring mata genit yang ia berikan pada Jelita.
“Haaaah?! Ingin sekali kuberkata kasar padamu!”
“Enggak boleh, nggak baik buat gadis.”
“Ngeselin banget sih! Turunin aku kalau enggak!”
“Jangan terlalu kesel sama lho, Jel, nanti kamu beneran suka sama aku lho. 'Kan aku jadi seneng nanti.”
“Enggak bakal!”
“Pft ... hahahaha.”
Mendengar William yang justru tertawa lebar, Jelita hanya bisa pasrah. Namun, bibirnya tak henti-henti mendengkus kesal. Sementara hatinya mengumpat serta bersumpah serapah. Di sisi lain, ia menyesalkan kesibukan Reza hari ini. Yang mana kekasihnya itu tidak memiliki waktu, bahkan untuk mengabari via suara saja. Memang bisa dimaklumi sebagai seorang pengacara kerap kali tak punya waktu, apalagi jika kasus yang ditangani tak hanya satu. Dan secara kebetulan sekaligus bersamaan dengan kesibukan Reza, Jelita justru terjebak oleh William.
Tepat di deretan kios-kios ternama, William membelokkan mobilnya ke dalam pekarangan salah satu toko. Toko tersebut merupakan butik Jelita.
“Dah 'kan sampai, slow makanya. Sabaaar!” ucap William sesaat setelah menghentikan mobilnya di area parkir butik tersebut.
__ADS_1
Jelita memayunkan bibirnya. Dua detik kemudian, ia menjawab, “Enggak bisa sabar kalau kamu sengaja kayak begitu. Ngeselin!”
“Ngeselin apa nggemesin?”
“Ngeselin!”
“Oh iya deng, 'kan yang nggemesin kamu.”
“Waaah! Gila nih orang ck, ck, ck!”
Tanpa pikir panjang, Jelita segera membuka pintu mobil. Tanpa pamit atau sekedar mengucap terima kasih, ia lantas turun dan melangkah pergi. Namun, William segera mengikuti. Masih ada waktu, setidaknya mengantarkan gadis itu sampai aman di dalam ruang butiknya sana.
Pintu butik telah diberi tanda buka lantaran Iin membawa kunci cadangan, sehingga tidak perlu menunggu sang atasan. Dengan senyum yang ia ulas lebar, Jelita menegaskan kaki untuk memasuki butik itu. Sementara William masih setia membuntutinya. Tepat di teras butik tersebut, ia menahan lengan Jelita.
“Apa sih?!” tanya Jelita tegas. Senyum yang sempat melebar, kini terganti oleh bibir yang mengerucut.
“Bentar dulu dong!” jawab William santai. “Aa' mau balik, kamu enggak mau lihat muka Aa' dulu?”
“Aa'? Waaah! Menggelikan sekali ....”
William tersenyum, kemudian tertawa geli pada dirinya sendiri. Ia yang tadinya menatap Jelita, kini berangsur memalingkan tatapan itu ke arah jalan raya.
Namun, tawa William berangsur hilang ketika matanya mendapati seseorang mengarahkan senapan pada butik itu. Tidak! Lebih tepatnya diarahkan oleh pemiliknya. Dan ....
“Jeli!” Pekik William sembari menyambar tubuh Jelita, tetapi lengannya justru menjadi korban letupan senapan itu.
Beruntung hanya goresan, dan peluru tidak menembus kulit William. Tak peduli atas luka yang ia terima, pria itu segera menoleh cepat. Ia melepaskan tubuh Jelita sampai gadis itu terduduk lemas. William masih berusaha mengejar pelaku, sayangnya orang itu melaju motor gede yang dikendarai dengan cepat. Pada akhirnya, William tidak berhasil menangkap, bahkan sekedar mengetahui wajah orang itu saja tidak ia dapatkan.
Blazernya yang robek kini terasa basah sebab rembesan cairan merah yang kental. Juga, sekujur lengan yang dialiri oleh cairan itu. Rasa perih mulai terasa, tetapi William masih bisa menahannya. Dengan menekan lukanya, ia berbalik menemui Jelita.
Di teras itu, Jelita sudah ditemani oleh Iin dan beberapa bawahannya. Tentu saja mereka dikejutkan oleh suara letupan sekaligus pekikan William.
William yang baru sampai, kini berangsur menggelengkan kepala. “Saya hanya menderita luka gores, Nona Muda masih syok. Tolong Mbak bawa Nona Muda dulu,” ucapnya khawatir.
“Willi!” pekik Jelita memotong gerak bibir Iin yang hendak memberikan jawaban pada pria itu. Ia berusaha bangkit, meski masih sempoyongan. Ketika sudah dekat dengan William, ia kembali berkata, “A-aku obati kamu.”
“Jel ...?”
Jelita tak menggubris sikap William yang seolah ingin menolak. Ia menghela napas dalam agar lebih tenang. Detik berikutnya, ia menyentuh lengan pria itu dengan tatapan rasa bersalah.
“Ayo, Will. Takut infeksi.” Jelita beralih menatap Iin. “Siapin kotak obatnya ya, Mbak, tolong.”
Iin mengangguk. Tanpa menjawab melalui perkataan, ia segera melaju kakinya ke dalam demi memenuhi permintaan sang atasan.
Di dalam butik itu, lebih tepatnya ruang loker yang menyajikan sofa santai, Jelita membawa William. Kotak obat pun sudah disediakan oleh Iin di atas meja kecil. Sesaat setelah duduk di sofa tersebut, Jelita mulai merawat luka William.
“Mm ... le-lepas pakaianmu,” pinta Jelita tanpa memandang wajah William.
Tentu saja, pria itu tersenyum penuh goda. “Aku takut diapa-apain sama kamu,” jawabnya.
“Fyuh! Enggak! Lukamu parah!”
“Hanya peluru baja, enggak bakal bikin aku mati, Jel. Jangan terlalu khawatir.”
“Si-siapa yang khawatir! A-aku hanya merasa bersalah. U-udah cepet, jangan banyak omong!”
“Hahaha.”
__ADS_1
“Jangan ketawa!”
“Pft ... kamu lucu ya kalau lagi malu-malu.”
Jelita mendesis tanpa mau menanggapi ucapan William lagi. Kemudian, setelah pria itu selesai melepas pakaian meninggalkan kaos singlet, Jelita mulai membersihkan area luka. Dengan telaten dan memasang wajah serius, ia benar-benar seperti seorang suster rumah sakit. Hal itu membuat William diam-diam memperhatikan.
Menyadari tatapan William yang mengarahkan padanya, tentu saja membuat Jelita tengsin detik itu juga.
“Uh!” Jelita menekan luka William dengan keras.
“Aow! Sakit, Jeli!” omel William yang terkejut.
“Biar kapok!”
“Apa salahku?!”
“Nggak boleh lihatin muka Nona Muda!”
“Kalau Nona Mudanya kamu, aku enggak peduli dihukum.”
“Ck, berasa jadi Nona muda yang nggak punya martabat deh gue!”
“Hahaha, enggak gitu, Jel.”
Perdebatan kecil itu terhenti oleh kedatangan Iin yang membawa nampan berisi minuman. Berbarengan dengan terbukanya pintu ruang loker, beberapa karyawan Jelita mengintip. Mereka kompak mengagumi sosok William, dan mencari kesempatan untuk mencuri pandang. Tentu saja, hal itu lain bagi Jelita yang justru merasa terganggu.
Memangnya kenapa jika ada pria tampan? Sebegitu hebatkah sosok William? Sampai-sampai mampu menggundang decak kagum mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlintas di benak Jelita. Hal lain yang ia sesalkan adalah respon mereka sangat berbeda jika Reza yang datang.
Selepas Iin pergi dan pintu ditutup kembali, Jelita baru bisa fokus pada luka itu. Tak lama setelah membersihkan dan mengolehkan obat merah, ia membalutnya dengan perban.
“Udah! Beres!” pekik Jelita girang. Namun, tak lama kemudian, tatapannya justru gusar. “Maaf, Willi ....” Ia menundukkan kepalanya.
William terenyuh. “Maaf? Aku enggak apa-apa, Jel. Tapi ... maaf juga, mm ... apa kamu sering dapat hal kayak gini?”
Jelita membisu.
“Baiklah, aku enggak maksa kamu cerita. Tapi, sebaiknya kamu lapor pada pihak berwajib.”
Gadis perancang itu menggeleng lemah. “Itu teros, kalau aku ketahuan lapor semua orang terdekatku dalam bahaya.”
“... Reza tahu?”
“Enggak tahu, jangan bilang sama dia ya, Will? Please ... aku enggak mau bawa dia dalam bahaya. Mm ... bukan hanya dia, tapi semua keluarga dan teman-temanku. Soal kamu, tadinya aku mau bungkam, tapi keadaan sekarang, mau enggak mau kamu harus tahu. Makanya, jangan datang ke sini lagi. Bahaya!”
“Jadi, ... selama ini hanya kamu yang tahu? Sejak kapan?”
“Dua hari ini, mulai ada teror. Orang butik tahu, tapi aku udah kasih perintah supaya mereka juga bungkam. Sebab, buat siapapun yang tahu mereka akan dalam bahaya.”
“Baiklah, aku ngerti kok. Tenang aja, aku enggak bakal bilang siapa-siapa. Tapi ada syaratnya.”
Jelita mendongak, terkejut oleh ucapan itu. “Syarat lagi? Jangan ambil kesempatan dalam deritaku, Will.”
William menggeleng pelan. Ia ingin menyentuh telapak tangan Jelita, hanya saja ia urungkan sebab ia belum berhal atas sikap itu. “Bukan, Jel, tapi ... seenggaknya biarkan aku jaga kamu. Dan jangan larang aku ke tempat ini. Hanya aku yang tahu semua ini, kalau bukan aku, siapa lagi yang bakal melindungimu? Toh kamu benci sama aku, enggak ada alasan buat melindungi aku dari bahaya, 'kan?”
“Aku benci kamu, tapi bukan berarti aku membahayakan atau melibatkan kamu dalam situasi berbahaya. Pokoknya jangan ke sini, titik! Dan jangan bilang siapa-siapa, terutama Reza! Selain bahaya, dia pengacara, Will, masalah kecil bakal naik jalur hukum. Aku enggak mau.”
Setelah memberikan penegasan itu, Jelita beranjak berdiri. Ia terdiam sesaat merasa ragu untuk meninggalkan William atau tetap tinggal. Namun pada akhirnya, ia memutuskan berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
“Sebegitu cintanya kamu sama Reza, Jel. Lalu, apa dia bisa melindungi kamu? Gue enggak mau menghina fisik, tapi dalam konteks ini apa dia bisa bela diri? Seenggaknya dia punya kekuatan untuk bertarung. Hmm ....”
****